6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #84

Undangan ke Desa

Undangan ke Desa

Fadil diminta membantu kegiatan keagamaan masyarakat.

°˖✧✿✧˖°

Malam di Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur, selalu menyimpan pesona yang tenang. Angin dingin dari lereng gunung berembus perlahan, menggoyangkan dahan-dahan pohon tanjung yang berjejer di pekarangan asrama. Cahaya kuning keemasan dari lampu gantung tembaga menimpa jubin tua teras serambi masjid utama, tempat enam santri pilihan—Fadil, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk melingkar di atas karpet pandan. Di hadapan mereka tergelar beberapa lembar catatan fikih serta dua cangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul tipis.

Fadil membetulkan posisi bersilanya seraya memegang kitab Fathul Qarib. Suasana pesantren yang damai selalu menjadi tempat terbaik baginya untuk menimba ilmu dan memperdalam pemahaman agama.

"Fadil, coba engkau jelaskan kembali bait tentang hukum kepemimpinan dalam ibadah kemasyarakatan yang tadi dibacakan Kiai Zulfakar," kata Fauzan membuka perbincangan.

Fadil tersenyum tenang, menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang teduh. "Pengabdian kepada masyarakat bukanlah sekadar menyorongkan teori kitab, Fauzan. Kiai mengajarkan bahwa ilmu agama yang dipelajari di pesantren ini baru hidup jika mampu menyentuh hati rakyat kecil di pedesaan."

Faris menyeruput kopi hitamnya pelan, lalu menengahi. "Itu benar, tetapi masyarakat di luar sana memiliki dinamika yang amat kompleks. Pemahaman mereka kerap dipengaruhi oleh tradisi lokal yang kental."

"Justru di sinilah peran santri," pangkas Fadil mantap. "Kita hadir bukan untuk merobohkan tradisi, melainkan meluruskannya dengan kelembutan dakwah."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mengangguk setuju. Mereka menyimak pembicaraan itu dengan penuh ketakziman, menyadari bahwa kehidupan di pesantren adalah masa persiapan menuju medan pengabdian yang sesungguhnya.

"Lantas, bagaimana jika dakwah kita ditolak karena dianggap masih terlalu muda?" tanya Ghalib penasaran.

Fadil menatap jam dinding yang berdetak pelan. "Akhlak yang bicara, Ghalib. Masyarakat tidak hanya melihat seberapa luas ilmu kita, tetapi seberapa tulus kita melayani mereka."

"Pembicaraan yang amat berbobot di larut malam," sela Yafiq seraya tersenyum.

"Sebab kita tahu," tambah Rayyan, "suatu hari nanti ujian dakwah yang nyata pasti akan menghampiri kita di luar tembok pondok ini."

Fadil kembali menundukkan kepala, meresapi setiap jengkal ilmu yang ia serap selama menimba ilmu di Pesantren Darul Hikmah Jawa Timur.

°˖✧✿✧˖°

Keheningan teras serambi masjid mendadak terpecah oleh suara derap langkah kaki terburu-buru yang melintasi pelataran berkerikil. Dari balik kegelapan lorong asrama, muncul Pak Saman, seorang Lurah dari Desa Karangjati—sebuah desa yang terletak di kaki lembah tak jauh dari kompleks pesantren. Pria paruh baya itu mengenakan batik lusuh dan peci hitam yang agak miring, dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam.

Di samping Pak Saman, Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz berjalan dengan tenang, mengenakan jubah putih serta sorban hijau yang melilit rapi di pundak beliau.

Fadil dan kelima sahabatnya segera berdiri, merendahkan badan, dan memberikan penghormatan penuh takzim kepada sang pengasuh pondok serta tamu yang datang.

"Pangapunten, Kiai, jika kedatangan hamba mengganggu waktu istirahat para santri," ujar Pak Saman dengan suara bergetar dan napas tersengal-sengal.

"Tidak apa-apa, Pak Lurah," sahut Kiai Zulfakar lembut. "Duduklah terlebih dahulu. Ceritakan ada hajat apa hingga engkau menembus dinginnya malam menuju pesantren ini."

Pak Saman duduk bersila di atas karpet pandan, menyapu keringat dingin di dahi dengan sapu tangan lusuh. "Begini, Kiai... Desa Karangjati sedang menghadapi krisis keagamaan dan kemasyarakatan yang amat pelik. Tradisi peringatan maulid dan kegiatan keagamaan masyarakat yang biasanya mengumpulkan warga kini pecah karena perselisihan paham antara kelompok pemuda dan tetua desa."

Kiai Zulfakar menatap Pak Saman dengan pandangan yang dalam, lalu mengalihkan pandangannya kepada Fadil. "Lalu, bantuan apa yang engkau harapkan dari Pesantren Darul Hikmah, Pak Lurah?"

Pak Saman menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Hamba memohon dengan sangat, Kiai... Utuslah santri terbaik Kiai untuk turun ke desa kami. Fadil diminta membantu kegiatan keagamaan masyarakat di Desa Karangjati agar perselisihan ini padam dan warga kembali bersatu dalam majelis ibadah."

Fadil tersentak pelan. Jantungnya berdebar kencang saat nama dan amanah itu disebut secara langsung di hadapan sang guru.

"Fadil?" panggil Kiai Zulfakar dengan suara yang mantap. "Apakah engkau mendengar permohonan Pak Lurah?"

Fadil menundukkan kepala rapat-rapat. "Hamba mendengar, Kiai. Namun, hamba merasa masih sangat miskin ilmu untuk mengemban amanah kemasyarakatan semacam ini."

"Ketakutanmu adalah awal dari keikhlasanmu, Fadil," tegas Kiai Zulfakar. "Fadil diminta membantu kegiatan keagamaan masyarakat bukan karena engkau yang paling mahir, melainkan karena jiwamu telah siap untuk melayani."

Fauzan memegang bahu Fadil, memberi dorongan moral. "Kami akan menyertaimu ke Desa Karangjati, Fadil."

"Benar," tambah Faris. "Kita akan hadapi ujian pengabdian ini bersama-sama."

Pak Saman menatap Fadil dengan mata berbinar penuh harapan. "Tolonglah desa kami, Nak Fadil. Kehadiran santri Darul Hikmah adalah satu-satunya harapan kami."

Fadil menarik napas panjang, menatap Kiai Zulfakar yang mengangguk penuh ridho. Peristiwa pemicu malam itu resmi menjadi gerbang pembuka bagi Fadil untuk menguji kedalaman ilmunya di tengah-tengah masyarakat.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, tatkala kabut pagi masih menyelimuti lereng perbukitan Jawa Timur, Fadil beserta lima sahabatnya telah bersiap di depan gerbang utama Pesantren Darul Hikmah. Masing-masing membawa tas kain bersahaja berisi kitab-kitab pegangan dan pakaian ganti. Kiai Zulfakar berdiri di ambang pintu gerbang untuk melepas keberangkatan murid-murid utamanya.

"Ingatlah pesan Guru, Fadil," tutur Kiai Zulfakar berwibawa. "Datanglah ke Desa Karangjati sebagai penyejuk, bukan sebagai hakim. Fadil diminta membantu kegiatan keagamaan masyarakat untuk merangkul, bukan untuk memukul."

Fadil mencium tangan sang guru dengan takzim. "Nuwun inggih, Kiai. Petunjuk Kiai akan menjadi pelita bagi langkah kami."

Perjalanan menuju Desa Karangjati ditempuh dengan berjalan kaki melintasi jalan setapak berkerikil dan perkebunan teh yang luas. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, keenam santri itu akhirnya tiba di batas desa. Pemandangan Desa Karangjati tampak asri, namun suasana sosialnya terasa kaku dan penuh ketegangan. Banner-banner berisi pengumuman acara keagamaan tampak terbelah menjadi dua versi yang berbedak di sudut-sudut jalan desa.

Di balai desa, Pak Saman telah menyambut mereka bersama dua tokoh kunci yang sedang berselisih: Mbah Sastro, wakil dari tetua adat yang berpegang teguh pada tradisi lama, dan Mas Aris, ketua pemuda desa yang menginginkan perubahan total dalam pelaksanaan ibadah.

"Selamat datang para santri Darul Hikmah," sapa Mbah Sastro dengan nada dingin dan tangan terlipat di dada. "Semoga kalian tidak datang untuk menggurui kami yang sudah puluhan tahun hidup di desa ini."

Lihat selengkapnya