Ayah Membutuhkan Bantuan
Fadil mulai memikirkan masa depan setelah pesantren.
°˖✧✿✧˖°
Deru mesin pesawat jet diplomatik raksasa bergetar konstan di dalam kabin eksekutif yang membelah lautan awan di atas Samudra Hindia. Di dalam ruangan bernuansa perak yang tenang itu, pendar sinar lampu LED temaram menyinari meja kerja lipat tempat Fadil duduk bersila. Di hadapannya, terbentang dua berkas penting: di sebelah kiri terdapat naskah salinan hukum peninggalan kitab induk untuk sidang Jenewa, sementara di sebelah kanan tergeletak sebuah surat bernaskah tangan yang baru saja dikirimkan oleh tim medis Rumah Sakit Pusat Jakarta mengenai kondisi kesehatan Surya Hadiningrat.
Di sekeliling meja, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk menyimak dengan khusyuk. Jalur penerbangan dari Palembang menuju Swiss kini sedang melintasi ruang udara internasional.
Fauzan mengusap wajahnya yang lelah, menatap Fadil dengan pandangan penuh perhatian. "Fadil, penerbangan ini tinggal menyisakan belasan jam sebelum kita mendarat di Eropa. Bagaimana kondisi batinmu menghadapi dua beban besar ini?"
Faris membetulkan posisi duduknya seraya menunjuk lembaran laporan medis. "Laporan dari Jakarta menunjukkan keadaan Pak Surya kian menurun. Beliau membutuhkan bantuan pendampingan dan penanganan operasi darurat yang hanya bisa diizinkan olehmu selaku wali keluarga sah."
Fadil menghembuskan napas perlahan, menatap ke luar jendela pesawat yang menampilkan hamparan awan putih tak bertepi.
"Fauzan, Faris," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang amat lembut, jernih, dan penuh ketenangan batin. "Setiap helai napas kita adalah giliran ujian dari Allah. Ayah membutuhkan bantuan fisik dan pengampunan jiwa dari kita, sementara umat membutuhkan keteguhan hujah kita di forum Jenewa."
Ghalib melipat kedua tangannya di dada, menyimak dengan raut penuh perenungan. "Apakah engkau tidak merasa goyah, Fadil? Di satu sisi ada tugas diplomasi global, di sisi lain ada amanah berbakti kepada ayah kandung yang kini terbaring lemah."
"Ghalib," sahut Fadil seraya tersenyum teduh. "Seorang penuntut ilmu yang menempa diri di pesantren diajarkan untuk tidak pernah lari dari tanggung jawab. Ayah membutuhkan bantuan, dan itu adalah ladang pengabdian yang tidak boleh saya abaikan."
Rayyan dan Yafiq bertukar pandang dengan selapis rasa hormat yang mendalam.
"Keteguhan hatimu selalu menjadi pijakan bagi kami," tutur Rayyan tulus.
"Benar," pangkas Yafiq pendek seraya menatap lembaran naskah di meja. "Namun, di balik semua peristiwa besar ini, pernahkah engkau merenungkan arah langkahmu sendiri nanti?"
Fadil menganggukkan kepalanya pelan, menatap lurus ke arah sahabat-sahabatnya. Fadil mulai memikirkan masa depan setelah pesantren, menyadari bahwasanya pengabdian ilmu tidak berhenti di dalam dinding pondok semata, melainkan harus diwujudkan dalam pengabdian nyata di tengah masyarakat luas.
"Yafiq," pangkas Fadil dengan nada yang sarat kedalaman batin. "Fadil mulai memikirkan masa depan setelah pesantren. Masa depan yang tidak hanya tentang gelar atau jabatan, tetapi tentang bagaimana ilmu yang kita dapatkan di Darul Hikmah mampu menjadi penawar bagi luka-luka di tengah masyarakat, termasuk untuk memulihkan kehidupan Ayah."
°˖✧✿✧˖°
Pernyataan Fadil mengenai masa depannya seketika menarik perhatian seluruh sahabatnya di dalam kabin pesawat diplomatik tersebut. Peristiwa pemicu ini membuka ruang diskusi mendalam di antara enam pemuda yang selama bertahun-tahun menimba ilmu bersama di bawah bimbingan Kiai Zulfakar.
Fauzan memajukan posisi duduknya, menatap Fadil dengan mata berbinar penasaran. "Fadil, apa yang sebenarnya engkau bayangkan tentang kehidupanmu seusai menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan di pesantren?"
Fadil merapatkan kedua telapak tangannya di atas meja kerja, mengulas senyum tipis yang sarat kematangan jiwa.
"Fauzan," pangkas Fadil dengan intonasi yang begitu tenang. "Selama ini kita sering berpikir bahwasanya kelulusan dari pesantren adalah akhir dari masa belajar. Namun saya menyadari, kelulusan itu justru gerbang awal dari ujian yang sesungguhnya. Fadil mulai memikirkan masa depan setelah pesantren untuk mendirikan sebuah lembaga pengabdian terpadu."
Faris mengernyitkan keningnya penuh ketertarikan. "Lembaga pengabdian terpadu? Seperti apa konsep yang ada di dalam benakmu, Fadil?"
"Sebuah tempat yang memadukan antara kedalaman ilmu agama, pusat bantuan hukum gratis bagi warga miskin, dan fasilitas pengobatan medis berbasis syariah," jawab Fadil dengan pandangan mata melayang membayangkan masa depan. "Saya ingin tempat itu menjadi wadah bagi warga yang terzalimi, seperti halnya warga desa kita dan masyarakat di Prabumulih."
Ghalib menepuk tangannya pelan di atas meja. "Gagasan yang amat mulia, Fadil! Itu adalah perwujudan nyata dari konsep rahmatan lil 'alamin."
Namun, di tengah perbincangan hangat mengenai masa depan tersebut, diplomat senior Kementerian Luar Negeri melangkah tergesa masuk ke dalam kabin utama membawa telepon satelit yang berkedip-kedip merah.
"Mas Fadil!" pangkas diplomat itu dengan raut wajah sangat cemas. "Panggilan darurat dari tim medis Rumah Sakit Pusat Jakarta! Kondisi Pak Surya Hadiningrat mendadak kritis akibat komplikasi pendarahan lambung!"
Fadil berdiri seketika dari kursinya, dadanya berdebar kencang.
"Bagaimana kondisi Ayah sekarang, Pak?" tanya Fadil cepat.
Diplomat itu menyerahkan gagang telepon satelit. "Dokter spesialis utama membutuhkan keputusan langsung dari Anda detik ini juga! Ayah membutuhkan bantuan persetujuan operasi tindakan darurat, atau kesadarannya tidak akan bertahan hingga besok pagi!"
Peristiwa pemicu ini menyengat batin Fadil, mengikat fokus masa depannya langsung dengan tindakan nyata menyelamatkan nyawa sang ayah kandung di saat keberadaannya sedang berada jauh di atas angkasa Samudra Hindia.
°˖✧✿✧˖°
Fadil meraih telepon satelit tersebut dengan jemari yang menggenggam erat. Suara gumpalan deru mesin rumah sakit dan vokal tergesa dari dokter spesialis terdengar jernih di seberang sambungan.
"Assalamu'alaikum, Mas Fadil," pangkas suara dokter spesialis dari Jakarta. "Kami dari tim bedah RS Pusat melaporkan bahwasanya kondisi Pak Surya mengalami penurunan drastis. Ada pendarahan hebat di area cerna akibat tekanan stres tinggi dan komplikasi jantung. Kami harus melakukan tindakan bedah terbuka dalam waktu satu jam ini!"
Fadil memejamkan matanya sejenak, melantunkan salawat di dalam hati guna menenangkan gelombang emosi yang bergolak.
"Wa'alaikumussalam, Dokter," pangkas Fadil dengan vokal yang diatur tenang dan tegas. "Ayah membutuhkan bantuan operasi tersebut. Saya selaku anak kandung sah memberikan izin penuh dan persetujuan tindakan medis tersebut demi keselamatan nyawa beliau."
"Baik, Mas Fadil! Kami butuh konfirmasi otorisasi hukum resmi yang ditandatangani secara digital dari perangkat diplomatik Anda!" lanjut dokter tersebut.
Faris dengan sigap menyodorkan tablet digital diplomatik kepada Fadil. "Fadil, tanda tangani dokumen otorisasi medis ini sekarang!"
Fadil menggoreskan tanda tangan digitalnya di atas layar tablet dengan kemantapan batin. Keadaan ayah kandungnya yang kritis makin menegaskan arah pemikirannya tentang masa depan.
"Dokter," pangkas Fadil kembali melalui telepon satelit. "Lakukan yang terbaik demi keselamatan Ayah. Saya memaafkan seluruh kesalahan beliau, dan saya memohon agar tim medis mendampingi beliau dengan penuh kehangatan."
"Terima kasih atas keikutsertaan dan keteguhan hati Anda, Mas Fadil. Kami akan segera membawa Pak Surya ke ruang operasi utama," sahut dokter tersebut sebelum memutus sambungan.
Fadil menyerahkan kembali telepon satelit kepada diplomat, lalu terduduk perlahan di kursinya.