Godaan Pertama
Ia ditawari jalan pintas mendapatkan uang.
°˖✧✿✧˖°
Ruang kerja Fadil di lantai empat Firma Hukum Eksekutif tampak begitu tenang di tengah deru hujan deras yang mengguyur Jakarta. Cahaya lampu gantung bernuansa hangat memantul di atas meja kayu jati yang mengilap. Di atas meja tersebut, lima berkas perkara sengketa hukum tingkat tinggi terhampar rapi. Fadil duduk bersedekah jemari di atas pangkuan. Jemari tangannya memutar butir-butir tasbih kayu hitam dengan gerak yang konstan, lembut, dan teratur. Pendar matanya memancarkan kedamaian jiwa yang bulat.
Di sekelilingnya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk menyimak jalannya diskusi sore itu. Mereka baru saja menyelesaikan draf audit hukum untuk kasus sengketa lahan warga di Sumatra, sebuah kasus besar yang berhasil diselamatkan dari manipulasi korporasi.
"Fadil," pangkas Fauzan membuka pembicaraan seraya bersandar di kursi empuknya, "setelah kemenangan kita membongkar kecurangan data Amdal minggu lalu, nama baik tim kita benar-benar harum di mata direksi."
Fadil mengulas senyum jernih, tatapannya amat teduh saat menjawab. "Fauzan, sahabatku, pujian manusia itu seperti angin lalu. Yang paling penting adalah apakah langkah kita dicatat sebagai kebaikan atau justru menambah dosa di hadapan Sang Maha Kuasa."
"Tapi harus kita akui, Fadil," sela Faris dengan vokal penuh semangat, "kehadiran kita di firma ini membawa warna baru. Orang-orang yang dulu meremehkan kita dari universitas daerah sekarang mulai berbisik hormat kalau kita lewat di koridor kantor."
Ghalib menyilangkan tangannya di dada seraya terkekeh pelan. "Apalagi sekarang gaji bulanan kita sudah resmi masuk. Kehidupan finansial kita di Jakarta jauh lebih stabil dibanding masa-masa prihatin saat kita baru lulus kuliah dulu."
"Alhamdulillah," pangkas Rayyan penuh rasa syukur. "Ini semua tidak lepas dari keteguhan Fadil yang selalu mengingatkan kita untuk menjaga niat."
Yafiq yang duduk di dekat jendela kaca ikut menimpali. "Namun kita tidak boleh lengah. Makin tinggi posisi kita, pasti makin besar pula angin godaan yang akan menerpa."
Fadil mengangguk perlahan, meraba permukaan tasbih kayunya satu demi satu. "Kata-kata Yafiq sangat betul. Dunia kerja di ibu kota ini sarat akan ujian kemewahan. Saat kita merasa aman, di situlah biasanya celah godaan dimasukkan oleh orang-orang yang tidak menyukai kejujuran."
Tepat saat Fadil menyampaikan pesan tersebut, pintu ruang kerjanya diketuk tiga kali dengan ketukan yang amat halus dan teratur.
"Silakan masuk," pangkas Fadil dengan suara yang santun dan berwibawa.
Pintu terdorong terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah melangkah masuk. Wajahnya dihiasi senyum manis yang dipaksakan, sementara tangannya menggenggam sebuah tas kulit eksklusif berwarna hitam pekat. Pria itu adalah Drs. Gunawan, S.H., M.H., seorang pengacara senior berpengaruh yang menjadi mitra bisnis utama dari berbagai perusahaan minyak raksasa.
"Selamat sore, Adik-Adik sekalian," pangkas Gunawan dengan vokal yang ramah namun menyembunyikan keangkuhan mendalam. "Apakah Saya mengganggu diskusi penting Konsultan Hukum Muda favorit firma ini?"
Fadil berdiri dari kursinya, membungkuk santun seraya menyalami Gunawan dengan genggaman yang mantap dan penuh rasa hormat. "Selamat sore, Bapak Gunawan yang kami hormati. Sama sekali tidak mengganggu. Mari silakan duduk, Pak."
Gunawan meletakkan tas kulit hitamnya di atas meja, lalu mendaratkan tubuhnya di kursi tamu yang empuk. Matanya menatap Fadil dari atas ke bawah dengan cermat, seolah sedang menilai sebuah komoditas mahal.
"Fadil," pangkas Gunawan langsung pada inti kedatangannya seraya memajukan tubuh. "Saya datang kemari secara pribadi, tanpa sepengetahuan Pak Arisandi atau direksi lainnya. Saya membawa penawaran istimewa yang hanya diberikan kepada orang-orang terpilih di dunia hukum Jakarta."
Fadil kembali duduk di tempatnya, memutar tasbih kayu hitamnya dengan ketenangan yang tidak terganggu. "Penawaran seperti apa yang Bapak maksudkan?"
Gunawan membuka sedikit ritsleting tas kulitnya, memperlihatkan tumpukan lembaran cek bernilai ratusan miliar rupiah dan sertifikat kepemilikan saham di sebuah korporasi energi multinasional.
"Ini adalah kesempatan emas," pangkas Gunawan dengan suara berbisik yang amat memikat. "Saya meminta kamu untuk sedikit melonggarkan analisis hukum dalam berkas sengketa kilang minyak di Kalimantan yang sedang kamu pegang. Cukup hapus tiga klausul pasal mengenai kewajiban ganti rugi pencemaran lingkungan, dan semua ini langsung berpindah tangan kepadamu."
Mata kelima sahabat Fadil seketika membelalak tak percaya mendengar tawaran fantastis tersebut.
Gunawan tersenyum makin lebar, menyodorkan sebuah lembaran perjanjian rahasia ke hadapan Fadil. "Kamu tidak perlu bekerja keras seumur hidupmu di firma ini, Fadil. Dengan satu coretan penamu malam ini, kamu dan kelima sahabatmu akan menjadi jutawan baru di kota ini. Ia ditawari jalan pintas mendapatkan uang."
°˖✧✿✧˖°
Tawaran terbuka dari Gunawan tersebut menjadi peristiwa pemicu yang seketika menguji fondasi iman dan integritas Fadil di tempat kerjanya. Ruang kerja berpendingin udara itu mendadak terasa begitu memikat sekaligus mencekam. Lembaran cek dan sertifikat saham di atas meja menjadi cermin godaan pertama yang paling nyata sejak Fadil menapakkan kaki di ibu kota.
"Bapak Gunawan yang saya hormati," pangkas Fadil membuka suara dengan intonasi yang amat santun, jernih, dan teratur tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. "Uang ratusan miliar dan saham ini adalah angka yang sangat fantastis di mata manusia."
Gunawan tertawa kecil, menepuk lututnya. "Tentu saja, Fadil! Ini jalan pintas paling cepat untuk mengubah nasibmu! Kamu anak muda dari daerah, untuk apa berpura-pura idealis jika kemewahan sudah di depan mata?"
Fadil menggelengkan kepalanya secara perlahan, jemarinya terus mengusap butir-butir tasbih kayu hitam dengan irama yang konsisten.
"Bapak," pangkas Fadil lembut namun sarat akan ketegasan moral, "jalan pintas yang Bapak tawarkan memang mampu menjanjikan kekayaan instan di dunia. Namun, penghapusan tiga klausul tersebut akan mengorbankan hak-hak hidup ratusan nelayan dan petani yang air tanahnya tercemar oleh limbah minyak. Saya tidak bisa menjual agama dan nurani saya demi kemewahan semu ini."
Raut wajah Gunawan seketika berubah. Senyum manisnya melenyap, digantikan oleh tatapan mata yang dingin dan menusuk.
"Fadil," pangkas Gunawan dengan suara yang mendadak berat dan penuh ancaman. "Jangan bodoh! Di dunia hukum korporasi Jakarta, tidak ada orang yang menolak uang sebesar ini! Jika kamu menolak kerja sama ini, kamu bukan hanya menolak uang, tetapi kamu sedang menantang seluruh jaringan pengusaha minyak yang berdiri di belakang saya!"
Faris melangkah maju menengahi dari samping meja. "Pak Gunawan, keputusan Fadil adalah keputusan tim kami. Kami tidak menerima cara-cara suap seperti ini dalam bekerja."
"Diam kamu, Faris!" bentak Gunawan seraya menggebok meja kayu jati dengan telapak tangannya. Brak!
"Kalian semua cuma anak-anak baru yang tidak tahu bagaimana hukum bekerja!" gertak Gunawan gusar. "Uang ini adalah bentuk kompromi profesional! Jika kamu menolak draf ini, Fadil, saya pastikan namamu akan diblacklist dari seluruh firma hukum di Indonesia!"
Fadil menatap Gunawan dengan kepasrahan dan ketenangan jiwa yang amat bulat. Peristiwa pemicu ini secara tegas menarik garis pemisah antara idealisme Fadil dengan godaan kemewahan haram yang disodorkan oleh elit korporasi.
"Bapak Gunawan," pangkas Fadil dengan wibawa yang luar biasa, "rezeki saya dijamin oleh Allah Swt, bukan oleh persetujuan Bapak atau jaringan pengusaha mana pun. Silakan bawa kembali uang dan sertifikat ini dari meja saya."
Gunawan berdiri dengan napas memburu karena marah. Ia menarik tas kulitnya secara kasar lalu menunjuk muka Fadil dengan jarinya yang gemetar.
"Kamu akan menyesali keputusan sok sucimu ini, Fadil!" ancam Gunawan dengan gigi tergetar. "Godaan pertama ini baru permulaan! Lihat saja bagaimana kekuasaan uang akan menghancurkanmu sampai tidak tersisa!"
Gunawan membanting pintu ruang kerja Fadil hingga bergetar hebat, meninggalkan keheningan yang amat tegang di dalam ruangan.
°˖✧✿✧˖°
Penolakan tegas Fadil atas godaan jalan pintas tersebut menjadi titik plot pertama yang menggerakkan rantai konflik sistematis terhadap dirinya. Gunawan yang merasa dihina oleh seorang konsultan muda segera bergerak memanfaatkan seluruh pengaruh politik dan finansialnya untuk membalas dendam.
Hanya dalam waktu dua puluh empat jam setelah peristiwa pemicu tersebut, dampak balik dari penolakan godaan pertama mulai merusak kehidupan pribadi Fadil dan kelima sahabatnya.
Pagi harinya, saat Fadil baru saja menginjakan kaki di lobi utama kantor, beberapa rekan kerja dari divisi lain menatapnya dengan bisik-bisik yang mencurigakan.
Fauzan mendekati Fadil dengan raut wajah yang amat tegang. "Fadil, ada masalah besar! Berita bohong tentangmu mulai disebarkan di forum internal firma!"
"Berita bohong seperti apa, Fauzan?" tanya Fadil dengan vokal jernih tanpa kepanikan.
"Seseorang menyebarkan rumor bahwa kamu meminta uang komisi ilegal sebesar lima puluh miliar rupiah kepada pihak Konsorsium Energi Kalimantan!" pangkas Faris yang ikut bergabung di koridor lantai empat. "Mereka memutarbalikkan fakta seolah-olah kamu menolak berkas Gunawan karena uang suapnya kurang besar!"
Fadil menarik napas dalam-dalam, memutar tasbih kayu di dalam saku jasnya. "Faris, fitnah adalah ujian bagi kesabaran kita. Jika kita tidak melakukan kejahatan tersebut, tidak ada yang perlu kita takuti."
Namun, serangan pada titik plot pertama ini tidak berhenti pada rumor semata. Drs. Arisandi memanggil Fadil ke ruangan direktur dengan wajah yang sangat kecewa dan muram.
Arisandi duduk di balik meja kerjanya, memegang berkas laporan keluhan dari Gunawan.
"Fadil," pangkas Arisandi dengan vokal yang berat. "Pak Gunawan secara resmi melaporkan kepadamu atas tuduhan pemerasan dan pemerasan profesional terhadap klien besar kita. Beliau mengancam akan menarik seluruh aset investasinya dari firma ini jika kamu tidak dicopot dari berkas sengketa minyak Kalimantan!"
Fadil menatap pimpinannya dengan kesantunan yang amat dalam. "Pak Arisandi yang saya hormati, laporan Pak Gunawan adalah fitnah yang direkayasa. Beliau sendiri yang datang ke ruangan saya kemarin sore untuk menawarkan jalan pintas berupa uang ratusan miliar agar saya menghapus klausul kewajiban ganti rugi lingkungan."
Arisandi memegang pelipisnya yang tegang. "Fadil! Kamu harus realistis! Gunawan adalah penyokong finansial utama firma kita! Di dunia nyata ini, godaan uang dan kompromi adalah hal yang lumrah dalam bisnis! Mengapa kamu harus begitu keras kepala sampai mengancam kelangsungan firma kita?!"
"Pak Arisandi," pangkas Fadil dengan keteguhan batin yang jernih, "kompromi atas kejahatan lingkungan bukanlah keahlian hukum, melainkan pengkhianatan terhadap rakyat kecil. Saya siap melepaskan jabatan ini jika Bapak meminta saya menyetujui kebohongan tersebut."
Arisandi terdiam kaku, terpaku menatap kejujuran yang terpancar mutlak dari mata Fadil. Titik plot pertama ini secara resmi menggeser posisi Fadil dari seorang konsultan kebanggaan menjadi sosok terisolasi yang ditekan dari segala arah oleh jajaran direksi dan klien kaya.