6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Sepuluh Balasan

Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian melarut di kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut menembus celah-celah ukiran kayu surau tua, membawa keharuman tanah basah dan dedaunan pinus yang menentramkan jiwa. Di dalam aula utama surau yang beralaskan karpet hijau tebal, puluhan santri duduk bersila dalam barisan yang amat rapi. Di hadapan mereka, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz duduk bersila di atas dampar kayu jati dengan keanggunan serta ketenangan yang bersahaja. Di sekeliling beliau, enam santri utama—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk khusyuk di barisan paling depan dengan kitab catatan serta pena yang siap di genggaman.

Lampu gantung tembaga tua memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menerangi lembaran-lembaran kitab klasik bertinta hitam. Kiai Zulfakar menatap keenam muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh, membawa kedamaian bagi siapa saja yang memandangnya. Di sudut ruangan, wewangian kayu gaharu membumbung tipis dari tempat pembakaran dupa tembaga, menciptakan nuansa spiritual yang amat kental.

"Anak-anakku sekalian," buka Kiai Zulfakar dengan suara yang dalam, lembut, namun amat berwibawa. "Malam ini kita melangkah ke pengajaran tentang kemuliaan rahmat Allah SWT bagi para pecinta Rasulullah SAW. Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa barangsiapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."

Fadil menunduk takzim, lalu memberanikan diri mengangkat tangannya pelan. "Sembah sungkem saya, Kiai. Bagaimanakah cara seorang santri memahami hakikat sepuluh balasan rahmat Allah tersebut tatkala diucapkan oleh lidah yang masih bergelimang dosa?"

Kiai Zulfakar tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Pertanyaan yang amat bernilai, Fadil. Sepuluh balasan rahmat dari Allah bukanlah sekadar hitungan matematis, melainkan ganjaran pengangkatan derajat, penghapusan sepuluh keburukan, serta pendar cahaya kebaikan yang melapangkan dada."

Fauzan membetulkan letak pecinya, lalu ikut menyela dengan nada penasaran. "Apakah itu berarti satu kali selawat yang tulus sanggup meleburkan kegelisahan batin dan membuka jalan keluar atas segala kesulitan hidup, Kiai?"

"Tepat sekali, Fauzan," jawab Kiai Zulfakar seraya mengelus janggut putihnya. "Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis agar kalian paham bahwa rahmat Allah senantiasa mendahului murka-Nya. Tatkala Allah berselawat kepadamu sepuluh kali, berarti Dia memberikan curahan ampunan, ketenangan jiwa, dan perlindungan dari segala mara bahaya."

"Bagaimana menjaga kekhusyukan tatkala lidah kita mengulang-ulang bacaan selawat tersebut, Kiai?" pangkas Faris penuh ketakziman.

Kiai Zulfakar mengangguk pelan. "Hadirkan rasa rindu yang mendalam kepada Nabi SAW di setiap helai napasmu."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendengarkan dengan penuh rasa hormat, menyiapkan catatan mereka untuk menyerap tiap petuah emas sang guru.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di aula surau mendadak semakin hening dan penuh kekhusyukan. Suara gesekan pena di atas kertas catatan milik Ghalib, Rayyan, dan Yafiq terdengar teratur di antara dengungan embun malam yang kian dingin. Kiai Zulfakar membetulkan posisi sorban hijaunya, lalu menatap keenam santri di hadapannya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan mendalam.

"Satu selawat dibalas sepuluh rahmat," tutur Kiai Zulfakar pelan namun tegas. "Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis ini untuk menegaskan betapa murahnya kasih sayang Sang Pencipta. Bagi seorang hamba yang paham, janji sepuluh balasan ini adalah benteng pertahanan spiritual yang tidak akan pernah hancur."

Fadil terdiam merenungi kata-kata sang guru. Hatinya tersentak begitu dalam. Fadil teringat pada pesan ancaman dan misteri yang membayang dalam perjalanan studinya di Darul Hikmah. Selama ini, ia kerap merasa khawatir akan ketidakmampuannya menghadapi beban tugas dakwah dan tantangan hidup di masa depan. Namun malam ini, dawuh dari Kiai Zulfakar menjadi penawar yang amat dahsyat bagi keraguan jiwanya. Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis shahih yang memberikan jaminan kepastian rahmat Allah.

"Siapa di antara kalian yang menyadari betapa ruginya manusia yang enggan membasahi lidahnya dengan selawat?" tanya Kiai Zulfakar memecah keheningan.

Fadil perlahan menundukkan kepala, lalu menjawab dengan suara bergetar. "Saya, Kiai. Saya sering kali lupa bahwa di balik satu ucapan selawat yang ringan, terdapat sepuluh curahan ampunan dan rahmat Ilahi yang begitu luas."

"Kesadaran itu adalah karunia, Fadil," puji Kiai Zulfakar lembut. "Ingatlah, Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis bukan untuk sekadar hafalan teori, melainkan untuk ditancapkan sebagai pilar keimanan dalam hatimu."

"Apakah sepuluh balasan rahmat itu juga yang melapangkan jalan pikiran kita saat mempelajari kitab-kitab yang rumit, Kiai?" tanya Ghalib pelan.

"Sangat benar, Ghalib," jawab Kiai Zulfakar. "Cahaya ilmu hanya akan masuk ke dalam hati yang terang oleh pendar rahmat selawat."

Rayyan mengacungkan jarinya. "Kiai, bagaimana melatih keistiqamahan agar kita bisa berselawat ribuan kali setiap hari tanpa merasa jenuh?"

"Jangan hitung jumlahnya dengan beban, melainkan nikmati setiap sebutannya sebagai ucapan rindu kepada Kekasih Allah," terang Kiai Zulfakar.

Yafiq ikut bertanya, "Apakah sepuluh balasan ini juga akan melindungi seorang santri dari tipu daya dan fitnah manusia, Kiai?"

"Tiada perlindungan yang lebih kokoh daripada perlindungan Allah yang didapat melalui rahmat selawat-Nya," sahut Kiai Zulfakar mantap.

Fadil menunduk khusyuk, meresapi setiap kalimat yang keluar dari bibir sang guru dengan dada yang berdesir hangat.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Zulfakar membalikkan lembaran kitab klasiknya yang berwarna kekuningan. Beliau menunjuk pada barisan kaligrafi Arab yang menguraikan sanad hadis tentang keutamaan selawat beserta keagungan janji sepuluh balasan rahmat dari Allah SWT. Beliau memandang keenam santrinya dengan tatapan yang penuh makna tersembunyi.

"Transformasi spiritual," tegas Kiai Zulfakar memecah keheningan, "bermula dari keyakinan yang tidak tergoyahkan terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis ini agar kalian sadar bahwa sepuluh balasan rahmat itu berwujud perbaikan akhlak, kemudahan urusan, dan ketenangan batin yang abadi."

Fadil memberanikan diri mengangkat tangannya pelan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. "Kiai, bagaimanakah tanda-tanda bahwa seseorang telah benar-benar menerima sepuluh balasan rahmat tersebut dalam kehidupan sehari-harinya?"

Kiai Zulfakar menatap Fadil dengan pandangan yang penuh kasih sayang guru. "Fadil, tandanya adalah ketenangan hatinya tatkala diterpa musibah, kelembutan tutur katanya saat disakiti, serta kemudahannya dalam menjauhi kemaksiatan. Kiai menjelaskan keutamaan berselawat berdasarkan hadis agar engkau mengerti bahwa sepuluh balasan itu mengubah seluruh perangai manusia menjadi lebih mulia."

Fauzan menyimak penjelasan tersebut seraya bertanya, "Kiai, bagaimana cara menyebarkan pemahaman tentang sepuluh balasan ini kepada masyarakat awam yang belum terbiasa berselawat?"

"Sampaikan dengan kelembutan dan teladan," terang Kiai Zulfakar. "Tunjukkan betapa indahnya hidup yang dibalut oleh rahmat selawat."

Faris mengangkat tangannya pelan. "Kiai, apakah sepuluh balasan rahmat ini juga berlaku bagi orang yang berselawat namun hatinya masih terselip kelalaian?"

"Allah Maha Pemurah," jawab Kiai Zulfakar. "Bahkan selawat yang diucapkan saat lalai pun tetap dicatat dan dibalas sepuluh kali rahmat, apalagi selawat yang diresapi dengan khusyuk dan rindu."

Ghalib mencatat poin-poin penting tersebut di atas kertas catatannya. "Kiai, bagaimana jika kita merasa doa-doa kita belum terkabul meski sudah membaca selawat?"

Lihat selengkapnya