Kabar buruk itu datang dengan sarapan.
Fadil sedang mengantre di dapur ketika Salim menembus kerumunan santri, wajahnya putih seperti orang yang baru lari jauh.
"Bang Fadil. Jangan panik. Tapi... ada orang dari yayasan. Datang pagi-pagi. Mereka buka kamarmu."
"Kamarku? Kenapa?"
"Bukan saya yang tahu caranya, Bang. Mereka bawa surat. Ustaz Hamdan ikut, tapi mukanya kaku, seperti orang yang dipaksa." Salim menurunkan suaranya sampai nyaris hanya getaran. "Mereka bilang, di bawah kasurmu... ada uang."
Fadil meletakkan piringnya. Tangan ia tengadahkan, melihat apakah gemetar. Tidak gemetar. Bagus.
"Berapa?"
"Satu juta dua ratus ribu. Dalam amplop cokelat. Amplop koperasi, Bang. Yang kosong di gudang itu." Salim menelan ludah. "Dan surat pengaduannya sudah ada sejak semalam. Dikirim ke yayasan. Isinya, kau yang mendalangi pencurian, kau yang paksa Pak Mursid mengaku, supaya kau bisa ambil alih koperasi."
Di ruang tengah asrama, dua orang asing sudah menunggu. Yang tua berjas batik, kumisnya tersisir rapi, dengan map kulit di pangkuan. Yang muda berdiri di belakangnya, badan lebar, tangan di belakang punggung. Fadil mengenali wajah yang muda itu. Ia pernah melihatnya di kegelapan mobil sedan yang berhenti di depan gerbang, dengan sebatang rokok menyala.
"Fadil Ar Rimbai?" Yang tua membuka map itu tanpa menunggu jawaban. "Ustaz Hasyim, dari yayasan. Ada beberapa hal yang harus kita bahas. Kau boleh duduk."
"Aku cukup berdiri, Pak."
"Baik. Maka dengar baik-baik." Ustaz Hasyim mengeluarkan lembar demi lembar kertas. "Semalam, yayasan menerima surat pengaduan atas namamu. Isinya: kau memalsukan bukti, menekan saksi, dan memeras pengakuan dari bendahara yang sudah tua. Paginya, uang koperasi ditemukan di kamarmu. Di bawah kasurmu sendiri, Fadil. Kau punya penjelasan?"
"Cukup banyak, Pak. Tapi semuanya butuh waktu, dan waktu itu harus di tempat yang benar, dengan orang-orang yang benar. Bukan di koridor."
"Koridor sudah cukup untuk satu pertanyaan." Ustaz Hasyim menutup mapnya. "Yayasan memutuskan, mulai hari ini kau diberhentikan sementara dari mengajar. Semua kegiatan. Sampai pemeriksaan selesai. Ini bukan vonis, ini prosedur."
"Dari kamar saya juga, Pak?" Fadil menatapnya lurus. "Karena kalau saya harus keluar dari pesantren dengan tuduhan yang belum dibuktikan, bukan prosedur namanya. Itu pengusiran yang dikemas rapi."
Ustaz Hamdan, yang sejak tadi berdiri seperti patung di dekat pintu, akhirnya bersuara. Suaranya berat, tidak enak. "Fadil. Dengerin saya sekali saja. Saya yang buka kamarmu tadi pagi, dan saya juga yang tidak mengerti bagaimana uang itu bisa ada di sana. Kalau ada yang harus diuji, ujilah saya juga. Tapi prosedur ini bukan keputusan saya."
"Aku tahu, Ustaz."
"Fadil." Ustaz Hasyim bangkit, membetulkan jasnya. "Aku dengar kau murid kesayangan Kiai Zulfakar. Sayang. Orang yang disayangi kiai biasanya lupa bahwa pesantren punya yayasan, dan yayasan punya aturan. Tiga hari. Itu yang aku beri. Sama seperti yang Ustaz Hamdan berikan kepadamu waktu itu, kata orang."
Senyum yang ia sisipkan di akhir kalimat itu adalah bagian yang paling mengganjal.
Setelah mereka pergi, serambi tengah tinggal berisik. Santri-santri menonton dari balik jendela. Salim berdiri di samping Fadil, dengan tangannya mengepal.
"Bang, ini fitnah. Kita tunjukin aja bukti kemarin ke orang yayasan. Sekarang juga."
"Belum." Fadil membetulkan pecinya. "Bukti yang ditaruh di meja orang yang sudah memutuskan bukan bukti, Salim. Itu umpan. Mereka tidak datang untuk mencari kebenaran. Mereka datang untuk mengambil sesuatu. Dan kita belum tahu apa."
Ia menemukan jawabannya sebelum dzuhur, di serambi kursi berlengan, dan jawaban itu membuat dadanya rasanya seperti diseret.
Kiai Zulfakar lebih lemah dari kemarin. Tangan tua itu tergeletak di atas selimut, dan suaranya yang keluar terputus-putus. Tapi ketika Fadil duduk di sampingnya dan mulai bercerita, mata tua itu terbuka, dan di dalamnya masih ada yang menyala.
"Jadi," kata sang kiai setelah Fadil selesai, "satu juta dua ratus ribu tumbuh di bawah kasurmu. Seperti jamur setelah hujan."
"Seperti itu, Pak Kiai."
"Dan surat pengaduan datang semalam, sebelum uang ditemukan paginya."
"Juga seperti itu."
"Bagus." Sang kiai tertawa kecil, lalu batuk, lalu melanjutkan tawanya dengan lebih hati-hati. "Kau tahu apa artinya urutan itu, Fadil? Yang menuduh tahu isi kamar sebelum kamar dibuka. Artinya yang menuduh itu yang menaruh."
"Pak Kiai, saya tahu. Tapi membuktikannya beda urusan. Zain masih tutup mulut. Pak Mursid sejak kemarin hilang, tidak ada di dapur, tidak ada di kamarnya. Saksi-saksi saya satu-satu menguap. Tiga hari lagi saya dikucilkan."
Sang kiai diam lama. Hujan kecil mulai menyapu atap serambi, dan keduanya mendengarkan itu bersama, seperti dulu, bertahun-tahun lalu, ketika masalah yang datang masih sebesar ujian hafalan.
"Fadil, ingat waktu aku titipkan amanah enam pembuka masalah?" Sang kiai akhirnya bicara, dan suaranya mendadak jernih, seperti orang yang baru minum. "Aku tidak titipkan itu supaya kau hidup enak. Aku titipkan supaya kau tahu cara berdiri waktu enak itu diambil. Sekarang waktunya." Tangannya yang tua bergerak, menggenggam pergelangan Fadil, dan lemah itu tidak, ternyata. Genggamannya masih punya akar. "Tiga hal. Jangan lari dari tuduhan, karena yang lari mengubur dirinya. Jangan balas fitnah dengan fitnah, karena yang begitu mencuri dari peti lawannya. Dan jangan buktikan dirimu sendiri. Buktikan kebenarannya. Nama yang benar tidak perlu dikejar. Ia menunggu, dan ia datang sendiri."
"Kalau sampai tiga hari, dan nama saya belum datang?"
"Kalau begitu," sang kiai tersenyum, dan di senyum itu ada sesuatu yang membuat Fadil ingin menangis dan tertawa bersamaan, "maka bukan namamu yang salah. Yang salah hanya waktunya. Dan waktu, Fadil, itu pekerjaan Allah. Tugasmu cuma satu: jangan berhenti sebelum Dia selesai."
Fadil keluar dari serambi ketika azan dzuhur berkumandang. Ia tidak langsung ke dapur. Ia berhenti di tengah halaman, menghadap kiblat, dan menunaikan shalat sunnah dua rakaat di tengah halaman yang basah, tanpa peduli santri-santri yang lewat dan menatap.
Orang-orang akan bicara. Biarlah. Doanya sudah ia susun sejak pagi, kalimat yang sama, kunci yang sama: Ya Allah, aku tidak membela diriku. Aku serahkan pembelaanku pada-Mu. Buka jalan yang aku tidak lihat.
Jalan itu ternyata membuka dengan cara yang paling tidak ia duga. Setelah asar, Zaki mengetuk pintu kamarnya dengan kertas kecil di tangan, dan muka sahabat lamanya itu merah seperti orang yang lari dari pasar.
"Fadil. Fadil, dengerin. Kiosku. Ada yang pesan gandakan kunci."
"Kunci apa?"
"Kunci gembok, Fadil. Tipe gembok koperasi." Zaki menarik napas, kertas itu ditaruh di meja dengan tangan yang tidak stabil. "Minggu lalu, sebelum kejadian, datang orang ke kiosku. Gendut, jas hujan dibawa di tangan. Bilang kuncinya hilang, minta gandakan. Aku buatkan, lima belas ribu, dan aku kasih nota. Kertas ini salinannya. Dan Fadil..." Zaki menelan ludah. "Nota aslinya tadi ada orang tanyakan. Datang, beli pulpen, terus sengaja lihat nota-nota di kotakku. Aku pura-pura sibuk. Kertas ini aku selamatkan."
Fadil mengambil kertas itu. Di atasnya, tanggal, jam, dan tulisan kasar tangan Zaki: ganda kunci gembok, satu buah.
Tanggalnya tiga hari sebelum gudang koperasi jebol.
Hari pertama pemberhentian itu berjalan seperti hari yang dicuri dari kalender.
Kelas mengajinya kosong. Santri-santri yang biasa menumpuk di serambi belakang sekarang menyebar, dan yang berani menatap hanya menatap sebentar, seperti orang menatap matahari. Di dapur, tempat duduknya diliputi panci yang bukan urusannya. Ada yang bilang ia sudah dikirim ke kota. Ada yang bilang polisi datang malam. Kabar yang paling dalam, yang sampai ke telinganya lewat Zain yang pucat: uang itu, kata orang, angkanya cocok dengan uang yang Pak Mursid akui ditarik dari amplop.
Malamnya Salim datang dengan mata merah.
"Bang, saya tidak tahan lihat begitu. Saya cerita aja sama semua orang. Saya bilang, yang dituduh kemarin saya, sekarang yang dituduh orang yang nyelametin saya. Kalau mereka tidak percaya, ya terserah."
"Salim." Fadil menariknya duduk. "Kalau kau bicara sekarang, mereka dengar satu hal saja: santri yang hampir diusir membela gurunya. Itu bukan saksi, itu simpati. Dan simpati bisa dibantah dengan senyum."
"Terus kita diam?"
"Kita kerja." Fadil menyodorkan kertas nota dari Zaki. "Lihat tanggalnya. Kunci ganda dibuat tiga hari sebelum gudang jebol. Yang buat kunci itu bukan saya, bukan kau, bukan Pak Mursid. Yang datang ke kios Zaki gendut, bawa jas hujan. Dan Zain pernah lihat orang gendut bawa jas hujan malam kejadian. Dua hal ini nyambung, Salim. Yang kita butuh cuma orang yang berani menyambungkannya di depan yang benar."
"Zain masih takut."
"Aku tahu." Fadil menatap jendela, ke arah asrama putra tempat Zain tinggal, yang lampunya menyala kuning di malam itu. "Dan aku tidak bisa paksa. Takut itu bukan dosa. Tapi diam waktu kebenaran butuh saksi itu, lama-lama, jadi berat juga di dada orang yang diam."
Pukul sepuluh malam, ada yang mengetuk. Zain. Ia masuk tanpa menyalakan lampu, duduk di tepi kasur, dan untuk waktu yang lama hanya memandangi tangannya sendiri.
"Bang Fadil." Suaranya kecil sekali. "Kemarin, ada orang ke kamar ayah saya. Di kota. Ayah saya kerja jadi sopir, Bang. Ia kasih amplop ke ayah saya. Isinya banyak. Bilang, itu 'honor cerita'. Tinggal ayah saya bilang ke saya, jangan ikut-ikut urusan koperasi. Kalau cerita terus, ayah saya nggak kerja lagi. Banyak sopir mau, katanya."