Kabar dari Prabumulih
Keadaan keluarga kembali menjadi perhatian.
°˖✧✿✧˖°
Pendar emas mentari pagi menyiram helipad darurat yang dibangun mendadak di area lapangan rumput Pondok Pesantren Darul Hikmah. Baling-baling helikopter militer bersimbol negara berputar lambat, memunculkan deru angin yang menerbangkan dedaunan kering di sekitarnya. Di dekat tangga helikopter, Fadil berdiri bersama lima sahabat karibnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq, serta Raffa yang tampak menggenggam erat koper kulit milik Fadil.
Diplomat senior Kementerian Luar Negeri bersama dua pengawal berjas hitam berdiri bersiaga di samping pintu helikopter. Waktu menuju penerbangan diplomatik khusus dari Bandara Juanda menuju Jenewa, Swiss, kian menipis.
"Fadil," panggil Fauzan seraya menepuk bahu sahabatnya itu dengan keteguhan batin. "Pertarungan di Jenewa bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan pertarungan martabat ilmu dan kehormatan umat."
Faris menyerahkan sebuah tas kecil berisi paspor dan dokumen perjalanan. "Kami semua di sini akan terus mengetuk pintu langit melalui doa dan lantunan selawat selama engkau berjuang di sana, Fadil."
Fadil mengulas senyum teduh, menatap kelima sahabatnya satu per satu dengan pandangan mata yang jernih. "Terima kasih, Sahabatku. Doa kalian adalah benteng terkuat bagi langkah saya."
Ghalib melangkah mendekat, matanya menatap tajam namun sarat ketulusan. "Ingatlah, kelembutan batin dan keteguhan ilmu yang engkau pelajari di pondok ini akan menjadi hujah terbaik di hadapan para pakar dunia."
"Benar," pangkas Rayyan cepat. "Bawalah nama baik pesantren kita ke kancah internasional."
Yafiq mengangguk penuh rasa hormat. "Kami percaya penuh padamu, Fadil."
Raffa yang menyerahkan koper kulit menundukkan kepalanya santun. "Kang Fadil, kami di sini akan menjaga pondok dengan baik."
"Terima kasih, Raffa," pangkas Fadil lembut seraya memegang bahu pemuda itu.
Namun, di saat Fadil hendak menaiki tangga helikopter, suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah deru mesin. Paman Usman—adik dari ibu kandung Fadil—berlari kencang dari arah gerbang utama pesantren dengan wajah yang sangat pucat dan napas yang terengah-engah.
"Fadil! Fadil! Tahan dulu!" teriak Paman Usman seraya mengangkat sebelah tangannya yang memegang ponsel pintar.
Fadil menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Paman Usman dengan kening berkerut. "Paman Usman? Ada apa Paman datang terburu-buru seperti ini?"
Paman Usman menyapu keringat dingin di dahinya, lalu menyodorkan ponselnya kepada Fadil. Keadaan keluarga kembali menjadi perhatian di tengah detik-detik keberangkatan yang amat krusial itu.
"Fadil... Fadil mendapatkan kabar dari keluarga di Prabumulih," pangkas Paman Usman dengan vokal gemetar hebat. "Kakekmu... Kakek Haji Baharuddin di Prabumulih mendadak kritis dan rumah keluarga besar kita dikepung oleh kelompok mafia tanah setempat!"
°˖✧✿✧˖°
Kabar darurat dari tanah kelahiran ibu kandungnya di Prabumulih, Sumatra Selatan, seketika menghentikan langkah Fadil menuju Jenewa. Keadaan keluarga kembali menjadi perhatian utama yang membelah fokus batin sang pemuda.
Diplomat senior yang berdiri di samping helikopter memajukan posisinya dengan raut wajah amat tegang.
"Mas Fadil," pangkas diplomat itu dengan nada suara yang sangat mendesak. "Helikopter ini harus lepas landas dalam lima menit! Penerbangan VIP ke Jenewa tidak bisa ditunda karena jadwal persidangan dewan keamanan internasional sudah terkunci!"
Fadil berdiri terpaku di antara dua jalan yang amat berat. Di satu sisi, panggilan tugas negara dan kehormatan diplomasi pesantren menunggunya di Jenewa; di sisi lain, keselamatan kakeknya dan marwah keluarga besarnya di Prabumulih berada dalam ancaman maut.
Paman Usman memegang lengan Fadil dengan air mata menetes. "Fadil, Kakekmu memanggil nama-namamu sebelum tidak sadarkan diri. Mafia tanah itu memalsukan sertifikat tanah perkebunan sawit keluarga kita dan mengancam akan membakar rumah tua Prabumulih jika tidak ditandatangani hari ini!"
Fauzan dan Faris bertukar pandang dengan raut cemas.
"Fadil, ini situasi yang sangat rumit," tutur Fauzan penuh ketegangan. "Prabumulih dan Jenewa berada di dua arah yang saling berseberangan."
Fadil menundukkan pandangannya, memejamkan mata sejenak seraya melantunkan selawat di dalam hatinya untuk meraih ketenangan jiwa. Ketika ia membuka matanya, pendar keteguhan terpancar dari tatapannya.
"Paman Usman," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang tenang, jernih, dan berwibawa. "Fadil mendapatkan kabar dari keluarga ini sebagai amanah yang harus diselesaikan. Kita tidak boleh membiarkan kezaliman merajalela atas keluarga kita."
Diplomat itu menghela napas berat. "Tetapi bagaimana dengan sidang di Jenewa, Mas Fadil? Jika Anda tidak hadir, risikonya aset wakaf pesantren akan disita!"
Fadil menatap diplomat itu dengan tegas. "Pak Diplomat, saya akan menyelesaikan masalah di Prabumulih dalam waktu singkat, dan saya tetap akan berangkat ke Jenewa melalui jalur udara darurat dari Palembang!"
Pernyataan berani dari Fadil pada peristiwa pemicu ini menandai keputusan krusialnya untuk menghadapi ancaman mafia tanah di Prabumulih sebelum melangkah ke panggung diplomasi internasional.
°˖✧✿✧˖°
Guna mengakomodasi keputusan mendesak tersebut, diplomat senior berkoordinasi cepat dengan Markas Besar Kepolisian dan TNI Angkatan Udara. Rute penerbangan helikopter diubah secara mendadak dari Surabaya menuju pangkalan udara di Palembang, dilanjutkan dengan pengawalan ketat perjalanan darat menuju Kota Prabumulih.
Dalam waktu kurun waktu kurang dari empat jam, helikopter mendarat di pangkalan udara Palembang. Fadil bersama lima sahabatnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—serta Paman Usman dan tim taktis kepolisian melaju cepat menggunakan iring-iringan mobil kendaraan taktis menuju Prabumulih.
Perjalanan melintasi rute darat Sumatra Selatan diwarnai oleh ketegangan tinggi. Di sepanjang jalan, Paman Usman menceritakan kronologi kerusuhan yang melanda keluarga besar di Prabumulih.
"Fadil," pangkas Paman Usman seraya memperlihatkan foto-foto di ponselnya. "Mafia tanah ini dipimpin oleh seorang pengusaha lokal bernama Darga. Dia memanfaatkan kondisi Kakekmu yang sakit-sakitan untuk merebut tanah warisan keluarga secara paksa."
Faris menatap foto-foto tersebut dengan kening berkerut. "Apakah Darga ini ada hubungannya dengan konsorsium Jakarta yang pernah menyerang pesantren kita, Paman?"