6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #75

Pertolongan

Pertolongan

Kabar baik akhirnya datang.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita melangkah ke pengajaran tentang hakikat pertolongan Allah. Ingatlah firman-Nya: Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Pertolongan Allah itu dekat, hanya saja sering kali ketergesaan manusia yang membuat pertolongan itu terasa jauh."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah cara seorang santri menyikapi masa-masa penantian tatkala pertolongan Allah belum kunjung kelihatan bentuknya di tengah ujian yang mengimpit?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Pertanyaan yang amat bernilai, Fadil. Masa penantian adalah tempat penyaringan niat. Pertolongan Allah hadir bukan ketika kita merasa sanggup, melainkan ketika kita telah memasrahkan seluruh kelemahan kita di hadapan-Nya. Kabar baik akhirnya datang tatkala batin seorang hamba benar-benar bersih dari prasangka buruk kepada Tuhannya."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah itu berarti bahwa kemudahan yang hadir setelah kesulitan merupakan ujian bentuk baru bagi kerendahan hati kita, Kiai?"

"Tepat sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya mengelus janggut putihnya. "Sering kali manusia mampu bersabar dalam kemelaratan dan ujian berat, tetapi ia roboh tatkala diterpa kelapangan dan kabar gembira. Keduanya adalah bentuk pertolongan yang harus disambut dengan rasa syukur."

"Bagaimana agar rasa syukur itu tidak berubah menjadi kelalaian tatkala penderitaan telah diangkat, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Tetaplah bersujud dengan rasa butuh yang sama seperti tatkala engkau dihantam ujian. Jangan pernah merasa jumawa."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖° Peristiwa Pemicu °˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Pertolongan Allah sering kali datang melalui perantara yang tak disangka-sangka," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas. "Boleh jadi pertolongan itu hadir lewat selembar surat, sebaris doa seorang kawan, atau kemudahan yang membukakan jalan tersumbat. Kabar baik akhirnya datang sebagai penyejuk bagi dada-dada yang senantiasa bersabar."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentak begitu dalam. Fadil teringat pada ujian berat yang selama beberapa bulan ini menguji ketahanannya—masalah kebuntuan pembiayaan pembangunan madrasah gratis untuk anak-anak yatim di sekitar pondok yang sempat terbengkalai, serta krisis ekonomi yang menimpa keluarganya. Selama berminggu-minggu, Fadil bersujud melangitkan doa tanpa henti di sepertiga malam. Malam ini, dawuh dari Kiai Zulfakar seolah menyiratkan bahwa fajar kemudahan mulai menyingsing di ufuk harapan.

"Siapa di antara kalian yang sedang menantikan buah dari kesabarannya?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan suara bergetar. "Saya, Kiai. Saya telah lama memohon agar Allah membukakan jalan keluar atas niat mulia pembangunan madrasah dan kesulitan keluarga saya."

"Ketahuilah, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Janji Allah itu pasti. Tidak ada doa yang terbuang sia-sia. Kabar baik akhirnya datang tepat pada saat yang paling indah."

"Apakah pertolongan itu selalu berbanding lurus dengan kadar keikhlasan kita, Kiai?" tanya Ghalib pelan.

"Sangat benar, Ghalib," jawab Kiai Zulfakar. "Makin ikhlas engkau melepaskan kehendak dirimu, makin cepat pertolongan Ilahi merengkuhmu."

Rayyan mengacungkan jarinya. "Kiai, bagaimana jika kabar gembira itu terlambat menurut kacamata manusia?"

"Ukuran manusia terbatas oleh waktu fana, sedangkan ukuran Allah meliputi keabadian," terang Kiai Zulfakar.

Yafiq ikut bertanya, "Bagaimana menyambut pertolongan itu agar bernilai ibadah, Kiai?"

"Sambutlah dengan sujud syukur dan peningkatan ketaatan," sahut Kiai Zulfakar mantap.

Fadil menunduk khusyuk, meresapi setiap kalimat yang keluar dari bibir sang guru dengan dada yang berdesir hangat.

°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama °˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab yang menguraikan kisah kedatangan bantuan Allah kepada para nabi di saat-saat paling genting. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Pintu pertolongan," tegas Kiai Zulfakar memecah keheningan, "terbuka tatkala hamba-Nya telah mengikis habis ketergantungan kepada makhluk. Kabar baik akhirnya datang bukan karena kekuatan kita, melainkan semata-mata karena kemurahan rahmat-Nya. Ketika seluruh pintu bumi tertutup, pintu langit selalu terbuka lebar."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah tanda-tanda batin bahwa sebuah kabar baik yang kita terima benar-benar merupakan pertolongan yang dirahmati, bukan sekadar ujian yang dikemas dalam kesenangan?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, pertolongan yang dirahmati akan makin mendekatkan dirimu kepada Allah, membuat hatimu makin rendah hati, dan memperbesar keinginanmu untuk berbagi. Sedangkan berita gembira yang menjadi fitnah justru membuat dirimu lupa diri, sombong, dan menjauh dari sajadah malam."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, bagaimana menjaga agar kawan-kawan kita ikut merasakan kebahagiaan tatkala pertolongan itu menghampiri salah satu dari kita?"

"Ikatlah kebersamaan kalian dengan rasa saling mendoakan," terang Kiai Zulfakar. "Kegembiraan saudaramu adalah kegembiraanmu juga."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, apakah pertolongan Allah sanggup mengubah keadaan yang secara akal sehat manusia sudah tidak mungkin lagi ditolong?"

"Bagi Allah, tidak ada kata tidak mungkin," jawab Kiai Zulfakar. "Cukup Dia berkata Kun Fayakun, maka runtuhlah segala batasan akal manusia."

Lihat selengkapnya