Tawaran Pekerjaan
Seseorang menawarkan pekerjaan kepada Fadil.
°˖✧✿✧˖°
Pendar keemasan lampu gantung kristal memantulkan bayangan megah di atas meja kayu jati berukir di dalam aula Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jenewa. Angin dingin khas musim gugur berembus pelan di luar jendela kaca besar, memperlihatkan keindahan Danau Geneva yang tenang di bawah naungan awan kelabu.
Di dalam ruangan yang hangat itu, Fadil duduk berdampingan dengan lima sahabat karibnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq. Di hadapan mereka, terhidang teh melati hangat dan beberapa cangkir porselen.
Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama Savile Row duduk berhadapan dengan Fadil. Pria itu adalah Dr. Richard Vance, seorang Direktur Eksekutif Lembaga Arbitrase Hukum dan Kemanusiaan Internasional (International Law & Humanitarian Center) yang berpusat di Zurich.
Dr. Richard membetulkan kacamata berbingkai emasnya, lalu menggeser sebuah dokumen tebal berbahasa Inggris dan Prancis dengan sampul kulit berwarna marun ke arah Fadil.
"Mas Fadil," pangkas Dr. Richard dengan suara rendah yang sangat berwibawa namun hangat. "Kinerja Anda dalam persidangan di Palais des Nations kemarin sore betul-betul membuka mata seluruh komunitas diplomatik internasional. Cara Anda memadukan prinsip fikih Islam dengan Konvensi Jenewa adalah sebuah karya jenius."
Fadil menundukkan kepalanya secara santun, menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. "Semua itu hanyalah karunia dari Allah SWT, Dr. Richard. Saya hanya menyampaikan apa yang dipelajari di pesantren."
Dr. Richard tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kerendahan hati Anda justru makin meyakinkan lembaga kami. Seseorang menawarkan pekerjaan kepada Fadil hari ini, dan tawaran itu datang langsung dari dewan direksi tertinggi kami."
Faris dan Fauzan bertukar pandang dengan selapis rasa terkejut dan bangga yang terpancar dari raut wajah mereka.
"Pekerjaan seperti apa yang Anda maksudkan, Dr. Richard?" tanya Fauzan penasaran.
Dr. Richard menunjuk dokumen sampul marun tersebut. "Kami menawarkan posisi Penasihat Senior Hukum dan Diplomasi Syariah Internasional untuk wilayah Asia-Pasifik. Fasilitas yang kami sediakan mencakup tempat tinggal resmi di Zurich, akses penuh ke seluruh jaringan diplomatik PBB, serta gaji berkala yang sangat besar."
Ghalib dan Rayyan menahan napas sejenak mendengarkan nilai fasilitas yang fantastis tersebut. Seseorang menawarkan pekerjaan kepada Fadil dengan posisi yang begitu bergengsi di kancah global.
Fadil menatap dokumen bernilai tinggi itu dengan pandangan mata yang tetap tenang dan jernih. Di dalam kedalaman batinnya, Fadil mengevaluasi apakah mendapatkan tawaran pekerjaan buah dari berselawat selama ini, sebuah amalan yang tak pernah terputus ia lantunkan di setiap desah napas dan helatan ujian hidupnya.
"Dr. Richard," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang amat lembut dan teratur. "Tawaran ini sangat luar biasa dan merupakan sebuah kehormatan besar bagi seorang santri seperti saya."
"Kami sangat berharap Anda menerimanya, Mas Fadil," pangkas Dr. Richard meyakinkan. "Dunia membutuhkan pemikiran jernih seperti milik Anda."
Fadil mengusap jemarinya pada tasbih kayu yang tersembunyi di dalam saku jasnya, merenungkan hakikat dari kesempatan besar yang baru saja hadir di hadapannya.
°˖✧✿✧˖°
Kehadiran berkas dokumen kerja di atas meja tersebut menjadi peristiwa pemicu yang menggetarkan kedalaman batin Fadil. Seusai Dr. Richard pamit meninggalkan ruangan untuk memberikan waktu berpikir, enam sahabat tersebut berkumpul melingkari meja kerja.
Fauzan memegang bahu Fadil dengan pendar mata membara. "Fadil! Ini adalah kesempatan emas yang sangat langka! Posisi Penasihat Senior di Zurich akan membawa nama harum pesantren dan bangsa kita ke puncak kehormatan dunia!"
Faris mengangguk setuju seraya memeriksa lembaran kontrak. "Fasilitas dan pengaruh diplomatik yang ditawarkan sangat besar, Fadil. Dengan posisi ini, engkau memiliki wewenang hukum internasional untuk membentengi lembaga-lembaga Islam di seluruh dunia dari kezaliman."
Ghalib menatap Fadil yang masih terdiam dalam ketenangan perenungannya. "Bagaimana pendangan batinmu, Fadil? Mengapa engkau tampak begitu termenung?"
Fadil menghela napas panjang, menatap lima sahabatnya satu per satu dengan ketulusan yang mendalam.
"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil dengan vokal yang jernih dan sarat rasa syukur. "Seseorang menawarkan pekerjaan kepada Fadil dengan segala kemegahan dunia ini. Namun, di dalam hati kecil ini, Fadil mengevaluasi apakah mendapatkan tawaran pekerjaan buah dari berselawat selama ini."
Rayyan mengernyitkan keningnya lembut. "Maksudmu berselawat yang selalu engkau dawamkan setiap malam di pojok musala pondok, Fadil?"
"Benar, Rayyan," pangkas Fadil pelan. "Sejak saya di pesantren, Kiai Zulfakar selalu mengajarkan bahwasanya selawat kepada Rasulullah SAW adalah kunci pembuka pintu-pintu kemudahan yang tak terduga. Namun, saya harus mengevaluasi apakah kemudahan ini hadir sebagai ujian keikhlasan ataukah amanah pengabdian yang nyata."
Yafiq mendekat seraya menepuk meja pelan. "Apakah engkau meragukan kemuliaan tawaran pekerjaan ini, Fadil?"
"Saya tidak meragukan kemuliaannya, Yafiq," pangkas Fadil tegas. "Namun saya sedang merenung, apakah pekerjaan ini akan mendekatkan diri saya kepada keridaan Allah, atau justru menjauhkan saya dari cita-cita awal untuk mengabdi langsung kepada rakyat kecil di tanah air."
Dilema batin dan perenungan spiritual pada peristiwa pemicu ini menetapkan fokus perjalanan jiwa Fadil dalam membedah hakikat keberkahan dari amalan selawat yang dilakukannya.
°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama °˖✧✿✧˖°
Guna mencari keheningan dan kejelasan batin dalam mengevaluasi tawaran tersebut, Fadil mengajak kelima sahabatnya untuk melakukan shalat istikharah dan membaca selawat bersama di dalam ruang ibadah khusus Wisma KBRI.
Suara lantunan selawat nabi membumbung merdu dan syahdu di dalam ruangan yang sunyi itu. Gelombang kedamaian spiritual melingkupi jiwa enam pemuda pesantren tersebut, membiaskan cahaya keheningan yang meredam kepenatan duniawi.
Seusai mengakhiri doa, Fadil duduk bersila di atas sajadah, menatap sahabat-sahabatnya yang duduk melingkar.
"Fauzan," pangkas Fadil membuka pembicaraan dengan vokal yang sangat teduh. "Sejak kecil, Ayah selalu mengajarkan bahwasanya keberhasilan materi adalah wujud utama dari kesuksesan. Namun, setelah saya melewati berbagai badai ujian di pesantren hingga detik ini, paham itu runtuh sepenuhnya."
Fauzan menyimak dengan khusyuk. "Lantas, bagaimana engkau memaknai amalan selawatmu selama ini, Fadil?"
"Selawat yang kita lantunkan bukanlah mantra untuk menukar doa dengan jabatan atau tumpukan harta," pangkas Fadil tegas seraya meraba tasbih kayunya. "Selawat adalah wujud cinta mutlak kepada Rasulullah SAW. Jika hari ini seseorang menawarkan pekerjaan kepada Fadil dengan gaji fantastis di Eropa, saya tidak boleh serta-merta menganggapnya sebagai 'hadiah' utama dari selawat saya."
Faris mengangguk paham. "Engkau takut terjebak dalam rasa jumawa, Fadil?"