6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #110

Kehilangan Pekerjaan

Kehilangan Pekerjaan

Keputusannya membuat ia kehilangan pekerjaan.

°˖✧✿✧˖°

Gerimis tipis mengguyur kaca jendela lantai empat gedung perkantoran mewah di pusat Kota Jakarta. Di dalam ruangan berpendingin udara yang hening dan beraroma kopi mahalan, Fadil berdiri menatap hamparan gedung pencakar langit yang tertutup kabut tipis. Jas hitamnya terpasang rapi, namun jemarinya di balik saku celana mengusap butir-butir tasbih kayu hitam dengan irama yang konsisten dan lembut.

Di belakang meja kerja kayu jati yang megah, duduk seorang Direktur Utama Firma Hukum Eksekutif—Drs. Arisandi, S.H., M.H.—seorang pria paruh baya berkaca-minta dengan setelan mahal dan tatapan dingin.

Di deretan kursi tamu, lima sahabat karib Fadil—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk menyimak dengan cemas. Mereka telah mendampingi Fadil sejak hari pertama ia diterima bekerja sebagai konsultan hukum senior di firma raksasa tersebut.

"Fadil," pangkas Arisandi membuka pembicaraan dengan vokal yang berat dan tegas. "Klien terbesar kita, Konsorsium Energi Internasional, memprotes keras draf analisis hukum yang kamu serahkan pagi tadi. Kamu menolak menandatangani surat rekomendasi amandemen amdal untuk proyek bendungan mereka di kawasan hutan lindung."

Fadil berbalik perlahan, menatap pimpinannya dengan pendar mata yang sangat jernih dan tenang.

"Bapak Arisandi yang saya hormati," pangkas Fadil dengan intonasi yang amat santun dan teratur. "Dalam draf tersebut, ditemukan indikasi manipulasi data dampaknya terhadap lima ribu jiwa warga lokal dan potensi pencemaran sumber air bersih. Saya tidak bisa menandatangani dokumen yang merugikan rakyat demi memuluskan izin proyek tersebut."

Arisandi memajukan tubuhnya, menepuk meja pelan. "Fadil! Firma kita dibayar puluhan miliar untuk meloloskan proyek itu! Tugasmu adalah mencari celah hukum agar mereka aman secara legal, bukan berakting sebagai hakim moral!"

Faris menyela dengan santun dari tempat duduknya. "Pak Arisandi, penolakan Fadil berlandaskan pada kode etik profesi dan kepatuhan terhadap aturan lingkungan hidup yang berlaku."

"Jangan mengajari saya soal kode etik, Faris!" bentak Arisandi gusar. "Dunia industri tidak berjalan dengan teori idealis kalian!"

Arisandi kemudian menyodorkan sebuah pena emas dan lembar persetujuan amdal ke hadapan Fadil.

"Fadil, ini kesempatan terakhirmu," pangkas Arisandi menekan. "Tandatangani dokumen ini sekarang, atau karier mahamu di firma ini selesai hari ini juga!"

Fadil menatap dokumen tersebut, lalu menatap Arisandi dengan kepasrahan dan keteguhan batin yang bulat. Fadil membuat keputusan yang mengejutkan seluruh ruangan. Ia meletakkan pena emas itu kembali ke meja tanpa menyentuhnya.

"Saya menolak menandatanganinya, Pak," pangkas Fadil tegas dan teduh.

Arisandi melotot tak percaya. "Kamu sadar konsekuensinya? Keputusannya membuat ia kehilangan pekerjaan!"

°˖✧✿✧˖°

Gebrakan tangan Arisandi di atas meja kayu jati memecah keheningan ruangan. Suara benturan itu menjadi peristiwa pemicu yang seketika mengakhiri masa depan karier profesional Fadil di firma hukum papan atas tersebut.

"Keputusanmu sangat bodoh, Fadil!" bentak Arisandi dengan wajah merah padam. "Mulai detik ini, kamu resmi dipecat dari Firma Hukum Eksekutif! Kemasi barang-barangmu dan tinggalkan gedung ini sebelum petang!"

Fadil menundukkan kepalanya santun, sama sekali tidak memancarkan penyesalan atau rasa takut.

"Terima kasih atas kesempatan yang pernah Bapak berikan selama ini," pangkas Fadil dengan vokal yang begitu jernih dan tenang. "Saya menerima keputusan Pemutusan Hubungan Kerja ini dengan lapang dada."

Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq seketika berdiri dari kursi mereka.

"Pak Arisandi," pangkas Fauzan mantap. "Jika Fadil dikeluarkan hanya karena ia mempertahankan kejujuran, maka kami berlima juga mengundurkan diri detik ini juga dari firma Anda!"

Arisandi tertawa sinis. "Silakan! Kalian semua cuma anak-anak muda idealis yang tidak akan bisa bertahan seminggu pun di kerasnya Jakarta tanpa sokongan nama besar firma saya!"

Fadil menatap lima sahabatnya dengan keharuan mendalam, lalu melangkah keluar dari ruangan direktur diikuti oleh para sahabatnya.

Pemecatan dramatis pada peristiwa pemicu ini secara resmi memutuskan ikatan Fadil dari dunia kerja formal dan membawanya kembali ke titik nol di tengah riuk-pikuk ibu kota.

Saat melangkah melintasi lorong kantor untuk mengambil barang-barang pribadinya, puluhan rekan kerja menatap Fadil dengan tatapan kasihan dan heran.

"Fadil," bisik seorang rekan sejawat di dekat kubikal. "Kenapa kamu sangat nekad? Mengorbankan gaji ratusan juta hanya demi mempertahankan idealisme?"

Fadil tersenyum jernih seraya memasukkan bukunya ke dalam tas. "Rezeki datangnya dari Allah, bukan dari penandatanganan dokumen yang mengorbankan masyarakat."

°˖✧✿✧˖°

Fadil dan lima sahabatnya keluar dari gedung pencakar langit tempat mereka selama ini bekerja. Gerimis yang membasahi jalanan Jakarta menambah keheningan di antara mereka tatkala berdiri di pinggir trotoar.

Faris menatap gedung megah di belakang mereka dengan helaan napas panjang. "Fadil, keputusannya membuat ia kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan ekonomi kita di Jakarta. Sekarang kita betul-betul tidak punya kantor dan tidak punya gaji bulanan lagi."

Fadil memutar butir tasbih kayu hitamnya dengan lembut, menatap hiruk-pikuk lalu lintas ibu kota dengan kedamaian jiwa yang bulat.

"Faris, sahabatku," pangkas Fadil dengan intonasi yang amat menenangkan. "Pekerjaan adalah sarana, sedangkan rezeki adalah kepastian dari Sang Maha Pencipta. Ketika kita kehilangan pekerjaan karena mempertahankan prinsip agama dan keadilan, Allah sedang menyiapkan pintu pengabdian yang jauh lebih mulia."

Ghalib mengangguk setuju. "Fadil benar. Kita tidak boleh meratapi pemecatan ini. Pertanyaannya sekarang, ke mana langkah kita selanjutnya?"

"Kita kembali ke kontrakan sederhana kita di kawasan Tebet," pangkas Fadil mantap. "Kita jadikan ruang tamu kontrakan itu sebagai posko bantuan hukum rakyat. Kita bekerja langsung untuk masyarakat yang membutuhkan, tanpa terikat oleh kepentingan korporasi."

Rayyan dan Yafiq tersenyum lebar. "Keputusan yang sangat tepat, Fadil! Mari kita mulai dari awal!"

Malam harinya, di dalam kontrakan petak yang sederhana di Tebet, Fadil dan sahabat-sahabatnya membersihkan ruang tamu dan membentang tikar. Sebuah papan nama kecil bertuliskan Posko Bantuan Hukum dan Konsultasi Syariah Mandiri dipasang di pintu depan.

Titik plot pertama ini menandai transformasi hidup Fadil dari seorang konsultan hukum elit berbayar tinggi menjadi pejuang keadilan rakyat jelata yang mandiri dan berdikari.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya