6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #91

Rasulullah sebagai Teladan

Rasulullah sebagai Teladan

Fadil mengajarkan akhlak melalui kisah Rasulullah.

°˖✧✿✧˖°

Malam baru saja merambat menutupi lereng perbukitan Jawa Timur. Angin dingin khas pegunungan berembus lembut, membelai pelataran bata merah Pondok Pesantren Darul Hikmah. Di teras samping mushola tua yang beralaskan tikar pandan kusam, pendar lampu gantung bergoyang perlahan memantulkan bayangan samar-samar. Cahaya kekuningan itu menimpa lembaran kitab-kitab klasik yang terbuka rapi di atas meja kayu rendah.

Fadil duduk bersila di bagian tengah lingkaran, dikelilingi oleh sahabat-sahabat dekatnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di samping mereka, Raffa—pemuda yang baru saja melewati badai ujian masa lalunya—duduk melingkar dengan raut wajah yang jauh lebih tenang namun masih menyisakan sisa-sisa keprihatinan batin. Surat kusam dan peta kulit tua dari ayahnya yang diterima beberapa hari lalu masih tersimpan rapat di dalam saku almamater Fadil, menjadi beban rahasia yang menguji keteguhan hati mereka.

Fadil mengajarkan akhlak melalui kisah Rasulullah sebagai pilar utama untuk menenteramkan gejolak cemas yang menyelimuti dada teman-temannya. Ia meraba jilid kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi yang berada di pangkuannya, mengusap sampul kulit cokelatnya dengan rasa ketakziman yang mendalam.

"Fadil, bagaimana mungkin kita bisa merasa tenang tatkala bahaya besar dari jaringan penjahat internasional itu mengintai pondok ini?" tanya Fauzan seraya membetulkan letak peci putihnya yang sedikit miring.

Faris meremas jemari tangannya di atas paha. "Benar apa yang dikatakan Fauzan, Fadil. Kita tidak boleh pasrah tanpa persiapan fisik. Jika mereka benar-benar datang menuntut peta kulit itu, kita harus siap melumpuhkan mereka di luar gerbang."

"Faris, ketakutan dan kemarahan hanya akan memperkeruh kejernihan akal kita," pangkas Fadil dengan intonasi suara yang begitu lembut, jernih, dan sarat akan kesejukan. "Mengapa kita selalu terpikir untuk menggunakan kepalan tangan setiap kali ancaman datang menyapa?"

Ghalib menatap Fadil dengan kening berkerut. "Tetapi bukankah membela diri itu dianjurkan dalam agama, Fadil? Kehormatan pesantren dan keselamatan Raffa menjadi taruhannya di sini."

"Membela diri itu memang hak, Ghalib," sahut Fadil pelan seraya memandangi wajah sahabat-sahabatnya satu per satu. "Namun jalan pertama yang diajarkan oleh panutan tertinggi kita bukan ketajaman pedang, melainkan keluhuran akhlak. Fadil mengajarkan akhlak melalui kisah Rasulullah sebab di dalam jejak langkah Beliaulah terdapat perisai paling kokoh yang tak sanggup dihancurkan oleh senjata apa pun di dunia ini."

Raffa yang menyimak di sebelah Fadil menundukkan kepalanya rapat-rapat. "Kang Fadil... apakah orang yang dipenuhi banyak kejahatan dan prasangka seperti aku ini sanggup meneladani keagungan akhlak Beliau?"

"Setiap manusia memiliki bagian untuk meneladani Beliau, Raffa," pangkas Fadil tulus seraya memegang lembut bahu Raffa. "Rasulullah utus bukan untuk menghakimi jiwa yang terluka, melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Rayyan dan Yafiq tersenyum penuh kehangatan, merasakan aliran kedamaian yang menyusup ke dalam dada mereka setiap kali mendengarkan penuturan Fadil.

"Ujaranmu selalu menenteramkan batin, Fadil," tutur Rayyan jujur. "Mari kita dengarkan kisah kemuliaan Beliau agar hati kita yang gundah ini memperoleh keteguhan."

"Benar," sambung Yafiq seraya merapikan kitab di depannya. "Bacakanlah untuk kami, Fadil."

Fadil mengangguk pelan, lalu membuka lembaran pertama kitab tersebut dengan ketulusan niat yang membumbung tinggi ke udara malam.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, tatkala matahari pagi baru saja memancarkan sinar keemasan menembus kabut tipis di pelataran asrama, suasana di teras perpustakaan lama mendadak diusik oleh keributan kecil. Sekelompok santri junior sedang berkumpul melingkari seorang santri bernama Danu yang terkenal bertubuh bongsor dan berwatak keras.

Danu tampak mengacungkan jarinya ke arah wajah Raffa yang baru saja selesai menyapu dedaunan kering di bawah pohon mangga.

"Hei, Raffa!" bentak Danu dengan suara nyaring yang memancing perhatian santri lainnya. "Jangan sok suci kau di sini! Kami tahu siapa kau sebenarnya! Kau itu anak buronan yang membawa ancaman bahaya bagi pesantren ini!"

Raffa tertegun, tangannya yang memegang sapu lidi gemetar hebat. Wajahnya memucat oleh rasa malu dan kekecewaan yang mendalam. "Kang Danu... aku sudah bertobat... Aku hanya ingin menimba ilmu di sini..."

"Bertobat?" kekeh Danu seraya mendorong bahu Raffa hingga mundur satu tapak. "Orang jalanan seperti kau tidak pantas memakai jubah dan peci santri! Pergi kau dari Darul Hikmah sebelum tempat ini hancur gara-gara keluargamu!"

Beberapa santri junior berbisik-bisik, memicu suasana yang kian tertekan bagi Raffa. Raffa mengepalkan tangannya, amarah masa lalunya yang keras mulai bergejolak di dalam dada, godaan untuk membalas dorongan Danu dengan pukulan fisik hampir saja menguasai jiwanya.

Namun sebelum terjadi bentrok fisik, Fadil melangkah cepat menembus kerumunan santri, diikuti oleh Fauzan dan Faris.

"Tahan, Danu! Tahan, Raffa!" seru Fadil dengan suara yang tenang namun berwibawa, sanggup menghentikan pergerakan semua orang di tempat tersebut.

Danu memalingkan wajahnya menatap Fadil dengan raut membangkang. "Kang Fadil! Mengapa Kang Fadil selalu membela orang ini? Dia ini benalu di pondok kita!"

Fadil melangkah menengahi jarak antara Danu dan Raffa. Ia tidak memperlihatkan raut marah, melainkan menatap Danu dengan sorot kelembutan yang sangat jernih.

"Danu, Adindaku yang dicintai karena Allah," tutur Fadil santun seraya merapatkan kedua telapak tangannya di dada. "Apakah demikian bahasa dan perlakuan yang diajarkan oleh guru-guru kita tatkala menyambut seorang saudara yang hendak kembali ke jalan kebaikan?"

Danu tertunduk sejenak, namun berusaha mempertahankan argumennya. "Tapi dia anak penjahat, Kang!"

"Seseorang tidak menanggung dosa dan kesalahan orang tuanya, Danu," pangkas Fadil lembut. "Fadil mengajarkan akhlak melalui kisah Rasulullah agar kita tidak terjebak dalam kesombongan merasa diri lebih suci daripada orang lain."

Fadil lalu berpaling menatap Raffa yang matanya sudah berkaca-kaca menahan emosi. "Raffa, kendalikan jarimu. Ketahuilah, menahan amarah tatkala engkau sanggup membalasnya adalah tingkatan tertinggi dari kekuatan jiwa."

Peristiwa pemicu di pelataran perpustakaan tersebut menjadi ujian nyata bagi seluruh santri untuk membuktikan apakah ajaran akhlak yang mereka pelajari sanggup teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari.

°˖✧✿✧˖°

Fadil mengajak Danu, Raffa, dan seluruh santri yang berkumpul di pelataran untuk duduk bersama di atas teras bata merah perpustakaan lama. Angin pagi yang hangat membelai wajah-wajah muda yang tadinya tegang oleh emosi.

Fadil membuka kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah di atas meja kayu kecil. Seluruh santri mendadak hening, terpesona oleh aura kedamaian yang senantiasa dipancarkan oleh Fadil.

"Adik-adikku sekalian," pangkas Fadil memulakan bicaranya dengan intonasi yang begitu menyejukkan hati. "Pernahkah kalian mendengar kisah bagaimana Baginda Rasulullah SAW melangkah menuju Kota Thaif untuk menyampaikan risalah kebaikan?"

Danu menundukkan kepalanya, menyahut pelan. "Pernah, Kang... Beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga tubuh Beliau berdarah..."

"Benar sekali, Danu," pangkas Fadil seraya menatap mata Danu secara langsung. "Tubuh mulia Beliau terluka, sandal Beliau basah oleh darah yang mengalir dari kakinya yang suci. Dan tatkala Malaikat Penjaga Gunung datang meminta izin untuk menimpakan dua gunung besar ke atas penduduk Thaif yang zalim itu, apakah yang diucapkan oleh Rasulullah?"

Raffa mengangkat wajahnya, menyimak kalimat Fadil dengan dada berdebar keras.

"Rasulullah menolaknya dengan lembut," pangkas Fadil dengan air mata yang menggenang tulus di sudut matanya. "Beliau justru berdoa: 'Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.' Beliau tidak membalas caci maki dengan kutukan, Beliau tidak membalas lemparan batu dengan kehancuran. Beliau membalas kejahatan dengan prasangka kasih sayang yang tiada batas."

Lihat selengkapnya