6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #98

Orang yang Memfitnah Meminta Maaf

Orang yang Memfitnah Meminta Maaf

Fadil memilih memaafkan.

°˖✧✿✧˖°

Pendar jingga fajar baru saja merayap di balik garit bukit yang mengepung Pondok Pesantren Darul Hikmah. Udara perbukitan Jawa Timur terasa dingin menghujam tulang, meneteskan embun murni di ujung-ujung daun bambu. Di lorong kayu yang menghubungkan ruang pengobatan dengan kompleks utama pesantren, Fadil melangkah tergesa bersama lima sahabat karibnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq, diikuti oleh Raffa yang berjalan cepat di belakang mereka.

Kabar mengenai siumannya Surya Hadiningrat serta ancaman bahaya yang mengintai ibu kandung Fadil di perbatasan perairan Malaysia telah mengguncang ketenangan pagi itu. Namun, sebelum langkah Fadil sampai di depan pintu ruang perawatan, sesosok pria berpenampilan kusam tampak terduduk bersimpuh di atas ubin semen pelataran. Pria itu adalah Seta—mantan pimpinan kelompok demonstran sewaan yang pernah menebar pamflet busuk dan menghina Fadil di depan gerbang utama.

Di samping Seta, berdiri dua orang mantan anak buahnya yang menundukkan kepala dalam-dalam. Kehadiran mereka di area dalam pondok sempat membuat beberapa santri penjaga bersiap siaga.

"Fadil, lihat siapa yang menunggu di depan sana," pangkas Faris seraya memperlambat ritme langkah kakinya. "Bukankah itu Seta, orang yang memimpin aksi demonstrasi provokatif tempo hari?"

Fauzan membetulkan peci putihnya, menatap Seta dengan pandangan penuh selidik. "Mau apa lagi dia datang ke sini? Apakah kelompoknya belum puas merusak suasana?"

Ghalib menepuk bahu Faris pelan. "Tenang dulu, Faris. Mari kita dengar penjelasan mereka sebelum mengambil kesimpulan."

Fadil menghentikan langkahnya, menatap pria yang pernah memfitnahnya itu dengan pandangan mata yang jernih dan teduh. Tidak ada selapis pun amarah atau dendam yang terpancar dari raut wajahnya.

Seta yang menyadari kehadiran Fadil segera merangkak mendekat, lalu mengangkat mukanya yang tampak pucat dan diliputi penyesalan mendalam.

"Mas Fadil... Mas Fadil..." pangkas Seta dengan vokal yang gemetar dan serak. "Tolong dengarkan kami sebentar, Mas. Kami datang bukan untuk membuat keributan lagi."

Fadil membungkukkan badannya sedikit, merapatkan kedua telapak tangan di dada. "Mas Seta, berdirilah. Tidak perlu bersimpuh seperti ini. Ada perkara apa yang membawa Mas Seta kembali ke pondok pagi-pagi sekali?"

Seta menyapu air mata yang menetes di pipinya yang kotor dengan punggung tangannya. "Mas Fadil, yang memfitnah Fadil minta maaf secara tulus hari ini. Kami menyadari betapa jahatnya perbuatan kami yang telah mencoreng nama baik Mas Fadil dan pesantren ini demi selembar uang haram."

Rayyan dan Yafiq bertukar pandang secara perlahan, merasakan getaran kejujuran dari nada suara Seta.

"Penyesalan yang datang dari dasar hati selalu terpancar dari raut wajah," tutur Rayyan penuh rasa haru.

"Benar," sambung Yafiq pelan seraya menatap Fadil. "Kini keputusannya ada di tangan Fadil."

Raffa yang berdiri di samping Fadil memajukan posisinya. "Kang Fadil, orang ini dulu sangat kasar di depan gerbang. Tapi sepertinya kali ini dia benar-benar menyesali perbuatannya."

Fadil mengulas senyum tipis, menatap Seta dengan penuh kehangatan batin. Fadil memilih memaafkan segala perlakuan buruk yang pernah diterimanya dari pria tersebut.

"Mas Seta," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang amat lembut dan menenteramkan. "Pintu maaf di tempat ini selalu terbuka lebar. Saya pribadi telah memaafkan Mas Seta dan rekan-rekan sekalian bahkan sebelum Mas Seta datang meminta maaf hari ini."

°˖✧✿✧˖°

Seta terenyak mendengar pernyataan lurus dari mulut Fadil. Pria kasar yang biasa hidup di jalanan itu tidak menyangka bahwasanya sosok pemuda yang pernah dicaci makinya di hadapan publik justru menyambut penyesalannya tanpa syarat dan tanpa dendam.

Seta merogoh saku jaket kumalnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang berdebu, lalu menyodorkannya kepada Fadil dengan kedua tangannya yang gemetar.

"Mas Fadil," tutur Seta dengan suara yang makin bergetar. "Ini adalah sisa uang imbalan dari pihak konsorsium Jakarta yang pernah dibayarkan kepada kami untuk membuat kerusuhan. Kami tidak ingin menyentuh uang haram ini lagi. Dan di dalam amplop ini, ada juga sebuah catatan harian rahasia milik anak buah Richard yang tercecer saat kerusuhan di balai desa kemarin."

Faris melangkah maju, menerima amplop cokelat itu lalu membukanya secara perlahan.

"Catatan harian?" tanya Faris seraya mengernyitkan keningnya. "Catatan apa ini, Seta?"

Seta mendongak, menatap mata Faris dan Fadil secara bergantian. "Catatan itu berisi peta rute pelarian dan jadwal pengiriman logistik kelompok jaringan internasional yang menyekap ibu kandung Mas Fadil di perbatasan perairan Sabah dan Malaysia!"

Kata-kata Seta seketika membuat suasana di pelataran klinik menjadi sangat tegang. Peristiwa pemicu ini menjadi titik terang pertama yang menghubungkan penyesalan sang pemfitnah dengan misi penyelamatan ibu kandung Fadil.

Fauzan membelalakkan matanya, memajukan badannya. "Seta! Apakah engkau yakin dengan isi dokumen ini?!"

"Saya bersumpah demi Allah, Mas!" pangkas Seta tegas seraya mengacungkan dua jarinya. "Anak buah Richard sempat menceritakan hal itu kepada saya saat kami merencanakan demonstrasi. Mereka bekerjasama dengan sindikat perdagangan orang di perbatasan!"

Fadil menerima lembaran catatan dari tangan Faris, membaca deretan koordinat geografis dan nama-nama kontak rahasia yang tertera di dalamnya dengan cermat.

"Ghalib, Rayyan, Yafiq," panggil Fadil dengan vokal yang tetap terkontrol di tengah desakan kabar tersebut. "Tolong amankan dokumen ini dan cocokkan dengan keterangan dari dokter di dalam ruang perawatan."

Seta kembali menundukkan kepalanya rapat-rapat. "Mas Fadil, yang memfitnah Fadil minta maaf dari kedalaman jiwa. Kami siap membantu Mas Fadil melakukan apa saja untuk menebus dosa-dosa kami."

Fadil memegang pundak Seta, mengangkat tubuh pria itu agar berdiri tegak. Fadil memilih memaafkan dan mengarahkan energi penyesalan tersebut menjadi kebaikan yang nyata.

"Mas Seta, tidak perlu berkecil hati," pangkas Fadil menenteramkan. "Bantulah kami menjaga keamanan desa dan mendampingi pemulihan warga pasar. Itu adalah bentuk pertobatan terbaik di hadapan Tuhan."

°˖✧✿✧˖°

Fadil bersama sahabat-sahabatnya dan Seta melangkah masuk ke dalam ruang perawatan klinik pesantren. Di dalam ruangan bernuansa putih yang hening itu, Surya Hadiningrat terbaring lemah dengan peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Kiai Zulfakar dan Syekh Abdullah berdiri di samping ranjang, menatap Surya yang mulai membuka matanya secara perlahan.

Suara sirine detak jantung berbunyi teratur namun lemah. Tatkala pendar mata Surya menangkap sosok Fadil yang berjalan mendekat, air mata pria tua itu menetes membasahi bantalnya.

"Fadil... Putraku..." bisik Surya dengan vokal yang sangat tipis dan terputus-putus. "Apakah engkau... mau memaafkan ayahmu yang bergelimang dosa ini?"

Fadil duduk di kursi samping ranjang, meraih jemari tangan Surya yang dingin, lalu mengusapnya dengan lembut.

"Ayah," pangkas Fadil dengan intonasi yang sarat akan kasih sayang filial. "Tidak ada dendam di dalam hati Fadil. Yang memfitnah Fadil minta maaf, dan Fadil memilih memaafkan semuanya. Ayah tidak perlu memikirkan kesalahan masa lalu. Fokuslah pada pemulihan kesehatan Ayah."

Surya menangis sesenggukan, dadanya naik turun menahan rasa haru yang luar biasa atas kelapangan dada anak yang pernah dizaliminya tersebut.

"Fadil... Ibumu... Ibumu masih hidup..." tutur Surya berusaha mengatur napasnya. "Dia... dia disekap di sebuah pulau karang bernama Pulau Sebatik... oleh jaringan sindikat swasta yang dipimpin oleh seorang pria bernama Marcus..."

Faris memajukan posisi duduknya seraya memperlihatkan catatan dari Seta. "Pak Surya, apakah peta rute dan koordinat yang tertera di dokumen Seta ini cocok dengan lokasi penyekapan tersebut?"

Surya memiringkan kepalanya sedikit, menatap lembaran kertas itu lalu mengangguk lemah. "Ya... Itu lokasi resminya... Marcus memanfaatkan keberadaan ibumu untuk menekan saya agar menyerahkan sertifikat kitab induk... Waktu kalian... tidak banyak... Marcus akan memindahkan ibumu ke perairan internasional dalam waktu dua puluh empat jam dari meledaknya jaringan ini..."

Kiai Zulfakar mengelus jenggot putihnya, lalu menatap Fadil dengan pandangan penuh wibawa spiritual.

"Fadil," pangkas Kiai Zulfakar tegas. "Ujian nama baikmu telah selesai dengan kemenangan akhlak. Kini, panggilan kewajiban seorang anak untuk menyelamatkan ibu kandungnya telah tiba di hadapanmu."

Lihat selengkapnya