Selawat dan Kelembutan Hati
Fadil memahami bahwa mencintai Rasulullah harus tercermin dalam akhlak.
°˖✧✿✧˖°
Pagi hari di perbukitan Jawa Timur selalu membawa kesejukan yang khas. Angin dingin merayap lembut di pelataran bata merah Pondok Pesantren Darul Hikmah, mengarak guratan kabut tipis yang perlahan memudar disapu pendar sinar matahari. Di selasar mushola tua yang tenang, Fadil duduk bersila bersama lima sahabat dekatnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di samping mereka, Raffa yang kini kian tekun menimba ilmu, duduk dengan raut wajah penuh kesungguhan.
Satu hari telah berlalu sejak kedatangan diplomat senior Kementerian Luar Negeri yang membawa penugasan internasional. Namun, di tengah riuk pertimbangan mengenai tugas besar ke Jenewa, batin Fadil tetap tertambat pada kedalaman makna ilmu yang ia pelajari setiap pagi. Di atas meja kayu rendah, terbentang kitab Dala'ilul Khairat dan naskah syarah selawat.
"Fadil, bagaimana caramu menjaga ketenangan batin saat gejolak ujian besar datang bertubi-tubi?" tanya Fauzan seraya menatap sahabatnya itu dengan cemas.
Faris ikut mengangguk pelan. "Benar, Fadil. Tugas ke Jenewa itu bukanlah perkara sepele. Bagaimana engkau mengatur emosi dan ketenangan jiwamu?"
Fadil tersenyum teduh, menatap sahabat-sahabatnya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih. "Fauzan, Faris, ketenangan batin itu lahir tatkala hati kita senantiasa basah oleh basahan selawat kepada Baginda Rasulullah SAW. Melalui lantunan itu, jiwa kita dibimbing untuk senantiasa menyerap kelembutan."
"Namun, apakah cukup hanya dengan melisankan bacaan selawat saja?" sela Ghalib dengan raut penasaran.
"Tidak cukup hanya di lisan, Ghalib," pangkas Fadil dengan intonasi lembut dan jernih. "Nama Fadil belajar memahami selawat dapat membuat akhlak baik jika dilandasi penghayatan yang mendalam. Berselawat bukan sekadar merangkai bait pujian, melainkan proses meneladani seluruh perangai mulia Sang Nabi."
Rayyan dan Yafiq mengangguk takzim mendengarkan penuturan tersebut.
"Ujaranmu selalu menjadi penawar bagi rasa cemas kami, Fadil," tutur Rayyan jujur.
"Benar," sambung Yafiq. "Fadil memahami bahwa mencintai Rasulullah harus tercermin dalam akhlak sehari-hari."
Raffa yang menyimak di sebelah Fadil memajukan posisi duduknya. "Kang Fadil, aku merasakan perubahannya. Dahulu hatiku amat keras dan mudah emosi, namun sejak diajarkan berselawat dengan menghayati maknanya, ada rasa lembut yang mengalir di dada."
"Engkau benar, Raffa," pangkas Fadil tulus seraya memegang bahu Raffa. "Selawat adalah penawar kerasnya hati."
°˖✧✿✧˖°
Siang harinya, tatkala para santri baru saja menyelesaikan pengajian rutin jam kedua, sebuah kegaduhan kecil pecah di dekat dapur umum pesantren. Seorang santri baru bernama Ilham, yang memiliki latar belakang emosional dan sulit diatur, berselisih paham dengan petugas dapur gara-gara jatah makanan.
"Aku tidak peduli! Aku ingin porsi lebih!" teriak Ilham seraya memukul meja kayu dapur dengan keras hingga piring seng berdenting nyaring.
Petugas dapur, seorang santri senior bernama Burhan, mencoba menenangkan. "Ilham, semua santri mendapat bagian yang sama sesuai aturan pondok. Jangan membuat keributan di sini!"
"Aturan ini tidak adil untukku!" bentak Ilham dengan mata memerah dan napas memburu.
Ia mengayunkan tangannya, memukul rak kayu hingga beberapa mangkuk tanah liat jatuh bertaburan dan pecah berantakan di atas lantai semen. Suara pecahan yang nyaring mengundang perhatian puluhan santri yang sedang melintas.
Raffa dan Danu yang kebetulan berada di dekat lokasi segera berlari menghampiri. Danu yang berniat tegas melangkah maju dengan raut wajah keras.
"Hei, Ilham! Jaga kelakuanmu! Jangan bertindak amoral di rumah ilmu ini!" seru Danu dengan nada tinggi.
Ilham justru makin tersulut emosinya. Ia mendorong dada Danu hingga Danu mundur beberapa langkah. "Jangan ikut campur! Kau tidak tahu apa-apa!"
"Sudah! Tahan emosi kalian!" pangkas Raffa menengahi di antara keduanya seraya merentangkan kedua tangan.
Beberapa santri mulai merapat, suasana di pelataran dapur kian memanas akibat amarah Ilham yang tidak terkendali. Gesekan antar-santri rentan membesar jika tidak ditangani dengan kelembutan.
Fadil bersama Fauzan dan Faris yang melintas dari arah madrasah melangkah cepat menghampiri kerumunan yang riuh tersebut.
"Ada apa ini, Raffa? Mengapa ada pertengkaran di area dapur?" pangkas Fadil tenang seraya memegang bahu Raffa dan Danu.
Danu menunjuk pecahan mangkuk di lantai. "Lihat ini, Kang... Ilham mengamuk dan merusak inventaris dapur hanya karena masalah porsi makan!"
Fadil menatap Ilham yang masih berdiri dengan dada naik turun dan tangan mengepal erat. Fadil memahami bahwa mencintai Rasulullah harus tercermin dalam akhlak, terutama saat berhadapan dengan orang yang sedang dikuasai amarah.
°˖✧✿✧˖°
Fadil melangkah mendekati Ilham tanpa membawa raut wajah marah atau menghakimi. Tatapannya begitu teduh, memancarkan kedamaian yang seketika menembus gejolak emosi santri baru tersebut.
"Ilham, Adindaku," pangkas Fadil dengan intonasi suara yang begitu lembut namun berwibawa. "Tenangkan batinmu. Jika ada hal yang mengganjal di dadamu, bicarakanlah baik-baik."
Ilham menatap Fadil dengan pandangan menantang, meski matanya mulai memancarkan kebingungan. "Kang Fadil tidak usah Pura-pura peduli! Kalian semua di sini hanya tahu menghukum dan mengatur!"
Faris hendak melangkah maju menegur kelakuan Ilham, namun Fadil mengangkat tangannya pelan, menghentikan sahabatnya.
"Saya tidak datang untuk menghukummu, Ilham," pangkas Fadil tulus seraya berlutut mengambil pecahan mangkuk tanah liat yang berserakan di atas lantai. "Nama Fadil belajar memahami selawat dapat membuat akhlak baik bukan untuk diperlihatkan lewat hardikan, melainkan lewat rasa kasih sayang."
Melihat seorang santri senior yang dihormati di seluruh pondok rela berlutut membersihkan pecahan mangkuk yang diimbaskannya, Ilham tertegun. Dadanya mendadak terasa sesak oleh rasa malu yang menjalar hebat.