Fadil mendapat tekanan dari berbagai arah.
°˖✧✿✧˖°
Di sudut serambi Pondok Pesantren Darul Hikmah, angin malam Jawa Timur berembus membawa keheningan yang dingin. Fadil Ar Rimbai merapatkan sarungnya, duduk bersila menatap pendar remang lampu teplok di dinding kayu. Di usianya yang masih muda, ia telah melintasi jalan panjang dari rumah sederhananya di Prabumulih, Sumatera Selatan. Pengorbanan Abdul Jabbar dan Zubaidah yang melepasnya merantau demi menimba ilmu selalu membayang di kelopak matanya. Di pesantren inilah, di bawah naungan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz, Fadil belajar mengaitkan seluruh napas hidupnya pada ajaran agama. Namun, malam ini dada Fadil terasa sedikit sesak.
Langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian lorong asrama. Hasan, sahabat karibnya sejak pertama kali menjejakkan kaki di pondok, muncul dari balik kegelapan dengan napas memburu.
"Fadil, kamu masih di sini? Aku mencarimu ke mana-mana," bisik Hasan seraya mengambil napas dalam-dalam.
Fadil menengadah, mengulas senyum tipis yang berusaha menutupi gundah di hatinya. "Ada apa, Hasan? Mengapa kamu kelihatan begitu cemas?"
"Pengurus keamanan pondok baru saja memanggil namamu di papan pengumuman besar. Mahfud dan kelompoknya menuduhmu merusak fasilitas aula serta mencuri kitab-kitab lama di perpustakaan," jawab Hasan dengan nada tak percaya.
Fadil tertegun sejenak. Tangannya yang memegang tasbih berhenti mengusap butiran kayu. "Tuduhan yang sangat berat, Hasan. Apa bukti yang mereka miliki hingga nama saya harus dipasang di sana?"
"Mereka mengklaim menemukan selendang milikmu di ruang penyimpanan kitab yang berantakan sore tadi," sahut Hasan, matanya memancarkan rasa amarah yang ditahan. "Ini jelas fitnah yang direncanakan! Mahfud masih menyimpan dendam karena kejadian kemarin."
"Jika ini memang ujian, maka aku tidak boleh meresponsnya dengan amarah," ucap Fadil pelan.
"Tapi ini menyangkut namamu, Fadil! Kelompok Mahfud mulai menghimpun dukungan dari para santri senior lainnya," desak Hasan, mendudukkan dirinya di samping Fadil.
"Biar bagaimanapun, kesabaran tidak memiliki batas jika kita menyandarkannya kepada Allah," jawab Fadil tenang.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, suasana di halaman utama Darul Hikmah terasa berbeda. Tatapan mata dari para santri yang melintas mendadak berjarak dan penuh bisik-bisik yang menyengat. Fadil melangkah menuntun tugas rutinnya dengan sapu lidi di tangan, mencoba mengabaikan pandangan miring yang diarahkan kepadanya.
Di tengah lapangan, Mahfud berdiri bersama tiga orang pengurus keamanan pondok. Dengan melipat tangan di dada, Mahfud menatap kedatangan Fadil dengan sunggingan senyum penuh kemenangan.
"Berhenti di sana, Fadil!" gertak Ustadz Ghafur, salah satu pengurus keamanan senior yang terkenal bersikap tegas.
Fadil menghentikan langkahnya, meletakkan sapu lidi dengan santun, lalu membungkuk hormat. "Ada apa, Ustadz?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu," potong Mahfud dengan nada memprovokasi. "Ustadz, dialah yang berada di perpustakaan sebelum pintu ruang penyimpanan ditemukan rusak dan kitab-kitab kuno hilang!"
"Apakah tuduhan itu benar, Fadil?" tanya Ustadz Ghafur, menatap Fadil dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Saya berada di perpustakaan kemarin sore untuk merapikan kitab-kitab yang berserakan, Ustadz. Namun, saya tidak pernah merusak pintu, apalagi mengambil kitab-kitab tersebut," tegas Fadil, menyuarakan kejujurannya tanpa getar takut sedikit pun.
"Bohong!" bentak Mahfud seraya maju satu langkah. "Lalu bagaimana selendang khas Sumatera milikmu bisa berada di dalam lemari yang tercongkel itu?"
"Selendang itu tertinggal saat saya membersihkan debu di rak belakang," sahut Fadil jujur.
"Itu alibi yang sangat murahan!" seru Mahfud, memutar tubuh membelakangi Fadil untuk memanasi para santri yang mulai berkerumun menyaksikan pertengkaran tersebut. "Lihatlah kawan-kawan! Dia berlagak alim dan sok suci di depan Kiai Zulfakar, tapi di belakang kita, dia merusak warisan pesantren!"
Gumam kekecewaan terdengar menyebar di antara kerumunan santri. Beberapa sahabat Fadil tampak menunduk, tak berani membela di tengah tekanan massa yang kian membesar.
"Ustadz Ghafur," panggil Fadil lembut, menatap sang pengurus keamanan. "Jika Ustadz meragukan kejujuran saya, saya bersedia diperiksa. Namun, mohon jangan menghakimi sebelum ada bukti yang nyata."
"Ghafur, bawa Fadil ke kantor pengrus sekarang juga untuk dimintai keterangan lebih lanjut!" perintah Ustadz Ghafur dingin, tanpa memedulikan permohonan santri dari Sumatera itu.
°˖✧✿✧˖°
Tekanan yang dialami Fadil tidak berhenti pada pemeriksaan resmi di kantor pengurus. Di dalam lorong-lorong asrama, pengucilan terhadap dirinya mulai terasa nyata. Banyak santri yang sebelumnya akrab kini memilih menjauh, takut terseret dalam pusaran fitnah atau dicap membela seorang pencuri kitab.
Siang itu, Fadil duduk di sudut bilik kamarnya yang sempit. Di depannya, Hasan duduk dengan raut wajah gusar, meremas jemarinya sendiri.
"Aku tidak bisa tinggal diam melihat mereka memperlakukanmu seperti ini, Fadil," kata Hasan dengan nada geram. "Mahfud dengan sengaja memanfaatkan kebaikanmu untuk menjatuhkan reputasimu!"
"Tenanglah, Hasan. Mengumbar emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah," tutur Fadil seraya membetulkan posisi duduknya.
"Bagaimana bisa aku tenang?" potong Hasan, suaranya meninggi. "Ustadz Ghafur sudah mengancam akan mencabut beasiswamu dan mengembalikanmu ke Prabumulih jika kitab-kitab itu tidak ditemukan dalam tiga hari! Apakah kamu mau perjuangan orang tuamu berakhir sia-sia hanya karena fitnah keji ini?"
Mendengar nama orang tuanya disebut, dada Fadil berdenyut nyeri. Ia membayangkan wajah ayahnya yang penuh peluh dan senyum ibunya yang selalu melepasnya dengan doa. "Orang tuaku mengajarkanku untuk takut hanya kepada Allah, bukan kepada sangkaan manusia."
"Tapi kamu harus melawan, Fadil! Kamu punya kemampuan bela diri, kamu punya kecerdasan untuk membalikkan tuduhan mereka!" seru Hasan pantang menyerah.
"Melawan dengan cara apa, Hasan?" tanya Fadil menatap tajam mata sahabatnya. "Apakah dengan cara mencurigai balik? Atau dengan kekerasan fisik? Jika aku melakukan itu, lantas apa bedanya aku dengan orang yang memfitnahku?"
Hasan menghela napas panjang, bersandar pada dinding kayu kamar. "Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku akan menjalankan apa yang diajarkan Kiai Zulfakar. Enam pembuka masalah," jawab Fadil mantap. "Aku akan memperbanyak istighfar, berselawat, bersedekah dengan tenagaku, dan mengetuk pintu langit lewat doa di sepertiga malam."
"Kamu sungguh percaya cara itu bisa membendung amukan fitnah Mahfud yang makin meluas?" tanya Hasan ragu.
"Keyakinanku tidak bersandar pada kekuatan Mahfud atau prasangka para santri, Hasan. Keyakinanku bersandar pada Dzat yang memegang hati mereka," pungkasi Fadil dengan tatapan matanya yang teduh namun penuh keteguhan.
°˖✧✿✧˖° Titik Tekan 1 °˖✧✿✧˖°