Fadil menjadi salah satu orang yang dicurigai.
Ujian itu datang pada hari Jumat pagi, dua pekan setelah malam Rabu ketika Rohmat kembali dengan kotak infaknya, dan datangnya bukan lewat kabar dari luar, tapi lewat buku catatan yang ditulis tangannya sendiri.
Fadil, yang sejak kas ta'awun dibuka dua bulan lalu menjadi pencatatnya, karena Kiai menyetujui usulannya dengan satu tambahan, "yang mencatat itu harus orang yang jadwalnya paling bisa dipantau, dan musyrif itu jadwalnya paling bisa dipantau", sedang melakukan hitungan rutin Jumat di ruang tengah asrama junior ketika angkanya tidak cocok. Ia menghitung ulang. Lembar lima ribuan itu ditumpuk tiga kali, dicocokkan dengan catatan masuk dua pekan terakhir, termasuk setoran Luthfi yang pertama dari jadwal kariernya resmi, termasuk setoran anonim Jumat itu yang datang tanpa nama seperti biasa, dan hasilnya setiap kali sama: di buku tercatat enam ratus delapan puluh ribu, di kotak ada empat ratus tiga puluh ribu. Kurang dua ratus lima puluh ribu.
Ia duduk di ruang tengah itu lama, memandangi buku catatan tangannya sendiri, dan yang datang bukan panik, tapi sesuatu yang lebih dingin: ia tahu persis di mana dua ratus lima puluh ribu itu, karena dua ratus lima puluh ribu itu ada di dalam amplop di tasnya di kamarnya, dan ia mengetahui itu karena ia sendiri yang mengambilnya, Selasa lalu, jam dua pagi.
"Bang Fadil, kok dari tadi diem." Luthfi lewat membawa cucian, lalu berhenti, menatap buku itu. "Kasnya kurang ya."
"Lut, aku... iya. Kurang." Dan di hadapan anak itu, di depan buku tangannya sendiri, Fadil mendapati dirinya berdiri di titik yang paling jujur dari seluruh hidupnya di pondok ini: ia bisa menjelaskan semuanya sekarang, kepada anak yang paling akan mengerti, atau ia bisa menunggu, memperbaikinya Jumat malam dengan uang tiga pintunya, dan mencatatnya sebagai setoran anonim, dan tidak ada yang akan pernah tahu. Dan jeda yang ia ambil untuk memilih itu, yang hanya beberapa detik, ternyata cukup lama untuk dilihat.
Luthfi meletakkan cucian itu. "Bang. Selasa malam itu. Jam dua pagi. Aku yang lewat ke kamar mandi, aku lihat Kak Fadil di kamarnya Ustaz Hamzah, di depan kotak kas. Aku nggak ngomong apa-apa karena aku mikir Kak Fadil lagi nyatet, nggak mungkin lain." Anak itu menatapnya, dan suaranya menurun satu nada di kalimat yang berikutnya, dan nadanya itu membuat dadanya sesak: "Bang, aku mau bilang sesuatu yang nggak enak. Tadi pagi, waktu Ustaz Hamzah nanya ke seluruh kamar siapa yang pernah lewat bangsal Selasa malam, aku yang jawab duluan. Aku bilang aku lihat Kak Fadil di depan kotak. Bang, aku udah mikir semalaman, aku udah doa subuh dua rakaat buat minta petunjuk, dan aku tetep ke sana. Karena Kak Fadil sendiri yang ngajarin aku waktu kamu dituduh nyuri kotak infak: jangan nutupin pakai nama orang, jangan beda-beda ukuran, dan jangan ada yang namanya menolong di belakang punggung. Kalau aku diam, aku ngelanggar tiga-tiganya, dan yang aku langgar itu pelajaran dari orang yang sekarang aku tuding, dan itu, Bang, itu pengkhianatan yang paling susah dimaafin." Ia menarik napas. "Maaf, Kak Fadil. Dan Kak Fadil, kamu punya waktu sampai siang buat cerita duluan sebelum mereka panggil kamu. Aku nggak akan nambahin apa-apa. Yang aku lihat itu udah aku omongin semua, dan nggak lebih."
°Fadil menatap Luthfi lama, dan di ruang tengah asrama junior itu, di pagi Jumat yang mulai ramai, ia menemukan dirinya menerima pelajaran yang tidak ia minta dari anak umur empat belas: bahwa amanah yang ia pegang tentang kejujuran itu ternyata bukan amanah yang boleh dia pegang sendiri. Amanah itu berjalan sendiri, dan sekarang berjalan ke arahnya, dari mulut anak yang diajari mulut itu jalan.
"Terima kasih, Lut," katanya akhirnya, dan suaranya datang pelan tapi utuh. "Dan aku nggak marah. Aku nggak bisa marah. Kamu baru aja lakuin yang paling susah di dunia ini: ngomong jujur ke orang yang ngajarin kamu jujur. Itu, Lut, itu lebih susah dari semua yang pernah aku minta ke kamu, dan kamu lakuin tanpa aku minta. Aku ke Ustaz Hamzah sendiri sebelum siang. Dan satu hal, Lut, dan ini penting: cerita kamu itu benar. Aku di depan kotak itu Selasa malam. Aku yang ambil dua ratus lima puluh ribu. Tapi kenapa aku ambil, itu cerita yang panjang, dan aku yang harus ceritain, bukan kamu, bukan mereka. Tunggu aku di majelis nanti."
°˖✧✿✧˖°
Sebelum siang, seperti janjinya, Fadil berdiri di ruang pengurus, di depan Ustaz Hamzah dan Kiai Zulfakar, dan kali ini tidak ada teh yang disiapkan dua gelas, dan tidak ada yang menyuruhnya duduk, dan ia berdiri sampai Kiai menunjuk kursi.
"Kiai, Ustaz Hamzah. Sebelum semua yang lain, aku mau kasih tau yang paling penting: yang hilang itu bukan dicuri. Aku yang ambil. Dua ratus lima puluh ribu, Selasa malam, jam dua pagi, dari kotak kas ta'awun, pakai kunci cadangan yang ada di gantunganku sejak Kiai buka aturan baru soal kunci. Dan aku belum nyatet di buku, dan aku belum kasih tau siapa-siapa, dan rencana aku itu, dan aku sekarang ngerti rencana itu salah, aku gantiin Jumat malam ini dari penghasilanku, terus aku nyatet sebagai setoran anonim, jadi nggak ada yang tau ada kekurangan sama sekali." Fadil menatap dua orang itu. "Aku mau cerita kenapa aku ambil, tapi sebelum itu, aku mau kasih tau dulu yang paling susah aku ucapin: aku tahu ini namanya nyolong, walaupun niat aku nggak buat nyolong. Karena aku yang ngajarin anak-anak, waktu kasus kotak infak, bahwa yang salah itu bukan cuma yang ambil uangnya, tapi yang sembunyiin. Dan aku baru aja lakuin persis yang aku ajarin mereka buat nggak dilakuin. Aku minta maaf dulu. Terus aku cerita kenapanya."
Kiai Zulfakar memandangnya lama, dan tidak menyuruhnya cerita dulu. Yang kiai tanyakan hal yang lain: "Fadil, satu pertanyaan, dan jawabnya jujur, bukan jujur buat manis. Waktu engkau ambil uang itu Selasa malam, waktu tangan engkau ada di kotak itu, di kepala engkau waktu itu, itu mengambil atau mengganti?"
°Fadil terdiam, dan pertanyaan itu masuk lebih dalam dari semua tuduhan yang akan datang sore itu, karena di antara dua kata itu ada seluruh perbedaan yang ia sendiri tidak yakin, dan ia menjawab setelah lama: "Kiai, waktu itu, di kepala aku, itu mengganti. Aku rencananya Jumat malam ganti. Tapi sekarang, di sini, Kiai, aku harus jawab yang jujur: kalau itu beneran di kepala aku mengganti, aku nyatet waktu itu juga. Aku nyatet setoran semua orang langsung, bahkan yang sepuluh ribu. Tapi dua ratus lima puluh itu aku nggak nyatet. Dan aku mikir sejak tadi pagi kenapa aku nggak nyatet, dan jawabannya yang paling jelek dan paling jujur: karena aku nggak mau ada yang tahu aku pernah pegang uang itu. Kalau bener-bener mengganti, kayak aku gantiin uang Rohmat yang jadwalnya, itu dicatet, itu ada jadwalnya, itu jujur. Yang aku lakuin Selasa itu... itu nutup luka dari luar, kayak kata Kiai waktu itu. Niatnya nolong. Tapi jalannya sembunyi. Dan sembunyi itu, Kiai, kayak yang Kiai ngajarin, nggak ada yang namanya nolong di belakang punggung."