6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #109

Menolak yang Haram

Fadil mempertahankan prinsipnya.

°˖✧✿✧˖°

Rintik hujan sore hari membasahi kaca jendela kantor Firma Hukum Eksekutif di kawasan elit Jakarta. Di dalam ruang kerja berpendingin udara yang harum aroma kayu cendana, Fadil duduk tenang di balik meja kayunya. Jemari tangannya secara teratur mengusap butir-butir tasbih kayu hitam dengan gerakan yang sangat lembut. Di hadapannya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk dengan raut muka tegang.

Ancaman serta tawaran raksasa yang datang silih berganti dari para penguasa modal tidak pernah benar-benar berhenti. Hari ini, sebuah berkas kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah dari konsorsium industri multinasional kembali disodorkan di atas meja Fadil.

"Fadil," pangkas Fauzan membuka pembicaraan seraya menggeser dokumen tebal bertinta emas itu. "Klien kali ini adalah konsorsium raksasa. Mereka mau membayar jasa konsultasi kita sepuluh kali lipat dari tarif normal. Tapi syarat mereka sangat berat: kita harus meloloskan izin pembuangan limbah yang jelas-jelas melanggar aturan lingkungan."

Fadil menatap berkas tersebut dengan pandangan mata yang amat jernih dan teduh, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Fauzan, sahabatku," pangkas Fadil dengan intonasi yang amat lembut dan teratur. "Sebanyak apa pun uang yang mereka tawarkan, jika caranya melanggar syariat dan merugikan rakyat kecil, maka uang itu adalah harta haram. Kita tidak boleh menyentuhnya sedikit pun."

Faris menyela seraya menyandarkan tubuhnya, tatapannya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Fadil, jika kita menolak berkas ini, pihak jajaran direksi dan pak Arisandi akan sangat marah. Ini adalah ujian prinsip terbesar kita setelah semua rintangan yang kita lalui."

"Benar kata Faris," timpal Ghalib dengan nada cemas. "Dunia bisnis di ibu kota ini selalu menuntut kompromi. Banyak orang bilang, sedikit gesekan pada aturan adalah hal yang lumrah demi kelangsungan pekerjaan."

Fadil mengulas senyum jernih, memutar butir tasbihnya satu demi satu dengan kepasrahan yang bulat.

"Ghalib, Faris," pangkas Fadil mantap. "Kompromi pada kebatilan adalah pintu pertama menuju kehancuran iman. Kita datang ke kota ini bukan untuk menumpuk harta dengan cara yang kotor, melainkan untuk menegakkan keadilan yang diridhai Sang Maha Pencipta."

Rayyan dan Yafiq saling berpandangan, lalu mengangguk setuju dengan kepasrahan yang penuh.

"Kami bersamamu, Fadil," pangkas Rayyan dengan vokal penuh keyakinan. "Kami tidak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian."

"Tepat sekali," pangkas Yafiq. "Lebih baik kita makan secukupnya dari hasil yang halal daripada bergelimang kemewahan dari jalan yang haram."

Fadil menatap kelima sahabatnya dengan pendar mata yang sangat hangat dan sarat akan keharuan. Ia tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya sebentar lagi akan mengguncang posisi mereka di firma hukum mewah tersebut.

Tepat pada saat itu, pintu ruang kerja Fadil terdorong terbuka secara kasar. Seorang pria berjas mahal dengan raut muka penuh ketegangan melangkah masuk. Ia adalah Drs. Arisandi, Direktur Utama Firma Hukum Eksekutif.

"Fadil!" pangkas Arisandi dengan vokal keras dan menekan. "Saya mendengar kamu berniat menolak draf perjanjian dari Konsorsium Energi Internasional! Apakah kabar itu benar?!"

Fadil berdiri santun dari kursinya, menyalami Arisandi dengan rasa hormat yang mendalam. "Selamat sore, Pak Arisandi yang saya hormati. Kabar itu benar, Pak. Saya menolak menandatangani persetujuan draf tersebut."

"Kamu sudah gila, Fadil?!" bentak Arisandi dengan mata melotot. "Itu adalah proyek paling bernilai tahun ini! Kamu tidak punya hak untuk membatalkannya!"

Fadil menatap Arisandi dengan ketenangan jiwa yang luar biasa, siap mempertahankan prinsip hidupnya dari segala bentuk tekanan.

°˖✧✿✧˖°

Gebrakan tangan Arisandi di atas meja kerja kayu jati bergaung keras, menjadi peristiwa pemicu yang seketika meledakkan ketegangan di lantai empat kantor tersebut.

"Fadil! Dengarkan saya baik-baik!" gertak Arisandi dengan wajah merah padam karena amarah. "Firma ini membesarkan namamu! Kamu mendapatkan posisi terpandang di sini karena kepercayaan saya! Jika kamu berani menolak berkas ini, kamu sedang menghancurkan hubungan baik firma kita dengan para pengusaha dan investor tertinggi di negeri ini!"

Fadil menundukkan kepalanya sejenak dengan penuh kesantunan, lalu menatap kembali pimpinannya dengan pendar mata yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

"Pak Arisandi yang sangat saya hormati," pangkas Fadil dengan intonasi yang amat teratur dan jernih. "Saya sangat berterima kasih atas seluruh kesempatan dan kepercayaan yang Bapak berikan selama ini. Namun, rekomendasi dalam draf ini mengandung manipulasi data lingkungan hidup yang akan mencemari sumber air lima ribu warga lokal. Menandatanganinya berarti saya ikut serta dalam tindakan kejahatan yang haram secara syariat dan moralitas."

"Itu urusan bisnis, bukan urusan agama!" bentak Arisandi makin murka. "Di dunia korporasi, kita mencari keuntungan! Soal dampak lingkungan, itu tanggung jawab perusahaan pemrakarsa, bukan tugasmu untuk menjadi pahlawan kesucian di sini!"

Hendra, konsultan senior yang berdiri di dekat pintu, ikut menyela dengan senyum sinisnya. "Pak Arisandi, sudah saya katakan sejak awal, anak muda ini terlalu naif untuk dunia kerja Jakarta. Dia tidak sanggup membedakan antara tugas profesional dengan dogma pribadi!"

Faris melangkah maju membela Fadil. "Pak Hendra! Penolakan Fadil berlandaskan pada kode etik profesi dan kepatuhan terhadap keselamatan warga! Ini bukan sekadar dogma pribadi!"

"Diam kamu, Faris!" pangkas Hendra kasar. "Kalian semua cuma menumpang hidup di firma ini!"

Arisandi menyodorkan selembar pena emas tepat ke hadapan wajah Fadil.

"Fadil, ini perintah terakhir saya sebagai pimpinan tertinggi di firma ini!" pangkas Arisandi dengan vokal yang amat dingin dan mengancam. "Tandatangani berkas ini sekarang juga, atau kamu dan seluruh sahabatmu akan saya lempar keluar dari gedung ini dalam keadaan hancur secara profesional!"

Ruangan seketika mendadak hening mencengkeram. Peristiwa pemicu ini memaksa Fadil berdiri tepat di persimpangan jalan paling krusial dalam kariernya: tunduk pada perintah haram demi mempertahankan posisi, atau menolak yang haram walau harus mengorbankan seluruh mata pencahariannya.

Fadil memutar butir tasbih kayu di dalam sakunya perlahan, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Arisandi dengan keteguhan batin yang bulat. Fadil mempertahankan prinsipnya.

"Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Arisandi," pangkas Fadil santun dan tegas. "Saya tidak akan pernah menandatangani dokumen yang berisi keharaman dan kedzaliman ini."

°˖✧✿✧˖°

Keputusan bulat Fadil menolak perintah haram sang direktur menjadi titik plot pertama yang mengakhiri masa-masa tenangnya di Firma Hukum Eksekutif. Arisandi yang merasa harga dirinya diinjak-injak langsung mengambil tindakan drastis untuk melumpuhkan posisi Fadil dan timnya.

"Keputusanmu sangat bodoh, Fadil!" bentak Arisandi seraya menarik kembali pena emasnya dengan kasar. "Mulai detik ini, seluruh wewenangmu sebagai konsultan senior dicopot! Seluruh aksesmu terhadap berkas-berkas utama firma dibekukan total!"

Fadil tidak menunjukkan raut rasa takut atau penyesalan. Ia membungkuk santun. "Saya menerima keputusan Bapak dengan lapang dada."

Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq seketika melangkah maju, berdiri sejajar di samping Fadil.

"Pak Arisandi," pangkas Fauzan mantap. "Jika Fadil dicopot hanya karena ia mempertahankan kejujuran dan prinsip agama, maka kami berlima juga mengundurkan diri detik ini juga dari firma Anda!"

Arisandi tertawa sinis, menatap enam pemuda di hadapannya dengan tatapan meremehkan. "Silakan! Kalian pikir kalian bisa bertahan hidup di kerasnya Jakarta tanpa sokongan nama besar firma saya?! Dalam seminggu, kalian akan mengemis kembali ke ruangan ini!"

Fadil menatap sahabat-sahabatnya dengan keharuan yang mendalam, lalu mengangguk pelan. "Mari kita kemasi barang-barang kita, Sahabatku. Rezeki Allah sangat luas, tidak terbatas di dalam gedung ini."

Titik plot pertama ini menandai babak baru perjuangan Fadil. Ia dan kelima sahabatnya secara resmi mengemas barang-barang pribadi mereka dari ruangan kerja mewah di lantai empat, melangkah keluar melewati lorong kantor di bawah tatapan kasihan dan ejekan dari rekan-rekan kerja yang memilih aman.

Saat melintasi pintu kaca utama gedung perkantoran, gerimis tipis mengguyur jalanan pusat kota Jakarta. Faris menatap tas berkas di tangannya dengan helaan napas panjang.

"Fadil," pangkas Faris tenang namun gusar. "Hari ini kita resmi kehilangan pekerjaan, fasilitas mewah, dan gaji besar. Kita benar-benar kembali ke titik nol di kota besar ini."

Fadil mengulas senyum jernih, memutar tasbih kayunya seraya menatap langit sore yang tertutup kabut.

"Faris, sahabatku," pangkas Faris dengan vokal yang amat menenangkan. "Pekerjaan dan jabatan adalah fasilitas duniawi yang bisa hilang dalam sekejap. Namun, saat kita menolak yang haram demi menjaga keridhaan Allah, ketahuilah bahwasanya Allah sedang menyiapkan pintu rezeki yang jauh lebih bersih dan mulia untuk kita semua."

Lihat selengkapnya