Jangan Membalas Keburukan
Fadil menahan diri.
°˖✧✿✧˖°
Pagi itu, perbukitan di sekeliling Pondok Pesantren Darul Hikmah, Jawa Timur, masih diselimuti kabut tipis yang berarak perlahan. Angin dingin merayap menembus celah-celah papan asrama tua, membawa aroma basah dedaunan pinus dan embun yang menetes di pelataran bata merah. Di teras samping mushola, pendar fajar menimpa lembaran-lembaran kitab Ihya Ulumuddin yang terbuka di atas meja kayu rendah.
Fadil duduk bersila di tengah lingkaran sahabat-sahabatnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di samping mereka, Raffa duduk menyimak dengan penuh perhatian. Merekam setiap petuah yang mengalir dari lisan sahabatnya itu. Meskipun badai ancaman dari pihak Surya Hadiningrat dan pemblokiran izin ke Kairo terus membayangi, raut wajah Fadil tidak menunjukkan sedikit pun keresahan.
Seusai peristiwa membongkar sabotase pasar desa, gelombang propaganda terselubung rupanya belum sepenuhnya padam. Di luar benteng pesantren, beberapa pamflet gelap dan desas-desus jahat masih disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Nama Fadil dibuat menjadi tercela oleh rekayasa yang menggambarkan dirinya sebagai sosok penipu berbaju santri. Namun Fadil bersabar menghadapi segala bentuk celaan tersebut tanpa menyimpan dendam di dalam dada.
"Fadil, bagaimana bisa engkau tetap tersenyum saat surat-surat kaleng itu masih beredar di luar gerbang?" tanya Fauzan seraya menatap sahabatnya dengan tatapan prihatin.
Faris meremas jemarinya di atas paha, matanya menyala. "Benar, Fadil! Kelompok Jakarta itu sengaja merusak nama baikmu agar engkau kehilangan legitimasi di mata pengurus pondok dan utusan Kairo! Kita harus membalas dan membongkar siapa dalang yang mencetak surat-surat itu!"
Fadil menatap Faris dan Fauzan dengan pandangan mata yangteduh, mengulas senyum yang menenteramkan batin. "Faris, Fauzan, jika api dibalas dengan api, maka yang tersisa hanyalah abu. Mengapa kita harus mengotori batin kita hanya untuk membalas perbuatan orang yang sedang kehilangan arah?"
"Tetapi nama baikmu dipertaruhkan, Fadil!" potong Ghalib dengan raut wajah berkerut. "Seseorang telah merancang agar nama Fadil dibuat menjadi tercela di hadapan publik luas."
"Nama baik di hadapan manusia itu seperti bayangan, Ghalib," pangkas Fadil dengan intonasi lembut, jernih, dan penuh makna. "Ia bisa memanjang atau memendek tergantung arah pendar cahaya. Yang utama adalah bagaimana posisi jiwa kita di hadapan Allah SWT. Fadil menahan diri bukan karena takut atau lemah, melainkan karena agama kita melarang kita membalas keburukan dengan keburukan serupa."
Rayyan dan Yafiq bertukar pandang, merasakan kedamaian yang mendalam menyusup ke dalam dada mereka.
"Ujaranmu sangat menyejukkan, Fadil," tutur Rayyan penuh ketakziman. "Menahan diri di saat sanggup membalas adalah ciri utama pahlawan sejati."
"Benar," sambung Yafiq. "Rasulullah SAW juga tidak pernah membalas penderitaan pribadi dengan pembalasan dendam."
Raffa yang duduk di sebelah Fadil memajukan posisi duduknya. "Kang Fadil, aku belajar satu hal penting pagi ini: membalas kejahatan hanya akan membuat kita serupa dengan penjahat itu sendiri."
"Engkau benar, Raffa," pangkas Fadil tulus seraya memegang bahu Raffa. "Tetaplah memegang prinsip itu dalam situasi apa pun."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, tatkala matahari pagi memancarkan sinar keemasan di pelataran pondok, suasana di depan pos penjagaan pintu gerbang utama mendadak menjadi riuh. Sekelompok pemuda sewaan dari luar daerah—yang dipimpin oleh seorang pria bertubuh kekar bernama Seta—berdiri berjejer di luar pagar dengan mengacungkan spanduk-spanduk provocatif.
Spanduk kain putih itu berisi tulisan tinta merah yang menuduh Fadil sebagai penipu dan penjahat berkedok santri.
"Keluar kau, Fadil!" teriak Seta dengan vokal yang lantang dan kasar, memancing perhatian para santri junior yang baru saja selesai membersihkan halaman. "Jangan sembunyi di balik tembok pesantren ini! Kau dan keluargamu adalah penipu!"
Beberapa santri junior yang melintas terhenti, raut wajah mereka berubah merah karena amarah melihat kehormatan pondok dan teladan mereka diinjak-injak di hadapan umum.
Danu, santri junior yang kini sangat menghormati Fadil, berlari mendekati pos penjagaan dengan tangan mengepal. "Hei! Jaga mulut kalian! Jangan asal bicara di depan gerbang pondok kami!"
Seta tertawa mengejek seraya melemparkan seikat brosur busuk ke dalam pelataran. "Tanyakan pada santri kesayangan kalian itu! Mengapa ayahnya mengejar-ngejar harta rahasia di tanah ini?! Nama Fadil dibuat menjadi tercela karena memang dia anak penjahat!"
"Kurang ajar!" teriak Danu hendak membuka gerbang kayu untuk menerjang Seta.
Namun sebelum bentrok fisik pecah di depan gerbang, Fadil melangkah cepat menembus kerumunan santri, didampingi oleh Faris dan Raffa.
"Tahan, Danu! Tahan semuanya!" seru Fadil dengan nada tegas namun tetap terkontrol.
Danu memalingkan wajahnya, matanya berkaca-kaca karena emosi. "Kang Fadil! Mereka sudah menghina Kang Fadil dan pondok kita secara terang-terangan! Kita tidak boleh diam saja!"
Fadil berdiri di balik pintu gerbang kayu, menatap Seta dan orang-orang sewaannya dengan pandangan yang tenang dan matang. Fadil menahan diri, memegang jemari tangan Danu agar menurunkan kepalan tangannya.
"Danu, Adindaku," tutur Fadil santun seraya merapatkan kedua telapak tangannya di dada. "Jangan biarkan amarah mencuri akal sehatmu. Jika kita melayani caci maki mereka dengan kekerasan, maka kita telah memberikan apa yang mereka inginkan."
Fadil lalu memandang Seta yang berdiri membusungkan dada di luar pagar. "Mas Seta dan Bapak-Bapak sekalian, jika ada kesalahan yang saya perbuat, bicarakanlah dengan cara yang beradab. Pintu pesantren ini selalu terbuka untuk dialog yang baik."
Seta terperanjat sejenak melihat ketenangan Fadil yang luar biasa di balik serbuan provokasi tersebut, namun ia segera meludahi tanah untuk menutupi keraguan batinnya. Peristiwa pemicu di depan gerbang ini menjadi ujian nyata bagi seluruh santri dalam menerapkan ajaran tidak membalas keburukan dengan keburukan.
°˖✧✿✧˖°
Fadil mengajak Seta dan dua perwakilan demonstran sewaan itu untuk duduk bersama di teras pos tamu luar gerbang. Meski Faris dan Fauzan bersiap mengawal rapat dengan posisi siaga, Fadil meminta sahabat-sahabatnya untuk menyajikan teh hangat dan camilan kue tradisional bagi para demonstran tersebut.
Seta duduk dengan canggung di atas kursi kayu, matanya memperhatikan cangkir teh hangat yang asapnya ngebul halus di hadapannya.
"Mengapa kau menyajikan teh untuk kami?" tanya Seta dengan kening berkerut dan intonasi yang masih keras. "Kami ke sini untuk menjatuhkan nama baikmu!"
Fadil mengulas senyum tulus, merapikan letak pecinya, lalu menatap mata Seta tanpa ada selapis pun raut dendam. "Mas Seta, memperlakukan tamu dengan baik adalah perintah agama kami. Apapun niat awal Kedatangan Mas Seta ke tempat ini, saat ini Mas Seta adalah tamu di rumah kami."
Faris menopang tangannya di dada, menengahi bincang. "Kami tahu kalian hanya orang-orang bayaran yang disuruh oleh pihak tertentu di Jakarta untuk membuat kekacauan di sini."