6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Sabar yang Tidak Mudah

Sabar yang Tidak Mudah

Kiai Zulfakar mengajarkan bahwa sabar bukan berarti pasif.

°˖✧✿✧˖°

Kabut tebal yang menyelimuti lereng bukit Giri Kendeng belum sempat tersapu fajar ketika deru mesin berat meraung memecah kesunyian Pesantren Darul Hikmah. Udara pagi yang basah beraroma tanah lembap seketika tercemar oleh kepulan pekat jelaga solar hangus yang menyengat kerongkongan setiap orang di pelataran. Di dekat gerbang utara yang berbatasan langsung dengan petak sawah wakaf, suara hantaman keras mendadak berdentang membahana laksana dentuman meriam tua. Benturan logam berat itu disusul jeritan panik para santri belia yang baru saja selesai melantunkan wirid Subuh di teras surau asrama. Pagar bambu pembatas roboh seketika digilas moncong traktor beroda rantai baja yang merangsek masuk tanpa izin resmi dari pihak pengasuh pondok.

"Buldoser kepunyaan Juragan Danubroto sudah melewati patok batas resmi pesantren, Kang! Mereka mulai menimbun parit irigasi utama warga dengan bongkahan batu kali berukuran raksasa!" teriak Fadil Ar Arimbai sembari menghambur ke selasar ndalem dengan napas terengah-engah dan rahang yang mengeras rapat.

Ustaz Hamdan yang sedang merapikan lipatan sajadah bergegas menoleh dengan sorot mata cemas tak terkira. Tangannya refleks mengepal di balik saku jubah putihnya yang masih rapi. Di luar halaman, suara teriakan puluhan orang bersarung mulai berdengung riuh laksana sarang lebah yang terusik, bercampur derit besi tajam bilah buldoser yang meremukkan pematang sawah basah penyangga hidup warga desa. Angin dingin bukit berembus kencang menebarkan serpihan debu dan kekacauan yang tak terelakkan di sekeliling bilik-bilik santri yang ketakutan.

"Berapa banyak preman sewaan yang mengawal alat berat itu ke pematang sawah kita, Fadil Ar Arimbai? Apa mereka kembali membawa pentungan kayu dan rantai besi seperti malam kemarin saat mengintimidasi para petani di ladang jagung?" tanya Hamdan dengan nada suara tertahan di tenggorokan.

"Lebih dari dua puluh orang preman bertubuh kekar, Ustaz! Si Karno Bledheg memimpin di barisan paling depan sambil mengacungkan linggis dan sebilah celurit berkarat! Anak-anak asrama santri tahfidz sudah membawa potongan bambu runcing dari gudang belakang. Izinkan kami turun mengusir mereka sekarang juga sebelum tanah wakaf Kiai diinjak-injak cecunguk biadab itu!" seru Fadil Ar Arimbai berapi-api seraya mengepalkan tinjunya ke udara.

Darah muda pemuda berumur dua puluh dua tahun itu mendidih hebat hingga urat lehernya mencuat merah saga. Amarah santri telah mencapai ubun-ubun setelah berminggu-minggu surat ancaman Danubroto mencoreng ketenangan pondok. Namun sebelum satu pun langkah gegabah diambil, daun pintu jati serambi ndalem terkuak perlahan tanpa derit sedikit pun. Sosok yang sangat dihormati di seantero lereng pegunungan itu melangkah anggun keluar menyapa tatapan gelisah para santrinya dengan tatapan teduh nan penuh wibawa ruhani.

"Letakkan semua bilah bambu runcing dan sabit rumput itu kembali ke tempat semula, Fadil Ar Arimbai. Tidak boleh ada satu pun santri Darul Hikmah yang melangkah keluar gerbang dengan dada berasap amarah dan tangan menggenggam senjata tajam," sabda Kiai Zulfakar Al-Quthuz dengan suara yang tenang berwibawa menyejukkan dada.

Kiai Zulfakar Al-Quthuz berdiri anggun berbalut sarung tenun hijau lumut tua dan surban putih bersih yang tersampir bersahaja di bahu ringkihnya. Sorot netranya begitu teduh laksana telaga pegunungan yang bening tak beriak, namun wibawanya seketika menyedot seluruh amarah yang membakar ruangan hingga sunyi senyap seketika. Tak seorang pun santri berani menyela keheningan wibawa sang guru sepuh di pagi yang genting itu. Seluruh mata terpaku menatap ketenangan wajahnya yang senantiasa bercahaya keikhlasan.

"Tapi Kiai, mereka merusak parit kita terang-terangan di depan hidung kita sendiri! Jika kita cuma diam mematung di sini, bukankah kita sama saja membiarkan kezaliman menindas hak umat? Bukankah sikap mendiamkan kejahatan itu adalah watak pengecut yang hina, Kiai?" gugat Fathir seraya menahan kepedihan mendalam di lubuk hatinya.

"Siapa yang menyuruhmu diam dan pasrah menerima nasib, Fadil Ar Rimbai? Sejak kapan gurumu ini mendidik kalian menjadi keledai dungu penakut yang membiarkan punggungnya dicambuk tanpa martabat diri? Sabar itu bukan berarti pasif terlelap tidur di pojok surau menunggu nasib digilas traktor! Sabar adalah mengikat nafsu amarahmu yang liar dengan tali kewarasan akal budi, agar kakimu bisa melangkah tepat menghantam sendi kezaliman mereka tanpa mencederai muruah pesantren kita!" tegas Kiai Zulfakar Al-Quthuz dengan tatapan yang menghunjam sanubari.

"Jadi apa yang mesti kami lakukan sekarang terhadap Karno Bledheg dan rombongannya di depan mata air, Kiai? Warga."

°˖✧✿✧˖°

Titah sang kiai seketika mengubah arah energi di serambi ndalem. Ketegangan berdarah yang semula mengancam meledak menjadi tawuran massal mendadak terarah ke dalam sebuah kesiagaan taktis yang dingin dan terukur rapi. Hamdan bergegas berlari kencang menuju ruang arsip pustaka tua di sayap barat pesantren, sementara Fadil Ar Rimbai masih berdiri terpaku di sisi tiang jati dengan napas yang berangsur teratur namun tatapan matanya dipenuhi tanda tanya besar yang belum terjawab tuntas di benak mudanya yang resah.

"Kiai Zulfakar Al-Quthuz menduga Danubroto tidak sedang sekadar menggertak pematang sawah kita secara serampangan demi pamer kekuatan belaka, bukan begitu?"

"Buldoser seharga ratusan juta rupiah tidak mungkin digerakkan di pagi buta hanya atas dasar nafsu preman kampung biasa, Fadil Ar Rimbai. Danubroto telah mengantongi selembar surat keputusan bodong dari kantor pertanahan kabupaten kemarin sore. Mereka sengaja memancing santri berbuat anarkis agar polisi memiliki alasan hukum menangkap pengurus pondok dan menyegel seluruh tanah wakaf ini atas tuduhan perintangan proyek strategis daerah."

Mendengar penuturan itu, bulu kuduk Fadil Ar Rimbai meremang seketika. Rencana licik yang begitu rapi terpampang di benaknya seperti tirai yang tersingkap badai. Seandainya tadi ratusan santri menghambur membawa potongan bambu runcing, jebakan hukum itu pasti telah mengatup sempurna mengurung mereka semua di balik jeruji besi dingin. Nafsu amarah yang menyala hampir saja menghancurkan masa depan pesantren dan memadamkan lentera ilmu di lereng bukit ini untuk selamanya.

"Gusti Allah... jadi mereka memang sengaja mengorbankan preman bayaran demi memenjarakan santri dan menyegel tanah leluhur kita? Betapa busuknya muslihat mereka!"

"Iblis tidak pernah menyerang orang beriman dengan tombak tumpul, anakku. Mereka menggunakan tipu daya yang membungkus kezaliman seolah-olah penegakan hukum. Karena itulah Allah berfirman: 'Ishbiru wa shaabiru wa raabithu'. Bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, dan bersiap siagalah di benteng pertahanan! Tidak ada kata pasif di sana. Membangun benteng itu ikhtiar nyata dan kerja keras yang menuntut kecerdasan siasat!"

Pintu pagar halaman samping mendadak berderit keras memecah keheningan. Pak Carik Suroto masuk dengan langkah tergopoh-gopoh seraya menyelipkan sebuah map kulit cokelat tua tebal di bawah ketiaknya. Wajah pamong desa paruh baya itu tampak basah oleh peluh dingin dan pucat pasi bagai mayat hidup yang ketakutan setengah mati menghadapi ancaman para penguasa modal galian pasir yang serakah menindas masyarakat kecil di.

"Kiai! Danubroto membawa notaris dan aparat keamanan sewaan dari luar kota. Mereka menyatakan patok batas tanah wakaf makam dan mata air Sendang Kamulyan telah beralih hak pakai atas nama perseroan tambangnya!"

"Tenangkan napasmu dulu, Suroto. Masuklah kemari dan minum air kendi ini. Tunjukkan padaku pasal mana yang."

°˖✧✿✧˖°

Dua puluh meter dari pagar depan pesantren, suara raungan klakson truk pengangkut pasir bersahut-sahutan memekakkan gendang telinga. Karno Bledheg melangkah congkak dengan baju safari hitam tak berkancing, memamerkan tato rajah naga di dadanya seraya menendang palang bambu penutup jalan desa. Debu pekat berhamburan ke udara menyertai tawa kasar belasan anak buahnya yang menenteng balok kayu dan rantai motor berkarat. Tatapan mereka buas memandangi barisan santri yang berjaga di balik pagar pembatas dengan ketegangan yang kian memuncak dari detik ke detik tanpa henti.

Lihat selengkapnya