6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #113

Jangan Berhenti Berusaha

Jangan Berhenti Berusaha

Kiai Zulfakar mengingatkan bahwa doa harus disertai ikhtiar.

°˖✧✿✧˖°

Angin sore berembus pelan mengoyak tirai kain kumal di teras musala kecil yang berdiri anggun di pinggiran desa. Di atas hamparan karpet hijau yang mulai menipis seratnya, Fadil duduk bertafakur seraya mengusap butir-butir tasbih kayu hitam di genggaman tangannya. Suasana di sekitar musala begitu hening, hanya diwarnai oleh derit gesekan pelepah kelapa kering dan gaung lantunan zikir yang keluar secara halus dari bibir pemuda itu.

Di sekeliling Fadil, lima sahabat karibnya—Fauzan, Faris, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq—duduk melingkar dengan raut wajah yang diliputi kelelahan batin. Setelah berbagai ujian dan ancaman penggusuran dari pihak konsorsium yang sempat mengguncang ketenangan mereka, semangat kelima pemuda itu tampak mengendur. Mereka cenderung memilih berpasrah total dalam ruang-ruang doa, menepi dari hiruk-pikuk ikhtiar duniawi yang serasa makin buntu dan tak membuahkan hasil.

"Fadil," pangkas Faris memecah kesunyian seraya meluruskan kakinya yang pegal. "Apakah tidak sebaiknya kita beriktikaf saja di musala ini secara penuh? Setiap kali kita melangkah ke luar untuk berusaha, pergerakan kita selalu dihantam dan diblokir oleh orang-orang konsorsium."

Fadil menghentikan putaran tasbihnya sejenak, menatap Faris dengan pandangan mata yang teduh.

"Faris, sahabatku," pangkas Fadil dengan intonasi lembut. "Apakah engkau merasa lelah dengan jalan ikhtiar yang sedang kita tempuh?"

"Bukan lelah karena malas, Fadil," potong Fauzan seraya membetulkan posisi peci putihnya. "Namun rasanya semua pintu usaha bumi sudah dikunci rapat. Bukankah doa-doa yang kita panjatkan setiap sepertiga malam sudah cukup untuk mengetuk pertolongan langit?"

"Benar," sambung Ghalib dengan nada pasrah. "Bukankah keajaiban doa selalu datang di saat hamba-Nya berserah diri secara penuh tanpa perlu bersusah payah mengejar bayang-bayang dunia?"

Rayyan dan Yafiq mengangguk pelan, menyetujui pandangan sahabat-sahabatnya. Mereka menganggap bahwa berpasrah diri di dalam musala adalah pilihan paling aman untuk menjaga kesucian niat di tengah badai kesulitan.

Fadil menarik napas panjang, menatap satu per satu sahabat karibnya dengan kehangatan rasa persaudaraan.

"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil pelan. "Pasrah bukan berarti berhenti melangkah. Mengharapkan buah jatuh dari langit tanpa pernah menanam seeds adalah bentuk kekeliruan dalam memahami takdir."

Namun, sebelum pertukaran pikiran itu berlanjut lebih jauh, langkah kaki yang tenang dan penuh wibawa terdengar mendekati teras musala. Sesosok pria tua berbaju jubah putih dengan sorban hijau melingkar di pundaknya berjalan perlahan menaiki anak tangga kayu. Beliau adalah Kiai Zulfakar—sang ulama sepuh yang menjadi guru spiritual tempat Fadil dan para sahabatnya menimba kearifan hidup.

Kedatangan Kiai Zulfakar seketika membuat Fadil dan kelima sahabatnya berdiri santun, menundukkan kepala seraya merapatkan kedua telapak tangan di dada sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

"Assalamu'alaikum, Anak-anakku," pangkas Kiai Zulfakar dengan suara serak-serak basah yang amat menenteramkan jiwa.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Kiai," sahut Fadil dan para sahabatnya secara serempak.

Kiai Zulfakar duduk bersila di atas karpet hijau, mengisyaratkan para santrinya untuk kembali duduk melingkar. Pandangan mata beliau yang tajam namun penuh kasih menatap wajah-wajah lesu para pemuda di hadapannya.

"Kiai melihat ada kabut keraguan dan keputusasaan yang menggelayut di dalam dada kalian," tutur Kiai Zulfakar seraya mengelus jenggot putihnya yang panjang. "Apakah tekanan dunia sudah sanggup melumpuhkan langkah kaki kalian?"

Fauzan menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Ampun, Kiai. Kami tidak bermaksud menyerah, namun kami merasa ikhtiar kami di luar sana selalu menemui jalan buntu. Kami berpikir untuk fokus berdoa saja di musala ini."

Kiai Zulfakar tersenyum tipis, menepuk bahu Fauzan dan Fadil secara bergantian dengan kehangatan seorang ayah.

"Anak-anakku," pangkas Kiai Zulfakar dengan intonasi yang sarat akan bobot kearifan spiritual. "Ketahuilah bahwasanya doa dan ikhtiar adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Doa tanpa ikhtiar adalah kesombongan batin, sedangkan ikhtiar tanpa doa adalah keputusasaan jiwa. Kiai Zulfakar mengingatkan bahwa doa harus disertai ikhtiar yang nyata!"

°˖✧✿✧˖°

Petuah Kiai Zulfakar yang menghujam langsung ke dalam sanubari itu seketika menjadi peristiwa pemicu yang membakar kembali kesadaran Fadil dan para sahabatnya dari kelalaian spiritual.

"Kiai Zulfakar mengingatkan bahwa doa harus disertai ikhtiar," pangkas Fadil seraya menatap gurunya dengan pandangan penuh penyesalan. "Ampunkan kami, Kiai. Kami telah keliru memahami arti tawakal yang sejati."

Kiai Zulfakar mengangguk pelan, memutar butiran tasbih kayunya. "Langit tidak akan pernah menurunkan hujan emas atau perak tanpa adanya ikhtiar dari jemari tangan manusia. Rasulullah SAW mengikat untanya terlebih dahulu sebelum bertawakal kepada Allah. Mengapa kalian justru melepas unta kalian dan berharap ia tidak berlari?"

Faris mengangkat mukanya, menatap sang Kiai dengan raut cemas. "Namun Kiai, para tengkulak dan agen konsorsium telah menutup seluruh akses usaha swadaya masyarakat di desa ini. Setiap produk herbal dan hasil kebun yang coba kami pasarkan selalu ditolak dan diancam oleh mereka."

"Lantas, apakah dengan penolakan manusia itu kalian berhenti berusaha?" potong Kiai Zulfakar dengan intonasi tegas yang membakar semangat. "Jika satu pintu ditutup oleh kezaliman manusia, carilah seribu pintu lain yang dibuka oleh keadilan Allah! Jangan pernah berhenti berusaha, walau hanya dengan merajut tali bambu atau menanam satu benih di tanah kering!"

Ghalib mendesah pelan. "Apakah ikhtiar kita yang kecil ini sanggup meruntuhkan tembok kezaliman mereka yang sangat besar, Kiai?"

"Ikhtiar kalian mungkin kecil di mata manusia," sahut Kiai Zulfakar penuh penekanan. "Namun keikhlasan dan keteguhan ikhtiar yang bergerak bersama doa adalah pemicu turunnya pertolongan Allah yang Maha Besar! Fadil, kembalilah berikhtiar! Pimpin sahabat-sahabatmu untuk membuka jalan-jalan kebaikan baru bagi warga desa!"

Fadil berdiri dari duduknya, merapatkan kedua tangannya di dada dengan keteguhan batin yang kembali membara secara utuh.

"Siap, Kiai!" pangkas Fadil dengan vokal jernih dan mantap. "Atas izin Allah dan nasihat Kiai, kami tidak akan pernah berhenti berusaha. Kami akan bergerak kembali membuka jalur ikhtiar swadaya masyarakat!"

Peristiwa pemicu ini menjadi titik balik spiritual yang menggerakkan Fadil dan sahabat-sahabatnya untuk kembali terjun ke medan perjuangan fisik, memadukan doa sepertiga malam dengan keringat ikhtiar di siang hari demi menegakkan kemandirian warga desa dari cengkeraman tengkulak.

°˖✧✿✧˖°

Guna menjalankan amanah Kiai Zulfakar untuk terus berikhtiar, Fadil mengumpulkan seluruh sahabatnya di saung kayu belakang pesantren pada keesokan harinya. Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah-celah daun bambu, menciptakan suasana penuh harapan baru.

Di atas meja kayu terbentang lembaran peta desa dan catatan sisa potensi lokal yang bisa dikembangkan secara mandiri tanpa bergantung pada jalur distribusi tengkulak.

"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil membuka diskusi dengan vokal yang membakar semangat. "Nasihat Kiai Zulfakar kemarin adalah teguran tajam bagi kita. Doa kita selama ini harus kita wujudkan dalam bentuk ikhtiar nyata yang terencana."

Fauzan memajukan posisi duduknya, membuka buku catatan kecilnya. "Fadil, jika jalur pemasaran pasar tradisional ditutup oleh jaringan tengkulak Broto, apa strategi ikhtiar baru yang bisa kita tempuh?"

Fadil menunjuk satu titik di peta desa yang berbatasan langsung dengan jalur pemukiman warga pesisir.

"Kita tidak akan lagi menjual bahan mentah hasil kebun ke tengkulak pasar," pangkas Fadil tegas. "Kita akan melakukan ikhtiar pengolahan mandiri. Hasil kebun herbal dan tanaman obat akan kita olah menjadi produk olahan siap pakai dalam kemasan ramah lingkungan, lalu kita distribusikan langsung ke koperasi warga pesisir secara bertahap."

Faris tersenyum lebar, menangkap gagasan cemerlang tersebut. "Langkah yang luar biasa, Fadil! Koperasi warga pesisir berada di luar jangkauan pengaruh tengkulak Broto! Mereka sangat membutuhkan pasokan herbal dan minyak gosok alami untuk para nelayan!"

"Tepat sekali," pangkas Rayyan semangat. "Saya dan Yafiq bisa membantu meracik kemasan herbal sederhana dari bambu dan daun kering lokal!"

"Dan saya bersama Ghalib akan mengurus jalur transportasi sepeda motor untuk pengiriman barang setiap subuh," sambung Fauzan tak kalah antusias.

Fadil menatap kelima sahabatnya dengan pendar mata jernih yang dipenuhi rasa syukur.

"Inilah ikhtiar kita," pangkas Fadil mantap. "Kita bekerja keras memeras keringat di siang hari, dan kita mengetuk pintu langit di malam hari. Jangan pernah berhenti berusaha!"

Titik plot pertama ini menandai dimulainya gerakan ikhtiar swadaya tahap baru yang dipimpin oleh Fadil. Selama dua minggu berikutnya, saung belakang pesantren berubah menjadi pusat pengolahan minyak herbal dan teh alami yang riuh oleh aktivitas produksi mandiri.

Para santri dan warga kurang mampu di sekitar pesantren dilibatkan secara aktif. Fadil turun tangan langsung, ikut memotong kayu bakar, meracik dedaunan obat, dan mengemas produk bersama warga tanpa mengenal lelah. Keseimbangan antara doa khusyuk di musala dan kerja keras di lapangan mengembalikan senyum dan harapan di wajah warga desa.

Lihat selengkapnya