Setelah Pesantren
Fadil mulai memasuki kehidupan masyarakat.
°˖✧✿✧˖°
Sinar keemasan mentari pagi berembus hangat menyiram pelataran stasiun kereta api Prabumulih, Sumatra Selatan. Suara derit roda besi yang beradu dengan rel pelan-pelan mereda seiring berhentinya rangkaian kereta yang membawa Fadil kembali ke tanah kelahirannya. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, menggembleng batin, dan melewati badai ujian diplomasi hingga hukum perdata di Pesantren Darul Hikmah, pemuda berpeci hitam dan berbusana koko putih bersih itu akhirnya menjejakkan kaki di tanah Prabumulih.
Di sampingnya, lima sahabat karib yang selalu setia mendampingi—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—turun seraya memikul tas sederhana. Langkah kaki Fadil melintasi pintu keluar stasiun dengan ketenangan jiwa yang terpancar jernih dari parasnya.
Paman Usman bersama sepupu-sepupu Fadil berdiri menyambut di luar area kedatangan dengan senyum merekah dan mata berbinar-binar penuh keharuan.
"Fadil! Kepulanganmu betul-betul membawa pendar kedamaian bagi kami di sini, Nak," pangkas Paman Usman seraya merengkuh tubuh Fadil dalam pelukan hangat.
Fadil membalas pelukan pamannya dengan kesantunan yang mendalam, lalu mencium jemari sang paman. "Alhamdulillah, Paman. Berkat doa Kakek, Paman, dan seluruh keluarga, Fadil bisa menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan di pesantren dengan selamat."
Fauzan dan Faris menjabat tangan Paman Usman penuh rasa hormat.
"Paman Usman," pangkas Fauzan santun. "Kepulangan Fadil kali ini bukan lagi sekadar kunjungan singkat seperti saat menghadapi mafia tanah lalu, melainkan untuk menetap dan memulai babak baru pengabdian."
Faris menambahkan seraya mengusap peluh di dahinya. "Benar, Paman. Masa-masa menimba ilmu secara teori di pondok telah usai. Sekarang adalah wujud nyata dari seluruh amalan tersebut."
Fadil menatap sudut-sudut Kota Prabumulih yang tampak makin sibuk dengan aktivitas perdagangan dan lalu lalang warga. Di balik hiruk-pikuk perkembangan kota, ia tahu ada dinamika sosial, ketimpangan ekonomi, dan persoalan hukum warga yang butuh sentuhan pencerahan.
Ghalib mendekati Fadil, menepuk pundaknya pelan. "Bagaimana rasanya kembali ke tengah-tengah masyarakat tempat engkau dibesarkan, Fadil?"
Fadil menghela napas panjang yang sejuk, meraba butir-butir tasbih kayu hitam di balik saku jasnya. "Ghalib, setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren Fadil kembali ke kota Prabumulih dengan rasa tanggung jawab yang jauh lebih besar. Ujian ilmu yang sesungguhnya berada di jalanan, di rumah-rumah warga, dan di tengah dinamika masyarakat ini."
"Apakah engkau sudah siap?" pangkas Rayyan dan Yafiq hampir bersamaan.
"Insya Allah," sahut Fadil mantap seraya tersenyum teduh. "Fadil mulai memasuki kehidupan masyarakat dengan niat pengabdian yang tulus, tanpa mengharapkan balasan duniawi sedikit pun."
°˖✧✿✧˖°
Langkah pertama Fadil sekembalinya ke rumah panggung keluarga besar di Prabumulih disambut hangat oleh Kakek Haji Baharuddin yang kini kondisinya makin sehat dan stabil. Namun, kehangatan reuni keluarga tersebut tidak berlangsung lama tanpa hadirnya persoalan nyata masyarakat.
Malam harinya, di selasar rumah panggung yang dihiasi lampu pijar temaram, belasan tokoh warga, ketua RT, serta perwakilan buruh tani karet Prabumulih datang berkumpul. Wajah-wajah mereka menyiratkan keputusasaan dan kecemasan yang amat dalam.
Seorang tokoh masyarakat senior bernama Pak Basri membuka pembicaraan dengan vokal bergetar.
"Fadil, Nak..." pangkas Pak Basri seraya menangkupkan kedua tangannya. "Kepulanganmu dari pesantren adalah jawaban atas doa-doa kami selama ini. Kota kita sedang mengalami goncangan sosial yang sangat berat."
Fadil membetulkan posisi duduknya yang bersila, menatap Pak Basri dengan penuh perhatian dan rasa empati. "Ada masalah apa yang sedang menimpa warga kita, Pak Basri? Katakanlah, jika ada ilmu dan kemampuan kami yang bisa membantu, kami akan berdiri bersama warga."
Pak Basri menghela napas berat, menyerahkan seberkas kertas pemberitahuan berkop surat lembaga keuangan dan perusahaan tambang lokal.
"Setelah kembalinya engkau ke sini," lanjut Pak Basri, "sebuah konsorsium pinjaman online ilegal dan pengembang pasar modern mencekik ratusan pedagang kecil serta buruh tani di Prabumulih. Mereka menagih bunga berlipat ganda dengan ancaman penyitaan rumah, dan mereka memanipulasi hukum daerah agar warga tidak bisa melawan!"
Faris meraih kertas tersebut dan memeriksanya dengan teliti. "Pola jebakan ini sangat identik dengan skema perbankan gelap yang pernah kita lawan dulu, Fadil!"
Fauzan mengepalkan tangannya. "Mereka memanfaatkan ketidakfahaman warga desa akan hukum nasional dan syariat untuk memeras sampai habis!"
Fadil menundukkan kepalanya, merenungi beban yang kini terhampar di hadapannya. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren Fadil kembali ke kota Prabumulih bukan untuk bersantai menikmati keberhasilan akademisnya, melainkan langsung dipertemukan dengan realitas kepedihan warga.
Fadil menatap Pak Basri dan para warga dengan pendar mata yang teduh namun memancarkan keteguhan luar biasa.
"Pak Basri dan Bapak-Bapak sekalian," pangkas Fadil dengan vokal jernih dan menenangkan. "Fadil mulai memasuki kehidupan masyarakat untuk menjadi pelindung bagi yang terzalimi. Kita tidak akan biarkan kezaliman pemerasan berbasis riba dan ancaman fisik ini merusak ketenteraman warga Prabumulih!"
Momen pertemuan dengan tokoh warga pada peristiwa pemicu ini menetapkan fokus pengabdian nyata Fadil pasca-pesantren untuk langsung terjun menyelesaikan akar masalah sosial di tanah kelahirannya.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan harinya, guna menindaklanjuti keluhan warga, Fadil bersama lima sahabatnya mendirikan posko pelayanan bantuan hukum dan keagamaan gratis di halaman pelataran rumah panggung Prabumulih.
Dalam waktu singkat, kabar kepulangan Fadil dan dibukanya posko bantuan tersebut menyebar cepat ke seluruh pelosok Kota Prabumulih. Puluhan pedagang kecil, ibu-ibu majelis taklim, dan buruh tani berdatangan mengantre secara tertib untuk berkonsultasi mengenai persoalan utang pinjaman gelap serta sengketa lahan pasar.
Fadil duduk beralaskan tikar pandan, menyapa setiap warga yang datang dengan senyuman ramah dan tutur kata yang amat santun.
Seorang ibu penjual kue pasar bernama Ibu Sumi melangkah mendekati Fadil seraya meneteskan air mata.
"Gus Fadil..." pangkas Ibu Sumi penuh keharuan. "Pinjaman awal saya hanya dua juta rupiah untuk modal jualan kue, tetapi dalam tiga bulan ditagih menjadi dua puluh juta rupiah! Rumah kontrakan saya diancam akan disegel hari ini jika tidak dibayar!"
Fadil menerima lembaran kuitansi pinjaman milik Ibu Sumi, mengamati pasal-pasal jebakan yang tertulis dengan huruf-huruf kecil.
"Ibu Sumi," pangkas Fadil dengan vokal yang sangat lembut. "Tenangkan hati Ibu. Menurut hukum syariat, penetapan bunga berlipat ganda seperti ini adalah riba jahiliah yang haram hukumnya. Dan menurut hukum perdata Indonesia, perjanjian yang mengandung unsur pemerasan dan penipuan adalah batal demi hukum."
Ghalib dengan sigap mencatat poin-poin hukum untuk menyusun surat perlawanan resmi. "Kami akan dampingi Ibu secara hukum, jadi Ibu tidak perlu takut lagi pada ancaman para penagih utang itu."
Ibu Sumi mengusap air matanya, mengangguk penuh lega. "Terima kasih, Gus Fadil... Terima kasih banyak..."
Namun, di tengah kesibukan posko bantuan rakyat tersebut, tiga unit mobil sedan hitam berhenti mendadak di pinggir jalan raya depan rumah panggung.