
Ilmu yang Harus Dikendalikan
Fadil menghadapi orang-orang yang menantangnya.
°˖✧✿✧˖°
Kejadian di jalan kota minggu lalu, waktu Fadil menarik santri-sannya dari tangan lima pemuda yang hendak memalak mereka, sudah tidak lagi jadi cerita. Ia jadi legenda. Di pasar, di terminal, di warung kopi, ceritanya dipanaskan, dibumbui, dan disajikan dengan tambahan yang tidak pernah terjadi: lima pemuda jadi dua belas, satu tarikan jadi jurus yang punya nama, dan guru ngaji dari pesantren itu jadi pendekar yang "belum pernah kalah".
Fadil mendengar versi terakhirnya dari Zaki, di kios, dengan muka yang tak tahu harus tertawa atau khawatir.
"Kini orang sebut kau 'Ustaz Silat', Fadil. Ada yang datang cuma mau lihat caramu jalan. Ada yang minta kenalan. Dan ada yang..." Zaki menurunkan suaranya, "yang datang buat mencari masalah. Kemarin dua orang datang, pura-pura beli buku. Mereka ukur-ukur tanganku, tanya-tanya pesantren. Aku nggak bego, Fadil. Mereka bukan pembeli."
Fadil menyeruput tehnya. "Biar saja. Nama yang dibicarakan orang itu bukan nama kita. Biarkan lewat."
Ia berkata begitu, dan ia percaya begitu, sampai Kamis pagi, ketika sebuah bungkusan datang ke pesantren lewat anak pos: kertas hitam, dilipat sekali, tanpa amplop.
Di dalamnya, tulisan tangan yang tebal dan kasar:
"Kepada Ustaz Silat. Kota ini kecil, tapi tidak sekecil mulutmu. Yang kamu lakukan ke anak buah pasar itu kami lihat. Kamu tunjukkan ilmu, kami minta permainan. Alun-alun, Sabtu sore, habis ashar. Datang sendirian. Kalau tidak, tiap Jumat kita cari santrimu satu-satu. Jagoan pasar, Karno."
Fadil membacanya dua kali. Pertama dengan mata. Kedua, pelan-pelan, dengan hati yang mulai bergerak ke arah yang ia kenal sejak kecil: ke arah tinju yang mengeras sendiri.
Ia menutup kertas itu, dan menemukan Zain yang sedang menata wudhu di kolong pohon.
"Zain. Kamu, Salim, yang lain. Sejak kapan anak-anak diajak bicara kasar di pasar?"
Zain terdiam. Itu jawaban juga. "Kemarin, Bang. Anak kelas satu, Hasan, dipanggil 'anak pesantren pencuri'. Kemarinnya Salim disenggol sampe jatuh di depan warung. Mereka bilang..." Zain menatap tanah, "mereka bilang, tunggu Sabtu."
"Sabtu."
"Semua orang sudah dengar suratnya, Bang. Di pasar orang sudah bicara. Kalau Ustaz tidak datang, kata mereka, pesantren yang takut. Kalau datang dan kalah, pesantren yang lemah. Dan kalau datang dan menang..." Zain mengangkat wajah, dan di matanya ada yang Fadil tidak suka: kebanggaan. "Ustaz pasti menang, kan, Bang? Orang-orang sudah bilang, ilmu Ustaz jauh di atas mereka."
Fadil menatap muridnya lama. Di wajah Zain itu, di kerlap kerlip kebanggaan yang tidak ia sembunyikan, Fadil melihat cermin yang ia tidak mau beli. Dua puluh tahun lalu, di Prabumulih, ada anak kurus yang memegang kekuatan pertamanya dengan mata yang persis seperti itu.
"Zain." Suaranya pelan. "Panggil Ustaz Hamdan dan Ustaz Rahman. Sekarang."
Sore itu, surat hitam itu terbentang di meja musyawarah, dan tiga orang membacanya dengan tiga wajah yang berbeda.
Ustaz Hamdan yang pertama bicara. "Jangan datang. Ini jebolan mulut pasar. Aku laporkan ke polisi, urusan selesai, dan kalau mereka sentuh santri, hukum yang bicara."
"Dengan surat tanpa nama dan tangan tanpa saksi?" Ustaz Rahman menggeleng pelan. "Polisi butuh korban, Hamdan. Yang disodok mereka cari. Dan yang paling enak disodok itu yang punya nama di pasar."
"Terus kita diam? Santri kita yang kena?"
"Kita tidak diam." Fadil berkata, dan semua mata menoleh. Ia menatap kertas hitam itu, dan di dalam dadanya ada dua suara yang sudah bertengkar sejak pagi. Suara yang tua, dari masa kecilnya, suara tinju yang ingat rasanya benar. Dan suara yang lebih tua lagi, dari serambi, suara kiai. "Saya datang Sabtu. Sendirian, seperti yang mereka minta."
"Fadil," Ustaz Hamdan bersuara keras. "Kau pikir kau pendekar?"
"Bukan, Ustaz." Ia menjawab pelan, dan pelan itu yang membuat ruangan hening. "Justru karena saya bukan pendekar. Saya guru ngaji yang dulu punya tangan yang salah pakai. Dan yang datang Sabtu nanti bukan saya melawan mereka. Saya menghadapi pertanyaan yang sama seperti waktu saya umur dua belas tahun. Ilmu ini dipegang di mana."
Di ujung koridor, di kursi berlengan yang ditemani tabung oksigen, Kiai Zulfakar mendengar semuanya. Ia tidak memanggil. Ia tidak berkomentar. Ia hanya menutup mata, dan itu, bagi Fadil, lebih berat dari surat hitam itu sendiri.
°˖✧✿✧˖°
Jumat, sehari sebelum "permainan", kota memberi jawabannya lebih dulu.
Pagi itu Salim pulang dari pasar dengan baju sobek di siku dan pipi yang memerah, bukan karena malu, tapi karena dicengkeram. Ia tidak mau cerita di dapur. Ia cerita di serambi, kepada Fadil, dengan suara yang ia paksa tetap datar.
"Bang, saya nggak apa-apa. Cuma disenggol."
"Salim."
"Oke." Anak itu menghela napas. "Mereka lima. Di depan warung bu Endang. Mereka bongkar kios kecil saya yang jualan es, lempar kegot. Terus mereka tanya, 'Ini murid si Ustaz Silat? Suratnya sudah dibaca belum? Jawab, sudah belum?' Saya jawab sudah. Terus yang gendut itu tarik kerah saya dan bilang..." Salim menatap tangannya sendiri, yang mengepal di pangkuannya, mengepal tanpa sadar. "Dia bilang, 'Suruh gurumu belajar baca kertas hitam. Sabtu kita lihat ilmunya beneran ilmu apa nggak. Kalau kosong, kita bongkar satu-satu yang dia punya. Warung, kios, asrama.'"
"Dan kamu jawab apa?"
Salim diam lama. Lalu jawabannya keluar pelan, dan pelan itu membuat Fadil sesak. "Saya jawab, 'Ustaz saya akan datang.' Bang... saya bilang gitu terus nyesel. Saya seperti menggadaikan dia. Saya yang disuruh bilang apa pun ke mereka, tapi yang datang Sabtu itu beliau."
Fadil meletakkan tangannya di pundak anak itu, dan merasakan di bawah telapaknya bahwa pundak itu gemetar. Gemetar marah, bukan gemetar takut. Fadil mengenal gemetar itu. Gemetar itu pernah jadi miliknya, dan pernah membuat seorang anak di Prabumulih tidak bisa pegang pensil selama seminggu karena menggepalkannya terlalu keras ke wajah orang.
"Malam ini kita tidak bicara soal Sabtu dulu," kata Fadil. "Malam ini kita shalat isya berjamaah, terus kau temani saya keliling asrama. Hitung kasur yang perlu diperbaiki. Besok kita bongkar masalahnya pakai tangan yang lain."
Tapi malam itu, sebelum isya, yang datang lebih dulu adalah Karno sendiri.
Ia tidak masuk pesantren. Ia berdiri di seberang jalan, dengan lima orang di belakangnya, dan menepuk-nepuk surat hitam yang sudah dikenalnya di tangan. Orang-orang di pesantren menonton dari balik pagar, dan Fadil keluar sendirian, seperti yang diharapkan.
"Ustaz Silat." Karno menyahut sapaan itu sendiri, dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Aku pikir kau tidak mau keluar."
"Saya keluar untuk satu hal." Fadil berdiri di tengah jalan, tidak mendekat. "Suratmu sudah saya baca. Dan jawabannya sudah. Saya datang besok, sendirian. Sekarang saya minta satu: santri saya tidak disentuh lagi. Bukan minta dari kuat atau lemah. Minta dari satu manusia ke manusia lain."
Karno menatapnya lama, lalu tertawa, dan tawa itu menular ke lima orang di belakangnya. "Manusia ke manusia." Ia menggeleng-geleng, memutar kertas hitam itu di jarinya. "Ustaz, aku di pasar ini sejak jaman ayahku jualan sate. Aku kenal segala bahasa di kota ini. Bahasa halus, bahasa kasar, bahasa polisi, bahasa pendekar. Bahasa 'manusia ke manusia' itu bahasa orang yang sudah takut." Ia melipat surat itu, menyelipkannya ke saku, dan menatap Fadil dengan matanya yang benar-benar menilai, bukan mengejek. "Besok, habis ashar. Bawa ilmumu. Jangan bawa ceramah."
Mereka pergi. Fadil berdiri di tengah jalan sampai langkah itu lenyap, dan sesuatu di dalam dadanya berdenyut dengan irama yang ia kenal dan ia benci: denyut yang berbisik, ambil tadi malam, kau bisa, kau kuat, mereka lima dan kau Fadil.
Ia menolak mendengarkan. Ia masuk, berwudhu, dan shalat isya sendirian di barisan paling belakang, di barisan orang yang sedang belajar.
°˖✧✿✧˖°
Sabtu pagi datang dengan berita yang mengubah permainan sebelum permainannya dimulai.
Bang Idris datang dengan motornya yang baru dibeli lagi, sepeda motor merah yang dulu jadi tanda bahaya dan sekarang jadi tanda lain. Ia tidak masuk lewat gerbang. Ia berdiri di luar, dan mengetuk pagar dengan sopan, dan itu sendiri sudah menarik perhatian.
"Ustaz, saya nggak lama. Satu hal." Wajah gendut itu masih ada bekas luka pekan-pekan lalu, tapi matanya sudah lain, matanya milik orang yang tidak lagi tidur dengan kunci di bawah bantal. "Karno itu bukan musuhmu. Karno itu karyawan."
Fadil menghentikan langkahnya di pagaran. "Maksud Bang?"
"Karno dapat surat itu dari orang lain. Ia cuma yang turunkan ke kertas." Idris menurunkan suaranya, meski di sekitar mereka cuma pagar dan angin. "Aku masih kenal dua-duanya, Karno dan orang yang suruh dia. Sabeni bayar jagoan pasar untuk dua pekerjaan. Satu, main sama Ustaz di alun-alun, biar seisi kota nonton. Dua..." Idris menatap Fadir lurus-lurus, "yang penting itu nomor dua, Ustaz. Mereka bawa kamera. Orang Sabeni sudah ada daftarnya: kalau Ustaz main dan pukul sampai darah, video itu jadi 'bukti pesantren berbahaya'. Ustaz tahu siapa yang butuh bukti pesantren berbahaya?"
Fadil merasa seperti orang yang baru melihat bawah permukaan air yang ia kira dangkal.
"Kasus tanah."