6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #93

Perubahan Raffa

Perubahan Raffa

Raffa mulai meninggalkan kebiasaan buruk.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung samar di atas perbukitan yang mengelilingi Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur. Hawa dingin merayap lembut, mengelus dedaunan pohon trembesi yang tumbuh rindang di pinggir pelataran asrama. Di teras samping mushola tua, pendar sinar fajar mulai menyinari barisan ubin merah yang bersih. Pagi terasa jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya, saat badai ancaman hampir saja meruntuhkan ketentraman pondok.

Fadil duduk bersila di atas tikar pandan, dikelilingi oleh lima sahabat setianya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di hadapan mereka terbentang jilid kitab Sullamut Taufiq, terbuka pada bab yang membahas tentang pentingnya menjaga lisan serta kebersihan jiwa. Namun, perhatian mereka pagi ini tak sepenuhnya tertuju pada lembaran kitab. Pandangan mereka tertuju pada sesosok pemuda yang sedang tekun menyapu halaman di bawah pohon mangga.

Pemuda itu adalah Raffa—atau yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Rafi. Mengenakan peci putih sederhana dan sarung tenun hijau tua yang rapi, gerakannya menyapu begitu teratur. Tidak ada lagi raut wajah beringas, lirikan mata penuh curiga, atau gerak-gerik cemas yang dulu selalu melingkupinya. Rafi mulai meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu perjalanan hidupnya.

"Fadil, lihatlah Raffa," ujar Fauzan seraya mengulas senyum tipis. "Perubahannya sungguh membuat hati siapa pun yang melihatnya merasa tenteram."

Faris menopang dagunya dengan telapak tangan. "Aku ingat betul saat dia pertama kali melangkah ke tempat ini. Tatapannya liar bagaikan serigala yang siap menerkam siapa saja yang mendekat."

"Manusia bisa berubah tatkala ia menemukan lingkungan yang menyambutnya dengan kasih sayang, bukan dengan gertakan," sahut Fadil lembut seraya merapikan letak pecinya. "Rafi mulai meninggalkan kebiasaan buruk bukan karena paksaan dari kita, melainkan karena kebaikan Allah yang telah membukakan pintu hatinya."

Ghalib mengangguk setuju. "Namun, membiasakan diri meninggalkan tabiat lama tentu bukan perkara gampang, Fadil. Sisa-sisa kebiasaan di jalanan pasti sesekali masih menggoda pikirannya."

"Benar sekali, Ghalib," sambung Rayyan. "Perjuangan terberat seseorang yang bertobat adalah konsistensi saat menghadapi godaan masa lalu."

Yafiq memiringkan badannya sedikit. "Lantas, tugas kita adalah terus mengawalnya, bukan? Jangan sampai ia merasa berjuang sendirian."

Fadil menatap kelima sahabatnya dengan pendar rasa syukur yang mendalam. "Ujaran kalian sangat tepat. Pembimbingan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang sudah kelihatan baik di permukaan. Kita harus membantunya mengakar kuat dalam kebaikan tersebut."

Fadil berdiri dari duduknya, merapikan lipatan sarungnya dengan perlahan, lalu melangkah menghampiri Raffa yang baru saja selesai mengumpulkan tumpukan daun kering ke dalam keranjang bambu.

°˖✧✿✧˖°

"Assalamu'alaikum, Raffa," sapa Fadil dengan nada suara yang penuh kehangatan.

Raffa terperanjat pelan, lalu berburu merapikan posisi berdirinya dan menundukkan kepala penuh hormat. "Wa'alaikumussalam warahmatullah, Kang Fadil."

"Bagaimana keadaanmu pagi ini?" tanya Fadil seraya tersenyum teduh.

"Alhamdulillah, Kang," jawab Raffa dengan intonasi yang jauh lebih lembut dibanding saat awal kedatangannya. "Hati saya terasa jauh lebih lapang. Hanya saja..."

Raffa menghentikan kalimatnya, jemarinya meremas gagang sapu lidi yang dipegangnya dengan erat. Wajahnya menunduk ragu, seolah ada ganjalan berat yang enggan ia keluarkan dari lisannya.

Fadil menepuk pundak Raffa secara perlahan. "Katakanlah, Raffa. Jangan ada yang disembunyikan di antara kita."

Raffa menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. "Sejujurnya, Kang... tadi pagi setelah Subuh, saat saya hendak mengambil air wudu, saya melihat sebungkus rokok dan pemantik api milik pekerja bangunan yang tertinggal di dekat pos jaga."

Fadil menyimak tanpa menyela sedikit pun, memberikan ruang penuh bagi Raffa untuk mengungkapkan kejujurannya.

"Dulu, setiap kali saya merasa tegang atau cemas," lanjut Raffa dengan suara bergetar, "saya selalu menyulut rokok dan membakar apa saja untuk melampiaskan emosi. Tadi tangan saya sempat meraba bungkus rokok itu, Kang... Ada dorongan kuat di dalam dada untuk mengambilnya kembali."

Fadil menatap mata Raffa dengan pandangan yang amat jernih. "Lalu, apa yang engkau lakukan, Raffa?"

"Aku teringat ajaran Kang Fadil tentang menjaga kebersihan jiwa," pangkas Raffa seraya menatap Fadil penuh rasa haru. "Aku memejamkan mata, menyebut nama Allah, lalu meninggalkannya begitu saja tanpa menyentuhnya. Rafi mulai meninggalkan kebiasaan buruk itu, Kang... tapi aku takut jika suatu saat aku tidak sanggup menahannya lagi."

Fadil mengulas senyum yang amat tulus, merangkul pundak Raffa dengan erat. "Ketahuilah, Raffa, kejujuranmu untuk mengakui godaan itu adalah tanda bahwasanya iman sedang bertumbuh subur di dalam dadamu. Keinginan itu adalah hal yang wajar bagi seseorang yang sedang berproses."

"Tapi apakah aku mampu bertahan seterusnya, Kang?" pangkas Raffa ragu.

"Selama engkau tidak melepas genggamanmu pada zikir dan kebersamaan dengan orang-orang saleh, engkau akan selalu diberi kekuatan," tegaskan Fadil mantap.

Momen peristiwa pemicu di pagi hari itu memperlihatkan perjuangan batin Raffa yang nyata dalam melepaskan sisa-sisa kebiasaan lamanya demi menjadi pribadi yang utuh.

°˖✧✿✧˖°

Menjelang siang, tatkala matahari mulai memancarkan sinar hangat di atas atap-atap kompleks asrama, Fadil mengajak Raffa menuju ruang perpustakaan lama. Di sana, lima sahabat Fadil sudah menunggu dengan tumpukan naskah dan kitab-kitab tua yang perlu dikelompokkan kembali.

Fadil ingin memberikan tanggung jawab nyata kepada Raffa agar pemuda itu merasa memiliki peran penting di dalam lingkungan pesantren.

"Raffa," pangkas Fadil seraya menunjuk ke arah meja kayu panjang di tengah ruangan. "Mulai hari ini, Kiai Zulfakar memberikan kepercayaan kepadamu untuk membantuku mengelola pembukuan pinjaman kitab di perpustakaan ini."

Raffa terbelalak, menunjuk dadanya sendiri dengan jari bergetar. "Aku, Kang? Menjaga perpustakaan ini? Tapi... aku kan belum lancar membaca tulisan arab gundul..."

Fauzan melangkah mendekat seraya menyodorkan sebuah buku catatan bergaris yang rapi. "Soal bacaan kitab, kita akan belajar bersama setiap sore, Raffa. Tugas utamamu di sini adalah mencatat nama santri yang meminjam buku umum dan merapikan letaknya."

Faris menepuk bahu Raffa. "Kami percaya penuh kepadamu. Keberadaanmu di sini sangat membantu tugas kami."

Mata Raffa berkaca-kaca menatap kepercayaan yang begitu besar dari para santri utama. Rasa percaya diri yang selama ini padam akibat rasa hina masa lalunya perlahan-lahan mulai tumbuh kembali.

"Terima kasih, para Kang Santri," pangkas Raffa dengan suara serak menahan haru. "Saya berjanji akan menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya."

Lihat selengkapnya