
Shalat Istikharah
Fadil meminta petunjuk Allah.
°˖✧✿✧˖°
Dua kabar itu datang dalam pekan yang sama, dan datangnya bukan berturut-turut yang memberi waktu berpikir, tapi bersamaan, pada hari Kamis, satu di pagi dan satu di sore, seolah ada yang sengaja mengujinya apakah ia bisa memegang dua pintu terbuka dengan dua tangan tanpa mengeluh.
Yang pertama datang lewat Kiai Zulfakar, sehabis dhuha, di serambi dengan teh seperti biasa. "Fadil, engkau tamat tahun ini, dan aku mau kasih tahu sesuatu yang sudah aku pikirkan sejak engkau pegang musyrif. Ustaz Fauzi, tahun depan, diangkat ke pondok cabang di Jombang, itu sudah diputuskan pengurus besar. Dan yang menggantikan posisinya di diniyah sini, kalau engkau setuju, itu engkau. Bukan cuma asisten. Pengampu diniyah, guru tetap, musyrif senior, dan majelis doa Kamis itu tetap engkau pegang, dan gajinya itu, Fadil, bukan gaji santri lagi, itu gaji pengajar. Dan engkau tahu apa artinya itu bagi aku? Artinya pondok ini nggak kehilangan apa-apa waktu aku nanti nggak sanggup. Engkau, Haris, Syamsul, Fauzan, Luthfi: kalian itu, Fadil, yang aku tanam. Dan yang aku tanya sekarang cuma satu: engkau setuju enggak? Dan aku nggak butuh jawabannya hari ini. Aku butuh jawabannya sebelum Jumat depan, karena pengurus besar kumpul Jumat itu, dan nama engkau harus masuk rapat itu atau nggak."
Yang kedua datang lewat surat ayahnya, sore, dan surat itu, yang tulisan tangan Abdul Jabbar makin rapi sejak enam surat terakhir, berisi sesuatu yang tidak Fadil duga sama sekali, dan yang membuat sore itu ia duduk di bangku jendela ruang belajar sampai maghrib tanpa membuka kitab:
"Fadil anak ayah. Kabar rumah baik-baik saja, Alhamdulillah. Ayah sudah sebelas surat yang ayah hafal, dan ngaji anak-anak di musholla gang itu sekarang empat puluh dua anak, dari yang dulu dua belas. Tapi ayah mau cerita sesuatu yang bukan soal hafalan. Pak Dahlan, ustaz yang ngajarin ayah, bulan depan dia pindah ke Palembang, ikut anaknya, dokternya bilang jantungnya nggak kuat ngajar lagi. Sebelum pindah, Pak Dahlan sama pengurus musholla sama tetangga sudah ngomongin sesuatu: mereka mau bikin madrasah kecil, diniyah yang bener, bukan ngaji serambi doang, ada kelasnya, ada jadwalnya, ada tingkatannya, dan yang ngajar butuh yang bisa, bukan cuma yang hafal enam surat kayak ayah. Dan Fadil, ayah tulis ini bukan buat minta kamu pulang. Ayah tulis ini karena ayah pernah salah satu hal di umur ayah, dan ayah nggak mau ulang: dulu, waktu kamu lulus SMA, ayah yang putusin suruh kamu merantau ke Jawa tanpa nanya kamu mau apa, dan itu keputusan yang bener, tapi caranya salah, dan kamu tahu sendiri berapa tahun kita dua-duanya bayar caranya yang salah itu. Sekarang gilirannya kamu yang putusin, dan ayah nggak akan berkata-kata, dan ibu juga nggak, dan yang ayah bisa kasih cuma kenyataan di sini: madrasah itu kalau jalan, insya Allah jalan, dengan atau tanpa kamu, orang-orang sini yang ngurus, tapi yang bisa jadi pengampunya itu nggak gampang dicari, dan kalau kamu yang ada, madrasah itu bukan cuma jalan, dia jalan dengan cara yang ayah nggak bisa bayangin, karena kamu bawa enam pintu itu ke tempat yang selama ini cuma pegang satu-dua. Ayah tunggu kabar kamu. Apa pun itu, ayah terima. Ayahmu, Abdul Jabbar."
°Fadil menatap dua hal itu di meja: jadwal rapat pengurus Jumat depan di satu sisi, surat ayah di sisi lain, dan di tengahnya ada ia sendiri, di tahun terakhir, di hadapan dua pintu yang dua-duanya terbuka dan dua-duanya bener, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menghadapi pilihan yang bukan antara yang bener dan yang salah, tapi antara yang bener dan yang bener, dan pilihan macam itu, ia sadar malam itu, jauh lebih berat dari semua yang pernah ia hadapi, karena yang salah boleh dibuang tanpa sesal, tapi yang bener dan yang bener, salah satunya harus ditinggalkan, dan meninggalkan yang bener itu, ternyata, lebih berat daripada meninggalkan yang salah.
°˖✧✿✧˖°
Ia tidak menjawab keduanya malam itu. Ia melakukan hal yang pernah ia pelajari di bus Palembang tiga tahun lalu, tapi kali ini ia melakukannya dengan sadar dan sepenuh-penuh: ia shalat istikharah.
Jam sebelas malam, musholla pondok sudah sepi, dan Fadil berwudhu dengan air yang dingin, memakai sajadah di pojok belakang yang selalu kosong, dan shalat dua rakaat, dan di tengah-tengah doanya, di bagian yang ia hafal dan yang tidak ia hafal, ia menyisipkan doa dengan bahasanya sendiri: "Ya Allah, aku mau milih. Ada dua jalan di depan aku, dan dua-duanya baik, dan aku nggak tahu yang mana yang Engkau lebih suka. Kalau pondok ini baik buat aku dan aku baik buat pondok ini, permudahkan aku di sana. Dan kalau Prabumulih yang baik, permudahkan aku ke sana. Dan Ya Allah, kalau dua-duanya baik dan Engkau pilih yang aku nggak pilih, buat hatiku tenang dengan pilihan Engkau, lebih tenang daripada pilihan aku."
Dan di malam itu, di musholla yang sepi itu, tidak ada yang datang. Tidak ada mimpi yang ia ingat, tidak ada tanda yang ia kenali, tidak ada kabar keesokan paginya yang tiba-tiba membuat semuanya jelas, dan ia bangun subuh dengan hati yang sama seperti semalam: dua pintu, dua-duanya terbuka, dan ia di tengah. Dan yang terjadi di hari-hari berikutnya adalah sesuatu yang ia tidak rencanakan: ia mulai mencari petunjuk di segala tempat, seperti orang yang kehilangan kunci dan menyisir setiap sudut. Saat makan, Haris menyinggung soal gaji pengajar, dan ia menganggapnya tanda. Di ngaji kampung, seorang anak bertanya kapan Kak Fadil lulus, dan ia menganggapnya tanda. Di surat yang kedua dari ayah, ada kalimat "madrasah itu kalau jalan, insya Allah jalan, dengan atau tanpa kamu", dan ia membaca kalimat itu enam kali, dan sekali ia membacanya sebagai "ayah nggak butuh aku", dan sekali sebagai "ayah kasih aku kebebasan", dan dua pembacaan itu menghasilkan dua kesimpulan yang berlawanan, dan Fadil mendapati dirinya, untuk pertama kalinya sejak tujuh hari buku kain itu, berada di dalam shalat yang kosong: shalat-subuh-subuh itu ia jalani tepat waktu, tapi isinya bukan Allah, isinya rapat Jumat dan madrasah gang dan dua puluh dua anak kampung dan serambi yang selalu disiapkan dua gelas tehnya, dan di sujud, di sujud-subujud itu, ia bukan sujud. Ia menghitung.
Dan pada malam Kamis, setelah majelis doa bubar dan ruangan sepi, Haris yang membantunya menata kursi berkata hal yang membuat semuanya berhenti: "Bang, kamu tahu kamu nggak hadir di majelis tadi?"
"Aku hadir, Har. Aku yang baca daftar doanya."
"Hadirnya badan, Bang." Haris menata kursi terakhir, lalu menatapnya. "Waktu kamu baca permintaan yang ketiga, yang buat ibu-ibu yang sakit itu, kamu baca dua kali kata 'yang' sama. Dan waktu kamu doa penutup, doanya pendek banget, kayak orang yang kehabisan waktu. Bang, aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan, dan aku nggak mau tahu kalau kamu nggak mau cerita. Tapi satu hal yang aku bisa lihat: kamu tuh seminggu ini kayak orang yang lagi nyari kunci sambil megang kunci. Dan itu, Bang, itu yang paling bikin orang capek."