Bela Diri untuk Melindungi
Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan.
°˖✧✿✧˖°
Angin malam di lembah perbukitan pesisir Jawa Timur berembus cukup kencang, membawa aroma daun jati basah dan bau tanah disiram gerimis. Di halaman belakang kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, pendar lampu gantung kuningan memancarkan cahaya kekuningan yang lembut di atas tanah yang rata. Suasana hening, hanya diselingi jangkrik dan gesekan dedaunan, menciptakan ruang yang ideal bagi para santri tingkat atas untuk mengasah ketajaman lahir dan batin.
Di sudut aula latihan terbuka yang beratap kayu jati tua, Fadil berdiri tegak bersama lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Mereka baru saja menyelesaikan tadarus kitab fikih ibadah dan kini sedang membetulkan sabuk hijau yang melilit pinggang busana silat khas pesantren. Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan yang mungkin melanda wilayah luar, namun malam itu, latihan rutin tetap menjadi sarana untuk menjaga kesiapsiagaan jiwa.
"Fadil, bagaimana menurutmu gerakan jurus ketiga tadi?" tanya Fauzan seraya mengusap peluh di dahi dengan ujung lengan bajunya. "Aku merasa bukaan tanganku masih terlalu lebar sehingga mudah ditembus lawan."
Fadil mengulas senyum tipis yang menenangkan. "Gerakan jurus ketiga itu bukan soal seberapa lebar engkau membuka tangan, Fauzan, melainkan seberapa tenang engkau membaca arah angin serangan lawan. Ketika hatimu tenang, gerakan tubuhmu akan mengikuti secara alami tanpa beban."
Faris yang sedang meluruskan kakinya di atas tikar pandan menimpali, "Tetapi berlatih di dalam pondok terasa sangat berbeda dengan menghadapi kerasnya jalanan di luar sana. Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan di desa sebelah minggu lalu, dan aku sadar ketenangan batin tidak mudah dijaga saat bahaya nyata mengintai."
"Benar," pangkas Ghalib seraya mengangguk setuju. "Ilmu silat yang diajarkan Kiai Zulfakar bukan untuk mencari musuh atau pamer kesaktian, melainkan senjata terakhir untuk membentangi kebenaran."
Rayyan dan Yafiq menyimak dengan takzim, merapikan simpul tali celana silat mereka. "Pesan Kiai sangat jelas," ujar Rayyan pelan. "Bela diri kita adalah ikhtiar perlindungan, bukan pembalasan."
Fadil menatap kelima sahabatnya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih dan dalam. "Setiap jurus yang kita pelajari di bawah naungan Darul Hikmah mengandung doa. Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan bukan untuk menundukkan manusia, melainkan untuk melumpuhkan kejahatan tanpa merusak manusianya. Mari kita luruskan niat sebelum melanjutkan latihan malam ini."
Keenam santri itu mengangguk serempak, melangkah ke tengah gelanggang tanah dengan hati yang mantap dan siap tempa.
°˖✧✿✧˖°
Latihan yang semula berlangsung tenang mendadak terhenti ketika dari arah lorong samping gerbang luar pesantren terdengar langkah kaki tergesa-gesa yang memburu. Seorang santri junior bernama Malik berlari dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi di bawah temaram pendar lampu minyak pelataran.
"Kang Fadil! Kang Fauzan! Bantuan... butuh bantuan di pasar bawah!" teriak Malik dengan suara gemetar seraya memegang lututnya yang lemas.
Fadil segera melangkah mendekat, memegang bahu santri junior itu untuk menenangankannya. "Tenang, Malik. Tarik napas dulu. Ada peristiwa apa di pasar bawah?"
"Pasar bawah desa... sedang ada keributan besar, Kang!" tutur Malik dengan mata terbelalak ketakutan. "Sekelompok pemuda tak dikenal dari area pelabuhan datang mengacau! Mereka merusak lapak para pedagang tua dan mengancam warga dengan senjata tajam! Pak Sadiman, pedagang sayur langganan pesantren kita, dikeroyok karena berusaha mempertahankan barang dagangannya!"
Faris mengepalkan tangannya erat-erat, matanya berkilat amarah. "Kurang ajar! Mereka selalu memilih waktu saat warga sedang beristirahat!"
Fauzan menatap Fadil dengan raut wajah siaga. "Bagaimana, Fadil? Pasar bawah itu masih dalam jangkauan wilayah binaan pesantren kita. Kita tidak bisa tinggal diam melihat warga dizalimi!"
Fadil menarik napas panjang, menunduk sejenak untuk memohon petunjuk kepada Sang Maha Pencipta. Saat ia mengangkat wajahnya, sorot matanya tampak sangat tenang namun memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan di luar benteng pondok.
"Kita berangkat sekarang," pangkas Fadil dengan nada mantap. "Faris, Ghalib, bawalah obor dan kotak pertolongan pertama. Rayyan, Yafiq, laporkan kejadian ini kepada pengurus keamanan pondok agar mereka menyusul jika situasi memburuk. Fauzan, ikut bersamaku di depan. Ingat pesan Kiai: bela diri kita hanya untuk melindungi!"
"Siap, Fadil!" sahut mereka serempak tanpa ragu sedikit pun.
Tanpa membuang waktu, keenam santri itu melompati tangga batu asrama dan melaju menembus kegelapan malam menuju arah pasar bawah desa.
°˖✧✿✧˖°
Suasana di area pasar bawah desa terisolasi dalam kekacauan yang mencekam. Tumpukan keranjang bambu hancur berkeping-keping, sayur-mayur dan buah-buahan berserakan di atas tanah berlumur lumpur. Pendar obor yang goyang memantulkan bayangan garang lima pria berbadan kekar yang memegang rantai besi dan kayu berpaku.
Di sudut bangunan lapak kayu yang hampir roboh, Pak Sadiman tergeletak lemah di tanah dengan kening berdarah, dilindungi oleh beberapa warga desa yang gemetar ketakutan. Pemimpin pengacau itu, seorang pria bertato kalajengking di lengan kakinya bernama Suro, mengayunkan rantai besinya ke udara hingga menimbulkan suara dentingan yang mengerikan.
"Serahkan seluruh uang hasil dagangan kalian malam ini!" bentak Suro dengan nada suara kasar dan tawa berhak-hak. "Jika tidak, besok pagi pasar ini tinggal kenangan!"
"Jangan, Mas... ini uang modal kami untuk besok..." ratap seorang pedagang wanita tua seraya memeluk keranjang uangnya.
Suro mengangkat kaki besarnya hendak menginjak wanita tua itu. Namun, sebelum telapak boot kulitnya menyentuh pundak sang pedagang, sesosok bayangan berbusana silat hijau melesat cepat menembus kegelapan dan menahan tendangan tersebut dengan tangkisan silat ganda yang sangat kokoh.
Brak!
Suro terhuyung mundur dua langkah, terkejut melihat seorang pemuda berseragam santri berdiri kokoh membentangi warga desa.
"Cukup, Saudaraku!" pangkas Fadil dengan nada suara yang jernih, tenang, dan berwibawa tinggi. Keahliannya kembali diuji ketika terjadi keributan, namun ekspresi wajahnya tetap teduh tanpa menyimpan dendam.
"Siapa kau, Santri tengik?!" gertak Suro seraya membetulkan cengkeraman rantai besinya. "Jangan ikut campur urusan orang luar jika kau masih sayang pada nyawamu!"