6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #57

Ayah Jatuh Sakit

Ayah Jatuh Sakit

Abdul Jabbar mengalami kondisi yang membuat Fadil ingin pulang.

°˖✧✿✧˖°

Tiga minggu setelah Fadil kembali ke rutinitas pondok, kabar dari Prabumulih datang untuk kedua kalinya, dan kali ini datangnya bukan lewat surat, bukan lewar telepon warung Pak Iman, tapi lewat suara ibunya sendiri, yang selama ini tidak pernah sekalipun menelpon duluan.

"Fadil anak ibu." Suara Zubaidah datang samar dari telepon warung di depan pagar, terpecah jarak, tapi Fadil langsung mengenali sesuatu di nadanya yang membuat seluruh badannya berdiri sebelum ada kata kedua. "Ibu mohon, engkau jangan panik dulu. Ayahmu... pemeriksaan di Palembang sudah selesai minggu lalu. Hasilnya keluar, dan dokter bilang harus dioperasi. Jantungnya. Jadwal operasinya minggu depan, insya Allah."

"Ayah masih di Palembang?"

"Iya. Di rumah sakit. Ibu menginap di rumah Bude Rasminah, deket rumah sakit." Jeda, dan jeda itu lebih banyak bicaranya daripada kalimat-kalimatnya. "Fadil, ibu telepon bukan buat minta engkau pulang. Ibu telepon buat memenuhi janji. Dulu ibu pernah bilang, semua urusan orang tua engkau tidak perlu pikirkan. Tapi ibu mikir-mikir, janji begitu itu tidak adil buat anak yang sudah dewasa. Jadi sekarang ibu sampaikan apa adanya: operasi itu mahal, anak ibu. Ayah sudah jual sebagian sawah, yang di belakang, bukan yang utama. Ibu jahitan tetap jalan. Dan ibu... ibu sudah menghitung, insya Allah cukup. Engkau tidak perlu pulang. Cuma ibu ingin engkau tahu, karena ayah melarang ibu kasih tau, dan ibu tidak mau diam-diama lagi terhadap anak ibu sendiri."

Fadil menggenggam gagang telepon itu dan mendapati dirinya tidak bisa langsung menjawab, karena di dalam kepalanya tiga hal berebut bicara sekaligus: angka biaya operasi yang tidak ia ketahui, wajah ayah shalat subuh dengan infus di tangan yang diceritakan Pak Iman, dan halaman-halaman buku kain bertuliskan tangan kiai yang masih ada di loker kamarnya.

"Pak, maaf, Bu. Ibu, satu hal aja yang ibu jawab jujur ya. Ayah kondisinya gimana sekarang? Bukan biayanya. Kondisinya."

"Stabil, Alhamdulillah. Dia bisa jalan pelan, bisa makan, cuman cepat capek. Dokternya bilang, kalau tidak dioperasi tahun ini, nanti... nanti tidak bisa dikerjakan lagi." Suara ibunya mengecil di kalimat terakhir, dan Fadil mendengar di sebaliknya suara ruang tunggu rumah sakit, kursi digeser, pengeras suara memanggil nomor. "Fadil, ibu sudah bilang. Sekarang ibu mau dengar balasanmu, dan ibu minta jujur."

Fadil menarik napas. "Ibu, saya jujur. Saya mau pulang."

"Fadil..."

"Bukan pulang lama, Bu. Ibu dengar dulu. Minggu depan ada istirahat panjang di pondok, seminggu. Kalau saya berangkat Jumat, saya bisa di rumah Sabtu sore, nemenin sampai jadwal operasi, dan balik sebelum pengajian dibuka lagi. Ongkos saya pakai tabungan saya, enggak nambah beban rumah. Yang saya mau cuma satu: ayah masuk kamar operasi dengan anaknya yang shalat doa di samping pintunya, bukan dengan anak yang cuma dikirim surat. Bu, ayah pernah cerita waktu saya kecil, setiap kali dia kerja jauh ke perkebunan, dia selalu balik subuh, dan hal pertama yang dia minta bukan saya bangunin, tapi dia tunggu saya shalat subuh. Sekarang ayah yang masuk kamar operasi. Saya mau jadi yang tunggu, Bu. Gantian."

Lama Zubaidah tidak menjawab. Di seberang, terdengar ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan ketika bersuara lagi, suaranya sudah kembali ke tempatnya, tapi sesuatu di dalamnya sudah lepas.

"Insya Allah, anak ibu. Ibu kasih tau ayahmu nanti. Tapi janji satu sama ibu: engkau datang bukan buat jadi orang tua di sana. Engkau datang sebagai anak. Yang memikul itu tetap kami. Engkau cuma datang doakan dan temenin. Setuju?"

"Setuju, Bu."

"Malam ini engkau shalat isya pukul yang bener, terus tidur yang cukup. Jangan begadang mikirin operasi, nanti shalat subuhmu kayak orang nyasar." Ibu tertawa kecil, dan tawa itu menutup telepon, dan Fadil berdiri lama di depan warung sambil memandangi jalan yang berdebu sore itu, dan yang ia pikirkan bukan operasi. Yang ia pikirkan adalah kalimat ibunya: engkau datang sebagai anak. Empat tahun ini ia belajar banyak hal tentang jadi santri, jadi murid, jadi kakak asrama. Tapi kalimat itu terdengar seperti pelajaran yang belum pernah diberikan siapa pun kepadanya: cara pulang dengan benar.

Malamnya, setelah isya, ia menemui Kiai Zulfakar di serambi rumah kiai. Kiai mendengarkan seluruh ceritanya sampai selesai, meminum tehnya sampai habis, lalu berkata:

"Jumat engkau berangkat. Saya izinkan, dan saya yang tulis surat izinnya ke pengasuh asrama. Ada tiga hal yang saya titipkan, dan engkau dengar semuanya sampai selesai sebelum engkau membalas." Kiai mengangkat satu jari. "Pertama. Engkau pulang bukan berhenti belajar. Perjalanan itu kelas juga. Di bus, di rumah sakit, di kamar operasi: di sana ada pelajaran yang tidak ada di kitab mana pun, dan engkau datang sebagai santri yang sedang belajar, bukan sebagai orang pintar yang sudah selesai belajar." Jari kedua. "Kedua. Di rumah sakit nanti, engkau akan ketemu banyak orang, dan tidak semua orang sedang menghadapi hal yang sama dengan engkau. Ada yang lebih berat, ada yang lebih ringan, ada yang sudah kalah. Engkau akan tahu, di sana, bahwa masalah engkau itu bukan yang terbesar di dunia, dan itu bukan buat menghinakan masalah engkau. Itu buat engkau tidak berpuas diri dan tidak putus asa sekaligus." Jari ketiga, dan suara kiai turun satu nada. "Ketiga. Fadil, kemungkinan besar, di rumah sakit itu, engkau akan diberi tahu angka. Angka biaya. Angka persentase. Angka harapan. Dan di depan angka, manusia itu biasanya terbelah dua: ada yang lari ke hitungan, ada yang lari ke shalat. Dua-duanya salah. Yang benar itu engkau pegang hitungan dengan tangan kiri dan shalat dengan tangan kanan, dan dua-duanya engkau tunjukkan kepada Allah, dan engkau bilang, 'Ya Allah, ini yang ada pada hamba-Mu. Sisanya Engkau.' Engkau ingat itu, ya. Jangan engkau mau pilih salah satu. Orang yang cuma pegang shalat dan menolak hitungan itu namanya tidak bertanggung jawab. Orang yang cuma pegang hitungan dan menolak shalat itu namanya sombong. Santri itu pegang dua-duanya."

°Fadil pulang ke asrama malam itu dengan langkah yang ia sendiri tidak kenali, dan di kamarnya, Haris yang sedang melipat cucian menoleh dan bertanya, "Kamu pulang? Kapan?" dan ketika Fadil menjawab, "Jumat, ayah saya operasi," Haris meletakkan cucian itu, duduk, dan berkata dengan nada yang tidak seperti biasanya: "Saf kamu Jumat subuh kosong ya, nanti. Si Syamsul gimana? Dia baru saja mulai shalat, coba."

"Ia yang aku titipin," kata Fadil, dan di ujung kamarnya, santri Madura yang ayahnya baru wafat dua bulan itu sedang duduk di tempat wudhu, membasuh kakinya dengan pelan-pelan, dan mendengar semuanya tanpa menoleh.

°˖✧✿✧˖°

Bus malam itu berangkat pukul lima, dan Fadil memilih kursi dekat jendela, dengan tas punggung berisi pakaian, mushaf kecil pemberian kiai, dan buku kain itu yang ia bawa tanpa disuruh siapa pun. Sebelum berangkat, di depan pintu asrama, Syamsul menungguinya dengan wajah kaku yang berusaha terlihat tidak kaku.

"Bang Fadil. Ini." Ia menyodorkan sesuatu yang dibungkus kain batik kecil. "Sajadah saya. Yang lama, yang pakai di Madura, yang dulu pakai bapak. Saya beli yang baru kemarin, di warung deket pasar. Jadi yang ini saya titipin ke Bang Fadil. Buat... buat bapaknya. Biar bapaknya shalat di rumah sakit pakai sajadah yang pernah shalat di Madura. Bapak saya juga pernah shalat di sana, waktu masih hidup." Ia menarik napas, kalimat berikutnya keluar cepat, seperti ditahan lama: "Bang, saya doakan bapak Bang Fadil. Tiap isya, saya nambahin satu rakaat. Kata Ustaz Zaki yang dulu di Madura, shalat sunnah untuk orang lain itu boleh."

Fadil menerima bungkusan itu dengan dua tangan. "Terima kasih, Syam. Dan jaga saf subuh. Jangan cuma di jaga, ikut shalatnya."

"Iya, Bang." Syamsul mengangguk, lalu menambahkan, pelan, "Bang, boleh tanya sesuatu? Kamu takut nggak?"

Fadil memandangnya. "Takut. Tapi bukan takut yang bikin berhenti. Takut yang bikin aku shalat."

"Bedanya di mana, Bang?"

"Nanti kalau kamu balik dari rumah, saya kasih tau. Sekarang belum bisa dijelasin. Ini yang musti dijalanin dulu." Fadil tersenyum, menyelipkan bungkusan ke dalam tasnya, dan menaiki bus, dan di jendela ia melihat Syamsul berdiri di depan asrama sampai bus berbelok.

Perjalanan itu dua puluh satu jam. Fadil menghabiskannya dengan cara yang tidak ia bayangkan akan ia lakukan dua bulan lalu: shalat di area parkir tiap waktunya tiba, membaca mushaf di jendela, dan menulis di buku kain itu setiap kali sesuatu menyentuhnya. Di halaman pertama perjalanan ia menulis: "Di bus ini ada seorang ibu dengan bayi yang menangis sepanjang perjalanan, dan aku tadinya risih. Setelah maghrib, aku lihat ibu itu shalat di lorong bus, memakai selimut sebagai sajadah. Bayinya tidur di kursi, dan tiap kali bayinya gerak, ibunya menyentuh kakinya, dan kembali sujud. Aku baru sadar, shalat di jalan itu bukan shalat yang kurang. Shalat di jalan itu shalat orang yang sedang pergi, dan orang yang sedang pergi, rupanya, tidak pernah ditinggal oleh Allah di tengah jalan."

Palembang menyambutnya dengan hujan tipis. Dari terminal, ia naik angkutan ke rumah Bude Rasminah, dan di teras rumah itu ibunya sudah berdiri di pintu sebelum ia sempat mengetuk, dan Zubaidah memeluk anak sulungnya tanpa bicara, lalu menahan kepalanya dengan kedua tangan, dan menatapnya dari jarak dekat, dan berkata:

"Kamu kurus, Fadil."

"Ibu yang kurus, Fadil yang kurus." Fadil tertawa, dan tangisnya kebawa tawa itu, dan di balik pintu, Bude Rasminah berseru menyuruh masuk dan menghangatkan makanan, dan sore itu, di teras rumah tetangga di kota yang bukan rumahnya, Fadil makan bubur ayam pertamanya dalam dua puluh satu jam sambil diceritai ibunya seluruh kronologi minggu terakhir, dan satu-duanya tertawa dan menangis bergantian tanpa merasa perlu memilih.

"Pak, besok saya ke rumah sakit," katanya setelah makan.

"Iya. Tapi satu hal dulu, Fadil." Ibu menatapnya, dan di matanya ada sesuatu yang membuat Fadil duduk lebih tegak. "Ayahmu tahu kamu dateng. Ibu udah cerita. Dan ayahmu jawabnya aneh. Dia nggak bilang seneng, nggak bilang nggak usah. Dia cuma bilang satu kalimat, terus dia diam: 'Fadil pulang atau tidak, biar dia shalat dulu, dia yang putusin sama Allah-Nya.' Aneh nggak? Orang sakit jantung, anaknya mau dateng dari Jawa, jawabannya suruh shalat dulu." Ibu menggeleng kecil. "Tapi Fadil, ibu kenal ayahmu tiga puluh tahun, dan ibu tahu itu bukan jawaban asal. Itu jawaban orang yang, sejak pingsan di pasar itu, sudah putus satu hal: dia nggak mau anaknya dateng karena kasihan. Dia mau anaknya dateng karena memilih. Jadi besok, waktu ketemu ayahmu, jangan kebawa kasihan. Kasihan itu nggak dibutuhkan ayahmu. Yang dibutuhkan dia anak yang berdiri di sampingnya, yang sama-sama menghadap Allah, yang sama-sama tau siapa yang pegang besok."

°Fadil mengangguk, dan malam itu, di kamar tamu rumah Bude Rasminah, ia shalat isya dua rakaat sunnah sebelum tidur, dan di sujudnya ia tidak meminta ayahnya sembuh. Ia meminta sesuatu yang lebih kecil dan lebih susah: "Ya Allah, besok aku datang sebagai anak yang memilih, bukan sebagai anak yang kasihan. Tolong buat aku berani ngeliat wajah ayahku tanpa menunduk."

°˖✧✿✧˖°

Ruang rawat jalan itu di lantai empat, jendelanya menghadap ke arah sungai, dan Fadil menemukan ayahnya duduk di kursi dekat jendela dengan jaket yang kebesaran, memandangi luar, dan ketika ia melangkah masuk, Abdul Jabbar menoleh, dan di wajah lelaki itu ada sesuatu yang Fadil hanya pernah lihat sekali dalam hidupnya: tahun lalu, ketika ia pulang membawa juara hafalan dan ayahnya datang dari kebun terlambat setengah hari.

"Ya Allah." Abdul Jabbar bangkit pelan, dan Fadil menyambar lengannya sebelum lelaki itu sempat berdiri penuh. "Fadil. Kamu kurus."

"Bapak yang kurus." Kalimat yang sama yang ibunya ucapkan, dan ayah tertawa, dan tawa itu pecah jadi batuk, dan Fadil menopangnya kembali ke kursi, dan dua lelaki itu duduk berdampingan di kursi rumah sakit sambil mengatur napas keduanya, dan untuk sementara tidak ada yang bicara, dan ketidakterbicaraan itu lebih banyak isinya daripada sebagian besar percakapan hidup Fadil.

"Syamsul titipin ini buat Bapak." Fadil mengeluarkan bungkusan batik itu, membukanya di pangkuan ayahnya: sajadah tua yang pinggirannya lusuh. "Sajadah bapaknya. Dari Madura. Katanya, biar Bapak shalat di sini pakai sajadah yang pernah shalat di tempat yang jauh, jadi rasanya kaya ada temen."

Abdul Jabbar memegang sajadah itu lama, tanpa bicara, dan tangannya mengusap pinggirannya sekali, dan Fadil mendapati bahwa ayahnya, lelaki yang jarang bicara tentang perasaan dalam hidupnya, sedang berusaha tidak menangis di ruang rawat empat, dan ia duduk di sebelahnya, tidak berkomentar, membiarkan lelaki itu menyelesaikan apa yang sedang ia selesaikan.

"Lama juga, ya," kata Abdul Jabbar akhirnya, suaranya pelan. "Gini, Fadil. Ayah mau bicara satu hal, dan ayah minta kamu dengar dulu sampai selesai, baru kamu jawab. Nggak usah buru-buru."

Lihat selengkapnya