6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Masalah di Luar Pesantren

Masalah di Luar Pesantren

Konflik lain menyeret Fadil karena kemampuan bela dirinya.

Perjalanan ke kota itu selesai dalam satu jam empat puluh menit, dan Fadil menghabiskan semuanya dengan diam.

Ustaz Rahman duduk di tengah, dengan berkas berpasir di pangkuannya. Ustaz Hamdan mengemudi. Zain ikut, duduk paling belakang, memegang ponsel yang tugasnya satu: merekam. Dan di pangkuan Fadil, dibungkus kain yang sama yang dulu membungkusnya di kotak kayu, surat tua itu terasa seperti menumpang hidup.

"Kita masuk lewat pintu depan," kata Ustaz Hamdan. "Bukan lewat samping. Kalau kita sembunyi-sembunyi, besok kabarnya pesantren datang malam-malam."

"Biar," kata Ustaz Rahman pelan. "Yang penting jangan sempat tergoda menari di panggungnya."

Fadil tersenyum tipis di kursi depan. Kalimat itu sudah ia dengar empat kali sejak subuh, dan kali keempatnya tetap menusuk, karena kalimat yang benar memang tidak pudar oleh pengulangan.

Balai kota itu lebih besar dari yang ia bayangkan: tangga lebar, pilar-pilar, dan orang-orang yang menunggu lebih banyak dari yang seharusnya menghadiri musyawarah tanah. Di tangga teratas, di depan pintu, berdiri enam atau tujuh pemuda yang bukan petugas. Kaos oblong, celana pendek, dan tatapan yang tidak pernah datang sendirian. Kamera-kamera kecil menyala di beberapa tangan. Semua tahu ini siaran.

"Mari, Pak." Fadil menyentuh bahu Ustaz Rahman pelan. "Jalan pelan, jalan lurus."

Mereka naik tangga dengan tiga formasi yang disepakati di dapur: Ustaz Rahman paling depan karena tertua, Ustaz Hamdan di samping, Fadil paling belakang menutup, dan Zain memotret semuanya dari kejauhan. Pemuda-pemuda itu tidak menyentuh. Mereka cuma menutup jalan dan berkata-kata yang didesain untuk didengar.

"Wong pesantren," kata salah satunya. "Katanya pendidikan, ya nggak tahu sopan santun masuk kantor."

Yang lain menyikut. Bahu ke bahu Ustaz Rahman yang tua itu tergeser sampai sang ustaz tersentak, dan tangan yang menopangnya ke dinding. Seorang petugas kebersihan menoleh. Kamera-kamera kecil itu mendekat.

Fadil merasakannya seketika: panas yang naik dari leher ke telinga, tenaga tua yang bertahun-tahun ia kubur, tangannya sendiri yang tahu persis harus diletakkan di mana supaya lima orang itu berbaring rapi di lantai dalam sepuluh detik. Ia tahu caranya sejak umur empat belas. Itu masalahnya. Ia tahu betul-betul caranya.

"Diam, Fadil," bisik Ustaz Rahman tanpa menoleh. "Tanggamu sedang dihitung."

Dan kemudian, di detik ketika semua orang lengah, karena petugas kantor akhirnya membuka pintu dan kepala-kepala sudah bergerak masuk, sesuatu menyambar dari samping. Cepat, kecil, terlatih. Tangan kurus menggigit bungkusan kain di pangkuan Fadil, menarik, dan lari.

"Suratnya! Tangkap!"

Semuanya terjadi lebih cepat dari pikiran. Tubuh Fadil bergerak sebelum izin diminta: turun tangga tiga anak sekaligus, memotong di pilar, dan di detik kelima tangannya sudah di kerah pemuda kurus itu, membalik, dan mengunci. Ia menekan pemuda itu ke dinding dengan satu tangan, dan bungkusan kain jatuh di tangga, dan tangannya yang satu, di tengah gerakan yang sudah jalan setengahnya, berhenti di udara sebelum menjadi pukulan.

Ia menahannya. Tepat di situ, di antara memukul dan tidak, ia menahan.

Tapi tubuhnya tetap tubuh yang latih, dan orang yang jatuh ditekan ke dinding dengan tenaga itu tidak terlihat seperti tertangkap. Ia terlihat seperti dihajar. Dan di sekeliling mereka, dengan tak ada satu pun yang terlewat, tujuh kamera kecil merekam: seorang lelaki berjas abu-abu, kepala kainnya terlepas, berdiri di atas pemuda yang melenguh di kakinya, di tangga balai kota, di hadapan seluruh kota.

"Bebas!" pemuda itu melenguh. "Tanganku! Sakit, Pak!"

Fadil melepaskan. Terlambat satu detik, dan satu detik itu, ia baru tahu nanti, sudah cukup.

Di tangga teratas, di ambang pintu balai kota, berdiri seorang lelaki tua yang rapi dengan jas krem dan jam tangan emas. Ia menonton rekaman yang ditunjukkan kepadanya oleh salah satu pemuda, lalu mengangkat wajah, dan menatap Fadil dengan senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

Sabeni. Pertama kalinya dalam hidup Fadil melihatnya dari dekat.

"Silakan masuk," kata Sabeni, dengan suara yang ramah sekali. "Musyawarah menunggu. Dan tentu saja, semua yang terjadi tadi di tangga, kita bahas di dalam. Sebagai bukti suasana."

Ruang musyawarah itu dingin, dan dinginnya bukan dari pendingin ruangan.

Di meja panjang sisi kanan duduk rombongan Sabeni: dua orang kota yang mengaku warga, tiga orang yang tidak memperkenalkan diri, dan di ujung, yang paling muda dan paling rapi, seorang lelaki berkacamata dengan map kulit yang sama mewahnya dengan jam tangan Sabeni. Kuasa hukum. Cucu pemberi tanah. Nama itu tidak diperkenalkan lebih jauh, dan justru karena tidak diperkenalkan, Fadil tahu ia yang itu.

"Sebelum masuk poin," kata Sabeni, setelah sambutan basa-basi yang ia sampaikan dengan kehangatan tuan rumah, "saya minta pemutar video."

Fadil menutup mata sekejap. Tiga detik. Ketika membuka, layar di dinding sudah menyala, dan di layar itu, dari sudut yang tidak ia duga, tangga balai kota tadi pagi berulang dalam diam. Tubuhnya sendiri terlihat lebih besar dari yang ia rasakan. Lebih cepat. Lebih keras. Pemuda kurus itu terlempar ke dinding seperti barang.

"Perkenalkan," kata Sabeni, menoleh ke hadirin dengan penuh penyesalan yang dilatih, "yang tadi pagi menghajar anak kota ini di depan balai. Bukan preman. Guru ngaji. Orang yang datang ke meja musyawarah membawa surat tua, dan membawa tangan seperti itu."

"Video itu setengah kejadian," kata Fadil, dan suaranya keluar tenang, lebih tenang dari yang ia kira mampu.

"Setengah?" Sabeni tertawa lembut. "Mana setengahnya?"

"Yang tadi pagi, anak itu merampas barang titipan orang tua saya di tangga kantor pemerintah. Yang di layar itu penangkapan, bukan penganiayaan. Kalau penganiayaan, dia tidak bisa duduk sekarang."

"Kalau penangkapan, kenapa ada yang melenguh sakit?" Sabeni membuka kedua telapak tangannya. "Dan kenapa harus tangan seperti itu, di tempat seperti itu, di hari seperti ini? Tidak ada yang melarang tuan berteriak minta bantuan petugas. Tuan pilih jalan yang lain. Kota melihat pilihannya."

Di sepanjang ruangan, kepala-kepala mengangguk dengan ragu, dan ragu itulah yang dibeli. Fadil melihatnya seperti orang melihat air yang menjalar ke arah yang salah. Ia bisa membantah. Ia punya Zain di luar dengan ponsel yang merekam dari jauh. Tapi ia juga mengingat serambi, teh dua gelas, tuan tanah Sinaro: jangan menari di panggung musuh.

"Video lengkapnya akan kami sampaikan ke tempat yang tepat," kata Fadil, dengan tiga kalimat yang disepakati di dapur pesantren. "Di sini kami datang bicara tanah. Tidak akan kami sampaikan yang lain sampai kami musyawarah dulu di rumah."

Sabeni menatapnya lama, dan di tatapan itu ada penilaian yang jujur: pemuda ini tidak mudah ditari.

"Baik," katanya akhirnya, dan menoleh ke lelaki berkacamata. "Marwan, tolong."

Yang bernama Marwan membuka map kulinya, dan yang ia keluarkan bukan fotokopi. Dokumen asli, dengan kertas yang sudah gading dan cap yang pudar.

"Tuan-tuan, saya akan singkat dan teknis." Suaranya datang seperti orang yang sudah sering dipanggil ke ruangan-ruangan seperti ini. "Tanah pesantren ini, menurut catatan yang kami pegang, tidak pernah dihibahkan. Yang ada surat pakai. Diwakafkan dengan syarat, dan syarat itu, sampai hari ini, tidak pernah didaftarkan ke badan hukum wakaf yang sah. Tanpa pendaftaran, wakaf itu, menurut hukum, tidak sempurna. Yang sempurna cuma satu: hak keluarga pemberi. Dan keluarga pemberi," ia meletakkan dokumen itu dengan pelan, seperti orang meletakkan kartu terakhir yang memang dirancang terlihat seperti kartu pertama, "memutuskan, setelah berkonsultasi panjang, untuk menariknya kembali. Secara baik. Secara musyawarah. Itu sebabnya kita semua di sini."

Ruang itu sunyi. Di ujung meja mereka, Ustaz Hamdan menulis dan tangannya berhenti. Ustaz Rahman, yang sejak tadi diam seperti batu, akhirnya bicara, dan suara tua itu membuat semua orang duduk lebih tegak.

"Surat pakai itu," katanya, "ditandatangani Haji Sabran sendiri. Dan di bawah tandatangannya, yang mungkin tuan belum baca, ada tulisan tangan dia. Tulisan itu menyebut syarat wakafnya. Syarat yang tidak pernah dicoret siapa-siama."

"Kalau ada tulisannya," kata Marwan sopan, "maka mari kita baca. Di forum yang tepat, dengan dokumen yang lengkap. Dan itu, pak-pak," ia menutup mapnya dengan dua tangan, "bukan di meja ini. Itu di meja yang berbeda, waktu dokumennya tidak dibawa dengan lari dan diperebutkan di tangga."

Lihat selengkapnya