6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #71

Tidak Semua Pertarungan Harus Dilawan


Tidak Semua Pertarungan Harus Dilawan

Ia memilih menghindari kekerasan.

°˖✧✿✧˖°

Di bawah naungan langit sore Pesantren Darul Hikmah, angin berembus pelan mengibarkan dedaunan pohon beringin tua di sudut lapangan pesantren. Suara riuh santri yang beraktivitas di sekeliling area pesantren terdengar redup, menyisakan kesenyapan yang tenang di area lorong asrama. Fadil Ar Rimbai duduk bersila di selasar surau, mengusap pelan sampul kitab tebal yang baru saja ia selesaikan bacaannya. Ingatannya melayang pada masa lalu di Prabumulih, pada sosok ayah dan ibunya, Abdul Jabbar dan Zubaidah, yang mengajarinya keteguhan di tengah himpitan hidup. Di tanah Jawa Timur ini, ia berusaha menempa batin dan ilmunya di bawah bimbingan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz.

Tiba-tiba, langkah kaki yang tergesa-gesa memecah ketenangan lorong santri. Hasan, salah satu teman seangkatan Fadil, berlari mendekat dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang tampak cemas.

"Fadil! Kamu harus ke lapangan belakang sekarang juga!" seru Hasan sambil memegang lututnya.

Fadil menengadah tenang, merapikan kitabnya tanpa kepanikan. "Ada apa, Hasan? Mengapa kamu terlihat sangat panik?"

"Geng Santri Senior yang dipimpin oleh Mahfud... mereka mencegat adik-adik santri baru di belakang gudang. Mereka memaksa meminta uang saku dan mengancam akan menghajar siapa saja yang tidak menurut!" terang Hasan dengan nada mendesak.

"Apakah ada yang terluka?" tanya Fadil seraya berdiri pelan.

"Belum, tapi suasana sangat panas. Mahfud membawa beberapa santri tingkat akhir. Kamu tahu sendiri betapa angkuhnya mereka," jawab Hasan ragu.

Fadil mengangguk pelan. Sebagai santri yang pernah mendalami ilmu bela diri di kampung halamannya, Fadil sebetulnya memiliki kemampuan fisik yang cukup untuk menghadapi kekerasan fisik. Namun, wejangan dari Kiai Zulfakar selalu membekas di dadanya bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kepalan tangan, melainkan pada ketenangan jiwa dan pengendalian diri.

"Mari kita ke sana bersama, Hasan. Jangan sampai ada keributan yang melukai siapa pun," ujar Fadil tenang.

Keduanya berjalan cepat menuju area belakang kompleks pesantren, di mana gudang penyimpanan barang bekas berada. Di tempat itu, lima santri senior tampak melingkari tiga santri junior yang merapat ke dinding dengan wajah pucat. Mahfud, seorang santri bertubuh tinggi besar dengan tatapan tajam, berdiri di depan sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kalian ini santri baru, harus tahu tata krama di sini. Kalau tidak mau kena masalah, serahkan sebagian uang kiriman kalian!" gertak Mahfud dengan suara berat.

"Tapi Kak, uang ini untuk membeli kitab dan kebutuhan makan minggu ini," bisik salah satu santri junior dengan suara gemetar.

"Aku tidak peduli! Jangan membantah!" bentak Mahfud seraya mengangkat tangannya.

Sebelum telapak tangan Mahfud mendarat di bahu santri baru tersebut, Fadil melangkah maju dan bersuara dengan lantang namun santun.

"Assalamu'alaikum, Kang Mahfud. Maaf menggangu perbincangan kalian."

Mahfud menoleh cepat, matanya menatap Fadil dengan tatapan meremehkan. "Oho, Fadil. Mau jadi pahlawan lagi kamu di sini?"

"Saya hanya tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita, sesama santri Kiai Zulfakar," sahut Fadil lembut.

"Ini bukan urusanmu, Fadil! Jangan ikut campur atau kamu sendiri yang akan kena akibatnya!" ancam Mahfud seraya melangkah mendekati Fadil.

°˖✧✿✧˖°

Mahfud maju dua langkah, mengikis jarak antara dirinya dan Fadil. Ketegangan memuncak di area belakang gudang tersebut. Beberapa santri lain yang melihat dari kejauhan mulai berbisik-bisik, mengkhawatirkan terjadinya pergulatan fisik antar santri.

"Fadil, aku tahu kamu punya latar belakang silat di kampungmu," ucap Mahfud dengan nada sinis. "Tapi di pesantren ini, senioritas adalah hukum tak tertulis. Kamu mau menantangku?"

"Saya tidak bermaksud menantang siapa pun, Kang Mahfud," tanggap Fadil, tatapannya tetap jujur dan menyejukkan. "Kita semua datang ke Darul Hikmah untuk menuntut ilmu, bukan untuk saling menundukkan atau memeras saudara sendiri."

"Bicara teori memang mudah!" bentak Mahfud tiba-tiba sambil mendorong dada Fadil dengan telapak tangannya.

Dorongan itu cukup kuat, membuat Fadil terdorong satu langkah ke belakang. Namun, posisi kaki Fadil yang kokoh membuatnya tetap seimbang. Hasan di belakang Fadil mengepalkan tangan, berniat maju membantu, namun Fadil mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar temannya tetap tenang.

"Cukup, Hasan. Jangan terpancing," bisik Fadil pelan.

"Lihat! Kamu bahkan tidak berani melawanku!" seru Mahfud dengan tawa mengejek. "Santri dari Sumatra ini rupanya hanya penakut!"

Fadil menarik napas panjang. Di dalam dadanya, ada desir emosi yang sempat menggelegak. Pengalaman bertahun-tahun melatih pencak silat membuatnya mampu membaca gerakan tubuh Mahfud dengan amat jelas; ia tahu persis di mana titik lemah serangan Mahfud jika ia ingin melumpuhkannya dalam sekali pukul. Namun, kalimat sang guru kembali bergema di benaknya: Tidak semua pertarungan harus dilawan dengan kekuatan.

"Kang Mahfud, jika Kang butuh bantuan finansial atau sedang ada kesulitan, kita bisa bicara baik-baik. Tidak perlu dengan cara seperti ini," kata Fadil lembut.

"Jangan sok menasihati aku!" teriak Mahfud. Tanpa peringatan, ia melayangkan pukulan lurus ke arah wajah Fadil.

Fadil tidak membalas. Dengan gerakan refleks yang sangat halus, ia hanya menggeser kepalanya beberapa sentimeter ke kiri. Pukulan Mahfud menerpa angin kosong. Mahfud yang kehilangan keseimbangan sempat terhuyung ke depan, makin tersulut oleh emosinya sendiri.

"Kenapa kamu hanya menghindar?! Lawan aku kalau kamu lelaki!" seru Mahfud seraya berbalik dengan mata merah penuh amarah.

"Saya tidak akan memukul saudara sesama santri," tegas Fadil. "Kekuatan tidak dibuktikan dengan menyakiti orang lain."

Para santri junior yang terpojok menyaksikan kejadian itu dengan rasa kagum bercampur cemas. Fadil sama sekali tidak menggunakan ilmunya untuk menyerang kembali, melainkan murni untuk melindungi diri tanpa melukai sang lawan.

°˖✧✿✧˖°

Keributan di belakang gudang rupanya memancing perhatian pengurus keamanan pesantren. Langkah kaki beberapa pengurus senior terdengar mendekat. Mahfud mendengus kesal saat menyadari situasi tak lagi menguntungkannya.

"Urusan kita belum selesai, Fadil! Kita lihat saja nanti!" ancam Mahfud pelan sebelum memberi isyarat kepada kelompoknya untuk membubarkan diri secara tergesa-gesa.

Setelah kelompok Mahfud pergi, Hasan segera menghampiri Fadil dengan wajah penuh keheranan. Tiga santri junior pun mendekat seraya mengucapkan terima kasih berulang kali.

"Terima kasih banyak, Kang Fadil. Kalau tidak ada Kang Fadil, kami tidak tahu harus bagaimana," ujar salah satu santri junior dengan mata berkaca-kaca.

"Sama-sama, Adik-adik. Kembalilah ke asrama dan fokuslah belajar. Jangan takut lagi," jawab Fadil tersenyum menenangkan.

Setelah para santri junior berlalu, Hasan merangkul bahu Fadil dan bertanya dengan nada tidak mengerti. "Fadil, aku tahu kamu bisa melumpuhkan Mahfud dalam hitungan detik. Kenapa kamu diam saja saat dia mendorong dan memukulmu?"

Lihat selengkapnya