Ia mulai membiasakan tahajud.
°˖✧✿✧˖°
Dua pertiga malam membungkus Pesantren Darul Hikmah dalam keheningan yang tajam. Angin dingin khas dataran Jawa Timur berembus menembus celah-celah kisi jendela asrama, membawa aroma tanah basah dan dedaunan malam. Di dalam bilik asrama yang temaram, Fadil Ar Rimbai membentangkan sajadah lusuh di sudut ruangan. Dari kampung halamannya di Prabumulih, Sumatera Selatan, kenangan akan Abdul Jabbar dan Zubaidah selalu hadir mengisi bilik dadanya. Orang tuanya yang sederhana telah menanamkan nilai-nilai keteguhan sejak ia masih kecil. Di bawah naungan pengasuhan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz, Fadil mulai menyadari bahwa ketangguhan fisik dan ilmu silat yang dimilikinya tak ada artinya tanpa kedalaman spiritual.
Fadil berdiri tegap menghadapi kiblat, merapatkan kedua telapak tangannya, lalu mengumandangkan takbiratul ihram dengan amat halus.
"Allaahu akbar..." bisiknya lirih, menggetarkan keheningan malam.
Suara gesekan kain sarung yang beradu dengan lantai kayu terdengar lembut. Di sekelilingnya, kawan-kawan sekamarnya masih terlelap dalam selimut tebal mereka, kelelahan setelah seharian penuh menjalani aktivitas hafalan dan pengkajian kitab kuning. Namun bagi Fadil, malam adalah waktu berharga yang tak boleh terlewat begitu saja.
Hasan, sahabat karib Fadil yang tidur tak jauh dari sajadahnya, terbangun karena mendengar gesekan lembut kain saat Fadil melakukan ruku'. Hasan mengucek matanya yang masih berat, lalu memiringkan badan menatap Fadil yang sedang khusyuk beribadah.
"Fadil, jam berapa sekarang?" bisik Hasan dengan suara parau khas bangun tidur.
Fadil menyelesaikan salamnya ke kanan dan ke kiri sebelum menjawab pelan. "Sekitar jam tiga dini hari, Hasan. Waktu yang sangat baik untuk mengetuk pintu langit."
Hasan duduk bersandar di dinding kayu sambil menarik napas dalam-dalam. "Kamu hampir tidak pernah absen bangun di jam segini selama dua minggu terakhir. Apa kamu tidak merasa lelah? Pagi sampai sore kita mengaji dan piket, malamnya kamu masih tegak berdiri di atas sajadah."
Fadil mengulas senyum tipis, memutar butiran tasbih kayu di jemarinya. "Rasa lelah fisik akan hilang begitu kita merebahkan badan, Hasan. Tapi kelapangan jiwa yang didapat dari shalat malam akan bertahan menguatkan kita sepanjang hari."
"Aku terkadang merasa iri melihat ketenanganmu," puji Hasan seraya membetulkan sarungnya. "Bagaimana bisa kamu begitu konsisten membiasakan tahajud di tengah padatnya kegiatan pondok?"
"Ini bukan soal kuat atau tidak, Hasan, melainkan soal kebutuhan," jelas Fadil lembut. "Kiai Zulfakar pernah mengingatkan kita tentang enam pembuka masalah. Shalat malam adalah salah satu tiang utamanya. Jika di ibadah wajib kita menunaikan perintah, maka di shalat malam kita mengetuk pintu belas kasih-Nya secara pribadi."
°˖✧✿✧˖°
Pagi harinya, setelah shalat Subuh berjemaah dan pengajian kitab Riyadhus Shalihin, para santri berkumpul di halaman utama pesantren untuk pembagian tugas kerja bakti mingguan. Ustadz Mansur, salah satu pengurus pondok yang dikenal tegas dan disiplin, berdiri di atas tangga teras serambi sambil membawa papan catatan.
"Perhatian seluruh santri!" seru Ustadz Mansur dengan suara lantang yang menggelegar di halaman. "Hari ini kita akan membersihkan area pemakaman tua di belakang kompleks pesantren dan merapikan tumpukan balok kayu tua di dekat gudang utama."
Gumam lesu terdengar dari barisan santri. Area pemakaman tua terkenal sangat rimbun oleh semak belukar dan lebatnya pohon bambu, sementara balok kayu tua dikenal berat serta sarang serangga.
"Siapa yang bersedia memimpin kelompok pembersihan di area pemakaman?" tanya Ustadz Mansur memandang barisan santri.
Sebelum ada santri lain yang mengangkat tangan, Mahfud melangkah keluar dari barisan santri senior. Dengan sunggingan senyum penuh rencana, ia menunjuk ke arah Fadil yang berdiri tenang di barisan tengah.
"Ustadz! Saya usul agar Fadil Ar Rimbai saja yang memimpin tim pembersihan pemakaman," seru Mahfud dengan nada memprovokasi. "Dia kan santri yang rajin dan sering bangun malam. Pasti tenaganya masih segar dan keberaniannya tidak perlu diragukan lagi."
Hasan yang berdiri di sebelah Fadil langsung menyenggol lengan sahabatnya dengan wajah gusar. "Dia sengaja menjatuhkan tugas paling berat padamu, Fadil. Jangan mau!"
Fadil menepuk pelan bahu Hasan agar tetap tenang. Ia lalu maju satu langkah dan membungkuk hormat kepada Ustadz Mansur.
"Insya Allah saya bersedia menjalankan tugas tersebut, Ustadz," sahut Fadil dengan nada mantap tanpa ada nada keberatan sedikit pun.
Ustadz Mansur mengangguk puas. "Bagus, Fadil. Pilih lima santri untuk membantumu di sana."
"Kenapa kamu langsung menerimanya, Fadil?" bisik Hasan penuh keheranan saat mereka berjalan mengambil sabit dan cangkul di gudang alat. "Area makam itu sangat kotor dan rimbun. Pekerjaan di sana dua kali lebih berat daripada merapikan balok kayu."
"Setiap tugas di pesantren ini memiliki keberkahan tersendiri, Hasan," jawab Fadil santai sambil memilih sabit yang tajam. "Lagi pula, merapikan pemakaman mengingatkan kita pada kematian dan membuat kita makin bersiap diri."
"Tapi Mahfud jelas-jelas sengaja ingin menguras tenagamu agar kamu kelelahan!" tegas Hasan tak mau kalah.
"Niat dia adalah urusannya dengan Allah, Hasan. Tugas kita adalah menyelesaikannya dengan penuh keikhlasan," tutur Fadil menatap tajam mata sahabatnya.
°˖✧✿✧˖°
Pekerjaan membersihkan area pemakaman tua ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Akar-akar liar yang menjalar tebal, rimbunnya pohon bambu yang berduri, serta teriknya sinar matahari yang mulai menyengat membuat para santri kelelahan dalam waktu singkat. Dahi Fadil dibasahi peluh deras, jubah kerjanya berdebu, namun ia tetap membabat rimbunnya semak tanpa mengeluh sedikit pun.
Di saat santri lain mulai beristirahat di bawah pohon rindang sambil mengusap keringat, Fadil terus mengayunkan sabitnya dengan ritme yang teratur dan stabil.
"Fadil, istirahatlah dulu," panggil salah seorang santri junior yang duduk selonjoran di atas batu. "Napasmu bisa putus kalau terus bekerja tanpa henti di bawah terik matahari ini."
Fadil menghentikan ayunan sabitnya, menyapu keringat di pelipisnya dengan lengan baju, lalu tersenyum hangat. "Sedikit lagi area lorong sebelah selatan ini selesai. Kalian istirahatlah dulu, minum air yang ada di dalam kendi."
"Bagaimana bisa tenagamu seperti tidak ada habisnya?" tanya santri junior itu heran. "Padahal tadi malam aku melihatmu bangun shalat Tahajud saat kami semua sedang lelap."
Fadil meletakkan sabitnya sejenak dan duduk di atas akar pohon besar bersama santri-santri junior tersebut. Ia mengambil kendi air dan meminumnya seteguk.
"Rahasia kekuatan itu bukan pada besarnya otot, Adik-adik," jelas Fadil lembut. "Saat kita membiasakan diri bangun di sepertiga malam untuk shalat Tahajud, jiwa kita dilatih untuk disiplin dan tangguh. Hati yang tenang akan memberi energi positif pada fisik kita."
"Apakah shalat malam benar-benar berpengaruh pada kekuatan fisik?" tanya santri junior lainnya penasaran.
"Sangat berpengaruh," jawab Fadil jujur. "Di saat tubuh kita lelah, shalat malam adalah sarana menguras beban mental. Ketika beban mental hilang dan hati dipenuhi rasa syukur, pekerjaan seberat apa pun akan terasa lebih ringan."