6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #95

Nama Baik yang Ternoda

Nama Baik yang Ternoda

Masyarakat mulai meragukannya.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, kabut tipis di perbukitan Jawa Timur tidak membawa kesegaran seperti biasanya. Udara di sekitar Pondok Pesantren Darul Hikmah terasa berat, seolah menyimpan beban tak kasat mata yang menghimpit dada. Di teras samping mushola tua, pendar sinar fajar menerpa lantai ubin merah yang kusam. Fadil duduk bersila di atas tikar pandan bersama lima sahabat karibnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Raffa juga duduk tak jauh dari mereka dengan wajah yang diliputi kecemasan mendalam.

Kehadiran Surya Hadiningrat—pria paruh baya dari Jakarta yang mengaku sebagai ayah kandung Fadil—di gerbang utama kemarin telah menyebarkan gelombang getaran yang merusak ketenangan pondok. Meski pria itu telah pergi membawa rombongan mobil mewahnya, prasangka buruk tidak ikut menguap bersama asap knalpot kendaraan tersebut.

"Fadil, bagaimana bisa pria itu mendatangi pondok ini dengan cara seperti itu?" tanya Fauzan dengan vokal yang tertahan. "Kedatangannya tidak cuma mengejutkan, tapi juga meninggalkan teka-teki yang merugikanmu."

Faris meremas jemari tangannya di atas paha. "Benar, Fadil. Kata-kata yang diucapkannya di depan banyak orang kemarin membuat orang-orang berfikir yang tidak-tidak. Seolah-olah engkau menyembunyikan identitas besar demi tujuan tertentu di sini."

Fadil menatap sahabat-sahabatnya dengan pandangan mata yang tetap teduh, meski ada selapis duka yang tersimpan di sudut matanya. "Fauzan, Faris, kita tidak bisa mengatur apa yang diucapkan orang lain atau dari mana kita dilahirkan. Yang bisa kita jaga hanyalah niat dan tindakan kita sendiri."

"Tetapi tuduhan liar sudah mulai menyebar ke luar gerbang pesantren, Fadil," pangkas Ghalib seraya membetulkan letak pecinya. "Nama Fadil dibuat menjadi tercela di mata warga desa sekitar. Mereka menganggap kehadiranmu di Darul Hikmah hanyalah kedok untuk menyembunyikan konflik kekayaan keluargamu."

Rayyan dan Yafiq bertukar pandang dengan raut prihatin yang mendalam.

"Sangat menyedihkan melihat bagaimana kebaikan bertahun-tahun bisa terkikis begitu cepat hanya karena selentingan kabar di pasar," tutur Rayyan penuh penyesalan.

"Masyarakat mulai meragukannya," sambung Yafiq pelan seraya menatap ke arah gerbang luar. "Masyarakat yang biasanya meminta nasihat dari Fadil kini mulai memalingkan wajah dan berbisik-bisik saat engkau melintas."

Raffa yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. "Kang Fadil, ini semua sungguh tidak adil. Kang Fadil adalah orang yang paling tulus yang pernah aku temui. Mengapa orang-orang di luar begitu mudah percaya pada kabar burung?"

"Raffa," sahut Fadil lembut seraya memegang jemari tangan pemuda itu. "Masyarakat meragukan kita karena mereka belum mengetahui kebenaran yang utuh. Kita tidak boleh membenci mereka karena ketahuannya. Tugas kita adalah tetap berlaku baik, ada atau tidak adanya pujian dari manusia."

Meskipun Fadil berusaha memberikan penguatan batin bagi para sahabatnya, pusaran masalah di luar tembok pesantren bergerak jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan harinya, tatkala matahari naik setinggi penggalah, suasana di warung-warung makan dan pos ronda Desa Ngaglik—desa yang terletak tepat di bawah kaki bukit tempat pesantren berdiri—mendadak memanas. Kabar burung mengenai latar belakang Fadil yang dituduh sebagai anak pengusaha bermasalah telah berubah menjadi bola liar yang tidak terkendali.

Fadil bersama Faris melangkah keluar gerbang bawah membawa beberapa kantong plastik berisi paket sembako untuk warga lansia yang biasa menerima bantuan mingguan dari pondok. Namun, saat mereka tiba di depan warung kopi milik Pak Saman, suasana hangat yang biasanya menyambut mereka mendadak hilang berganti keheningan yang canggung.

Pak Saman yang sedang memotong tempe terhenti, menatap Fadil dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan raut wajah penuh prasangka.

"Assalamu'alaikum, Pak Saman," sapa Fadil dengan mengulas senyum ramah dan menundukkan badan secara santun.

Pak Saman tidak menjawab salam tersebut secara utuh. Ia hanya bergumam pelan seraya meletakkan pisau dapur di atas talenan kayu dengan hempasan yang sedikit kasar.

"Wa'alaikumussalam," sahut Pak Saman dingin. "Ada apa lagi ke sini, Nak Fadil? Kami di desa ini orang-orang kecil yang cuma ingin hidup tenang."

Faris berkerut keningnya, melangkah satu tapak ke depan. "Pak Saman, mengapa bicaranya begitu? Kami ke sini seperti biasa untuk mengantarkan bantuan sembako dari pondok untuk Mbah Sastro dan Pak Pardi."

Seorang warga desa lain bernama Lik Tulus yang sedang duduk minum kopi ikut menyela dengan vokal sinis. "Bantuan sembako dari pondok atau bantuan dari uang hasil tindak kejahatan pengusaha Jakarta?"

Fadil tertegun sejenak, namun raut wajahnya tetap tenang tanpa memperlihatkan emosi. "Lik Tulus, sembako ini murni dari hasil pengelolaan kebun santri dan kas zakat pesantren yang dikelola secara terbuka oleh Kiai Zulfakar."

Lik Tulus tertawa mengejek seraya menggelengkan kepalanya. "Halah! Jangan pura-pura tidak tahu, Nak Fadil. Seluruh warga pasar sudah cerita. Katanya orang tua pemuda ini adalah penjahat berselimut pengusaha yang sedang memburu harta warisan tua di tanah Jawa ini! Dan Nak Fadil ditaruh di pondok cuma buat memuluskan jalan itu!"

Faris tidak sanggup menahan amarahnya lagi. "Jjaga ucapanmu, Lik! Fadil tidak pernah menyentuh uang haram seperti itu! Jangan asal fitnah kalau tidak tahu kebenarannya!"

"Kami tidak fitnah!" bentak Pak Saman seraya mengacungkan jarinya. "Kertas-kertas berita dari kota sudah tersebar di pasar pagi tadi! Nama Fadil dibuat menjadi tercela di mana-mana! Kami tidak mau desa kami ketiban sial atau terseret konflik orang-orang kaya dari kota!"

Masyarakat mulai meragukannya, memandang sosok santri teladan yang selama ini mereka hormati sebagai potensi ancaman bagi ketenteraman desa mereka.

Fadil memegang lengan Faris, menarik sahabatnya mundur secara perlahan. "Pak Saman, Lik Tulus, saya memohon maaf jika keberadaan saya menimbulkan ketidaknyamanan di hati Bapak sekalian. Kami akan meletakkan paket sembako ini di balai desa agar bisa dimanfaatkan oleh yang berhak."

Peristiwa pemicu di pos warung kopi tersebut menandai awal pecahnya kepercayaan masyarakat desa terhadap Fadil akibat propaganda jahat yang sengaja dihembuskan untuk merusak nama baiknya.

°˖✧✿✧˖°

Gelombang penolakan dari masyarakat desa tidak berhenti di warung kopi Pak Saman. Saat sore menjelang, beberapa tokoh warga yang dipimpin oleh Pak RT dan Kepala Desa datang langsung menemu Pengurus Pesantren Darul Hikmah. Pertemuan darurat diadakan di pendopo luar kompleks pondok, dihadiri oleh Kiai Zulfakar, Ustaz Mansur, Fadil, serta lima sahabat dekatnya.

Suasana pendopo terasa tegang. Pak Kepala Desa, Pak Broto, duduk dengan menyilangkan kaki dan raut wajah yang amat keras.

"Kiai Zulfakar yang kami hormati," pangkas Pak Broto membuka pembicaraan tanpa basa-basi. "Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyampaikan keresahan warga Desa Ngaglik. Keadaan desa kami yang biasanya tenteram kini menjadi riuh oleh kabar-kabar miring mengenai Nak Fadil."

Kiai Zulfakar menatap Pak Broto dengan tenang seraya mengelus jenggot putihnya. "Pak Broto, kabar burung di luar sana belum tentu memiliki landasan kebenaran. Mengapa warga begitu mudah terhasut oleh isu yang tidak jelas sumbernya?"

Pak Broto mengeluarkan beberapa lembar koran lokal dan cetakan artikel internet, lalu meletakkannya di atas meja kayu. "Ini bukan sekadar kabar burung, Kiai! Koran kota sudah memuat berita tentang perburuan aset bersejarah yang melibatkan nama Surya Hadiningrat. Dan di situ disebutkan bahwasanya Nak Fadil adalah putra mahkota yang disembunyikan di pondok ini!"

touch Fauzan melangkah maju, membetulkan peci putihnya. "Pak Broto, Fadil berada di sini murni untuk menimba ilmu dan berkhidmat pada agama! Beliau tidak ada hubungannya dengan bisnis atau kejahatan ayahnya!"

Lihat selengkapnya