6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #92

Selawat di Tengah Malam

Selawat di Tengah Malam

Fadil semakin merasakan ketenangan.

°˖✧✿✧˖°

Malam beranjak kian larut di perbukitan sunyi Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Angin dingin bergulung-gulung menembus sela dinding jati asrama tua, membawa keharuman tanah basah dan aroma kuncup melati yang mekar di pelataran. Suasana kompleks santri telah hening sepenuhnya; hanya derik jangkrik malam dan gemerisik dedaunan bambu yang memecah kesunyian.

Di sudut teras samping kompleks asrama tingkat atas, pendar lampu minyak berpijar keemasan melukiskan bayangan lembut. Fadil duduk bersila di atas tikar pandan yang mulai aus ujungnya. Di hadapannya terbentang lembaran kitab Dala'il al-Khairat dengan jilidan kain hijau tua. Di sampingnya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk melingkar dengan khusyuk.

Malam itu, beban batin pascamenerima kabar beasiswa Kairo beserta amanah rahasia pencarian kitab induk terasa menggelayut erat di pundak Fadil. Namun, setiap kali jemarinya meraba barisan huruf arab gundul di dalam kitab tersebut, gelombang kedamaian perlahan mengalir menembus dadanya. Fadil semakin merasakan ketenangan tatkala lantunan selawat mulai terucap halus dari celah bibirnya.

"Fadil, apakah engkau tidak merasa risau dengan batas waktu amanah dari Syekh Abdullah itu?" pangkas Fauzan seraya mengusap wajahnya yang letih. "Tugas menemukan keberadaan kitab induk asli dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah bagi kita yang hanya santri biasa."

Faris mengangguk pelan seraya membetulkan peci putihnya. "Benar, Fadil. Jaringan rahasia yang mengejar peta itu tentu bukan lawan yang sepadan jika kita hanya mengandalkan prasangka dan kekuatan fisik semata."

Fadil mengulas senyum tipis yang memancarkan kejernihan jiwa. Ia menatap sahabat-sahabatnya satu per satu dengan pandangan mata yang teduh. "Fauzan, Faris, jika kita melangkah dengan mengandalkan akal dan kekuatan diri sendiri, kekhawatiran itu memang akan menghancurkan keteguhan kita. Namun, tatkala kita menyandarkan seluruh urusan ini kepada Sang Pemilik Jiwa melalui perantara kekasih-Nya, dada yang sesak ini akan menjadi lapang."

Ghalib memajukan posisi duduknya. "Lantas, bagaimana engkau menjaga kedamaian batin di saat tekanan seberat ini terus mengepungmu?"

"Lantunkanlah selawat dengan ketulusan cinta," sahut Fadil pelan seraya mengusap sampul kitabnya. "Selawat di tengah malam adalah penawar paling mujarab bagi dada yang sedang bergejolak. Fadil semakin merasakan ketenangan bukan karena ancaman di luar sana telah lenyap, melainkan karena batin ini percaya bahwasanya Allah senantiasa membentengi hamba-Nya yang berselawat."

Rayyan dan Yafiq mengangguk takzim. "Sangat benar ujaranmu, Fadil," tutur Rayyan penuh kehangatan. "Lantunan selawat melunturkan rasa takut dan menggantikannya dengan prasangka baik."

"Mari kita hiasi malam sunyi ini dengan memuji Nabi," pangkas Yafiq seraya membetulkan posisi duduknya.

Fadil mengangguk, lalu memimpin alunan selawat dengan nada yang amat lembut, merdu, dan menenteramkan. Suara lantunan itu merambat pelan menembus kegelapan malam, membawa kedamaian yang menghujam ke dalam sanubari keenam pemuda tersebut.

°˖✧✿✧˖°

Tatkala jarum jam dinding kayu di selasar menunjukkan pukul dua dini hari, keheningan majelis selawat kecil itu mendadak terusik oleh langkah kaki tergesa-gesa. Seorang santri junior penjaga pos depan, Ilham, berlari menaiki tangga kayu teras dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas.

"Kang Fadil! Kang Fauzan!" bisik Ilham dengan suara gemetar seraya menahan tubuhnya di tiang kayu teras.

Fadil segera menghentikan lantunan selawatnya, memandang Ilham dengan ketenangan yang tak tergoyahkan. "Ada apa, Adinda Ilham? Tarik napasmu perlahan, bicaralah dengan tenang."

Ilham mengusap peluh dingin di dahinya. "Di... di luar benteng belakang komplek kita... ada pergerakan mencurigakan, Kang! Beberapa bayangan hitam terlihat memanjat pagar kawat dekat lorong sumur tua! Merek tampaknya membawa Obor dan bilah besi!"

Faris dan Ghalib berdiri seketika, raut wajah mereka berubah siaga. "Apakah itu kelompok rahasia yang mengejar peta milik Raffa?" seru Faris dengan tangan mengepal.

"Tenang, Faris," pangkas Fadil menahan gerakan sahabatnya seraya berdiri perlahan. "Jangan biarkan kepanikan menguasai akal sehat kita."

Fauzan menatap Fadil rapat. "Bagaimana tindakan kita, Fadil? Jika mereka berhasil menembus lorong sumur tua, mereka bisa mencapai kamar penyimpanan arsip tempat peta dan kitab-kitab tua disimpan!"

Fadil menarik napas panjang, merapikan sarung dan pecinya, lalu menatap Ilham. "Ilham, laporkan hal ini kepada Ustaz keamanan tanpa menimbulkan kegaduhan di asrama junior. Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, Yafiq, ikutlah bersamaku. Kita menuju lorong sumur tua sekarang."

Raffa yang ternyata belum tidur dan menyimak dari balik pintu kamar ikut melangkah keluar. "Kang Fadil! Izinkan aku ikut! Ini semua berkaitan dengan rahasia keluargaku, aku tidak bisa tinggal diam!"

Fadil memegang bahu Raffa dengan hangat. "Baiklah, Raffa. Namun ingat pesan utama kita malam ini: utamakan kedamaian batin. Jangan ada emosi yang membakar langkah kita."

Ketujuh pemuda itu melangkah cepat menembus kegelapan lorong belakang kompleks, menyongsong ancaman yang mulai menyusup ke dalam benteng Pesantren Darul Hikmah.

°˖✧✿✧˖°

Lorong menuju sumur tua di perbatasan belakang kompleks pesantren berada dalam kegelapan yang pekat. Pohon-pohon beringin tua melambaikan cabangnya ditiup angin malam, menciptakan bayangan menyeramkan di atas tanah basah.

Tatkala Fadil dan rombongannya melangkah mendekati area sumur batu tua, mereka melihat empat pria berkerudung kain hitam sedang berusaha mendobrak pintu kayu gudang arsip bawah tanah. Salah seorang dari mereka memegang linggis besi berukuran besar, sementara yang lain memegang senter berdaya tinggi.

"Berhenti di tempat kalian!" seru Fauzan dengan vokal yang tegas dan lantang.

Empat pria berkerudung hitam itu terkejut, memutar badan mereka dengan cepat. Pimpinan penyusup, seorang pria jangkung bernapas memburu bernama Karsa, mengacungkan linggis besinya ke arah Fadil.

"Jangan ikut campur, Santri!" bentak Karsa dengan suara parau yang bergetar kasar. "Serahkan kunci pintu gudang arsip ini jika kalian masih ingin melihat matahari esok pagi!"

Faris memasang kuda-kuda silat rapat di depan Fadil. "Kalian telah melanggar kesucian pondok ini pada tengah malam! Pergi dari sini sebelum kami panggil seluruh barisan santri!"

Karsa tertawa terbahak-bahak secara licik. "Satu teriakan kalian akan membuat teman saya di luar melempar botol minyak ke atap asrama junior! Jangan coba-coba mengancam kami!"

Ancaman sabotase pada asrama junior membuat Faris dan Fauzan terperanjat, menahan langkah serangan mereka. Suasana di lorong sumur tua mendadak berubah sangat tegang dan gawat.

Namun, Fadil melangkah maju dua tapak menembus garis pertahanan sahabatnya. Wajahnya yang tersiram pendar rembulan tampak sangat teduh dan tenang tanpa ada sedikit pun raut gentar. Fadil semakin merasakan ketenangan di dalam jiwanya karena zikir selawat yang masih bergema rapat di dalam dadanya.

Lihat selengkapnya