6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #88

Akhlak Sebelum Kekuatan

Akhlak Sebelum Kekuatan

Fadil memilih pendekatan damai.

°˖✧✿✧˖°

Malam kian merambat pekat di kawasan bukit Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin pegunungan berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, membelai dedaunan pohon trembesi tua di halaman pelataran asrama. Di teras aula santri yang berlantai semen kusam, pendar lampu gantung bergoyang perlahan memantulkan bayangan orang-orang yang sedang duduk melingkar.

Fadil duduk bersila di tengah ruangan, dikelilingi lima sahabat dekatnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di depan mereka terbentang sebuah kitab tua karya Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, yang sampulnya mulai terkelupas di beberapa bagian. Namun, suasana malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Sejak kabar angin tentang ancaman perselisihan antara santri dan warga perbatasan menyebar, kecemasan menggelayuti pikiran mereka.

Fadil menatap lurus ke arah gerbang kayu pondok yang samar-samar terlihat dari kejauhan. Wajahnya yang tenang menyimpan keprihatinan yang amat mendalam. Ia menghembuskan napas panjang, lalu membetulkan letak peci putihnya.

"Fadil, apakah engkau tidak cemas dengan desas-desus di luar sana?" tanya Fauzan seraya menggeser posisi duduknya. "Beberapa kelompok pemuda desa kabarnya mulai terprovokasi dan ingin menyerang kawasan pesantren."

Faris mengepalkan tangannya di atas paha. "Jika mereka datang membawa kekerasan, kita tidak boleh tinggal diam. Kita punya barisan santri yang menguasai ilmu silat pesantren. Kita sanggup menahan mereka di luar gerbang."

"Bukan itu jalan yang diajarkan oleh guru-guru kita, Faris," pangkas Fadil dengan intonasi suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan. "Jika kita membalas gertakan dengan kepalan tangan, lantas apa bedanya kita dengan mereka yang belum mengecap manisnya ilmu?"

Ghalib menatap Fadil dengan kening berkerut. "Tetapi bagaimana jika mereka tidak mau mendengar penjelasan kita, Fadil? Kehormatan pesantren bisa terancam jika kita terkesan lemah."

"Kekuatan yang sejati bukan terletak pada seberapa keras kita sanggup memukul lawan," sahut Fadil pelan seraya mengusap lembaran kitab di pangkuannya. "Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan amarah tatkala kita sanggup membalasnya. Fadil memilih pendekatan damai, sebab akhlak harus senantiasa mendahului kekuatan."

Rayyan dan Yafiq saling berpandangan, menangkap kesungguhan dalam ucapan sahabat mereka. Rayyan mengangguk pelan. "Ujaranmu benar, Fadil. Rasulullah SAW menaklukkan hati penduduk Mekkah bukan dengan pedang yang terhunus, melainkan dengan pemaafan yang tiada tara."

"Benar sekali," sambung Yafiq. "Jika kita mendahulukan bentrok fisik, yang tersisa hanyalah luka dan penyesalan di kedua belah pihak."

Fadil tersenyum tulus, merasa bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang mau diajak merenungkan makna dakwah yang sesungguhnya. "Malam ini, mari kita pasrahkan batin kita kepada Sang Maha Membolak-balikkan hati. Apapun yang terjadi besok, ingatlah satu hal: jalan kebaikan tidak boleh dikotori oleh prasangka dan kemarahan."

Keenam santri itu mengangguk mantap. Suasana aula kembali hening, larut dalam keheningan doa yang dipanjatkan secara diam-diam oleh masing-masing dada penuntut ilmu tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, memancarkan rona jingga keemasan yang menembus kabut tipis perbukitan Jawa Timur. Suara derap langkah kaki berkerumun mendadak merusak ketenangan pagi di gerbang barat Pesantren Darul Hikmah. Sekelompok warga dan pemuda lokal dari Desa Pasir Putih melangkah mendekati area perbatasan pondok dengan raut wajah penuh amarah.

Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda kekar berikat kepala merah bernama Bowo. Ia memegang sebatang kayu jati berukuran tebal seraya berteriak memanggil para pengurus pesantren.

"Keluar kalian para pengurus pondok!" teriak Bowo dengan suara serak yang memenuhi udara pagi. "Jangan sembunyi di balik tembok tinggi kalian! Kami menuntut keadilan!"

Beberapa santri junior yang sedang menyapu halaman berlari ketakutan menuju kompleks asrama utama. Kabar kedatangan kerumunan warga itu dengan cepat mencapai telinga Fadil dan kawan-kawannya yang baru saja menyelesaikan wirid salat Subuh.

"Fadil! Warga desa berkumpul di gerbang barat!" seru Ghalib yang berlari terengah-engah masuk ke dalam kamar asrama. "Merek membakar keranjang bambu di depan pintu gerbang dan berteriak-teriak!"

Faris dan Fauzan berdiri seketika dari duduknya, wajah mereka memerah oleh reaksi siaga. "Kita harus panggil tim keamanan santri sekarang juga!" tegas Faris seraya meraih sabuk silatnya.

"Tahan, Faris!" pangkas Fadil menahan lengan sahabatnya. "Jangan ada yang membawa senjata atau mengenakan pakaian perang. Kita temui mereka dengan tangan kosong dan hati yang dingin."

"Tapi Fadil, mereka sedang emosi!" pangkas Fauzan cemas. "Bisa saja ada yang memprovokasi hingga timbul bentrok!"

"Justru karena mereka sedang emosi, kita harus hadir membawa kesejukan," jawab Fadil mantap. "Fadil memilih pendekatan damai. Apabila kita menghadapi api dengan api, maka seluruh bangunan persaudaraan ini akan hangus terbakar."

Tanpa membuang waktu, Fadil melangkah menuntun kelima sahabatnya menuju gerbang barat. Beberapa ustaz senior dan pengurus pesantren tampak sudah berjaga di balik pagar besi, berusaha menenangkan massa yang kian berisik.

Bowo mengacungkan kayu jatinya saat melihat Fadil melangkah keluar dari pintu kecil samping gerbang utama. "Itu dia santri yang sering keluyuran di desa kami! Hei, Santri! Jawab pertanyaan kami!"

Fadil melangkah mendekati kerumunan warga tanpa sedikit pun memperlihatkan raut takut. Ia menundukkan badannya sedikit, merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai tanda hormat.

"Assalamu'alaikum warahmatullah, Mas Bowo dan Bapak-Bapak sekalian," sapa Fadil dengan nada suara yang amat santun dan tenang. "Selamat pagi. Ada perihal apa yang membuat Bapak-Bapak sekalian berkumpul di perbatasan pondok kami dalam suasana sepagi ini?"

Bowo melangkah maju satu tapak, membusungkan dadanya dengan wajah memerah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Kemarin sore, ada barang warga di pos ronda desa yang hilang dicuri! Warga melihat ada orang berpakaian santri berlari dari arah pos itu menuju pondok kalian! Kalian harus menyerahkan pencuri itu sekarang juga!"

Tuduhan berat yang dilontarkan tanpa bukti itu membuat suasana di sekitar gerbang barat mendadak sangat tegang.

°˖✧✿✧˖°

Pernyataan Bowo memancing kegaduhan di antara kerumunan warga. Beberapa pemuda berteriak menuntut agar seluruh kamar santri diperiksa secara paksa, sementara para ustaz senior di balik gerbang mulai merasa keberatan dengan sikap arogan warga.

Fauzan berbisik rapat di samping telinga Fadil. "Fadil, ini tuduhan yang sangat tidak berdasar. Santri kita tidak ada yang keluar kompleks tanpa izin resmi kemarin sore."

"Aku tahu, Fauzan," bisik Fadil kembali. "Namun jika kita langsung membantah dengan nada keras, mereka akan menganggap kita sedang bersilat lidah dan melindungi kejahatan."

Fadil melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Bowo, membuat jarak mereka kini hanya terpisah dua jengkal. Warga yang melihat keberanian dan ketenangan santri muda itu perlahan-lahan menghentikan teriakan mereka.

"Mas Bowo dan Warga Pasir Putih yang saya hormati," tutur Fadil dengan suara yang jernih, dapat terdengar jelas oleh semua orang di tempat itu. "Pesantren Darul Hikmah berdiri di tanah ini bukan untuk menjadi benalu atau sumber masalah bagi warga. Jika memang ada oknum yang merugikan warga, kami adalah pihak pertama yang akan menyerahkannya kepada hukum."

Bowo gertak gigi seraya menunjuk wajah Fadil. "Kau cuma bicara manis! Kami butuh bukti, bukan kata-kata hikmah dari mulutmu!"

"Maka berilah kami kesempatan untuk mencari kebenarannya bersama-sama, Mas," jawab Fadil tenang tanpa sedikit pun menggeser pandangan matanya. "Fadil memilih pendekatan damai untuk menyelesaikan masalah ini. Izinkan saya dan lima sahabat saya ikut bersama Mas Bowo memeriksa lokasi pos ronda dan mengumpulkan keterangan dari para saksi."

Bowo tertegun mendengar tawaran Fadil. Ia memperkirakan pihak pesantren akan menolak atau melawan dengan pasukan keamanan pondok, namun reaksi Fadil yang begitu terbuka dan mau bekerja sama membuat amarahnya tertahan di tenggorokan.

"Bagaimana jika ternyata pelaku pencurian itu benar-benar salah satu dari santri kalian?" tantang Bowo dengan sorot mata curiga.

"Jika terbukti pelaku adalah santri kami," pangkas Fadil dengan ketegasan yang luar biasa, "saya sendiri yang akan mengantarkan oknum tersebut ke rumah Mas Bowo dan memohon maaf di hadapan seluruh warga desa. Namun jika tuduhan itu tidak terbukti, saya hanya minta satu hal: mari kita jaga silaturahmi ini tanpa ada dendam di antara kita."

Faris, Ghalib, Rayyan, Yafiq, dan Fauzan memandang Fadil dengan rasa bangga. Ketakziman mereka pada cara berpikir Fadil kian bertambah mendalam.

Lihat selengkapnya