Sebuah barang pesantren hilang.
°˖✧✿✧˖°
Kabar itu datang pada pagi Kamis, sebelum kelas, lewat Haris yang berlari ke asrama junior dengan sarungnya setengah terpasang, dan kalimat pertamanya yang membuat seluruh lorong tiga kamar junior berhenti bergerak: "Kotak infak musholla hilang. Semalam. Yang di gudang musholla, kotak besinya, isinya uang infak jamaah subuh sebulan terakhir."
Fadil, yang sedang menyusun daftar hafalan junior untuk pekan itu, menurunkan bukunya perlahan. "Kamu yakin hilang, bukan dipindahin?"
"Yakin. Ustaz Hamzah cari dari subuh. Gudangnya kekunci, kuncinya ada dua, satu di Ustaz Hamzah, satu di bangsal, dan kotaknya nggak ada. Uang infak itu, Bang, itu uang buat minyak lampu musholla, air wudhu, sama kas ngaji anak kampung. Semua yang jalan tiap hari itu, dana uangnya dari kotak itu." Haris menatapnya. "Dan yang lebih parah, Bang, kabar udah jalan ke asrama senior. Dan yang lagi dibicarain di sana..."
"Fadil." Suara dari pintu lorong. Ustaz Hamzah berdiri di sana, berkas di tangan, dan wajah lelaki itu, yang dua pekan lalu Fadil lihat lelah, pagi itu tampak seperti orang yang sudah tidak tidur. "Aku minta kamu ke ruang pengurus. Sekarang."
Di ruang pengurus, Kiai Zulfakar sudah duduk, dan di sebelahnya ada Pak Karmen, penjaga bangsal dan kunci gudang, yang wajahnya pucat lebih dari Ustaz Hamzah, karena satu dari dua kunci itu miliknya. Kiai mengangguk pada Fadil, dan berkata sebelum semua yang lain: "Fadil, duduk. Sebelum kita bicara soal kotaknya, aku mau bicara dulu soal ini." Ia menatap Pak Karmen. "Bapak Karmen, kunci bapak itu terakhir dipakai kapan?"
"Kamis lalu, Kiai, waktu ngambil sapu. Sejak itu nggak. Aku yakin, Kiai, aku taruh di kotak kunci, yang di bangsal, dan kotak itu..."
"Yang enggak berkunci." Kiai mengangguk. "Jadi ada satu malam penuh di mana kunci gudang itu ada di kotak yang bisa dibuka siapa saja yang lewat. Dan kotak infaknya ada di dalam gudang, dan uang infak itu, kita semua tahu, nggak dihitung tiap hari, dihitung tiap Jumat. Jadi jendela waktu itu, Fadil, lebar." Kiai memandang seluruh ruangan, lalu kembali ke Fadil. "Sekarang aku bicara yang paling susah untuk dibilang, dan aku bilang duluan sebelum orang lain yang bilang. Malam itu, Kamis ke Jumat, ada satu anak junior yang jadwal kerja resminya sampai maghrib, di warung dekat pasar, dan dia pulang melewati bangsal. Anak itu Luthfi. Dan Luthfi, enam minggu lalu, pernah berbohong di pondok ini, pernah nyuri waktu kerja sembunyi-sembunyi, dan pernah ditemukan di belakang asrama jam sepuluh malam. Orang-orang akan bicara. Nggak bisa ditahan. Dan aku bicara ini di depanmu bukan karena aku tuduh dia. Aku bicara ini karena aku musyrifmu, dan aku tahu, dalam beberapa hari ini, nama itu akan datang ke telingamu berkali-kali, dengan nada yang beda-beda, dan yang aku mau engkau siap bukan buat membela dia buta. Aku mau engkau siap buat satu hal yang lebih susah dari membela: berlaku adil. Adil itu, Fadil, bukan membela yang lemah dan menghukum yang pernah salah. Adil itu menguji semua orang dengan ukuran yang sama, dan ukuran itu bukan riwayatnya. Ukurannya buktinya."
"Kiai, ada satu hal yang bisa aku sampaikan sekarang juga." Fadil duduk lebih tegak. "Kamis malam itu, Luthfi sama aku. Kami shalat isya di musholla, terus sampai jam delapan kami di ruang belajar, menghafal, dia persiapan ujian hafalan Jumat, aku periksa. Jam delapan lampu mati, terus kami balik asrama bareng, dan sebelum dia masuk kamar dia minta tolong aku liatin jadwal kariernya, maksudku jadwal kelasnya, minggu depan, dan itu jam setengah sembilan. Dia di sebelah aku dari isya sampai setengah sembilan, Kiai. Gudang itu, kalau dibuka malam itu, harusnya dibuka sebelum atau sesudah jam itu, dan kotak kunci di bangsal itu ada di lorong yang kami lewati dua kali. Kalau dia yang ambil, aku yang nggak ngeh, itu mungkin. Tapi kalau dia yang sengaja, dia harus super hati-hati, dan anak yang super hati-hati biasanya nggak pernah ditemuin duduk bareng musyrifnya selama satu setengah jam sebelum dan sesudahnya."
Kiai memandangnya lama, lalu mengangguk pelan. "Itu bukti, atau itu alibi?"
"Itu... yang aku lihat, Kiai. Aku nggak bisa nyebut itu bukti, karena aku bukan saksi yang netral, aku musyrifnya. Tapi aku bisa nyebut itu yang aku lihat, dan aku nggak mau nambahin ke orang-orang apa yang aku nggak lihat."
"Sekarang engkau ngerti kenapa aku panggil engkau duluan sebelum semua orang." Kiai bangkit, mengambil tongkatnya. "Dengar, aku kasih aturan mainnya, dan aturan ini berlaku buat semua, termasuk aku, termasuk engkau, termasuk Ustaz Hamzah. Pertama, nggak ada penggeledahan kamar tanpa ada di depan yang punya kamar dan musyrifnya, dan nggak ada tuduhan yang diucapkan sebagai pertanyaan di depan anak-anak. Kedua, yang hilang itu kotak infak, dan yang hilang itu bukan cuma uangnya. Yang hilang itu kepercayaan, dan kepercayaan itu, kalau dikejar dengan tuduhan, dia nggak balik, dia pindah. Ketiga, dan ini yang engkau pegang sebagai musyrif: anak-anak junior sekarang sedang menonton kita. Mereka nggak belajar dari apa yang kita omongin di ruang pengurus ini. Mereka belajar dari cara kita ngadepin kehilangan ini. Kalau kita panik dan tuduh, mereka belajar bahwa pondok ini, waktu ada yang hilang, orangnya yang dicari duluan. Kalau kita tenang dan cari bukti, mereka belajar bahwa ada yang lebih berharga dari uang infak sebulan, itu cara pondok ini jaga orang. Dan keempat, yang ini ke engkau, Fadil." Kiai menatapnya. "Engkau musyrif. Barang itu hilang di asrama engkau, di lingkungan engkau. Entah siapa pelakunya, itu bukan salah engkau. Tapi tanggung jawab menyelidikinya, itu punya engkau. Dan aku mau engkau kerjakan dengan satu cara: engkau cari kebenarannya, bukan penjahatnya. Bedanya jauh, Fadil. Yang cari kebenaran itu temenin sama Allah. Yang cari penjahat itu biasanya ketemu orang yang salah, bukan orang yang bener."
°Fadil keluar dari ruang pengurus itu dengan empat aturan main di kepalanya dan satu perasaan yang tidak ia kenali sepenuhnya: bukan takut seperti waktu menerima amanah musyrif, tapi sesuatu yang lebih tajam, karena kali ini yang diuji bukan kemampuannya menjaga empat puluh dua anak. Kali ini yang diuji adalah kemampuannya menahan mulutnya sendiri, dan tangan orang-orang di sekitarnya, di tengah kabar yang sudah berlari lebih cepat dari kebenaran.
°˖✧✿✧˖°
Dan kabar itu berlari, seperti yang Kiai bilang, dan di hari yang sama, sebelum ashar, Fadil mendengarnya dari tiga arah berbeda dengan tiga bentuk berbeda. Di kelas, seorang senior berkata pelan ke temannya, cukup keras untuk didengar: "Junior yang dulu kerja sembunyi-sembunyi itu kan, ya, yang jadi tersangka." Di lorong asrama, dua junior bersbisik dan berhenti bersbisik ketika Fadil lewat. Dan di musholla kampung, sore itu, saat ngaji anak, Bu Aminah, yang biasanya membawa kue, datang membawa pertanyaan: "Mas Fadil, betulkah di pondok ada yang ambil uang infak, katanya anak yang dulu pernah bermasalah itu?"
Fadil menjawab pertanyaan terakhir itu dengan cara yang ia pegang sejak ruang pengurus pagi itu: "Bu, yang hilang itu kotak infak, dan yang lagi dicari itu kebenarannya, bukan orangnya. Nanti kalau sudah ketemu kebenarannya, insya Allah semua yang perlu tahu akan tahu. Yang saya minta buat sekarang, jangan nambahin cerita yang belum dicek, karena cerita yang belum dicek itu, Bu, kayak ngaji tanpa tanda baca, bisa salah baca arahnya."
Tapi pertanyaan yang paling berat datang bukan dari ketiga arah itu, tapi dari arah yang tidak ia sangka akan perlu ia hadapi: dari Luthfi sendiri, malam harinya, sepuluh menit sebelum lampu mati, di kamarnya, di depan tujuh teman sekamarnya yang pura-pura sibuk.
"Kak." Anak itu berdiri di depan Fadil, dan nadanya pelan tapi tegak. "Aku tahu mereka semua ngomongin aku. Aku dengar dari tadi pagi. Dan aku mau minta satu hal ke Kak Fadil, dan aku minta dijawab jujur, bukan dijawab buat buat aku seneng." Ia menarik napas. "Kak Fadil sendiri, kira-kira, percaya nggak aku nggak ambil?"
Lorong itu, dan kamar itu, mendadak senyap, dan tujuh anak junior yang pura-pura sibuk itu berhenti pura-pura, dan Fadil memandangi Luthfi, dan mendapati bahwa pertanyaan anak itu lebih berat daripada seluruh pertanyaan yang datang hari itu dari semua arah lainnya digabung, karena menjawabnya butuh satu hal yang tidak bisa ia pinjam dari siapa pun: kejujuran tentang dirinya sendiri.
"Lut, aku mau jawab dengan jujur, dan jawabannya ada dua bagian." Fadil memandanginya. "Bagian pertama: kepala aku, tadi pagi, waktu pertama denger kabar itu, dan denger namamu keluar duluan, ada sepersekian detik, Lut, yang mikir, 'Ya Allah, jangan sampai dia.' Dan aku mau bilang itu, karena aku nggak mau bohong ke kamu soal isi kepala aku, kamu tau apa artinya bohong pakai nama orang. Tapi bagian kedua, dan ini yang pegang aku sejak tadi pagi: kepala aku itu mikir begitu karena inget kamu yang lama. Tapi mata aku, tadi pagi, waktu Kiai tanya jadwal Kamis malam itu, langsung inget kamu di sebelah aku dari isya sampai setengah sembilan, ngapalin buat ujian Jumat, nanya jadwal minggu depan. Dan yang aku percaya bukan kepala aku, Lut. Yang aku percaya itu yang aku lihat. Dan yang aku lihat itu kamu di sebelah aku, jam-jam yang dituduhkan itu." Ia berhenti, dan menambahkan, pelan: "Tapi aku mau kasih tau satu hal yang lebih penting dari semua ini. Ini bukan soal aku percaya kamu. Aku bisa salah lihat, aku bisa nggak ngeh, aku bisa kecewa. Ini soal satu hal yang lebih gede: kotak itu nggak hilang sendirian, dan kebenarannya itu nggak sembunyi selamanya. Dan tugas aku bukan membela kamu. Tugas aku nyari kebenarannya, dan kebenaran itu, Lut, itu bukan cuma buat nyelamatin kamu. Itu buat semua orang di pondok ini, termasuk orang yang beneran ngambil itu, karena orang yang beneran ngambil itu, kalau nggak ketemu sekarang, dia bakal kehilangan sesuatu yang lebih mahal dari uang infak sebulan: dia bakal nganggeuh, seumur hidupnya, bahwa nyuri itu bisa selamat."
Luthfi menatapnya lama, dan kemudian mengangguk sekali, dan berkata, dan kalimat itu keluar dengan cara yang membuat Fadil menyadari bahwa anak umur tiga belas itu telah berubah sejak surat Lampung: "Kak, aku nggak butuh kamu buktiin aku nggak nyuri. Aku udah buktiin ke diri aku sendiri kemarin, waktu aku di terminal dan nggak naik bus. Yang aku butuh cuma satu: jangan sampai karena aku, anak lain yang pernah salah sekali di pondok ini nggak pernah dikasih kesempatan lagi. Karena waktu itu Kak Fadil nggak nyerahin aku ke aturan waktu aku nyuri jadwal kerja. Kak Fadil bikin aturannya lebih baik. Nah sekarang, kalau semua orang tuduh aku, dan Kak Fadil nyerahin aku ke tuduhan itu cuma karena capek, itu artinya aturan yang Kak bikin waktu itu cuma buat aku, bukan buat semua yang dateng belakangan."