6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

Seorang Pemuda Bernama Raffa

Seorang Pemuda Bernama Raffa

Fadil mulai membimbing seorang pemuda bermasalah.

Dua minggu setelah gejolak di Desa Pasir Putih mereda, kedamaian kembali menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin sore bertiup sepoi-sepoi menembus sela-sela gubuk kayu perpustakaan lama, mengibarkan dedaunan pohon mangga yang rimbun di pelataran asrama. Aroma kertas tua dan wangi serbuk cendana terhirup lembut di udara, menciptakan suasana yang tenang bagi para penuntut ilmu yang sedang mengaji secara mandiri.

Di teras perpustakaan lama yang beralaskan ubin merah kusam, Fadil duduk bersila bersama lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di hadapan mereka terbentang kitab Ihya 'Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, terbuka pada bab tentang hakikat persaudaraan dan petunjuk menuntun jiwa-jiwa yang tersesat.

Fadil membimbing seorang pemuda bermasalah merupakan sebuah tanggung jawab baru yang berawal dari amanah Kiai Zulfakar. Tatapan mata Fadil menyapu sudut pelataran, tempat seorang pemuda bertubuh kurus dengan rambut sedikit bergelombang duduk menyendiri di bawah pohon mangga. Pemuda itu bernama Rafi. Pakaian kemeja kotak-kotak yang dikenakannya tampak kusam, dan ekspresi wajahnya selalu menyimpan rasa cemas serta prasangka yang amat tebal.

"Fadil, bagaimana perkembangan Rafi selama tiga hari tinggal di kompleks perpustakaan ini?" tanya Fauzan seraya merapikan letak kitabnya. "Aku perhatikan dia masih sangat tertutup dan enggan menyapa santri lain."

Fadil mengusap lembaran kitabnya pelan, lalu mengulas senyum tipis yang penuh kesabaran. "Proses menyembuhkan luka batin tidak bisa dilakukan dalam semalam, Fauzan. Raffa telah melalui masa lalu yang sangat keras di jalanan kota. Rasa curiga yang ia bangun adalah perisai agar dirinya tidak disakiti lagi."

Faris menyeruput kopi hitamnya yang mulai hangat. "Tapi kemarin sore, Ghalib mencoba menyapanya dan menawarkan makanan, dia justru memalingkan muka dan masuk ke kamar perpustakaan tanpa mengucapkan sepatah kata pun."

Ghalib mengangguk membenarkan ucapan Faris. "Benar, Fadil. Aku tidak marah, tapi aku cemas jika sikap tertutupnya membuat santri lain merasa enggan mendekatinya."

"Itu hal yang wajar, Ghalib," sahut Fadil lembut. "Fadil mulai membimbing seorang pemuda bermasalah bukan dengan tuntutan agar dia langsung menjadi orang sempurna, melainkan dengan penerimaan yang tanpa batas. Apabila kita mengharapkan perubahan instan, kita justru akan membebani jiwanya yang sedang rapuh."

Rayyan dan Yafiq menyimak ujaran Fadil dengan takzim. Mereka menyadari betapa kedalaman empati Fadil senantiasa menjadi pilar utama dalam setiap gerak dakwahnya.

"Lantas, apa langkahmu selanjutnya untuk membuka pintu hatinya, Fadil?" tanya Yafiq penuh rasa ingin tahu.

Fadil menatap lurus ke arah Raffa yang sedang memandangi dedaunan jatuh. "Hati manusia seperti pintu yang dikunci dari dalam. Kita tidak bisa mendobraknya dari luar dengan paksaan. Kita hanya bisa mengetuknya secara perlahan dengan ketulusan dan perhatian yang konsisten."

"Kami akan selalu mendukungmu, Fadil," pangkas Rayyan mantap. "Apapun tugas yang butuh dibantu, kami siap bersamamu."

"Terima kasih, Saudara-saudaraku," pangkas Fadil tulus. "Mari kita lanjutkan bacaan kitab kita sebelum waktu Magrib tiba."

°˖✧✿✧˖°

Gema adzan Magrib baru saja berkumandang merdu dari menara masjid utama Darul Hikmah. Para santri berbondong-bondong melangkah menuju masjid dengan pakaian serba putih dan peci yang terpasang rapi. Suasana pelataran perpustakaan lama menjadi sangat sepi, tersisa Raffa yang masih duduk menyendiri di bangku kayu di bawah pohon mangga.

Fadil meminta kelima sahabatnya untuk melangkah lebih dahulu ke masjid, sementara dirinya menunda langkah untuk menghampiri Raffa. Dengan perlahan dan tanpa menimbulkan suara langkah yang mengejutkan, Fadil mendekati pemuda itu.

"Assalamu'alaikum, Raffa," sapa Fadil dengan intonasi suara yang begitu lembut dan menenteramkan.

Rafi terkejut, tubuhnya refleks mengencang dan matanya menatap Fadil dengan sorot penuh kewaspadaan. Ia meremas jemari tangannya sendiri di atas pangkuan.

"Wa... wa'alaikumussalam," jawab Raffa pelan dengan nada suara yang bergetar dan serak.

Fadil tidak langsung mengajak Raffa untuk salat atau menceramahinya. Ia justru duduk di bangku kayu yang sama, memberi jarak satu meter agar Raffa tidak merasa tertekan oleh kehadirannya.

"Suara angin sore di sini selalu menenangkan, bukan?" tutur Fadil seraya memandangi dedaunan pohon mangga yang bergoyang. "Aku sering duduk di sini ketika merasa lelah setelah seharian menghafal matan."

Raffa menundukkan kepalanya rapat-rapat, enggan menatap mata Fadil. "Mengapa kau selalu datang menghampiriku, Kang? Aku bukan santri di sini. Aku ini pemuda buangan yang cuma bikin susah orang tua dan warga kota."

Fadil berpaling menatap Rafi dengan pandangan yang penuh rasa keprihatinan dan kehangatan. Fadil mulai membimbing seorang pemuda bermasalah bukan karena perintah formal semata, melainkan karena panggilan jiwa.

"Di mata manusia," pangkas Fadil lembut, "mungkin ada sebutan pemuda buangan atau orang bermasalah. Namun di hadapan Allah, engkau adalah hamba-Nya yang amat dicintai dan sedang diuji agar menemukan jalan pulang yang mulia."

Raffa tertawa hambar, sebuah tawa pahit yang menyimpan penderitaan mendalam. "Kau tidak tahu apa yang sudah aku lakukan, Kang! Aku pernah mencuri, berkelahi, dan merusak kehidupan orang lain! Tempat seperti pesantren ini terlalu suci untuk orang kotor seperti aku!"

"Tidak ada tempat yang terlalu suci untuk jiwa yang ingin bertobat, Raffa," sahut Fadil tegas namun penuh kelembutan. "Pesantren ini bukan tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah bersih, melainkan rumah sakit bagi jiwa-jiwa yang ingin sembuh dari luka dan dosa."

Raffa tertegun. Kata-kata Fadil menghujam dinding pertahanan batinnya yang selama ini sangat keras. Mata Raffa mulai berkaca-kaca, namun rasa gengsi dan ketakutannya kembali menguasai diri.

"Pergilah salat, Kang," bisik Rafi seraya memalingkan wajahnya ke arah kegelapan. "Jangan buang waktumu untuk orang seperti aku."

Fadil berdiri perlahan, meletahkan peci cadangan yang bersih di samping Rafi. "Peci ini untukmu, Raffa. Jika engkau merasa siap untuk melangkah ke masjid, kami selalu menunggumu di shaf belakang."

Peristiwa pemicu di sore hari itu menjadi awal dari benturan rasa rendah diri Rafi dengan ketulusan bimbingan Fadil di kompleks Darul Hikmah.

°˖✧✿✧˖°

Malam harinya, setelah pelaksanaan salat Isya dan pengajian rutin malam, suasana kompleks asrama kembali riuh oleh aktivitas para santri. Di dapur umum pesantren yang berada di belakang kompleks perpustakaan, beberapa santri tugas piket sedang menyiapkan konsumsi malam.

Fadil melangkah ke dapur umum dan mengambil sepinggan nasi hangat lengkap dengan lauk pauk segar serta segelas teh manis panas. Ia membawa nampan tersebut menuju kamar kecil di samping perpustakaan lama tempat Rafi menginap.

Saat Fadil mengetuk pintu kayu kamar tersebut, tidak ada jawaban dari dalam. Fadil mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Di dalam kamar yang hanya diterangi pendar lampu minyak temaram, Raffa tampak tertidur dengan posisi meringkuk di atas tikar pandan tanpa selimut.

Fadil meletakkan nampan makanan di atas meja kayu kecil. Saat ia hendak menyelimuti tubuh Raffa dengan sarung tebal, Raffamendadak terbangun dan melompat mundur ke sudut ruangan seraya mengacungkan sebuah pecahan kaca tajam yang ia sembunyikan di balik bantal.

"Jangan mendekat!" teriak Raffa dengan mata memerah dan napas memburu ketakutan. "Mau apa kau masuk ke kamarku malam-malam?!"

Fauzan dan Faris yang kebetulan melintas di luar kamar mendengar teriakan Raffa dan segera menerobos masuk ke dalam ruangan.

"Raffa! Turunkan pecahan kaca itu!" seru Faris siaga seraya pasang kuda-kuda silat untuk melindungi Fadil.

"Faris, Fauzan, mundur!" pangkas Fadil dengan nada suara yang sangat tenang namun tidak boleh dibantah. "Jangan buat dia semakin panik."

Lihat selengkapnya