6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #107

Dunia Tidak Sesederhana Kitab

Dunia Tidak Sesederhana Kitab

Fadil menemukan berbagai persoalan di tempat kerja.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, aroma kopi menyengat bercampur pendingin udara berembun memenuhi ruang konsultasi Firma Hukum Eksekutif. Fadil duduk tegak di balik meja kayu jati berpelitur gelap. Tangannya memutar butir-butir tasbih kayu hitam dengan gerak konstan. Di hadapannya, enam map tebal berwarna merah tergeletak rapi. Setiap map mewakili satu pemuka masalah yang mengendalikan pilar hukum, bisnis, serta politik di ibu kota.

Di sekeliling meja, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—menatap deretan berkas itu dengan cemas. Mereka baru beberapa hari bekerja di firma milik Drs. Arisandi ini, tetapi kompleksitas perkara yang masuk sama sekali tidak mencerminkan teori-teori jernih yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah.

"Fadil, kamu yakin sanggup mempelajari seluruh tabiat enam pemuka masalah ini sekaligus?" tanya Fauzan seraya memajukan kursinya. "Mereka bukan penjahat jalanan biasa. Mereka punya kekuatan modal, jaringan elit, dan pengaruh media."

Fadil menatap Fauzan dengan pandangan mata yang sangat teduh dan tenang. "Fauzan, sahabatku, kitab-kitab hukum syariah dan regulasi positif memberikan kita kaidah dasar. Namun, untuk menegakkan keadilan, kita harus memetakan karakter orang-orang yang menjadi akar keruhan situasi ini. Kita perlu belajar memahami dinamika berpikir mereka secara utuh."

Faris mendengus pelan, mengetuk lembaran analisis di meja. "Tapi Fadil, realitas di lapangan ini jauh lebih rumit. Dunia tidak sesederhana tulisan teks kitab-kitab yang biasa kita baca saat diskusi santai."

"Sangat betul, Faris," balasa Fadil dengan vokal yang amat lembut dan teratur. "Kitab mengajarkan kepastian prinsip, sedangkan lapangan menguji kearifan kita dalam menghadapi kebatilan yang bertopeng kebaikan. Karena itulah kita harus membedah siapa saja enam tokoh pemicu persoalan di tempat kerja kita ini."

Ghalib membuka map pertama. "Pemuka masalah pertama adalah Drs. Arisandi sendiri, direktur utama kita. Dia bukan orang jahat sepenuhnya, tapi seluruh keputusannya diukur dari untung rugi finansial firma."

"Lalu pemuka masalah kedua," timpal Rayyan seraya menunjuk map kedua, "adalah Hendra, konsultan hukum senior yang selalu mencari celah memojokkan kita karena merasa posisinya terancam."

Yafiq menambahkan, "Pemuka masalah ketiga adalah Utomo, konglomerat pemilik Konsorsium Energi yang rela menyuap siapa saja. Pemuka masalah keempat adalah AKP Hendra, oknum aparat penegak hukum yang menjadi alat kekuasaan. Pemuka masalah kelima adalah Pak Haji Junaedi, pemilik aset yang mudah terintimidasi. Dan pemuka masalah keenam adalah para oknum birokrat di kementerian yang menjual stempel izin."

Fadil mengangguk perlahan, meraba permukaan lembaran kertas perkara tersebut dengan ketenangan batin yang dalam. "Enam pemuka masalah ini mewakili simpul-simpul godaan duniawi. Jika kita ingin meluruskan sengketa, kita harus memahami karakter, kelemahan, serta motif dasar mereka."

"Bagaimana cara kita memulainya, Fadil?" tanya Fauzan serius.

"Dengan mengamati, mendengar, dan tidak terburu-buru menghakimi," pangkas Fadil tegas namun santun. "Mari kita pelajari setiap langkah mereka tanpa kehilangan integritas diri."

°˖✧✿✧˖°

Penyelidikan mendalam yang dilakukan Fadil terhadap enam pemuka masalah tersebut seketika memicu pergolakan hebat di internal firma. Peristiwa pemicu pecah tatkala Fadil menolak rekomendasi tertutup yang disusun oleh Hendra atas perintah Arisandi untuk meloloskan audit hukum sebuah perusahaan tambang bermasalah.

Di dalam ruang kerja utama yang berdinding kaca tebal, Arisandi berdiri menatap Fadil dengan raut muka tegang. Hendra berdiri di sampingnya dengan senyum sinis yang mengembang.

"Fadil!" pangkas Arisandi dengan nada suara yang menekan. "Saya memberimu posisi konsultan bukan untuk mempertanyakan cara kerja senior-seniormu! Hendra sudah menyusun draf ini selama tiga bulan!"

Fadil berdiri dengan sikap sempurna, pandangannya tetap jernih dan santun. "Bapak Arisandi yang saya hormati, draf yang disusun Pak Hendra mengabaikan fakta bahwasanya perusahaan tambang tersebut sedang bersengketa dengan warga lokal dan merusak sumber air bersih. Jika saya menyetujuinya, kita sedang melanggarkan asas keadilan."

Hendra menyela dengan vokal tinggi dan penuh amarah. "Jangan membawa-bawa teori kitab suci dan norma moral di ruang rapat ini, Fadil! Klien membayar jasa kita untuk mengamankan posisi legal mereka, bukan untuk mendengarkan ceramah agama!"

"Pak Hendra," pangkas Fadil sangat teratur, "hukum yang kehilangan moralitas hanya akan menjadi alat penindasan. Saya sudah mempelajari pola interaksi enam pemuka masalah yang terlibat dalam lingkaran proyek ini. Bapak, Pak Arisandi, hingga para investor dari Konsorsium Energi—kalian semua hanya berpatokan pada kepastian angka, tetapi mengabaikan dampak kemanusiaan."

Arisandi menepuk meja jati dengan telapak tangannya. Brak!

"Fadil! Kamu harus sadar bahwa dunia bisnis ini tidak sesederhana kitab-kitab hukum yang kamu pelajari di bangku sekolah!" pangkas Arisandi keras. "Jika kamu terus menolak bekerja sama dengan sistem ini, seluruh fasilitas dan pekerjaanmu di firma ini berada dalam ancaman!"

Faris dan Fauzan yang menyaksikan perdebatan itu dari balik pintu kaca menahan napas mereka. Peristiwa pemicu ini secara resmi menempatkan Fadil langsung berhadapan dengan tembok tebal pragmatisme korporasi.

"Saya paham kekhawatiran Bapak," balas Fadil dengan ketenangan jiwa yang bulat. "Namun, saya tidak akan mengubah hasil analisis jujur ini. Saya siap menerima konsekuensi atas prinsip yang saya pegang."

"Baik!" gertak Arisandi gusar. "Selesaikan kasus sengketa ini dalam tiga hari bersama enam pihak bersangkutan! Jika kamu gagal merangkul dan menyelesaikan persoalan ini tanpa merugikan firma, kamu dan sahabat-sahabatmu dipastikan keluar dari gedung ini!"

°˖✧✿✧˖°

Tantangan keras dari Arisandi menjadi titik plot pertama yang memaksa Fadil terjun langsung menghadapi kerumitan lapangan. Ia tidak lagi sekadar membaca berkas di balik meja berpendingin udara, melainkan melangkah menembus lorong-lorong kelam interaksi para pemuka masalah di pusat kota Jakarta.

Siang itu, Fadil mengajak kelima sahabatnya berkumpul di warung kopi kecil dekat kantor untuk menyusun strategi penerjemahan karakter para pemuka masalah tersebut.

Faris meletakkan catatannya dengan cemas. "Fadil, ini benar-benar titik plot pertama yang sangat riskan. Enam pemuka masalah ini punya kepentingan yang bertolak belakang. Arisandi ingin keuntungan, Hendra ingin menjatuhkanmu, Utomo ingin izin cepat, AKP Hendra ingin uang amannya, Haji Junaedi takut rugi, dan birokrat ingin suap."

Fadil memutar butir tasbih kayu hitamnya dengan lembut. "Faris, sahabatku, setiap manusia memiliki titik lemah dan nurani yang terkunci. Tugas kita bukan melawan mereka dengan kekerasan, melainkan memahami jalan pikiran mereka agar kita bisa menawarkan solusi yang sah secara hukum positif dan jujur secara syariah."

"Tapi apakah mungkin menyatukan pikiran orang-orang licik seperti mereka?" tanya Ghalib ragu.

"Tidak ada yang mustahil jika kita memegang data yang sahih dan niat yang lurus," pangkas Fadil penuh kepastian. "Langkah pertama kita adalah menemui Pak Haji Junaedi, pemuka masalah dari kalangan pemilik lahan yang tertekan."

Sore harinya, Fadil dan timnya mendatangi kediaman Haji Junaedi di kawasan perkampungan pinggiran kota yang terancam digusur oleh proyek konsorsium.

Haji Junaedi menyambut mereka dengan wajah gelisah dan penuh kecurigaan. "Untuk apa lagi kalian datang?! Apakah kalian suruhan Pak Utomo atau Pak Arisandi yang mau memaksa saya menjual tanah ini dengan harga murah?!"

Fadil menundukkan kepala dengan santun, mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Pak Haji yang saya hormati, kami datang bukan sebagai utusan pengusaha, melainkan sebagai penasihat hukum yang ingin membantu Bapak mempertahankan hak atas tanah ini secara sah."

Haji Junaedi menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca. "Kalian anak-anak muda tidak mengerti. Dunia tidak sesederhana kitab yang kalian baca! Mereka bawa polisi, membawa preman, dan membawa surat-surat dari kementerian! Saya orang kecil, mana sanggup melawan mereka?"

"Pak Haji," pangkas Fadil dengan vokal yang amat jernih dan menenangkan, "kami memahami rasa takut Bapak. Namun, jika Bapak memberikan kepercayaan kepada kami untuk memeriksa kelengkapan sertifikat asli milik Bapak, kami akan membuktikan di hadapan hukum bahwa posisi Bapak sangat kuat."

Pertemuan pada titik plot pertama ini membuka mata Fadil bahwasanya ketakutan warga kecil merupakan salah satu pemicu utama yang dimanfaatkan oleh para pemuka masalah untuk melanggengkan praktek kecurangan.

°˖✧✿✧˖°

Namun, saat Fadil mulai melangkah membedah masalah satu per satu, gelombang hambatan dari pemuka masalah lainnya menghantam dengan sangat keras pada titik tekan 1. Hendra bersama oknum aparat, AKP Hendra, melancarkan gerakan cepat untuk menghentikan langkah Fadil.

Di sebuah restoran mewah di kawasan Senayan, Hendra menggelar pertemuan rahasia bersama Utomo dan AKP Hendra. Mereka membahas keberanian Fadil yang mulai mencampuri urusan tanah warga.

"Anak muda bernama Fadil itu mulai menjadi ancaman serius bagi proyek kita, Pak Utomo," pangkas Hendra seraya menyesap minumannya. "Dia memprovokasi Haji Junaedi untuk menolak ganti rugi murah."

Utomo mengetuk-ngetuk jarinya di meja. "Saya tidak mau tahu, Hendra! Proyek ini harus berjalan bulan depan! Gunakan cara apa saja untuk menghentikan anak itu!"

AKP Hendra menyunggingkan senyum licik. "Serahkan pada saya. Saya bisa mengatur penangkapan atau intimidasi lapangan agar anak muda itu sadar bahwa hukum di Jakarta berada di bawah kendali kita."

Tekanan nyata di titik tekan 1 pecah tatkala Fadil dan kelima sahabatnya kembali ke posko kerja mereka di malam hari. Tiba-tiba, dua mobil hitam tanpa pelat nomor berhenti di depan posko. Beberapa pria berbadan tegap keluar dan mendobrak masuk, merusak deretan rak berkas dan membanting meja!

Lihat selengkapnya