6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #104

Jalan yang Dipilih

Jalan yang Dipilih

Fadil memilih jalan yang tetap menjaga prinsip agama.

°˖✧✿✧˖°

Sinar mentari pagi menerobos di antara celah dedaunan pohon kelapa di halaman Pondok Pesantren Darul Hikmah. Angin sejuk berembus pelan, membawa harum aroma tanah basah dan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang ditingkahi deru napas santri yang tengah beraktivitas. Di selasar pendopo utama yang bernuansa kayu jati tua, Fadil duduk bersila bersama lima sahabat karibnya: Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq.

Di tengah meja kayu rendah, terbentang dua buah map tebal. Map sebelah kiri berwarna biru tua berlogo Kementerian Hukum dan HAM serta stempel diplomatik internasional, berisi tawaran kerja sama jangka panjang dengan berbagai lembaga penegak hukum modern yang menawarkan posisi terhormat serta anggaran tak terbatas. Map sebelah kanan berwarna cokelat lusuh, berisi lembaran permohonan bantuan hukum gratis dari puluhan asosiasi petani miskin, guru mengaji pelosok, dan penyelesaian sengketa tanah wakaf rakyat di berbagai daerah.

Fauzan mengetuk meja pelan, memecah keheningan yang berlangsung sejak usai shalat Dhuha. "Fadil, dua dokumen di depanmu ini melambangkan dua persimpangan besar. Map biru memberi kita pengaruh kekuasaan di tingkat nasional bahkan global, sementara map cokelat menuntut pengorbanan tanpa batas tanpa janji kemewahan."

Faris menyandarkan punggungnya ke tiang pendopo, menatap Fadil penuh selidik. "Banyak orang di luar sana yang menyarankan agar kita mengambil jalan tengah yang kompromistis. Menerima sedikit kelonggaran aturan hukum agama demi melapangkan pengaruh kita di tingkat pejabat negara."

Fadil mengusap jemarinya pada butir-butir tasbih kayu hitam peninggalan Kiai Zulfakar. Tatapan matanya jernih, memancarkan kedamaian batin yang amat dalam.

"Faris, Fauzan," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang begitu lembut, teratur, dan berwibawa. "Kompromi terhadap aturan agama demi meraih pengaruh dunia adalah awal dari pengeroposan jiwa. Kita tidak dibangun di pesantren ini untuk menjual prinsip demi kenyamanan."

Ghalib tersenyum tulus, menganggukkan kepalanya. "Saya sudah menduga jawabanmu, Fadil. Namun tantangan di depan kita bukan lagi sekadar retorika."

Rayyan dan Yafiq menyimak dengan takzim, menunggu keputusan akhir sahabat mereka. Fadil memilih jalan yang tetap menjaga prinsip agama, sebuah keputusan mendasar yang akan menentukan seluruh arah perjuangan lembaga hukum dan dakwah yang didirikannya pasca-pesantren.

"Fadil," pangkas Yafiq pendek. "Apakah engkau siap menanggung segala konsekuensi pahit dari pilihan yang tegak lurus ini?"

Fadil mengulas senyum teduh. "Yafiq, keberkahan tidak pernah lahir dari jalan pintas yang melanggar syariat. Fadil memilih jalan yang tetap menjaga prinsip agama, apa pun taruhan dan risikonya."

°˖✧✿✧˖°

Pernyataan tegas Fadil mengenai pilihannya menjadi peristiwa pemicu yang menguji batas kekuatan komitmen mereka. Belum sempat sahabat-sahabatnya memberikan tanggapan penuh, langkah kaki tergesa-gesa memecah kedamaian pendopo.

Utusan khusus dari Dewan Pertimbangan Hukum Nasional, seorang pria setengah baya bernama Utomo yang mengenakan kemeja batik premium, melangkah masuk ke pendopo didampingi oleh dua staf berjas rapi.

"Assalamu'alaikum, Mas Fadil dan para ustaz muda," sapa Utomo dengan suara mantap dan nada yang teratur.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Bapak Utomo. Silakan duduk," balas Fadil seraya membetulkan posisi duduknya penuh kesantunan.

Utomo duduk bersila di hadapan Fadil, lalu langsung meletakkan sebuah berkas perjanjian kerja sama negara di atas meja, tepat di samping map biru dan cokelat.

"Mas Fadil," pangkas Utomo tanpa berbelit-belit. "Pemerintah bersama Konsorsium BUMN bermaksud menunjuk lembaga hukum yang Anda rintis sebagai mitra utama penyelesaian sengketa lahan strategis nasional. Ini adalah penawaran resmi bernilai ratusan miliar rupiah."

Fauzan dan Faris bertukar pandang, terkejut oleh skala penawaran yang begitu raksasa.

"Apa syarat utama dari kerja sama raksasa ini, Pak Utomo?" tanya Faris lugas.

Utomo menatap Fadil dengan pandangan menuntut. "Syaratnya sangat sederhana, Mas Fadil. Lembaga Anda harus bersedia menyetujui klausa legalitas perbankan konvensional berbasis bunga tinggi untuk pendanaan proyek, serta bersedia 'mengondisikan' fatwa hukum atas tanah warga yang terdampak demi percepatan pembangunan."

Ruang pendopo mendadak hening. Tuntutan untuk merestui hukum riba dan mengorbankan hak-hak warga miskin demi proyek negara menjadi ujian langsung atas prinsip agama yang baru saja diikrarkan Fadil.

"Pak Utomo," pangkas Fadil dengan suara yang sangat jernih dan tenang. "Penawaran ini sangat besar secara materi. Namun, klausa yang Anda ajukan menabrak batas-batas hukum syariat yang kami pegang teguh."

Utomo mengernyitkan keningnya heran. "Mas Fadil, ini demi kemajuan pembangunan nasional! Sedikit fleksibilitas hukum tidak akan menghancurkan reputasi Anda!"

"Bagi kami," pangkas Fadil tegas, "fleksibilitas yang melanggar agama adalah pengkhianatan atas amanah ilmu. Fadil memilih jalan yang tetap menjaga prinsip agama, dan kami menolak klausa hukum yang bertentangan dengan syariat tersebut!"

Peristiwa pemicu ini menetapkan batas yang jelas antara godaan kekuasaan pragmatis dan keteguhan iman Fadil dalam menentukan arah hidupnya.

°˖✧✿✧˖°

Penolakan tegas Fadil atas tawaranUtomo memicu gelombang reaksi keras dari pihak pemegang kekuasaan pragmatis. Utomo berdiri dari duduknya dengan raut wajah gusar dan kecewa berat.

"Mas Fadil!" pangkas Utomo dengan suara meninggi. "Anda sangat naif! Di dunia nyata, tidak ada lembaga hukum yang bisa bertahan tanpa kompromi politik dan finansial! Jika Anda menolak penawaran ini, Anda akan menghadapi pemboikotan izin operasional dari kementerian!"

Fauzan berdiri mendampingi Fadil, menatap Utomo dengan keteguhan yang sama. "Pak Utomo, rezeki dan legalitas kebenaran tidak berada di tangan kementerian, melainkan di tangan Allah SWT."

"Kalian akan menyesali kesombongan sok suci ini!" ancam Utomo seraya merapikan berkasnya dan melangkah pergi meninggalkan pendopo bersama stafnya.

Seusai kepergian Utomo, lima sahabat Fadil melingkar semakin rapat di pendopo. Atmosfer ketegangan mulai terasa nyata melingkupi mereka.

Ghalib menghela napas panjang. "Fadil, ancaman Utomo bukan gertakan kosong. Pemboikotan izin operasional akan membuat seluruh gerakan bantuan hukum gratis kita untuk rakyat kecil dianggap ilegal oleh negara."

Fadil memutar butir tasbih kayu hitamnya dengan lembut, memancarkan kedamaian jiwa yang tidak terpengaruh oleh ancaman manusia.

"Ghalib, Faris," pangkas Fadil dengan vokal yang begitu teduh. "Ketika kita membela kebenaran, Allah sendiri yang akan menjadi penjamin kita. Fadil memilih jalan yang tetap menjaga prinsip agama bukan karena kita merasa lebih suci dari orang lain, melainkan karena kita takut kehilangan keridaan-Nya."

Rayyan mengangguk mantap. "Lantas, apa langkah konkret kita sekarang, Fadil? Map cokelat ini berisi keluhan rakyat miskin yang butuh kepastian hari ini juga."

"Kita buka map cokelat itu sekarang," pangkas Fadil penuh kemantapan. "Kita mulai pengabdian kita dari bawah, dari masyarakat yang terzalimi, tanpa memedulikan pemboikotan atau ancaman kekuasaan."

Titik plot pertama ini mempertegas komitmen Fadil untuk langsung terjun membela rakyat kecil melalui jalan lurus syariat, meskipun di bawah bayang-bayang ancaman pemboikotan izin oleh penguasa.

Lihat selengkapnya