Fadil berusaha mendekati mereka tanpa menghakimi.
°˖✧✿✧˖°
Gemericik air pancuran kolam pesantren terdengar berirama di tengah keheningan malam Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Udara dingin khas pedesaan membelai lembut kulit para santri yang masih terjaga di sudut-sudut lorong. Di balik pendar lampu gantung berornamen ukiran Jepara, Fadil duduk bersila di atas karpet pandan yang terbentang di teras asrama utama. Di hadapannya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—sedang memperhatikannya dengan raut wajah serius.
Kitab Sullamut Taufiq terbuka di depan Fadil, namun pandangannya menerawang jauh menembus kegelapan pelataran pesantren. Bayangan sekumpulan pemuda jalanan dan warga lokal yang penuh kecurigaan masih membayang jelas di benaknya. Sejak mendapat tugas dakwah lapangan dari pengasuh pondok, Fadil sadar bahwa tantangan sesungguhnya bukanlah menghafal ribuan bait matan, melainkan bagaimana menanamkan nilai-nilai tersebut ke dalam dada manusia yang keras.
"Fadil, engkau tampak sangat melamun malam ini," tegur Fauzan seraya menggeser cangkir kopi hitamnya yang masih berasap.
Fadil menarik napas panjang, lalu menatap sahabatnya itu dengan senyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir, Fauzan. Jalur dakwah yang sedang kita tempuh ini tidak akan pernah mulus. Warga dan pemuda di sekitar perbatasan desa masih memandang kita dengan penuh rasa curiga."
Faris menyandarkan punggungnya pada tiang kayu teras. "Itu wajar, Fadil. Selama ini ada tembok tinggi yang memisahkan kehidupan kita di dalam pesantren dengan realitas keras di luar sana. Mereka menganggap kita kelompok yang eksklusif dan suka menghakimi."
"Justru karena itulah," pangkas Fadil dengan intonasi yang lembut namun tegas, "kita harus meruntuhkan tembok itu. Fadil berusaha mendekati mereka tanpa menghakimi, sebab jika kita datang membawa tatapan kesucian yang tinggi dada, mereka akan semakin berlari menjauh dari agama."
Ghalib memajukan posisi duduknya. "Tetapi mereka sangat tertutup, Kang. Setiap kali kita melintas di dekat pos perbatasan, sapaan kita hanya dibalas dengan tatapan dingin atau gunjingan."
"Hati manusia itu seperti tanah yang kering," sahut Rayyan melengkapi. "Dibutuhkan rintik hujan kelembutan yang konsisten agar tanah itu mau menyerap air."
Yafiq mengangguk setuju. "Benar. Pendekatan kita harus berubah. Tidak bisa lagi hanya sekadar ajakan lisan, melainkan bukti kepedulian yang nyata."
Fadil mengusap lembaran kitabnya pelan, meresapi setiap pandangan para sahabatnya. "Terima kasih, Saudara-saudaraku. Bimbingan Kiai Zulfakar sudah jelas. Kita tidak boleh patah semangat hanya karena penolakan pertama. Fadil berusaha mendekati mereka tanpa menghakimi, dan malam-malam mendatang adalah pembuktian atas kesabaran kita."
Keenam santri itu mengangguk mantap, menyatukan azam untuk menghadapi babak baru dalam pengabdian mereka di bumi Jawa Timur.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, tatkala bayang-bayang pepohonan mulai memanjang di sore hari, Fadil bersama lima sahabatnya melangkah keluar dari gerbang barat Pesantren Darul Hikmah. Sasaran mereka adalah warung kopi remang-remang di tepi jalan raya perbatasan desa—tempat berkumpulnya para pemuda lokal yang terkenal paling antipati terhadap kegiatan pesantren.
Di bawah naungan pohon sengon tua, empat pemuda sedang duduk mengelilingi meja kayu yang kusam. Pimpinan mereka, seorang pemuda berwajah keras bernama Guntur, sedang melempar kartu remi ke atas meja dengan gerakan kasar. Di sampingnya, Bagas, Broto, dan Dimas terkekeh seraya menghembuskan asap rokok yang pekat.
Saat langkah kaki beratap sandal jepit para santri mendekat, gelak tawa di warung tersebut mendadak terhenti. Guntur melemparkan kartunya ke meja, lalu menatap Fadil dengan pandangan mata yang menyipit sinis.
"Lihat siapa yang datang," cibir Guntur dengan suara serak, melipat kedua tangannya di dada. "Para ahli surga dari balik tembok tinggi sedang turun gunung. Mau menyucikan dosa-dosa kami, ya?"
Bagas dan Broto tertawa meremehkan, sementara Dimas tampak sibuk memainkan pisau lipat kecil di jemarinya.
Fauzan dan Faris sempat menegang, namun Fadil melangkah maju dengan gerakan yang sangat tenang. Tidak ada raut wajah tersinggung apalagi marah. Fadil berusaha mendekati mereka tanpa menghakimi, memancarkan ketulusan dari setiap gerak-geriknya.
"Assalamu'alaikum, Mas Guntur dan Abang-abang sekalian," sapa Fadil santun seraya menundukkan badannya sedikit dan meletakkan tangan kanan di dada.
"Wa'alaikumussalam," sahut Guntur dingin tanpa mengubah posisi duduknya. "Ada hajat apa kalian kemari? Jangan bilang kalian mau memasang pengumuman pengajian di warung ini. Kami tidak butuh penceramah!"
Fadil mengulas senyum ramah yang sangat tulus. "Kami tidak datang untuk berceramah, Mas Guntur. Kami hanya santri yang sedang belajar mengenali tetangga kami sendiri. Tadi kami habis menyelesaikan tugas di ladang dan merasa haus, apakah kami boleh memesan teh di warung ini?"
Guntur tertegun sejenak. Ia sudah bersiap untuk adu argumen keras atau mengusir para santri itu, tetapi respon Fadil yang begitu membumi dan penuh kepasrahan membuat gertakannya membentur dinding hampa.
"Warung ini milik umum," pangkas Guntur kasar seraya mengibaskan tangannya. "Duduk saja di sudut sana kalau tidak jijik dengan tempat kotor seperti ini!"
Fadil menatap lima sahabatnya dan mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas Guntur."
Peristiwa pemicu sore itu menandai kontak pertama yang menegangkan antara rombongan santri utama dengan kelompok pemuda lokal yang penuh prasangka.
°˖✧✿✧˖°
Fadil dan kelima sahabatnya duduk di bangku kayu panjang yang agak berdebu di sudut warung. Pemilik warung, seorang lelaki tua bernama Pak Kadir, dengan ragu-ragu menyajikan enam cangkir teh hangat di atas meja mereka.
Di meja sebelah, Guntur dan kelompoknya sengaja mengeraskan suara percakapan mereka, menyelipkan kata-kata kasar dan sindiran yang dialamatkan kepada para santri. Mereka mencoba memancing emosi para penghafal kitab tersebut.
"Zaman sekarang banyak orang sok suci," sindir Bagas keras-keras seraya melirik Fadil. "Suka mengutip ayat tetapi tidak tahu rasanya perut lapar karena tidak punya uang!"
Broto menimpali seraya menepuk meja. "Benar! Lebih baik jadi orang nakal tapi jujur, daripada berpura-pura alim tapi matanya memandang orang lain seperti sampah!"
Faris dan Ghalib meremas jemari mereka di bawah meja, menahan gejolak amarah yang mulai membakar dada. Namun Fadil memegang jemari Faris di bawah meja, menyalurkan ketenangan batin yang luar biasa.
Fadil menyeruput teh hangatnya pelan, lalu berdiri dari duduknya. Ia tidak melangkah menuju kelompok Guntur dengan amarah, melainkan membawa satu piring jajanan pasar berupa pisang goreng hangat yang baru saja disajikan Pak Kadir.
Fadil meletakkan piring pisang goreng itu secara perlahan di tengah meja tempat Guntur dan kawan-kawannya berkumpul.
"Mas Guntur, Mas Bagas," tutur Fadil dengan suara yang sangat lembut dan pandangan mata yang jernih. "Pisang goreng Pak Kadir ini masih sangat hangat. Tolong bantu kami menghabiskannya, sebab kami tidak akan sanggup menghabiskan porsi sebanyak ini sendirian."