6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #112

Doa Seorang Pengangguran

Doa Seorang Pengangguran

Ia mulai memperbanyak doa.

°˖✧✿✧˖°

Angin malam berembus dingin menembus celah-celah papan kayu di kamar sempit berukuran tiga kali empat meter itu. Di atas tikar pandan yang sudah menipis di beberapa bagian, Fadil duduk bersila dengan peci putih yang sedikit terawat dan pakaian kain katun sederhana. Suasana di dalam ruangan sangat hening, hanya terisi oleh suara derit papan ketika ia menggeser posisi duduknya dan gesekan butir-butir tasbih kayu di tangannya.

Selepas cobaan besar yang menguras energi serta hancurnya berbagai harapan materi yang pernah dirintis, Fadil kini mendapati dirinya berada dalam status yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya: seorang pengangguran tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan tanpa kepastian masa depan. Tidak ada lagi agenda harian, tidak ada jam kerja yang mengikat, dan tidak ada panggung kehormatan.

Di sudut ruangan, Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq duduk bersandar pada dinding kayu. Wajah-wajah mereka memancarkan kelelahan yang dalam, memikul beban ketidakpastian yang sama.

"Fadil," pangkas Faris memecah kesunyian seraya menatap amplop lamaran pekerjaan yang tertumpuk di atas meja kecil. "Hari ini tiga tempat usaha yang kita datangi kembali memberikan penolakan. Mereka bilang tidak ada posisi kosong untuk orang-orang seperti kita."

Fadil menghentikan geseran tasbihnya sejenak, mengangkat pandangannya dengan raut tenang yang tidak menunjukkan kekecewaan.

"Faris, sahabatku," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang lembut dan menenteramkan. "Pintu manusia boleh saja tertutup rapat, tetapi pintu karunia Allah tidak pernah terkunci."

"Tapi Fadil," potong Fauzan seraya membetulkan pecinya. "Kebutuhan hidup tidak bisa ditunda. Beras di dapur tinggal dua genggam, dan pemilik rumah sewaan ini sudah menanyakan uang sewa untuk bulan depan."

"Benar," sambung Ghalib dengan raut cemas. "Tanpa pekerjaan atau penghasilan, bagaimana kita bisa melanjutkan hidup sehari-hari?"

Fadil menghela napas perlahan, merapatkan jemarinya pada butiran tasbih.

"Ghalib, Fauzan," pangkas Fadil mantap. "Ketika tangan kita kosong dari urusan dunia, itulah saat terbaik bagi kita untuk memenuhinya dengan doa. Kita mulai memperbanyak doa, mengetuk pintu langit saat jalur bumi terasa buntu."

Rayyan dan Yafiq saling bertukar pandang. Mereka menangkap keteguhan spiritual yang tidak pernah padam dari dalam diri Fadil, meski keadaan ekonomi mereka berada di titik terendah.

"Apakah doa saja cukup di tengah desakan kebutuhan seperti ini, Fadil?" tanya Yafiq pelan.

"Doa bukan sekadar pelarian, Yafiq," sahut Fadil jujur. "Doa adalah senjata utama orang beriman, pengubah takdir, dan penyambung harapan ketika logika manusia sudah menyerah."

"Kami mengerti," pangkas Rayyan dengan nada terharu. "Kami akan menemanimu di setiap sujud dan sepertiga malam."

Fadil mengulas senyum tipis, merasa bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang tetap setia berdiri di sampingnya di masa-masa paling kelam.

Namun, ketenangan mereka terganggu ketika terdengar ketukan keras di pintu depan. Seseorang mengetuk papan kayu itu tanpa sabar, membuyarkan kesunyian malam di kompleks perumahan padat tersebut.

Fauzan berdiri lalu membuka pintu. Di ambang pintu berdiri Pak Rustam, pemilik rumah sewaan bertubuh gempal yang membawa buku catatan tunggakan dengan wajah berseri-seri penuh sindiran.

"Fadil!" pangkas Rustam langsung menerobos masuk tanpa permisi. "Saya mendengar kalian semua sekarang jadi pengangguran! Apakah berita itu benar?!"

Fadil berdiri santun, merapatkan kedua telapak tangannya di dada. "Selamat malam, Pak Rustam. Kami memang belum mendapatkan pekerjaan baru, tetapi kami terus berusaha."

"Halah! Jangan banyak alasan!" bentak Rustam kasar seraya menunjuk wajah Fadil. "Usaha tanpa hasil itu sama saja nol! Saya tidak mau tahu, bayar tunggakan sewaan ini sekarang juga!"

Fadil tetap tenang, memutar tasbihnya di dalam saku kain. "Mohon beri kami waktu beberapa hari lagi, Pak Rustam. Kami sedang mengikhtiarkan jalannya."

Rustam tertawa meremehkan, memandangi ruangan yang dingin dan tanpa barang berharga itu dengan pandangan hina.

"Mengikhtiarkan dengan apa? Dengan duduk bersila dan berdoa sepanjang malam?" ejek Rustam sengit. "Doa tidak bisa dimakan, Fadil! Doa tidak bisa dipakai untuk membayar sewa rumah ini!"

°˖✧✿✧˖°

Gebrakan tangan Rustam pada meja kayu di tengah ruangan seketika menjadi peristiwa pemicu yang menyalakan ketegangan pekat di antara mereka.

"Dengarkan saya baik-baik, Fadil!" bentak Rustam dengan wajah memerah. "Saya bukan lembaga amal! Jika besok sore kalian tidak bisa menyerahkan uang sewa tunai, angkat kaki dari rumah ini! Kalian dan sahabat-sahabat pengangguranmu ini boleh tidur di jalanan!"

Faris melangkah maju dengan dada menegak, menahan amarah yang membakar. "Pak Rustam! Jangan keterlaluan! Kami selalu membayar tepat waktu di bulan-bulan sebelumnya! Apakah tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan di hati Anda saat kami sedang tertimpa kesulitan?!"

"Kemanusiaan tidak membayar cicilan saya!" balasan Rustam tak kalah keras. "Kalian itu cuma beban! Orang-orang cerdas bekerja mencari uang, bukan cuma pasrah jadi pengangguran dan mengetuk pintu langit!"

Fauzan memegang pundak Faris agar tidak terpancing emosi. "Tenang, Faris. Jangan biarkan emosi menguasai kita."

Fadil menatap Rustam dengan pandangan mata yang jernih, tanpa menyimpan dendam atau kejengkelan atas penghinaan tersebut.

"Pak Rustam yang saya hormati," pangkas Fadil dengan intonasi vokal yang amat lembut namun berwibawa. "Kami menerima teguran Bapak. Kami tidak meminta kasih kasihan, melainkan sedikit kelapangan waktu. Jika besok sore kami belum sanggup membayar, kami sendiri yang akan melangkah keluar tanpa membuat keributan."

Rustam tertegun sejenak melihat ketenangan luar biasa dari pemuda di hadapannya, tetapi keangkuhannya kembali mendominasi.

"Bagus kalau kamu sadar diri!" pangkas Rustam seraya merapikan pakaiannya. "Ingat, besok sore! Uang sewa atau angkat kaki!"

Rustam melangkah keluar seraya membanting pintu kayu hingga debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit.

Ruangan itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam. Ucapan Rustam membakar hati mereka, memperjelas status mereka sebagai pengangguran yang tidak memiliki daya di mata manusia.

"Fadil," pangkas Ghalib dengan raut penuh kecemasan. "Besok sore tinggal beberapa jam lagi. Bagaimana mungkin kita mendapatkan uang sewa dalam waktu sesingkat itu tanpa pekerjaan?"

Fadil berjalan mendekati jendela, menatap langit malam yang ditutupi awan hitam.

"Ghalib," pangkas Fadil dengan keyakinan yang menghujam jiwa. "Manusia melihat batas kemampuan, tetapi Allah melihat ketulusan penghambaan. Malam ini, kita merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Pencipta. Kita perbanyak doa, ratapi dosa-dosa kita, dan mohon keajaiban dari-Nya."

Peristiwa pemicu ini mendorong Fadil dan sahabat-sahabatnya untuk sepenuhnya bersimpuh dalam ibadah khusyuk, menjadikan doa sebagai satu-satunya tumpuan di tengah kehampaan materi.

°˖✧✿✧˖°

Garis waktu terus bergulir menembus sepertiga malam terakhir. Di saat seluruh isi kota tertidur lelap dalam buaian mimpi, kamar sempit itu menjadi saksi bisu perjuangan spiritual Fadil dan kelima sahabatnya.

Lampu minyak kecil yang temaram memancarkan bayangan redup di dinding kayu. Fadil berdiri di depan, memimpin salat malam dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an yang begitu merdu, syahdu, dan menggetarkan jiwa. Suaranya yang jernih membawakan bait-bait firman Tuhan dengan penghayatan yang amat dalam, membuat air mata menetes basah di pipi Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq yang bermakmum di belakangnya.

Seusai salam, Fadil tidak langsung berpindah tempat. Ia mengangkat kedua telapak tangannya tinggi-tinggi di udara. Tubuhnya gemetar ditahan rasa haru yang meluap. Ia mulai memperbanyak doa, memanjatkan untaian kata-kata permohonan yang keluar langsung dari kedalaman jiwanya yang paling bersih.

"Ya Allah, Ya Razzaq..." bisik Fadil dengan vokal yang serak dan tersedu-sedu. "Engkau yang Maha Memberi Rezeki tanpa batas. Hamba-Mu ini berdiri di hadapan-Mu dalam keadaan tidak memiliki apa-apa, pengangguran yang hina di mata manusia, dan tidak memiliki daya ikhtiar melainkan atas izin-Mu..."

Fauzan mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, menahan isak tangis yang pecah di dadanya.

"Ya Tuhan kami," lanjut Fadil dalam doanya. "Jika kesempitan hidup ini adalah penggugur dosa-dosa kami, maka berilah kami kesabaran yang tiada bertepi. Namun jika ini adalah ujian keimanan, lapangkanlah jalan bagi kami agar kami tidak menzalimi diri kami sendiri..."

Rayyan dan Yafiq menundukkan kepala rapat-rapat ke lantai, mengaminkan setiap bait permohonan yang dilantunkan Fadil dengan kepasrahan yang bulat.

Keheningan malam terasa begitu sakral. Malam itu, doa seorang pengangguran menjelma menjadi kendaraan spiritual yang menembus batas-batas langit. Mereka melupakan sejenak rasa lapar di perut dan ancaman pengusiran Rustam, larut dalam kehangatan hubungan antara hamba dan Penciptanya.

Titik plot pertama ini menandai pergeseran fokus total perjuangan mereka dari keputusasaan duniawi menuju pencerahan batin yang tak tergoyahkan.

Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, pendar sinar matahari pagi menembus celah jendela. Fadil menyelesaikan wirid panjangnya dengan raut wajah yang sangat segar dan dipenuhi ketenangan yang luar biasa. Tidak ada lagi sisa kekhawatiran di matanya.

Lihat selengkapnya