Ia mendapatkan amanah baru di pondok.
Panggilan itu datang pada hari Senin, lewat Haris, yang bertemu Fadil di pintu kelas dan berkata hanya satu kalimat: "Kiai nyariin kamu, sehabis dhuha, di serambi. Dia bilang, bawa tehmu sendiri, soalnya percakapannya katanya bakal lama." Dan Fadil, yang sudah tiga tahun di pondok ini mengenal cara Kiai memanggil, membaca dari kalimat itu sesuatu yang membuat perjalanan ke serambi terasa lebih panjang dari biasanya: Kiai tidak pernah menyuruh orang membawa teh sendiri. Kiai selalu menyediakannya.
Di serambi, Kiai sudah duduk, dan di sebelahnya ada dua gelas teh, keduanya penuh, dan di pangkuannya ada sebuah kertas yang dilipat empat.
"Duduk, Fadil. Minum dulu." Kiai menunggu sampai gelasnya setengah, seperti biasanya, dan baru kemudian berkata. "Engkau tahu angka berapa santri baru masuk bulan ini?"
"Kurang lebih dua puluh, Kiai. Yang aku dengar dari pengasuh."
"Dua puluh satu. Dan dari dua puluh satu itu, tiga belas di antaranya anak-anak yang rumahnya jauh, Madura, Kalimantan, Lampung, dan ada satu dari Prabumulih juga, kebetulan, tapi engkau belum kenal. Asrama junior sekarang penuh, dan pengasuh asrama, Ustaz Hamzah, itu satu orang mengurus empat puluh santri junior. Semalam, tadi malam, dia datang ke rumahku jam sepuluh, dan dia bilang, 'Kiai, saya kalah. Empat puluh anak, satu saya. Saya tidak bisa mengawasi, mengajari, menghibur, dan memeriksa sekaligus. Butuh kakak asrama. Butuh musyrif muda. Santri senior yang tinggal di asrama junior, yang jembatan antara saya dan anak-anak, yang anak-anak tidak takuti tapi hormati.' Dan dia minta saya pilih." Kiai meletakkan gelasnya. "Dan saya sudah memilih. Sebelum engkau bicara apa pun, dengar dulu alasannya, karena itu lebih penting daripada keputusannya. Aku tidak memilih engkau karena engkau paling rajin, paling hafal, paling pintar, atau paling rapi. Ada santri yang lebih rajin, lebih hafal, dan lebih rapi dari engkau, dan aku sayang mereka semua. Aku memilih engkau karena satu hal: dua tahun terakhir ini, engkau pernah jadi santri yang shalatnya kosong, santri yang marah dan hampir memukul, santri yang ibunya sakit dan ayahnya di rumah sakit, santri yang shalatnya jalan tapi hatinya di Palembang, dan santri yang kembali. Engkau pernah tinggal di semua kamar-kamar itu, Fadil, dan santri junior yang akan engkau urus, setiap satu dari mereka, sekarang sedang tinggal di salah satu kamar itu. Yang paling bisa mengarahkan orang yang tersesat itu bukan yang tidak pernah tersesat. Yang paling bisa itu yang barusan pulang, dan masih ingat jalannya."
°Fadil memandang kiai itu, dan mendapati dadanya tidak penuh kegembiraan seperti yang ia duga akan dirasakan ketika menerima amanah, tapi penuh sesuatu yang lain yang lebih berat dan lebih nyata: di kepala ia langsung menghitung, bukan kelebihan dirinya, tapi kekurangannya, jam mengajinya, jam diniyahnya, jam suntingannya, jadwal shalatnya yang baru saja ia rapikan, dan di mulutnya, kalimat pertama yang keluar bukan "terima kasih" atau "siap", tapi:
"Kiai, aku mau jujur. Aku takut."
"Iya. Dan itu jawaban yang benar. Kalau engkau jawab 'siap' dengan nada orang yang sudah berhasil, aku batalin amanahnya sekarang juga." Kiai mengangguk. "Takut itu syarat amanah, Fadil, bukan lawannya. Yang tidak boleh itu dua: takut sampai tidak mau memegang, dan berani sampai lupa dia sedang memegang titipan orang. Amanah itu, engkau tahu arti aslinya? Bukan tanggung jawab dalam bahasa sekarang. Amanah itu sesuatu yang dititipkan, yang engkau kembalikan nanti, dan yang engkau kembalikan harus lebih baik daripada waktu engkau terima. Santri itu titipan orang tuanya. Bukan titipan pondok. Pondok itu cuma yang menjaga sementara. Dan engkau, kalau engkau terima amanah ini, engkau jadi tangan yang menjaga sementara itu. Tangan itu, kalau salah pegang, luka itu bukan luka engkau sendiri. Itu luka orang tuanya yang berjarak ribuan kilo dan tidak akan pernah tahu. Makanya orang yang pegang amanah itu harus takut, dan takutnya harus engkau ubah jadi hati-hati, bukan jadi kaku."
"Kiai, jadwal aku..."
"Sudah aku hitung dengan Ustaz Hamzah. Amanah ini bukan tambahan pekerjaan, ini perpindahan tempat. Engkau pindah kamar ke asrama junior, kamar paling dekat pintu, yang sekarang kosong, dan tugas harianmu itu tiga: engkau bangunin dan temani shalat subuh, engkau duduk di kamar masing-masing sepuluh menit setiap malam sebelum lampu mati, dan engkau jadi orang pertama yang mereka panggil kalau ada apa-apa, dan orang terakhir yang menutup pintu asrama. Tiga pintu ikhtiar engkau itu tetap jalan, aku tidak mencabutnya, dan kalau bentrok, yang menang itu amanah yang lebih tua: keluargamu. Itu kita bicarakan kalau benar-benar bentrok. Tapi sebelum engkau jawab iya atau tidak, ada satu hal lagi yang aku harus kasih tau, dan ini yang paling engkau butuh tahu, bukan yang paling engkau ingin tahu." Kiai membuka kertas lipat empat itu, dan tidak menunjukkannya, hanya menatap Fadil. "Ada satu anak di angkatan itu yang namanya aku tulis di kertas ini, dan aku tidak akan sebutkan namanya sekarang. Anak itu, menurut catatan penerimaan, anaknya rajin, hafalannya bagus, surat rekomendasinya memuji. Tapi minggu pertama, dia sudah dua kali tidak shalat subuh jamaah. Minggu kedua, Ustaz Hamzah menemukan dia berbaring di kamar saat waktu ashar, dan alasannya berganti-ganti. Dan semalam, anak itu ditangkap Ustaz Hamzah di belakang asrama jam sepuluh malam, tidak menelepon, tidak bolos kelas, cuma duduk sendirian memandangi gelap, dan waktu ditanya, dia bilang, 'Aku cuma nggak bisa tidur, Ustaz.' Aku tulis nama itu di kertas ini bukan untuk menghukumnya. Aku tulis supaya engkau ingat, Fadil, bahwa di antara empat puluh anak yang akan engkau jaga, ada satu yang tidak akan engkau temui di musholla, dan justru anak itulah yang menjadi alasan amanah ini ada. Kalau semua santri rapi, tidak butuh musyrif. Yang butuh musyrif itu yang belum sampai. Dan anak yang belum sampai itu tidak berhenti jadi santri, dan tidak berhenti jadi titipan orang tuanya."
°Fadil menerima amanah itu pada hari itu juga, dengan jawaban yang bukan "siap" tapi lebih jujur dan lebih benar: "Insya Allah, Kiai. Aku akan pegang. Dan aku akan takut, kayak yang Kiai bilang, karena kalau aku berhenti takut, ya itu artinya aku udah lupa ini titipan orang."
°˖✧✿✧˖°
Pindah kamar itu selesai dalam satu jam, dan pada malam pertamanya di asrama junior, Fadil berdiri di lorong yang pendek itu dengan empat kamar di kiri dan empat kamar di kanan, empat puluh dua nama yang ia hafal dari daftar, dan satu nama yang tidak ada di daftar apapun: nama anak yang ada di kertas lipat empat kiai, yang tidak boleh ia tanyakan, dan harus ia temukan sendiri.
Ustaz Hamzah mengantarnya ke tiap kamar. Ustaz itu berumur empat puluhan, bengkak matanya, suaranya lelah tapi lembut, dan cara ia memperkenalkan Fadil itu Fadil catat di kepalanya sebagai pelajaran pertama: bukan "ini musyrif kalian, patuhilah", tapi "anak-anak, ini Kak Fadil. Dia santri tingkat akhir, dia yang akan bangunin kalian subuh, dan kalau kalian ada apa-apa dan tidak berani bilang saya, bilang ke dia. Dia dulu juga pernah jadi anak baru di sini, jauh dari rumah, dan dia ingat rasanya."
Dan di kamar ketiga, sisi kiri, yang dihuni delapan anak, Fadil bertemu anak itu, walaupun ia belum tahu itu anak itu.
Anak itu bernama Luthfi, dari Lampung, umur tiga belas, dan malam itu ia duduk paling pojok dengan kitab terbuka tapi tidak dibaca, dan ketika Fadil menyapa, ia menjawab dengan rapi, sopan, cepat: "Baik, Kak." Ketika ditanya sudah makan belum, "Sudah, Kak." Ketika ditanya kenapa tidak ikut hafalan sore tadi, "Sakit perut, Kak, sekarang sudah baik." Jawaban-jawaban itu keluar mulus, tanpa jeda, dan Fadil, yang tiga tahun lalu adalah ahli jawaban mulus sendiri, mendapati dirinya mengenali suara itu: suara orang yang menjawab bukan untuk menjawab, tapi untuk menutup pintu.
"Aku juga dulu sering sakit perut di sini," kata Fadil, pelan, sambil melihat kitab di pangkuannya. "Setiap kali ada hafalan sore. Nanti kalau sakit perutmu kambuh, bilang aku aja, aku tahu satu tempat di dapur yang jual air jahe."
Luthfi menoleh sekali, cepat, dan menatapnya dengan ekspresi yang tidak sempat ia atur, dan di ekspresi itu ada sesuatu seperti orang yang ditebak, dan Fadil tidak melanjutkan, tidak bertanya lagi, hanya berkata ke seluruh kamar: "Sepuluh menit lagi lampu mati. Yang belum wudhu, sekarang. Yang sudah, tidur yang bener, subuh jangan disuruhin bangun dua kali." Dan ia keluar, dan di lorong, ia mendapati dirinya memikirkan jawaban "sakit perut" itu sepanjang jalan ke kamarnya, dan menuliskannya di buku kain, di halaman yang sekarang bukan lagi buku catatan shalatnya sendiri saja: "Malam pertama sebagai musyrif. Belajar satu hal: anak yang menjawab terlalu mulus itu bukan anak yang baik. Itu anak yang sudah berlatih menjawab lebih lama dari anak lain. Dan latihan menjawab mulus itu, biasanya, latihan menyembunyikan."
Subuh-subuh berikutnya membentuk rutinitas yang baru dan aneh: Fadil bangun paling awal, mengetuk tiap kamar dua kali, berdiri di lorong sampai empat puluh anak lewat, dan tiga hari pertama, semuanya hadir, dan Fadil memikirkan kemungkinan bahwa catatan kiai itu sudah usang. Pada hari keempat, satu ranjang di kamar ketiga kosong.
Ia tidak mengetuk keras. Ia masuk, dan menemukan Luthfi dalam selimut, dan berkata hanya, "Subuh, Lut. Aku tunggu di saf." Dan ia keluar, dan Luthfi datang, lima menit sebelum iqamah, wudhunya setengah jalan, dan Fadil tidak berkata apa-apa tentang itu, dan di saf, ia hanya menggeser badannya sedikit supaya ada ruang di sebelahnya, dan Luthfi masuk ke ruang itu tanpa diundang dan tanpa menolak.