6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #90

Masa Lalu Raffa

Masa Lalu Raffa

Terungkap alasan Rafi berubah menjadi keras.

°˖✧✿✧˖°

Malam semakin larut menyelimuti kompleks Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin pegunungan berembus lembut menembus kisi-kisi jendela kamar perpustakaan tua tempat enam santri utama sedang berkumpul. Di atas meja kayu panjang, pendar lampu minyak temaram memantulkan bayangan samar-samar dari kitab-kitab klasik yang terbuka. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hening dan sarat akan ketegangan batin, terisi oleh beban rahasia besar yang baru saja menguji ketabahan mereka.

Fadil duduk bersila di bagian ujung meja dengan wajah yang tenang namun memancarkan kerapuhan yang jarang ia perlihatkan. Di sekelilingnya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—menatap Fadil dengan raut kecemasan yang amat dalam. Mereka baru saja mendengar bagaimana kabar mengejutkan dari utusan pusat mengancam keselamatan dan status keanggotaan Rafi di pondok tersebut.

"Fadil, apakah engkau sungguh-sungguh yakin akan mempertahankan Rafi di pesantren ini?" tanya Fauzan seraya menggeser posisi duduknya mendekati Fadil. "Ancaman pembekuan izin pesantren dari pihak berwajib bukanlah perkara yang bisa kita anggap remeh."

Faris mengepalkan jemari tangannya di atas paha. "Jika aparat menganggap Rafi sebagai kunci untuk menangkap ayahnya yang buron, bukankah menyerahkannya adalah jalan paling aman bagi nama baik Darul Hikmah?"

"Kita tidak boleh mengorbankan satu jiwa yang sedang berniat tulus untuk bertobat hanya demi menyelamatkan diri kita sendiri dari kerumitan, Faris," sahut Fadil dengan intonasi suara yang begitu lembut namun sarat akan ketegasan yang tak tertandingi. "Rafi baru saja mengikrarkan niatnya untuk kembali ke jalan Allah. Jika kita menyerahkannya sebagai umpan, lantas di mana letak keadilan dan kasih sayang yang selama ini kita pelajari di tempat ini?"

Ghalib menatap Fadil dengan kening berkerut. "Tetapi bagaimana jika dugaan mereka benar? Bagaimana jika ayah Rafi memang memanfaatkan Rafi selama ini?"

"Maka tugas kitalah untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya dengan cara yang beradab," pangkas Fadil seraya mengusap jemari tangannya yang saling bertautan. "Terungkap alasan Raffa berubah menjadi keras bukan untuk kita hakimi secara membabi buta, melainkan untuk kita pahami agar kita sanggup menyembuhkan luka batinnya."

Rayyan dan Yafiq mengangguk perlahan, tersentuh oleh keteguhan prinsip yang dipegang erat oleh sahabat mereka.

"Kau benar, Fadil," ujar Rayyan dengan nada jujur. "Rasulullah selalu melihat potensi kebaikan di dalam diri orang-orang yang dipandang hina oleh masyarakatnya."

"Malam ini juga, aku akan menemui Rafi secara pribadi di kamar belakang," pangkas Fadil seraya berdiri dari duduknya. "Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan masa lalunya dan siapa sosok ayahnya yang sebenarnya."

°˖✧✿✧˖°

Fadil melangkah pelan menyusuri koridor kayu yang sepi menuju kamar kecil di sudut perpustakaan tua. Suara jangkrik malam terdengar bersahut-sahutan di pelataran yang gelap. Tatkala Fadil mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat Rafi—atau yang nama aslinya dikenal sebagai Raffa—sedang duduk berlutut di sudut ruangan. Pemuda itu memeluk kedua lututnya rapat-rapat, matanya sembap oleh cucuran air mata yang tak henti mengalir di pipinya.

Fadil melangkah masuk dengan sangat perlahan, melepaskan pecinya, lalu duduk bersila tepat di samping Raffa di atas tikar pandan yang lusuh.

"Assalamu'alaikum, Raffa," sapa Fadil dengan nada yang amat lembut dan penuh kehangatan persaudaraan.

Raffa terperanjat pelan, lalu menundukkan kepalanya makin dalam tanpa berani menatap mata Fadil. "Wa... wa'alaikumussalam, Kang Fadil. Mengapa Kang Fadil masih mau menyapaku? Aku sudah mendengar kabar tentang utusan dari pusat itu. Aku tahu aku hanya membawa bencana bagi Kang Fadil dan pesantren ini."

Fadil mengulas senyum tulus, merangkul pundak Raffa yang gemetar dingin. "Jangan pernah berkata demikian, Raffa. Tidak ada seorang pun hamba yang lahir ke dunia ini hanya untuk membawa bencana. Setiap manusia membawa takdir dan jalannya masing-masing."

Raffa mengusap air matanya dengan lengan baju yang kusam, suaranya terdengar pecah dan terengah-engah. "Tapi mereka benar, Kang! Ayahku memang seorang buronan yang dicari oleh banyak orang! Dan gara-gara hal itu, hidupku hancur sejak aku masih kecil!"

"Ceritakanlah padaku, Raffa," pangkas Fadil menatap mata pemuda itu dengan sorot kedalaman empati yang amat jernih. "Jangan biarkan rahasia dan rasa sakit itu membusuk di dalam dadamu. Terungkap alasan Raffa berubah menjadi keras malam ini akan menjadi awal dari kebebasan batinmu."

Raffa menarik napas panjang yang terasa sangat berat, seolah-olah melepaskan himpitan batu besar yang melilit dadanya selama belasan tahun.

"Sepuluh tahun yang lalu, Kang..." bisik Raffa dengan suara bergetar hebat. "Keluargaku adalah keluarga yang sangat dihormati di desa kami. Ayahku adalah seorang pengusaha barang antik dan pengagum karya literasi kuno. Namun kehidupan kami berubah total dalam semalam tatkala sebuah tragedi besar menghancurkan segalanya."

Fadil mendengarkan setiap patah kata itu dengan ketakziman batin yang amat tinggi, membiarkan Raffa mengalirkan penderitaan masa lalunya secara utuh.

"Malam itu," lanjut Raffa seraya mengepalkan jemari tangannya hingga memutih, "sekelompok pria berjas hitam mendobrak rumah kami. Mereka mengacak-acak perpustakaan pribadi ayahku dan menuduh ayahku menyembunyikan manuskrip kuno milik kesultanan yang hilang dari museum negara."

"Apakah ayahmu benar-benar menyembunyikannya, Raffa?" tanya Fadil lembut.

"Tidak, Kang!" pekik Raffa dengan mata memerah menahan amarah yang terpendam. "Ayahku hanya seorang kolektor yang dijebak oleh mitranya sendiri! Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengar penjelasan. Mereka membakar rumah kami dan menyeret ayahku di hadapan mataku sendiri!"

Peristiwa pemicu di dalam kamar remang tersebut menjadi titik awal terbukanya tirai kegelapan yang selama ini membentuk kepribadian keras dan penuh prasangka dalam diri Raffa.

°˖✧✿✧˖°

Suara bisikan nostalgia kelam dari mulut Raffa semakin mencekat udara di dalam kamar perpustakaan tua tersebut. Fadil tidak memotong jalan cerita Raffa, melainkan tetap memegang erat tangan pemuda yang sedang terguncang emosinya itu.

"Setelah rumah kami terbakar malam itu," tutur Raffa seraya memandangi telapak tangannya sendiri yang kusam, "kami terpaksa melarikan diri ke kota pelabuhan tanpa membawa harta benda apa pun. Ibu yang saat itu sedang sakit sakaratul maut terpaksa merawatku dan adikku di dalam gubuk liar di tepi pantai."

"Lantas di mana keberadaan ayahmu saat itu, Raffa?" tanya Fadil penuh rasa keprihatinan.

"Ayah berhasil meloloskan diri dari tahanan sementara," jawab Raffa dengan nada suara yang amat pahit. "Namun beliau tidak pernah pulang ke rumah untuk menemui kami. Beliau memilih bersembunyi di dalam hutan dan bergabung dengan jaringan pasar gelap, meninggalkan aku dan ibu dalam kemiskinan yang amat menakutkan!"

Raffa mendongakkan kepalanya, menatap Fadil dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa benci dan kekecewaan yang amat mendalam.

"Sejak hari itu, Kang," tegaskan Raffa dengan vokal yang tajam, "aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi manusia yang keras! Aku belajar berkelahi di jalanan, aku memeras orang-orang kaya, dan aku menolak percaya pada kebaikan siapa pun! Sebab bagiku, kebaikan dan ilmu agama yang selalu diagungkan oleh ayahku hanyalah omong kosong yang tidak sanggup menyelamatkan ibuku dari kematian!"

Fadil menghembuskan napas pelan, merasai betapa dahsyatnya kekecewaan yang membuat jiwa Raffa berbelok menuju kegelapan. Terungkap alasan Raffa berubah menjadi keras bukan karena watak aslinya yang jahat, melainkan karena rasa kehilangannya atas sosok pelindung dan ketidakadilan hidup yang ia saksikan sejak usia dini.

"Dendam dan amarah yang engkau simpan selama bertahun-tahun ini," tutur Fadil dengan intonasi yang amat damai, "apakah telah membuat hatimu merasa tenang, Raffa?"

Raffa tertegun membisu mendengar pertanyaan sederhana dari Fadil. Ia menundukkan kepalanya kembali, jemari tangannya bergetar hebat.

"Tidak, Kang..." bisik Raffa jujur seraya menangis tersedu-sedu. "Setiap malam aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Aku selalu merasa dikejar-kejar oleh bayangan ketakutan dan rasa bersalah pada almarhumah ibuku."

Lihat selengkapnya