6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Ikhtiar

Ikhtiar

Fadil mulai mencari jalan untuk membantu keluarga dari pesantren.

°˖✧✿✧˖°

Kabar dari Prabumulih pada bulan itu datang bertumpuk, dan seperti biasanya hal-hal besar, datangnya tanpa peringatan dan lebih dari satu sekaligus. Yang pertama, surat dari ibunya, yang tulisannya miring ke kanan seperti biasa, tapi kali ini ada dua kata yang tidak pernah ada di surat-surat Zubaidah sebelumnya: "Ibu mohon."

"Fadil anak ibu. Kabar dari rumah ibu sampaikan apa adanya, dan sebelumnya ibu mohon engkau jangan panik. Pemulihan ayah baik-baik saja, Alhamdulillah, Ustaz Dahlan datang tiap Selasa Kamis, ayah sudah hafal empat surat. Tapi ada dua hal yang ibu harus cerita. Pertama, harga cabai jatuh. Sawah yang tersisa itu kami tanami cabai sesuai rencana, dan panen pertama bagus, tapi waktu panen kedua harganya turun sampai setengah, sampai warga jual murah aja enggak laku. Kedua, mata ibu mulai tidak bisa. Jahitan yang dulu ibu kerjain sampai malam, sekarang dua jam aja ibu sudah tidak bisa lihat jarak jarum dan benangnya. Sudah ibu periksakan ke optik, katanya kering karena umur, kasih tetes, tapi kerja jahit itu tetap kurang. Fadil, ibu cerita ini bukan buat mengkhawatirkan engkau. Ibu cerita karena ibu mohon satu hal: kalau engkau ada ikhtiar yang bisa engkau kerjakan dari Jawa, ibu mohon engkau kerjakan. Ibu dulu larang engkau pikirin uang, tapi ibu sadar sekarang, larangan begitu itu ibu yang jaga gengsi, bukan jaga engkau. Engkau sudah dewasa, dan anak yang dewasa itu punya hak ikhtiar. Itu saja. Jangan engkau keluar pesantren. Ibu tulis dua kali, jangan engkau keluar pesantren. Itu syaratnya."

Fadil membaca surat itu dua kali, melipatnya, memasukkannya ke saku, dan duduk di bangku jendela ruang belajar yang sudah lama menjadi tempatnya menerima kabar dari rumah, dan kali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak duduk diam sampai beduk ashar. Ia mengeluarkan buku tulisnya, dan di halaman kosong itu ia mulai menghitung, seperti ayahnya dulu menghitung karung di pasar: uang kiriman pondok untuk makan sekali sehari yang masih tersisa bulan ini, uang jajan yang tidak ia pakai sejak Palembang, dan di seberangnya, angka pengobatan ayah pascaoperasi yang ibu sebut setengah hati di surat-surat sebelumnya, tetes mata, kontrol dua bulanan ke Palembang, dan kebutuhan dapur rumah yang dulu bertumpu pada jahitan yang sekarang melambat.

Ia menghitung di sana-sini, menghapus, menghitung lagi, dan hasilnya setiap kali sama: yang ada di tangannya tidak cukup, dan yang bisa ia kerjakan, sejauh ia ketahui, tidak ada.

"Bang Fadil." Haris, yang datang mengambil kitab yang dititipkan, menatap buku tulis itu lama. "Hitungan apa? Angka semester?"

"Angka rumah." Fadil menutup bukunya. "Har, aku mau tanya. Kamu tau nggak, santri di pondok ini, ada yang punya penghasilan? Bukan dari kiriman. Dari kerja sendiri, dari dalam atau sekitar pondok."

Haris menatapnya lama, dan menarik kursi, dan duduk, dan itu artinya jawabannya tidak pendek. "Ada, tapi enggak banyak. Bang Rohmat kelas tiga, dia ngaji anak-anak di kampung sebelah, tiap Selasa Kamis Sabtu, dibayar per anak. Bang Yusuf bantu warung Bu Umi di depan, dibayar makan dan sisa roti. Terus yang paling stabil tuh Bang Ilham, dia bantu Kiai salin kitab buat penerbitan, katanya per lembar, tapi itu orang yang tulis tangan paling rapi di pondok. Selain itu?" Haris menggeleng. "Santri yang lain tuh ngandelin kiriman, kayak kita. Kenapa, Bang? Kamu mau kerja?"

"Aku mau." Fadil menatapnya. "Tapi aku enggak tahu mulai dari mana. Dan aku takut mulai dari tempat yang salah."

"Salah gimana? Kerja itu kan kerja."

"Kerja itu kerja. Tapi ada yang membuatku ragu, Har. Aku tuh, dua bulan terakhir, baru aja rasanya pegang shalat dengan bener, baru aja shalatku nggak kosong, baru aja aku ngerti amanah yang Kiai titipin itu pegangannya gimana. Terus surat ini dateng, dan aku mikir, kalau aku mulai kerja, dan kerja itu makan waktuku, dan waktuku yang makan itu shalatku yang mulai bolong..." Ia menatap buku tulisnya. "Aku enggak mau kejadian dua kali. Aku enggak mau lagi jadi orang yang shalat lima waktu tapi kosong, apalagi yang bolong. Tapi aku juga enggak mau jadi anak yang ngandelin bantuan pondok terus, sementara di rumah, mata ibuku mulai enggak bisa njahit."

Haris diam lama, memikirkan, lalu berkata: "Bang, aku nggak bisa jawab yang dalam-dalam, itu urusan Kiai. Tapi aku bisa jawab satu hal yang praktis. Besok pagi, sebelum kelas, Kiai biasanya lewat musholla jam setengah enam. Dan Kiai tuh, seumur aku di sini, empat tahun, nggak pernah sekali pun nyuruh santri yang cerita masalah buat diam. Beliau malah yang biasanya curiga kalau santrinya terlalu rapi." Ia bangkit, mengambil kitabnya. "Dan satu lagi, Bang. Kamu tanya ke aku tadi, ada yang punya penghasilan dari dalam pondok. Yang kamu nggak tanya: kenapa yang punya itu cuma tiga empat orang, padahal anak pondok ini ratusan. Jawabannya bukan karena mereka yang paling butuh. Jawabannya karena mereka yang dateng duluan nyari. Yang nggak dateng, ya nggak ketemu. Itu aja dari aku. Sisanya, besok pagi."

°Fadil menatap punggung Haris yang keluar dari ruang belajar itu, dan di buku tulis yang terbuka di meja, di bawah angka-angka yang tidak cukup itu, ia menulis satu kalimat kecil di pojok halaman, kalimat yang ia tidak sadar akan ia ingat lebih lama dari semua angka: "Yang nggak dateng, ya nggak ketemu."

°˖✧✿✧˖°

Musholla pondok pada subuh itu masih berbau kayu basah dan wudhu ketika Kiai Zulfakar masuk, dan Fadil, yang sudah berdiri di saf kedua sejak setengah enam, menyelesaikan shalat subuhnya tanpa menggeser satu langkah pun dari fokusnya, dan hanya setelah jamaah bubar dan kiai duduk di serambi meminum teh, ia mendekat, dan duduk di depannya tanpa disuruh.

"Engkau punya sesuatu yang mau diomongin sejak engkau masuk saf tadi." Kiai tidak menoleh. "Aku bisa lihat dari caranya engkau takbir. Orang yang mau bicara itu takbinya tegang. Duduk. Ngomong."

Fadil menceritakan semuanya, surat ibu, mata Zubaidah, cabai yang tidak laku, hitungan-hitungan yang tidak cukup, dan pertanyaan yang ia bawa: boleh atau tidak seorang santri menghasilkan, dan mulai dari mana. Kiai mendengarkan sampai selesai, dan kemudian diam sebentar, dan ketika bersuara, yang pertama keluar bukan izin atau larangan, tapi cermin:

"Fadil, engkau tahu kenapa engkau datang ke aku pagi-pagi begini, dan bukan langsung ke Bang Ilham minta diajarin salin kitab, atau ke Bu Umi nyari kerja warung? Karena engkau sudah belajar satu hal yang susah: engkau tidak mau mulai dari tempat yang salah, dan engkau tahu mulai dari tempat yang salah itu bukan soal salah pilih kerja, tapi soal kerja itu menggeser amanah yang lebih utama. Itu pertanyaan yang empat tahun lalu engkau tidak akan tanyakan. Empat tahun lalu engkau bakal langsung kerja, terus shalatmu bolong, terus engkau kaget kenapa bolong. Sekarang engkau tanya dulu. Itu kemajuan yang nggak kelihatan di ijazah." Kiai meminum tehnya. "Sekarang jawabanku, dan aku jawab lurus, karena engkau sudah cukup dewasa untuk jawaban lurus. Boleh. Santri menghasilkan itu boleh, bahkan ada teladannya. Para sahabat, banyak yang shalat di masjid dan dagang di pasar, dan tidak ada satu pun ulama yang bilang belajar agama itu harus miskin. Bahkan sebaliknya, ada yang berpendapat, orang yang ilmunya dalam tapi tangannya lemah untuk menghasilkan, itulah yang selalu dalam posisi terjepit. Yang engkau tidak boleh lakukan cuma dua. Pertama, yang menggugurkan amanah utamamu: belajarmu itu utama sampai engkau tamat, itu kesepakatan keluarga engkau dan pondok ini, dan kerja engkau tidak boleh membayarnya dengan shalat yang bolong atau kelas yang tergesa. Kedua, yang haram atau syubhat: engkau pegang enam pintu, Fadil, enam pembuka masalah, dan yang keenam itu amal saleh, ketakwaan, istighfar, sedekah. Pintu penghasilan yang haram itu pintu yang terbalik: dia kelihatannya membuka rezeki, padahal dia menutup keenam pintu yang lain sekaligus. Rezeki haram itu bukan cuma dosa. Dia racik. Dia meracik semua pintu yang engkau pegang."

"Pintu halalnya banyak, Kiai?"

"Pintu halal itu jumlahnya tidak pernah sebanyak pintu haram, karena pintu haram itu lebar dan di jalan besar. Pintu halal itu sempit, sempit tapi ada di mana-mana. Dan engkau tidak menemukannya dengan memandangi jalan besar. Engkau menemukannya dengan duduk dulu, menghitung apa yang engkau punya, bukan apa yang engkau butuh. Engkau punya apa, Fadil? Bukan uang. Kecuali engkau tiba-tiba punya sawah."

Fadil tertawa kecil, tawa pendek yang berisi kerja memikirkan. "Aku punya... hafalan empat surat sampai juz dua puluh, dan hafalan sisa yang rapi. Aku bisa ngaji. Aku bisa ajarin anak ngaji, aku lihat Bang Rohmat begitu. Aku tulis tangan cukup rapi, tapi nggak serapi Bang Ilham. Aku kuat badan, tapi itu..." Ia berhenti di kata itu, dan Kiai menoleh.

"Lanjut. Kuat badan itu apa?"

" itu nggak ada gunanya di pondok, Kiai. Itu bekas SMA."

"Jangan buru-buru nolak bekas." Kiai menatapnya lama, dan di mata lelaki tua itu ada sesuatu yang membuat Fadil mendapati bahwa kiai mengetahui sesuatu yang belum ia sebutkan. "Kuat badan itu, kalau enggak dijual ke jalan yang salah, itu amanah juga. Tapi kita ke sana nanti, kalau perlu. Sekarang aku kasih engkau tiga pintu, dan engkau kerjakan satu-satu, jangan sekaligus. Pintu pertama: ngaji anak-anak di kampung, engkau tanya Bang Rohmat cara masuknya, tapi ingat, itu dibayar per anak dan muridnya sedikit, itu bukan pintu yang besar, tapi itu pintu yang engkau bisa buka minggu ini. Pintu kedua: engkau cerita ke pengasuh diniyah bahwa engkau bersedia jadi asisten di kelas diniyah sore, gantian dengan Bang Yusuf yang mau ujian tahun ini. Gaji itu bukan besar, tapi rutin. Pintu ketiga, yang ini butuh sabar: bulan depan ada penerbit di Surabaya yang dateng ke pondok, mereka nyari santri yang hafalannya kuat buat menyunting naskah terjemah kitab, dibayar per bab. Aku yang rekomendasiin engkau kalau hafalanmu bertahan. Dan Fadil, satu hal lagi yang bukan pintu, tapi pagar ketiga pintu itu." Kiai menatapnya lurus. "Engkau mulai kerja, waktumu bakal sempit, dan engkau akan tergoda ngorbankan yang tidak kelihatan: dhuha, witir, buku catatan pengalamanmu, ngaji sore bareng Syamsul. Yang tidak kelihatan itu, Fadil, yang pertama hilang. Karena yang kelihatan, kelas, ngaji bayaran, itu ada orang yang menunggu. Yang tidak kelihatan, engkau yang satu-satunya yang tahu. Dan orang yang satu-satunya tahu itu, kalau dia diam, nggak ada yang protes. Jadi aku yang protes dari sekarang: lima waktu engkau itu bukan bagian dari sisa waktumu. Itu bagian dari hitungan pertama. Sebelum engkau terima kerja apa pun, engkau taruh lima waktunya dulu di buku jadwalmu, terus sisanya engkau bagi. Kebalikannya, engkau dilarang."

Lihat selengkapnya