Pekerjaan Pertama
Ia mendapatkan pekerjaan.
°˖✧✿✧˖°
Sinar matahari pagi menembus celah-celah kaca jendela sebuah kafe kecil di sudut Kota Jakarta. Aroma biji kopi yang baru digiling berpadu dengan ketegangan tipis yang mengendap di meja paling pojok. Di sana, Fadil duduk bersedekah jemari di atas pangkuannya. Jas hitam sederhana yang dikenakannya tampak rapi meski agak lusuh di bagian siku. Jemari tangannya secara konstan memutar butir-butir tasbih kayu berwarna gelap dengan irama yang begitu tenang.
Di sekelilingnya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk dengan raut muka tegang. Mereka menatap layar telepon genggam Fadil yang tergeletak di tengah meja, menunggu surat elektronik balasan yang tak kunjung tiba.
"Fadil, kamu yakin firma hukum raksasa itu bakal melirik berkas lamaranmu?" tanya Fauzan membuka pembicaraan seraya mengaduk kencang cangkir kopinya.
Fadil mengulas senyum jernih, tatapannya amat teduh saat menjawab. "Fauzan, sahabatku, tugas kita hanyalah berusaha sebaik mungkin dan berdoa. Keputusannya adalah hak penuh Allah Swt."
"Tapi Fadil," sela Faris dengan vokal penuh kekhawatiran, "Firma Hukum Eksekutif milik Drs. Arisandi itu hanya menerima lulusan terbaik dari universitas luar negeri atau orang-orang yang punya jalur koneksi pejabat tinggi. Kita ini cuma lulusan daerah tanpa modal koneksi sama sekali di Jakarta."
"Benar kata Faris," timpal Ghalib seraya memajukan posisi duduknya. "Persaingannya sangat gila-gilaan. Ada ribuan pelamar yang memperebutkan satu posisi konsultan hukum junior di sana."
Fadil menggelengkan kepalanya perlahan, memutar tasbihnya satu demi satu. "Koneksi manusia bisa terputus, Faris, Ghalib. Namun, jika jalan ini memang direstui untuk kebaikan, tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang sanggup menghalanginya."
"Kami hanya takut kamu kecewa, Fadil," pangkas Rayyan dengan nada lembut. "Sudah puluhan lamaran yang kita sebar bulan ini, dan sejauh ini belum ada satu pun panggilan kerja yang pasti."
Yafiq yang sejak tadi diam melipat tangan ikut mengangguk. "Tepat sekali. Ibu kota ini sangat keras bagi orang jujur seperti kita. Tanpa uang pelicin atau relasi, sulit sekali mendapat pekerjaan pertama."
Fadil menatap kelima sahabatnya satu peran satu dengan pendar mata yang sangat jernih dan penuh keyakinan. "Pekerjaan pertama adalah pintu pembuka rezeki dari Sang Creator. Jika niat kita lurus untuk membela keadilan, Allah pasti berikan jalan."
Tepat saat kata-kata itu diucapkan, telepon genggam Fadil di atas meja berdering nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal bertuliskan pendaftaran utama Firma Hukum Eksekutif tertera di layarnya. Suasana meja seketika mendadak hening total.
Fadil menarik napas dalam-dalam, menekan tombol hijau, dan mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Selamat pagi, apakah betul ini dengan Saudara Fadil?" pangkas suara seorang wanita di balik telepon dengan intonasi yang amat profesional.
"Selamat pagi. Benar sekali, saya Fadil," pangkas Fadil dengan vokal yang sangat sopan, teratur, dan penuh wibawa.
"Kami dari Sekretariat Utama Firma Hukum Eksekutif ingin mengabarkan bahwa berkas serta analisis hukum yang Anda kirimkan telah ditinjau langsung oleh Direktur Utama kami, Bapak Drs. Arisandi. Beliau meminta Anda hadir untuk wawancara akhir sekaligus penandatanganan kontrak kerja pagi ini juga."
Mata kelima sahabat Fadil seketika membelalak tak percaya.
"Baik, terima kasih banyak atas kesempatan berharga ini. Saya akan segera hadir di kantor Bapak Arisandi," jawab Fadil dengan ketenangan jiwa yang luar biasa.
Ia mematikan sambungan telepon lalu menatap lima sahabatnya yang masih terpaku kaku.
"Bagaimana, Fadil? Apa kata mereka?" tanya Fauzan tidak sabar, memegang bahu Fadil.
Fadil tersenyum sangat tulus. "Panggilan wawancara akhir dan penandatanganan kontrak pagi ini."
"Subhanallah! Ini benar-benar keajaiban!" teriak Faris gembira seraya merangkul Fadil erat-erat.
"Ayo cepat kita berangkat sekarang! Jangan sampai kamu terlambat di hari pertamamu!" desak Ghalib penuh semangat.
Mereka pun bergegas menembus kemacetan Jakarta menuju gedung pencakar langit berlantai empat puluh yang menjadi markas utama Firma Hukum Eksekutif. Setibanya di sana, Fadil disambut langsung oleh sekretaris pribadi Arisandi dan diantar menuju ruangan direktur yang sangat megah berlantai marmer.
Di balik meja kayu jati yang anggun, duduk Drs. Arisandi, S.H., M.H.—seorang pengacara senior berpenampilan sangat elegan dengan kaca mata bermerek dan tatapan yang amat tajam.
"Selamat datang, Fadil," pangkas Arisandi seraya berdiri dan mengulurkan tangannya dengan ramah. "Silakan duduk."
"Terima kasih banyak, Bapak Arisandi yang saya hormati," pangkas Fadil santun, menjabat tangan seniornya itu dengan genggaman yang mantap namun penuh rasa hormat.
Arisandi membuka berkas analisis hukum milik Fadil di atas mejanya. "Saya sudah membaca analisis kasus lingkungan yang kamu lampirkan. Gagasanmu sangat tajam, berani, dan berlandaskan hukum syariah serta regulasi nasional yang sangat presisi. Saya belum pernah melihat tulisan sekomprehensif ini dari seorang pelamar muda."
"Semua itu semata-mata karena pertolongan Allah dan bimbingan guru-guru saya selama masa studi, Pak," pangkas Fadil dengan kerendahan hati yang amat dalam.
Arisandi tersenyum lebar, menyodorkan map tebal berisi dokumen perjanjian kerja di hadapan Fadil. "Saya tidak suka membuang waktu. Hari ini juga, saya resmi memutuskan untuk merekrutmu sebagai Konsultan Hukum Senior di firma ini dengan fasilitas dan gaji penuh."
Fadil menatap dokumen di depannya dengan rasa syukur yang membuncah di dalam dada. Ia mengambil pena, lalu menandatangani lembaran kerja tersebut dengan kemantapan hati. Ia mendapatkan pekerjaan.
°˖✧✿✧˖°
Penandatanganan dokumen perjanjian kerja itu menjadi peristiwa pemicu yang seketika mengubah jalan hidup Fadil dan kelima sahabatnya secara drastis. Keputusan Arisandi merekrut Fadil secara langsung tanpa melalui proses magang bertahun-tahun mengguncang seluruh jajaran internal firma hukum paling bergengsi di Jakarta tersebut.
"Selamat bergabung di Firma Hukum Eksekutif, Fadil," pangkas Arisandi seraya menepuk bahu Fadil dengan rasa bangga. "Mulai hari ini, ruangan kerja utama di lantai empat adalah milikmu."
"Terima kasih atas kepercayaan yang sangat besar ini, Pak Arisandi," pangkas Fadil dengan vokal yang tetap rendah hati dan penuh kesantunan. "Saya akan menjalankan amanah ini dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab."
Arisandi kemudian menatap lima sahabat Fadil yang berdiri menanti di luar ruangan transparan tersebut. "Siapa mereka yang mendampingimu sejak tadi di luar?"
"Mereka adalah sahabat-sahabat karib saya sejak masa kuliah, Pak—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq," pangkas Fadil menjelaskan. "Mereka memiliki keahlian luar biasa di bidang analisis data, riset lapangan, dan manajemen hukum."
Arisandi mengangguk-angguk terkesan. "Luar biasa. Seorang pemimpin yang baik selalu membawa tim terbaiknya. Hari ini juga, saya minta sekretaris membuatkan kontrak kerja untuk kelima sahabatmu sebagai tim analis riset pendampingmu di firma ini!"
Mendengar keputusan mendadak dari sang direktur utama, peristiwa pemicu ini menjadi pintu pembuka takdir yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka semua.
Fadil melangkah keluar ruangan dan menyampaikan kabar gembira itu kepada kelima sahabatnya.
"Fadil! Kamu serius?! Kita semua ditarik bekerja di firma raksasa ini?!" pangkas Fauzan dengan mata berbinar-binar tak percaya.
"Benar, Fauzan," pangkas Fadil jernih. "Pak Arisandi memberi kita semua kesempatan untuk berjuang bersama di sini."
"Masya Allah! Fadil mendapatkan kemudahan yang amat luar biasa di hari pertamanya!" seru Rayyan penuh rasa haru seraya memeluk sahabatnya itu.
"Ini bukan sekadar kemudahan biasa, ini adalah jalan terang yang dibukakan untuk kita semua," pangkas Yafiq dengan napas lega.
Namun, peristiwa pemicu ini tidak hanya membawa kegembiraan. Di ujung koridor lantai empat, beberapa senior dan mitra hukum firma menatap kedatangan Fadil dan timnya dengan pandangan mata yang dingin, penuh rasa iri, dan sarat akan kecurigaan.
"Siapa anak muda itu?" bisik seorang konsultan hukum senior bernama Hendra kepada rekannya. "Baru masuk hari pertama langsung dapat posisi senior dan membawa seluruh gengnya masuk ke firma ini. Ini sangat tidak wajar!"
"Arisandi pasti sudah gila memberi porsi besar pada anak kemarin sore tanpa latar belakang keluarga terpandang," balas rekannya dengan dengusan sinis.
Fadil yang melewati koridor tersebut menyadari tatapan-tatapan tidak bersahabat itu. Namun, ia hanya menundukkan kepala dengan santun seraya terus memutar butir tasbih kayu di balik saku jasnya, siap menghadapi segala tantangan yang menantinya di dalam perahu pekerjaan pertama ini.
°˖✧✿✧˖°
Kehidupan baru Fadil dan sahabat-sahabatnya di Firma Hukum Eksekutif berjalan dengan dinamika yang amat cepat. Sebagai titik plot pertama dalam perjalanan kariernya, Fadil langsung diuji dengan tugas berat yang diserahkan langsung oleh Arisandi dalam rapat pleno pertamanya bersama para jajaran direksi.
Ruang rapat utama berlantai empat puluh itu dipenuhi oleh belasan konsultan hukum senior berjas mahal. Di ujung meja, Arisandi memimpin jalannya diskusi dengan raut muka tegang.
"Kasus terbesar kita semester ini adalah sengketa lahan dan izin Amdal proyek infrastruktur energi yang melibatkan Konsorsium Internasional di wilayah Sumatra," pangkas Arisandi membuka rapat. "Masyarakat lokal menolak pembangunan karena menganggap ada manipulasi data lingkungan, sementara pihak konsorsium menuntut firma kita menyelesaikan sengketa ini secara hukum dalam waktu dua minggu."
Hendra, konsultan senior yang merasa tersaingi oleh kedatangan Fadil, langsung mengangkat tangannya.
"Pak Arisandi," pangkas Hendra dengan nada meremehkan, "Kasus ini sangat rumit dan penuh tekanan politik. Bukankah lebih baik kasus ini diserahkan kepada konsultan baru kita yang hebat ini? Kita ingin melihat sejauh mana kemampuan Fadil dalam menangani kasus berskala triliunan rupiah."