6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #111

Kembali ke Titik Nol

Kembali ke Titik Nol

Fadil kembali mengalami kesulitan.

°˖✧✿✧˖°

Rintik hujan malam membasahi pelataran tanah kering di depan pondok pesantren kecil di pinggiran desa. Di dalam ruangan sempit beratap seng yang berbau kayu basah, Fadil duduk bersila di atas tikar pandan yang mulai terkoyak di beberapa bagian. Jemari tangannya mengusap butir-butir tasbih kayu hitam dengan ritme yang teratur dan tenang. Di sekelilingnya, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk mengelilinginya dengan wajah layu, letih, dan ditutupi kabut kecemasan yang pekat.

Setelah cobaan besar di perbatasan dan berbagai tekanan yang melelahkan, kini mereka terdampar kembali di tempat yang terasing dari riuk rendah kemewahan. Tidak ada lagi gedung pencakar langit, tidak ada fasilitas konsultan mewah, dan tidak ada panggung kehormatan.

"Fadil," pangkas Fauzan memecah keheningan malam seraya meletakkan buku catatan kas mereka yang lusuh. "Sisa tabungan kita benar-benar habis. Hasil usaha swadaya terakhir hanya cukup untuk membeli beras dan garam selama tiga hari ke depan. Kita benar-benar kembali ke titik nol."

Fadil menghentikan geseran tasbihnya sejenak, lalu mengangkat pandangan matanya yang jernih dan teduh.

"Fauzan, sahabatku," pangkas Fadil dengan intonasi lembut dan tenang. "Titik nol bukanlah tempat kehancuran, melainkan pondasi tempat kita menguji kembali kejujuran niat di hadapan Allah."

Faris menyandarkan punggungnya pada dinding kayu yang lapuk, menghela napas berat. "Tapi Fadil, kondisi kali ini jauh lebih menekan. Pihak-pihak yang tidak senang dengan pergerakan kita terus mengunci akses usaha rakyat yang kita bangun. Kita tidak punya modal, tidak punya jaringan bisnis, dan tempat tinggal ini pun hanya menumpang."

"Benar kata Faris," timpal Ghalib dengan raut cemas. "Tadi sore, pedagang bahan baku di pasar menolak memberikan pinjaman. Mereka bilang ada tekanan dari orang-orang berkuasa agar tidak bekerja sama dengan kita."

Fadil tersenyum tipis, memutar butir tasbihnya kembali satu demi satu dengan pasrah yang bulat.

"Ghalib, Faris," pangkas Fadil mantap. "Manusia bisa menutup pintu rezeki bumi, tetapi mereka tidak akan pernah sanggup menutup pintu rezeki dari langit. Jangan biarkan kesulitan fisik merobohkan keteguhan iman kita."

Rayyan dan Yafiq saling bertukar pandang, lalu mengangguk perlahan meski raut lelah tak bisa disembunyikan.

"Kami mengerti, Fadil," pangkas Rayyan. "Kami hanya prihatin melihatmu terus menanggung beban ini tanpa pernah mengeluh."

"Tepat," pangkas Yafiq. "Kami akan terus bertahan bersamamu, walau besok kita hanya makan nasi tanpa lauk."

Fadil menatap kelima sahabatnya dengan pendar mata yang sangat hangat dan penuh rasa haru.

Tepat pada saat itu, derit pintu kayu ruangan terdorong terbuka dari luar. Seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian necis namun raut muka licik melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Dialah Pak Broto, pengusaha tengkulak lokal yang menjadi perpanjangan tangan konsorsium bisnis di daerah tersebut.

"Fadil!" pangkas Broto dengan nada tinggi dan meremehkan. "Saya dengar usaha swadaya kalian sudah bangkrut total! Apakah kabar itu benar?!"

Fadil berdiri santun, merapatkan tangan di dada. "Selamat malam, Pak Broto. Kami memang sedang mengalami krisis, tetapi kami tidak bangkrut."

"Halah, tidak usah bersilat lidah!" bentak Broto kasar. "Kalian itu sudah hancur! Tidak punya apa-apa lagi!"

Fadil tetap berdiri tenang di tempatnya, siap menghadapi segala bentuk ujian baru di titik terendah kehidupannya.

°˖✧✿✧˖°

Gebrakan tangan Broto pada tiang kayu penyangga ruangan membuat debu-debu atap berguguran, seketika menjadi peristiwa pemicu yang meledakkan ketegangan di dalam ruangan sempit itu.

"Fadil! Dengarkan saya!" gertak Broto dengan wajah menegang. "Kalian ini cuma menumpang di atas tanah pesantren ini! Jangan merasa sok suci dan sok kuat di desa ini!"

Fadil menatap Broto dengan ketenangan jiwa yang tidak tergoyahkan. "Pak Broto yang saya hormati, jika ada kewajiban yang belum kami penuhi, katakanlah dengan cara yang baik."

"Saya datang membawa perintah dari para pemilik modal!" pangkas Broto seraya melempar selembar surat perjanjian di atas tikar pandan. "Tandatangani surat penyerahan hak kelola lahan swadaya ini kepada kelompok kami! Sebagai gantinya, seluruh utang operasional kalian akan dilunasi dan kalian diberi uang saku untuk pergi dari desa ini!"

Fauzan berdiri seraya menunjuk surat itu. "Pak Broto! Itu adalah tanah wakaf produktif untuk masyarakat miskin! Anda tidak punya hak mengambil alih lahan itu secara sepihak!"

"Diam kamu!" bentak Broto. "Kalian itu orang luar yang cuma bikin kacau! Tanpa tanda tangan Fadil, besok pagi seluruh bantuan beras dan air bersih untuk pesantren ini akan disetop total!"

Faris melangkah memblokir jalan Broto. "Anda sengaja memakai cara kotor untuk memeras kami di saat kami sedang kesulitan!"

Broto tertawa sinis, menatap Fadil yang berdiri diam. "Fadil, ini kesempatan terakhirmu! Pilih menyerahkan lahan ini dan hidup tenang, atau memilih bertahan tapi melihat sahabat-sahabatmu dan para santri kelaparan di titik nol ini!"

Ruangan mendadak hening mencengkeram. Peristiwa pemicu ini melemparkan Fadil kembali ke persimpangan jalan paling kritis dalam hidupnya: menyerah pada tekanan tengkulak demi menghentikan penderitaan fisik, atau menolak kompromi haram meski harus menanggung penderitaan yang makin berat.

Fadil memutar butir tasbihnya di dalam saku, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Broto dengan keteguhan batin yang bulat. Fadil kembali mengalami kesulitan, tetapi ia tidak akan mengorbankan prinsipnya.

"Saya memohon maaf, Pak Broto," pangkas Fadil santun dan tegas. "Tanah wakaf ini adalah amanah umat yang haram untuk diperjualbelikan. Saya tidak akan pernah menandatangani surat kezaliman ini."

°˖✧✿✧˖°

Keputusan bulat Fadil menolak tekanan Broto menjadi titik plot pertama yang menyeret kehidupan mereka ke dalam jurang kesulitan yang makin dalam. Broto yang merasa dilecehkan langsung menjalankan ancamannya malam itu juga.

"Sombong sekali kamu, Fadil!" bentak Broto seraya mengambil kembali surat perjanjian itu dengan kasar. "Mulai besok pagi, kalian akan merasakan akibat dari sok suci kalian!"

Broto melangkah keluar seraya membanting pintu kayu hingga engselnya berderit keras.

Fadil tidak menunjukkan rasa panik. Ia kembali duduk bersila di atas tikar pandan. "Terima kasih, Sahabatku, karena telah berdiri tegak bersama prinsip ini."

Fauzan mendesah berat seraya memegang dahinya. "Fadil, keputusanmu memang benar secara syariat, tetapi Broto benar-benar menutup jalur pasokan makanan kita. Tadi malam, gudang penyimpanan beras kita sudah kosong sama sekali."

"Benar," pangkas Faris prihatin. "Besok pagi para santri dan warga kurang mampu di sekitar pondok akan datang meminta bantuan makanan seperti biasa. Apa yang harus kita katakan kepada mereka?"

Fadil menatap kelima sahabatnya dengan pendar mata yang teramat jernih.

"Faris, Fauzan," pangkas Fadil dengan vokal yang amat menenangkan. "Pujian dan kemewahan pernah kita rasakan, lalu hilang. Kini kesulitan datang menyapa. Jangan pernah takut pada hari esok, karena Allah yang memberi kita kehidupan hari ini adalah Allah yang sama yang akan mengurus rezeki kita besok."

Titik plot pertama ini menandai masuknya mereka ke dalam ujian fisik yang sesungguhnya. Ketika fajar menyingsing di keesokan harinya, ancaman Broto terbukti nyata. Sumur air bersih di area pesantren disumbat oleh orang-orang suruhan Broto, dan toko-toko kelontong di desa melarang tim Fadil membeli bahan makanan meski dengan uang tunai tersisa.

Ghalib berjalan cepat memasuki ruangan dengan pakaian basah oleh keringat.

"Fadil!" pangkas Ghalib cemas. "Semua jalan distribusi disekat! Warga yang ingin menyumbang sayuran diadang di ujung lorong desa oleh preman-preman Broto!"

Fadil berdiri dari duduknya, mengusap tasbih kayunya perlahan.

"Mari kita temui warga," pangkas Fadil mantap. "Kita hadapi kesulitan ini bersama-sama dengan keterbukaan dan doa."

Lihat selengkapnya