6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Jangan Sombong Ketika Menang

Jangan Sombong Ketika Menang

Kiai Zulfakar memberikan peringatan.

°˖✧✿✧˖°

Kemenangan itu ternyata punya rasa, dan rasanya manis sekali.

Tiga hari setelah nama Fadil dibersihkan, pesantren seperti pasar hari raya. Santri kecil menunggu di koridor hanya untuk menyapa. Wali murid yang lewat berhenti, berjabat tangan, dan tidak pergi sebelum menyebutkan sekali kata "bangga". Di kios Zaki, teh diseduh gratis untuk siapa pun yang mau dengar cerita, dan cerita itu, tiap kali diceritakan Zaki, tumbuh satu inci.

"Dan waktu semua orang duduk," kata Zaki di depan rombongan pembeli buku, "Fadil maju dengan tiga lembar kertas, seperti advokat."

"Empat lembar," Fadil menyahut dari bangku, tidak sengaja, dan tertawa kecil ketika semua orang tertawa. "Empat. Yang keempat nota kunci."

Malunya hanya sepersekian detik. Lalu ia ikut tertawa, dan yang ia tidak sadari: ia sudah mulai menghitung lembar.

Di warung es teh Pak Mursid, yang sekarang ramai oleh orang yang datang bukan untuk es teh, Fadil duduk di kursi rotan seperti tamu kehormatan. Ia duduk di sana hampir tiap sore. Dan tiap sore, ceritanya diulang. Baru kali ketiga ia sadar bahwa versi yang keluar dari mulutnya sendiri sedikit berbeda dari yang terjadi: di versinya, ia sudah tahu dari awal bahwa amplop di kamarnya tanaman. Padahal malam itu ia menangis di serambi.

"Saben itu," katanya pada sore yang kelima, sambil mengangkat gelas, "tinggal bandar yang kehabisan kartu. Di balai kota nanti, saya yang akan mengajarkan dia apa artinya tanah pesantren."

Warung tertawa. Ia menikmati tawa itu, dan menikmatinya dua kali dengan mengulang kalimatnya dalam hati sebelum tidur.

Musyawarah pengurus digelar Kamis malam, untuk menetapkan wakil pesantren di balai kota. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Fadil Ar Rimbai bicara paling banyak di ruangan yang bukan kelasnya.

"Kita kirim wakil, bukan rombongan," katanya, mengetuk meja. "Semakin banyak, semakin lemah. Sabeni pandai memecah orang yang datang banyak. Saya kenal caranya, saya sudah pernah melihatnya dari dekat."

"Kalau begitu saya ikut," kata Ustaz Rahman, pelan seperti biasa. "Aku sudah kenal notaris-musyawarah kota sejak..."

"Ustaz Rahman, terima kasih." Fadil mengangkat tangan, sopan, cepat. "Tapi yang mereka gagalkan namanya saya. Yang mereka fitnah namanya saya. Yang mereka tantang di balai kota juga saya. Biar saya yang datang. Satu orang, satu mulut, satu keputusan."

"Satu mulut," ulang Ustaz Hamdan, dan ada sesuatu di suaranya yang tidak biasa, "yang semalam sudah dibaca Sabeni sampai ke kotanya. Fadil, ucapkanmu di warung, sampai ke pasar. Orang-orang mengutipmu seperti mengutip pengumuman resmi."

"Kalau ucapanku benar, Ustaz, diulang pun tidak jadi salah."

Ustaz Hamdan diam. Ustaz Rahman menatapnya lama, dengan tatapan yang Fadil baca sebagai kekaguman, padahal bukan. Dan di ujung ruangan, di kursi berlengan yang pindah ke ruang musyawarah karena kiai tidak lagi sanggup jalan jauh, Kiai Zulfakar menutup mata sepanjang diskusi. Ketika musyawarah selesai dan keputusan dijatuhkan sesuai kemauan Fadil, sang kiai membuka mata dan hanya bertanya satu hal, kepada seisi ruangan, bukan kepada siapa-siapa:

"Sudah selesai menangnya?"

Tidak ada yang menjawab, karena tidak ada yang tahu itu pertanyaan sungguhan.

Fadil pulang malam itu dengan langkah ringan dan rencana yang panjang di kepala. Esoknya ia panggil Zain dan menyodorkan tugas: kumpulkan semua cerita kejahatan Sabeni, tanggal, nama, saksi. "Kita bawa senjata yang lengkap," katanya. "Kalau dia mulai, kita tutup mulutnya dengan berkasnya sendiri."

Zain menerima tugas itu dengan anggukan kecil, tapi di jalan pulang ia menggenggam buku tulisnya lebih lama dari biasanya.

°˖✧✿✧˖°

Keputusan itu tercetak resmi Jumat pagi, di papan pengumuman pesantren, dengan huruf yang ditulis tangan Ustaz Hamdan: Wakil pesantren untuk musyawarah tanah di balai kota: Ustaz Fadil Ar Rimbai.

Satu nama. Satu baris. Dan baris itu, tanpa disadari siapa pun, adalah undangan untuk semua hal yang kemudian datang.

Fadil menghabiskan hari Sabtu untuk persiapan, dan persiapan itu ia kerjakan seperti orang menyiapkan panggung. Ia memilih baju: jas abu-abu yang biasa dipakai hanya di walimah. Ia memilih kata: kalimat pembuka yang tajam, kalimat cadangan yang lebih tajam. Ia berlatih di depan cermin kamar mandi, tanpa sadar, sampai santri kecil yang lewat menatapnya aneh.

Yang ia tidak latih cuma satu: duduk diam.

Minggu sore, ia bertemu Kiai Zulfakar di serambi untuk melapor. Ia membawa berkas: salinan surat tanah, salinan undangan, catatan kalimat-kalimat Sabeni yang bocor dari orang dalam yayasan. Ia meletakkan semuanya di meja kecil dengan pukulan yang sedikit keras, karena di kepalanya itu terlihat mantap.

"Pak Kiai, saya siap. Kalau dia tanya tanah, saya jawab tanah. Kalau dia bawa surat, saya bawa balik. Kalau dia main kotor..."

"Fadil."

"...saya sudah siap semuanya, Pak Kiai. Yang penting pesantren tidak kalah..."

"Fadil." Suara tua itu tidak keras, tapi ia berhenti seperti orang yang menabrak dinding. Kiai Zulfakar menatap berkas-berkas itu lama, lalu menatap wajah muridnya. "Kau bawa apa-apa untuk didengar? Atau semuanya untuk diucapkan?"

Fadil tertegun. "Maksud Bapak?"

"Di balai kota nanti, yang paling berat bukan menjawab Sabeni." Sang kiai menggulung selimutnya yang tergeser. "Yang paling berat itu duduk diam waktu diam lebih kuat daripada jawaban. Kau sudah latih yang mana?"

Anehnya, pertanyaan itu terasa seperti ejekan, dan Fadil menjawabnya dengan nada yang lebih tinggi dari yang ia rencanakan. "Pak Kiai, waktu kemarin, waktu semua orang mengubur saya, yang menyelamatkan itu jawaban. Bukti, tanggal, tulisan tangan. Saya tahu persis cara kerjanya."

"Iya," kata sang kiai, dan di kata "iya" itu tidak ada kemenangan, hanya kesedihan yang halus. "Kau tahu cara menang melawan fitnah. Itu kemarin. Besok bukan fitnah, Fadil. Besok itu panggung, dan panggung itu disiapkan dia, dengan lampu yang dia nyalakan. Kau yakin lampunya menerangi dia?"

Fadil membungkuk, mengumpulkan berkasnya, dan berjalan pulang dengan napas yang lebih panjang dari biasanya. Malam itu ia tidak menyadari bahwa pertanyaan kiai adalah pintu yang diketuk. Yang ia sadari cuma satu: ia harus siap lebih sempurna lagi.

Ia menambah dua kalimat tajam ke catatan persiapannya. Dua kalimat yang kemudian, dengan cara yang tidak ia bayangkan, menjadi batu yang diikat ke kaki orang lain.

°˖✧✿✧˖°

Ucapan yang diulang di warung, ternyata, punya kaki.

Senin pagi, sebelum Fadil selesai sarapan, Zaki datang berlari dengan sehelai kertas fotokopi. "Fadil. Lihat. Ini ditempel di pasar, di depan terminal, di kantor pos. Aku ambil satu."

Kertas itu membuka kalimatnya sendiri, di tengah, dengan huruf yang ditebalkan: "Saben itu tinggal bandar yang kehabisan kartu. Di balai kota nanti, saya yang akan mengajarkan dia apa artinya tanah pesantren." Ustaz Fadil Ar Rimbai, Pesantren (nama pesantren).

Di bawahnya, dengan tinta cetak: "MUSYAWARAH TANAH? INI MUSYAWARAH ATAU MENANTANG? RAKYAT KOTA MENILAI SENDIRI."

"Siapa yang cetak?"

"Siapa lagi?" Zaki melempar kertas itu ke meja. "Dan ini bukan cuma tempelan. Tadi di pasar, orang-orang yang dulu bilang pesantren kejam sudah pakai itu. Bacaan mereka mundur, Fadil. Sekarang mereka bilang pesantren yang sombong."

Fadil membaca kalimatnya sendiri di kertas itu, dan baru di kertas asing itu ia mendengar bagaimana kalimatnya terdengar di luar warung. Di dalam warung itu keberanian. Di kertas itu tantangan. Di dalam warung ia bercanda. Di kertas itu ia mengancam.

Sorenya, tekanan turun satu per satu seperti hujan yang menemukan semua bocoran sekaligus.

Pertama dari dapur: kontrak beras. Pemasok yang mengantar beras pesantren sejak sepuluh tahun berhenti tanpa penjelasan, dan saudara sepupu Sabeni, kata orang, sudah menunggu dengan truk penuh dan harga naik dua kali.

Kedua dari warung es teh: cicilan Pak Mursid dibatalkan. Orang Sabeni datang, bilang "karena pesantren sudah menantang di kertas," jadi semua cicilan jatuh tempo hari itu juga, dan warung itu, satu-satunya penghasilan keluarga yang sudah selesai menghanguskan dirinya untuk kebenaran, berdiri di ambang penjualan.

Lihat selengkapnya