6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #94

Fitnah terhadap Fadil

Seseorang menyebarkan tuduhan terhadap Fadil.

°˖✧✿✧˖°

Langit di atas perbukitan Jawa Timur tampak mendung memutih. Angin dingin mengarak guratan kabut tipis yang merayap di pelataran bata merah Pondok Pesantren Darul Hikmah. Di teras asrama tingkat atas yang tenang, Fadil duduk bersila bersama lima sahabat dekatnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di samping mereka, Raffa yang kini sudah berubah total menjadi santri tekun, sedang menyimak dengan khusyuk.

Malam sebelumnya, kabar mengejutkan mengenai kedatangan sosok pengusaha besar Jakarta di Surabaya sempat menggetarkan batin Fadil. Namun, ketenangan jiwanya kembali terpancar sempurna tatkala jemarinya membentang kitab Taisirul Mustafa di atas meja kayu rendah.

"Fadil, bagaimana caramu tetap bersikap tenang saat ancaman besar mengenai asal-usul keluargamu kian mendekat?" tanya Fauzan seraya menatap sahabatnya itu dengan cemas.

Faris ikut mengangguk pelan. "Benar, Fadil. Kita tidak pernah tahu rencana apa yang disiapkan oleh pengusaha itu di kota."

Fadil tersenyum teduh, menatap sahabat-sahabatnya satu per satu. "Fauzan, Faris, jika batin kita senantiasa dipenuhi oleh ketakutan akan prasangka manusia, kita tidak akan pernah menemukan kedamaian sejati. Semua yang terjadi adalah ketetapan Allah yang harus kita hadapi dengan kelapangan dada."

"Namun, apakah engkau tidak khawatir nama baikmu tercemar di mata para santri lain?" sela Ghalib dengan raut penasaran.

"Nama baik di hadapan manusia itu fana, Ghalib," pangkas Fadil dengan intonasi lembut dan jernih. "Yang wajib kita jaga adalah pandangan Allah terhadap jiwa kita. Seseorang menyebarkan tuduhan terhadap Fadil atau berusaha menjatuhkan kehormatan kita tidak akan sanggup mengubah kebenaran yang tercatat di langit."

Rayyan dan Yafiq mengangguk takzim mendengarkan penuturan mulia tersebut.

"Ujaranmu selalu menjadi penawar bagi kecemasan kami, Fadil," tutur Rayyan jujur.

"Benar," sambung Yafiq. "Mari kita lanjutkan pengajian ini agar batin kita terlindung dari gelisah."

Raffa yang menyimak di sebelah Fadil memajukan posisi duduknya. "Kang Fadil, aku belajar dari kebaikanmu bahwasanya kejujuran adalah perisai terbaik."

"Engkau benar, Raffa," pangkas Fadil tulus seraya memegang bahu Raffa. "Tetaplah memegang kejujuran itu."

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, tatkala para santri baru saja menyelesaikan salat Dhuha dan berkumpul di sekitar papan pengumuman utama kompleks madrasah, suasana mendadak gempar. Sekelompok santri berdiri melingkar dengan raut wajah kaget, kecewa, dan penuh kasak-kusuk.

Di papan pengumuman kayu jati itu, tertempel beberapa lembar selebaran kusam berisikan cetakan foto dan tulisan tebal yang tajam. Selebaran itu menuduh Fadil sebagai agen rahasia yang dikirim oleh kelompok penjahat Jakarta untuk mencuri aset dan kitab-kitab langka milik Pesantren Darul Hikmah.

"Lihat ini! Apakah benar Kang Fadil yang selama ini kita hormati ternyata cuma pura-pura alim?!" seru seorang santri junior dengan nada tak percaya.

Santri lainnya menimpali dengan nada emosi. "Di sini tertulis jelas, ayah kandung Fadil adalah pengusaha jahat yang mendanai aksi perusakan pos kayu bakar kemarin! Seseorang menyebarkan tuduhan terhadap Fadil dengan membawa bukti-bukti ini!"

Danu, santri yang pernah berselisih dengan Raffa, melangkah mendekati papan pengumuman. Wajahnya memerah membaca lembaran tersebut. "Ini tidak mungkin! Kang Fadil tidak mungkin melakukan hal sejiwa ini!"

"Tapi buktinya ada di sini, Danu! Foto ini memperlihatkan Fadil sedang berbicara dengan penjahat bertopeng di perbatasan!" teriak santri junior itu.

Raffa yang kebetulan melintas hendak membawa buku piket perpustakaan terkejut melihat kerumunan tersebut. Saat ia membaca isi selebaran itu, dadanya berguncang hebat oleh rasa amarah.

"Bohong! Ini semua fitnah keji!" teriak Raffa seraya merobek lembaran pengumuman tersebut dari papan kayu. "Kang Fadil adalah orang paling mulia di pondok ini! Siapa yang berani menempelkan fitnah busuk ini?!"

Beberapa santri mulai terpengaruh, saling bertukar pandang penuh keraguan. Keretakan solidaritas di antara para santri mulai merekah akibat hasutan selebaran gelap tersebut.

Fadil bersama Fauzan dan Faris yang baru keluar dari kantor sekretariat melangkah cepat menghampiri kerumunan yang kian riuh.

"Ada apa ini, Raffa? Mengapa ada kegaduhan di depan madrasah?" pangkas Fadil tenang seraya memegang tangan Raffa yang gemetar.

Raffa menyerahkan robekan kertas itu dengan mata berkaca-kaca. "Lihatlah ini, Kang... Seseorang menyebarkan tuduhan terhadap Fadil secara keji di hadapan seluruh santri!"

°˖✧✿✧˖°

Fadil menerima lembaran kertas robekan tersebut dengan ketenangan yang amat luar biasa. Matanya menyapu barisan kalimat fitnah yang merendahkan martabatnya serta menuduhnya sebagai pengkhianat pesantren. Tidak ada guratan amarah, dendam, atau ketakutan di wajahnya.

Faris mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Ini sudah keterlaluan! Kita harus mencari siapa orang curang yang menempelkan kertas ini dan memberinya pelajaran!"

"Tahan, Faris," pangkas Fadil tegas namun berwibawa, sanggup menghentikan gejolak emosi sahabatnya. "Kemarahan tidak akan pernah sanggup menyelesaikan kebohongan."

Danu melangkah maju menatap Fadil dengan raut cemas. "Kang Fadil... katakan kepada kami bahwasanya semua tulisan di kertas ini adalah bohong. Kami ingin mendengarnya langsung dari lisan Kang Fadil."

Seluruh santri di pelataran mendadak hening, menantikan jawaban dari sosok santri teladan mereka.

Fadil menatap seluruh santri satu per satu dengan pandangan mata yang sangat jernih dan penuh kasih sayang.

Lihat selengkapnya