Fakta tentang hilangnya barang mulai ditemukan.
Fadil Ar Rimbai sedang menghabiskan tiga ayat terakhir juz tiga puluh ketika terompet pintu asrama diketuk dengan kasar.
"Fadil! Bangun! Fadil!"
Zain. Suaranya pecah, tertelan napas. Fadil menaruh mushaf, menyalakan lampu, dan membuka pintu. Udara malam masuk bersama hujan yang baru reda.
"Kena apa kau?"
"Gudang koperasi." Zain menopang lutut, terengah. "Gudangnya kosong, Fadil. Uang infaq, sembako, beras. Semuanya hilang."
Fadil merasa dadanya didinginkan sesuatu. Ia mengambil sarung, menggantungkan peci, dan berlari menyusuri koridor yang basah oleh rembesan hujan. Di depan gudang koperasi, sudah berkumpul beberapa santri. Lampu lentera berdiri di tanah, membakar bayang-bayang panjang.
Ustaz Hamdan berdiri di ambang pintu gudang. Tangannya menggenggam gembok yang masih terpasang, mengayunkannya pelan. Bunyi logam itu berulang, dingin.
"Rantai tidak diputus," katanya tanpa menoleh. "Pintu tidak dibolongi. Gembok dibuka dengan kuncinya."
Rak-rak yang biasanya penuh kini tampar. Karung beras yang Fadil ingat ditumpuk seminggu lalu tinggal bekas kotaknya. Laci besi terbuka, dan amplop infaq yang semalam dihitung Pak Mursid, bendahara koperasi, tidak ada.
"Siapa terakhir yang keluar dari sini?" tanya Ustaz Hamdan.
Tidak ada yang menjawab. Lalu mata-mata di sekitar lentera perlahan bergerak, mengarah ke satu orang. Salim.
Ia berdiri paling belakang, muda, kurus, dengan kain pelukannya masih terselip di saku. Salim adalah santri yang merangkap penjaga koperasi. Yang memegang satu-satunya kunci gudang.
"Salim." Ustaz Hamdan memanggilnya seperti memanggil anak kecil yang tertangkap mencuri. "Kuncimu di mana?"
"Di sini, Ustaz." Salim mengangkat tali gantungan kunci yang tergantung di lehernya. Suaranya kecil. "Saya kunci sembilan kurang sepuluh. Semuanya masih ada waktu itu. Saya tutup raknya sendiri."
"Kamu tutup sendiri, kamu kunci sendiri, dan kamu satu-satunya yang punya kunci." Ustaz Hamdan memasukkan gembok ke saku. "Itu bukan pembelaan, Salim. Itu keterangan."
"Ustaz, saya tidak..."
"Uang infaq itu untuk makan santri yatim bulan ini." Suara Hamdan meninggi, memotong. "Amplopnya baru dihitung semalam oleh bendahara. Enam ratus tujuh puluh lima ribu. Ditambah sembako kirangan wali murid. Sekarang kosong. Kamu harap saya percaya hantu yang membukanya?"
Salim menunduk. Tangannya menggenggam tali kunci itu seperti menggenggam tali tempat bergantung.
Fadil melangkah maju. "Ustaz, malam hujan. Mungkin ada yang masuk dari..."
"Dari mana, Fadil? Pintunya rapat. Jendelanya berjeruji." Ustaz Hamdan menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam itu Fadil melihat lelah yang bukan dari rasa lapar. "Aku tahu kau dekat dengan anak ini. Tapi dekat tidak boleh menggantikan bukti. Aku beri waktu tiga hari. Kalau uang itu tidak kembali, koperasi tutup, dan Salim pulang ke kampungnya. Dengan surat keterangan yang tidak enak dibaca orang tuanya."
Lentera digendam. Orang-orang menyebar dalam gelap. Salim masih berdiri di tempatnya, dan Fadil melihat bibirnya bergerak, melafalkan sesuatu yang Fadil tidak dengar, tapi ia kenal bentuknya dari gerakannya.
Istighfar. Anak itu sedang beristighfar, padahal ia yang tertuduh.
Fajar berikutnya Fadil menemukan Salim duduk sendirian di serambi belakang masjid, menatap kolong meja yang di bawahnya ada sepiring nasi dingin, tidak tersentuh.
"Sarap dulu," kata Fadil, duduk di sisinya.
"Saya tidak bisa telan." Salim menggenggam nasi itu, lalu meletakkannya lagi. "Bang, saya tidak mengambilnya. Saya bersumpah."
"Kau tidak perlu bersumpah padaku."
"Tapi orang sudah tidak mau dengar saya." Salim menatapnya. Matanya merah, tapi tidak menangis. "Yang saya bisa katakan cuma satu, Bang. Malam itu, sebelum pulang, saya berjalan mengelilingi gudang. Kebiasaan. Saya lihat jejak kaki di tanah belakang. Jejak sandal, besar, arahnya ke kolong pohon dadap. Saya tidak berani bilang semalam. Ustaz Hamdan sudah memutuskan, kalau saya bilang, saya dituduh menyebar-alih."
Fadil menegakkan badan. "Jejak sandal. Kau yakin?"
"Yakin. Dan jejak itu bukan sandal saya. Sandal saya tidak sampai setengahnya."
Fadil diam lama. Di kepalanya, suara Kiai Haji Zulfakar terdengar seperti gemuruh jauh, dari tahun-tahun yang sudah lama. Enam pembuka masalah. Simpan itu lebih baik daripada harta.
"Baik," kata Fadil akhirnya. "Tiga hari yang Ustaz Hamdan beri. Aku pakai. Kau satu hal saja tugasmu: jangan buka mulut soal jejak itu ke siapa pun sebelum aku yang bilang. Bukan karena sembunyi, tapi karena bukti yang dibawa mulut orang ketakutan tidak berharga."
"Kalau tiga hari habis, Bang?"
Fadil meletakkan tangannya di pundak anak itu. "Kalau tiga hari habis, dan kebenaran belum bicara, aku yang berdiri di depanmu waktu keputusan dijatuhkan. Ijan itu."
Ia pulang lewat masjid, berwudhu, dan menunaikan shalat dua rakaat. Di duduk terakhirnya ia berdoa dengan kalimat yang sudah bertahun-tahun menjadi kunci yang sama: Ya Allah, aku meminta kebenaran dari-Mu. Tunjukkanlah yang benar sebagai yang benar, dan berilah aku mengikutinya.
Setelah dzuhur ia menemukan Zaki di kios buku. Zaki, sahabat lamanya yang berdagang alat tulis di depan pesantren, menyodorkan gelas teh sebelum Fadil sempat duduk.
"Kudengar soal gudang," kata Zaki. "Dan aku dengar juga kau mau ikut campur. Fadil, dengar. Kau guru ngaji, bukan polisi. Ustaz Hamdan sudah menunjuk orangnya. Kau masuk hanya untuk kena pukulnya."
"Zaki, anak itu tidak mengambil."
"Semua orang bilang anak itu yang mengambil."
"Itulah masalahnya." Fadil meniup tehnya. "Semua orang memutuskan sebelum melihat. Ada jejak kaki di belakang gudang, Zaki. Besar. Bukan punya Salim. Ada orang lain di sana malam itu."
Zaki terdiam, lalu menghela napas panjang. "Ya sudah. Tapi satu syarat. Kalau nanti terbukti kau hanya memperpanjang siksaan anak itu, kau yang bicara sama Ustaz Hamdan. Aku tidak mau kiosku jadi markas pencuri."
Fadil tertawa kecil, yang pertama sejak semalam. "Deal."
Sore itu, dengan lampu senter dan payung bekas, Fadil menyusup ke tanah belakang gudang. Hujan semalam melembutkan tanah, dan tanah lembek itu bersikap jujur: di kolong pohon dadap, tercetak jejak sandal karet ukuran besar, dan di sampingnya, tertanam setengah, sebutir pasir kerikil yang dikenalnya. Tapi yang membuatnya berlutut bukan itu.
Rantai gembok yang tergeletak di samping pohon. Utuh. Tidak ada goresan pahat, tidak ada bekas dijal. Gembok itu memang dibuka dengan kuncinya sendiri.
Dan Salim bukan satu-satunya orang yang punya kunci.
Keesokan paginya, tekanan datang dari arah yang Fadil tidak sempat mengira.
Ustaz Hamdan membuka loker Salim di asrama di depan saksi-saksi. Di laci tengah, tersimpan dua lembar uang kertas lima puluh ribuan, dilipat rapi, dan sebuah amplop dengan nama "Ibu" di tutupnya.
"Terang saja," kata Ustaz Hamdan, mengangkat uang itu dengan dua jari. "Jutaan infaq hilang, tapi di loker penjaganya ada seratus ribu kering. Salim, ini uang apa?"
"Uang saya, Ustaz." Suara Salim serak. "Hasil saya jemur pakaian orang sejak bulan puasa. Untuk obat ibu saya. Ada surat dari rumah minggu lalu, ibu sakit pinggang, tidak bisa kerja. Uang itu mau saya kirim besoknya."
"Bukti suratnya?"
Salim mengeluarkan lipatan kertas dari saku, mengulurkan dengan kedua tangan. Ustaz Hamdan membacanya lama, dan Fadil melihat ada keraguan sekejap di matanya, sebelum keraguan itu dikubur lagi.
"Surat bisa ditulis siapa saja," kata Hamdan. "Bungkusnya, masukkan ke berkas. Yang jelas, uang di loker, kunci di leher, gudang kosong. Tiga hal itu jalan bareng, Salim."
Berita menyebar cepat seperti air ke tumpahan. Di ruang makan, di sumur, di barisan shalat ashar, Fadil mendengar bisik-bisik yang selalu berakhir dengan nama yang sama. Salim makan sendirian. Anak-anak kecil yang biasa memanggilnya "Bang Salim" sekarang menunduk lewat.
Fadil mendatangi Zain sore itu. Zain duduk di tangga asrama, lututnya diangkat, wajahnya pucat.