Fadil memohon kesembuhan ayahnya.
°˖✧✿✧˖°
Malam beranjak semakin larut di Kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin pegunungan merayap melintasi selasar asrama, membawa aroma tanah basah dan wangi dedaunan malam. Di dalam sudut surau yang remang, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas sejadah lusuhnya. Di hadapannya, sebuah lembaran surat bertinta hitam terhampar. Surat itu baru saja tiba dari kampung halamannya di Prabumulih, Sumatera Selatan, dikirim oleh ibunya, Zubaidah. Kabar buruk tertulis di sana: kondisi kesehatan ayahnya, Abdul Jabbar, menurun drastis akibat penyakit menahun yang semakin menggerogoti fisiknya.
Fadil menatap lekat barisan tulisan tangan ibunya yang gemetar. Dadanya terasa sesak membayangkan sang ayah yang selama ini menjadi tiang penopang keluarga dan sosok yang membentuk karakter serta keteguhan jiwanya kini terbaring lemah tak berdaya. Dalam kesendirian malam itu, bayangan wajah Abdul Jabbar yang penuh peluh dan senyum tulusnya sewaktu melepas Fadil merantau menuntut ilmu mendadak membayang jelas di kelopak matanya.
Langkah kaki yang pelan menghentikan keheningan di surau. Hasan, sahabat karibnya, melangkah mendekat dengan raut wajah cemas setelah melihat Fadil tak kunjung kembali ke kamar asrama.
"Fadil, kamu belum tidur?" bisik Hasan seraya duduk di samping sahabatnya. "Aku melihatmu duduk di sini sejak selepas pengajian kitab sore tadi."
Fadil menghela napas panjang, mencoba menata getaran di dadanya. "Aku baru menerima surat dari Ibu di Prabumulih, Hasan."
"Bagaimana kabar keluargamu di kampung?" tanya Hasan penuh perhatian.
"Ayahku... kondisi kesehatannya makin memburuk," jawab Fadil dengan suara serak yang tertahan. "Ibu bilang, Ayah sudah beberapa hari ini tidak mampu bangun dari tempat tidur. Tabungan keluarga kami pun sudah habis untuk biaya berobat."
Hasan menepuk bahu Fadil dengan penuh empati. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Aku turut prihatin, Fadil. Apakah kamu berencana untuk mengajukan izin pulang ke Sumatera?"
"Aku sangat ingin pulang dan merawat Ayah secara langsung," ujar Fadil menatap lurus ke arah jendela surau. "Tapi Ibu berpesan dalam surat ini agar aku tidak memotong masa menuntut ilmu di Darul Hikmah. Ayah berpesan agar aku tetap fokus belajar di bawah bimbingan Kiai Zulfakar."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Fadil?" tanya Hasan terdiam sejenak.
"Tidak ada perantara yang lebih cepat menembus langit selain doa seorang anak yang tulus untuk orang tuanya," tegas Fadil seraya merapatkan kedua telapak tangannya di dada. "Aku akan mengetuk pintu rahmat Allah lewat doa dan amalan yang diajarkan di pesantren ini."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, kebingungan dan kecemasan Fadil makin menguji keteguhan hatinya. Saat para santri sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti kelas kitab kuning pagi bersama Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz, Fadil mendapati dirinya sulit untuk berkonsentrasi. Pikiran dan perasaannya terus melayang ke rumah panggung sederhananya di Prabumulih.
Di halaman utama pesantren, Mahfud—santri senior yang kini telah berubah sikap menjadi lebih menghormati Fadil sejak insiden kebakaran dapur—melihat Fadil berdiri tertegun di bawah pohon beringin tua dengan raut wajah yang pucat dan lesu.
Mahfud melangkah mendekat, lalu menyapa lembut. "Assalamu'alaikum, Fadil. Ada apa denganmu pagi ini? Kamu kelihatan sangat gelisah dan tidak fokus seperti biasanya."
Fadil menoleh, berusaha mengulas senyum tipis. "Wa'alaikumussalam, Kang Mahfud. Maafkan saya. Saya hanya sedang memikirkan kondisi kesehatan Ayah di kampung halaman."
"Apakah Pak Abdul Jabbar sedang sakit parah?" tanya Mahfud dengan nada khawatir yang jujur.
"Iya, Kang. Kesehatannya makin menurun dan keluarga kami mengalami kesulitan biaya," jelas Fadil jujur. "Saya merasa sangat serba salah. Di satu sisi saya ingin mendampingi Ayah, di sisi lain amanah orang tua meminta saya bertahan menuntut ilmu di sini."
"Fadil," panggil Mahfud seraya memegang kedua lengan Fadil. "Selama ini kamu selalu menjadi orang yang menguatkan kami semua saat menghadapi kesulitan. Jangan biarkan keraguan meruntuhkan keteguhanmu. Jika kamu butuh bantuan apa pun, katakan padaku. Aku dan kawan-kawan santri siap membantumu."
"Terima kasih banyak atas perhatianmu, Kang Mahfud," jawab Fadil tersentuh oleh perubahan sikap Mahfud. "Tapi untuk saat ini, bantuan terbesar yang saya butuhkan adalah doa tulus dari kalian semua."
"Kami pasti mendoakan ayahmu, Fadil," janji Mahfud penuh kesungguhan. "Namun, sebaiknya kamu segera menemui Kiai Zulfakar. Beliau pasti punya nasihat dan petunjuk terbaik untuk situasi berat yang sedang kamu alami ini."
Fadil mengangguk pelan. "Iya, Kang. Selepas pengajian pagi ini, saya berniat menghadap Kiai Zulfakar untuk memohon bimbingan dan doa beliau."
°˖✧✿✧˖°
Selepas pengajian kitab usai dan para santri membubarkan diri dari hall utama, Fadil berjalan menuju kediaman Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz. Langkah kakinya terasa berat, dihimpit oleh rasa bersalah karena belum bisa berbuat banyak untuk ayahnya di kampung halaman.
Di teras kediaman yang rindang, Kiai Zulfakar tampak duduk bersila di atas tikar pandan seraya membaca lembaran kitab klasik. Melihat kedatangan muridnya, sang kiai menyunggingkan senyum hangat yang menyejukkan.
"Duduklah, Fadil," sapa Kiai Zulfakar lembut. "Ada beban berat yang sedang bergelayut di matamu pagi ini, Nak."
Fadil duduk bersila dengan tawaduk, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sembah sungkem saya, Kiai. Niatan saya menghadap adalah untuk memohon bimbingan dan doa atas musibah yang sedang menimpa keluarga saya."
"Apakah ini tentang kesehatan ayahmu, Abdul Jabbar?" tanya Kiai Zulfakar dengan suara yang sangat halus.
Fadil terkejut dan menengadah menatap gurunya. "Bagaimana Kiai bisa mengetahui hal tersebut?"
Kiai Zulfakar tersenyum tipis. "Seorang guru yang mengikat batinnya dengan sang murid akan merasakan getaran duka yang dialami muridnya. Lagipula, ibumu Zubaidah juga menyertakan sepucuk surat untukku yang dititipkan melalui pengurus pos pesantren kemarin sore."
"Masya Allah..." bisik Fadil dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Lantas apa yang harus saya lakukan, Kiai? Apakah saya harus pulang ke Prabumulih atau tetap bertahan di pondok ini?"
"Ayahmu, Abdul Jabbar, adalah sosok lelaki yang sangat tangguh dan bertakwa," tutur Kiai Zulfakar menatap tajam mata Fadil. "Dalam suratnya kepadaku, ia berpesan dengan sangat tegas bahwa kepulanganmu sebelum menuntaskan ilmu hanya akan menambah kesedihan di hatinya. Ia ingin kamu menjadi anak saleh yang ilmunya menjadi amal jariyah baginya."
"Tapi Kiai, saya merasa sangat tidak berbakti jika hanya diam di sini sementara Ayah berjuang melawan penyakitnya sendirian!" seru Fadil, air matanya tak terbendung lagi menetes menembus pipinya.
"Siapa bilang kamu hanya diam, Fadil?" potong Kiai Zulfakar dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. "Jarak antara Jawa Timur dan Sumatera Selatan memang memisahkan fisikmu dengan ayahmu, tetapi jarak itu tidak ada artinya bagi doa yang dipanjatkan oleh seorang anak yang taat!"
"Apakah doa saya dari jauh benar-benar mampu menyembuhkan Ayah, Kiai?" tanya Fadil meminta kepastian.