6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #119

Allah Melihat hambanya

Allah Melihat hambanya

Fadil menolak keinginan Konsorium Internasional

°˖✧✿✧˖°

Sore di atas pelataran Koperasi Herbal Kerakyatan mendadak mati angin. Pengawal pribadi berjas tegap itu berdiri mematung tepat di samping perwakilan konsorsium internasional, Mr. Vance. Kertas-kertas dokumen berstempel resmi "Demi Kepentingan Manusia Global" terbentang mengilat di atas meja kayu jati, memantulkan sinar jingga matahari yang kian redup di ufuk barat.

"Kami memberi Anda batas waktu sampai matahari terbenam hari ini, Mr. Fadil," tegas Mr. Vance dengan vokal dingin tanpa celah kompromi sedikit pun. "Tanda tangani pengalihan hak kelola ini sekarang juga, demi kepentingan manusia secara global."

Faris melangkah maju satu tindak, napasnya memburu kencang menahan amarah yang mulai membakar dada. "Ini peramposan berkedok misi kemanusiaan! Bagaimana mungkin rakyat yang menanam dan mengolah herbal ini justru dilarang meminum obat buatan mereka sendiri?!"

"Dalam regulasi ketahanan kesehatan dunia," sahut Mr. Vance dingin tanpa menoleh sedikit pun kepada Faris, "hak perseorangan dan hak komunitas lokal runtuh secara hukum jika berhadapan dengan kebutuhan populasi bumi yang jauh lebih besar."

Fauzan mengepalkan tinjunya hingga pergelangan tangannya bergetar hebat. "Kalian membungkus ketakusahan dan kesetimewaan kalian dengan kata 'kepentingan manusia'! Padahal kalian hanya ingin memonopoli air murni tebing dan racikan ini!"

"Jaga bicaramu, Anak Muda," pangkas pengawal pribadi Mr. Vance seraya membetulkan posisi tali tas bajanya. "Keputusan ini dilindungi oleh konvensi internasional."

Fadil perlahan memajukan badannya. Tangan kanannya merengkuh ujung meja jati, sementara jari-jemarinya tetap memutar butir-butir tasbih kayu jati di dalam saku kemeja. Pandangannya amat teduh namun menghujam tajam ke dalam manik mata Mr. Vance.

"Bismillah," ucap Fadil dengan intonasi yang sangat jernih dan tenang. "Atas nama keadilan bagi rakyat kecil dan kejujuran di hadapan Allah, saya menolak menandatangani dokumen ini."

°˖✧✿✧˖°

Penolakan singkat dan tegas dari Fadil membuat suasana di teras rumah pengolahan seketika membeku bagaikan es di puncak gunung. Mr. Vance menarik napas panjang yang amat dalam, lalu perlahan menyipitkan mata birunya yang pucat dan penuh tipu daya.

"Apakah Anda benar-benar sadar konsekuensi dari kata 'menolak' itu, Mr. Fadil?" tanya Mr. Vance penuh intrik ancaman yang amat terselubung. "Kami tidak datang menawarkan negosiasi bisnis biasa. Kami membawa mandat internasional demi kepentingan manusia."

"Kepentingan manusia yang mana yang Anda maksudkan, Mr. Vance?" pangkas Fadil seraya berdiri perlahan dari tempat duduknya. "Apakah kepentingan manusia berarti merampas obat milik rakyat miskin di desa ini untuk kemudian dijual mahal di pasar global?"

"Dunia sedang berada di ambang krisis imunologis yang teramat parah!" bentak Mr. Vance seraya menggebrak meja jati dengan telapak tangannya hingga cangkir teh bergetar. "Formula Anda adalah kunci keselamatan peradaban! Menyimpannya untuk kelompok kecil di desa ini adalah bentuk kejahatan atas kepentingan manusia!"

Faris menyela dengan nada suara tinggi yang penuh keberanian. "Kalian baru peduli pada 'keselamatan peradaban' setelah melihat bahwa obat herbal kami terbukti murni dan manjur tanpa campuran bahan kimia sintetis yang merusak tubuh!"

"Benar sekali!" timpal Fauzan sengit dari samping tiang teras. "Kemarin Pak Broto ingin memalsukan isi botol kami demi uang, dan sekarang kalian ingin menyita seluruh tempat ini atas nama kepentingan manusia! Kalian berdua sama saja, sama-sama serakah!"

Mr. Vance tersenyum miring penuh celaan, lalu mengambil pulpen berujung emas dari saku jasnya dan meletakkannya tepat di atas lembar dokumen pengalihan hak kelola.

"Pak Broto adalah penjahat oportunis kelas teri yang tidak berpendidikan," pangkas Mr. Vance santai seraya merapikan kerah bajunya. "Kami adalah konsorsium resmi dunia. Jika Anda menyerahkan formula dan tempat ini, Koperasi Anda akan diberi kompensasi dana abadi sebesar lima puluh juta dolar Amerika. Anda dan keluarga Anda tidak perlu lagi bekerja seumur hidup."

Ghalib, Rayyan, dan Yafiq yang berdiri rapat di pintu ruang racik menghembuskan napas berat secara bersamaan. Angka lima puluh juta dolar adalah nominal raksasa yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun di desa terpencil itu.

"Nominal yang sangat luar biasa besar untuk ukuran manusia fana," pangkas Fadil tenang seraya memandang langit sore yang kian jingga. "Namun, dunia dan segenap isinya ini tidak ada harganya jika kita harus menjual kejujuran dan hak rakyat kecil demi menumpuk harta."

"Anda memilih bertahan pada idealisme sempit ini?" ancam Mr. Vance seraya merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang amat berbahaya. "Mulai detik ini, atas nama kepentingan manusia, seluruh akses distribusi Koperasi Anda akan dibekukan oleh otoritas darurat."

"Bumi ini milik Allah," jawab Fadil lugas tanpa keraguan sedikit pun. "Setiap helai daun dan tetes air murni tebing adalah rezeki bagi hamba-Nya. Manusia tidak akan pernah bisa memblokir rezeki yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta."

"Kita lihat seberapa tahan idealisme Anda menghadapi kekuatan regulasi global," gertak Mr. Vance seraya mengemas kembali dokumen bajanya ke dalam koper besi, lalu berbalik pergi meninggalkan pelataran Koperasi dengan langkah tergesa-gesa.

°˖✧✿✧˖°

Guncangan dari penolakan Fadil pada Peristiwa Pemicu langsung merambat dalam skala masif yang teramat mengerikan. Hanya dalam hitungan belasan jam setelah kepergian Mr. Vance, sanksi tegas bertajuk "Pembatasan Akses Demi Kepentingan Manusia Global" resmi diberlakukan di seluruh wilayah kabupaten oleh otoritas darurat.

Pagi harinya, halaman depan Koperasi Herbal Kerakyatan dipenuhi oleh barisan barikade besi petugas otoritas kesehatan internasional bersama belasan kendaraan operasional berwarna putih dengan lambang palang emas melingkar.

"Semua aktivitas produksi dan pengolahan di Koperasi ini dihentikan sementara!" teriak seorang petugas pengawas lapangan melalui pengeras suara genggam di gerbang utama!

Faris dan Fauzan berlari keluar ke pelataran dengan wajah merah padam dipenuhi amarah yang bergejolak.

"Atas dasar hukum apa kalian memasang garis kuning dan barikade di gerbang kami?!" bentak Faris pada petugas pengawas yang berdiri tegap di depan pagar. "Ini tanah milik Koperasi warga desa!"

Petugas pengawas menyodorkan lembar surat perintah karantina wilayah berstempel khusus. "Gedung ini resmi ditetapkan sebagai Aset Strategis Ketahanan Kesehatan Dunia. Demi kepentingan manusia, distribusi herbal ke masyarakat umum dihentikan total sampai batas waktu yang belum ditentukan."

"Tapi warga desa membutuhkan minyak gosok dan sirup temulawak ini untuk pengobatan rutin harian mereka!" seru Fauzan panik seraya menunjuk kerumunan warga. "Banyak lansia dan anak-anak di desa ini yang bergantung hidup pada obat herbal murni kami!"

"Semua kebutuhan lokal harus ditunda demi kepentingan manusia dalam skala yang jauh lebih luas," jawab petugas itu dingin tanpa penyesalan sedikit pun.

Dari arah jalan raya desa, puluhan warga setempat mulai berkumpul merapat di balik pagar barikade besi. Mereka membawa botol-botol kaca kosong dan keranjang kayu, memohon dengan sangat agar tetap diperbolehkan membeli pasokan herbal mingguan mereka.

"Pak Pengawas! Tolong izinkan kami mengambil obat herbal untuk anak kami yang sedang demam tinggi!" teriak seorang ibu paruh baya di balik garis barikade seraya menimang anaknya.

"Maafkan kami, Ibu. Area ini dikarantina ketat demi kepentingan manusia," pangkas petugas penjaga garis dengan nada monoton bagaikan mesin.

Fadil keluar melangkah tenang menghampiri kerumunan warga yang gelisah di tepi barikade. Meskipun garis kuning melintang membentang di depan dadanya, tatapan matanya tetap memancarkan kedamaian yang dalam dan menenangkan jiwa.

"Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak warga desa sekalian," pangkas Fadil seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada dengan lembut. "Mohon tetap tenang dan jangan sampai terprovokasi oleh kemarahan. Ujian berat ini adalah kehendak Allah untuk menguji kesabaran dan keteguhan iman kita."

Seorang wartawan televisi nasional yang tertahan di luar pagar barikade berteriak nyaring menyodorkan mikrofon tongkatnya menembus celah pagar.

"Saudara Fadil!" pangkas wartawan itu dengan intonasi memburu. "Apakah benar Anda secara sepihak menolak menyerahkan formula herbal ini demi kepentingan manusia global?! Apakah Koperasi Anda sengaja menahan obat ini dari masyarakat dunia?!"

Fadil menatap lurus ke arah lensa kamera wartawan tersebut dengan kejujuran utuh tanpa ada yang disembunyikan.

"Kami tidak pernah menahan obat ini dari siapa pun di muka bumi ini," jawab Fadil dengan suara yang jernih dan amat berwibawa. "Herbal ini dibuat untuk seluruh manusia tanpa terkecuali. Namun, tatkala kata 'kepentingan manusia' dijadikan alasan palsu untuk melarang rakyat kecil berobat dan merampas hak para petani desa, maka disitulah letak kezaliman nyata yang tidak boleh kita amini!"

Pernyataan lugas Fadil tersebut seketika bergema di seluruh saluran televisi nasional, memicu gelombang perdebatan hangat di tengah masyarakat luas. Penolakan Fadil bukan lagi sekadar urusan desa, melainkan telah bergeser menjadi simbol perlawanan rakyat kecil terhadap dogma kekuasaan global yang menggunakan topeng kemanusiaan.

°˖✧✿✧˖°

Kekehnya suara Fadil dalam menyuarakan kebenaran pada Titik Plot Pertama memicu balasan yang jauh lebih menekan dari pihak musuh pada Titik Tekan 1. Konsorsium internasional tidak lagi hanya memblokir pintu gerbang Koperasi, melainkan mulai memotong jalur pasokan air dan bahan baku utama Koperasi secara paksa langsung dari hulu tebing batu.

Siang harinya di bawah terik matahari yang membakar kulit, sebuah tim teknis berperlengkapan berat memanjat tebing batu di belakang desa. Mereka mulai memasang pipa-pipa baja raksasa guna mengalihkan alur air murni tebing batu—bahan baku paling vital dalam racikan herbal Fadil—secara sepihak ke arah tangki penampungan konsorsium.

Ghalib dan Rayyan berlari terengah-engah kembali dari kaki bukit dengan pakaian yang dipenuhi debu pekat.

"Fadil! Berbahaya sekali!" pangkas Ghalib seraya menyapu keringat di dahinya yang membasah. "Mereka sedang membendung mata air tebing batu kita! Pipa-pipa baja raksasa sudah menancap tajam di sumber air utama!"

Fauzan membelalakkan mata dengan amarah yang meluap hingga ke puncaknya. "Apa-apaan mereka itu?! Air tebing itu adalah warisan milik desa dari zaman nenek moyang kita!"

"Mereka memasang papan pengumuman resmi di sana," tambah Rayyan dengan vokal bergetar menahan penyesalan. "Papan itu bertuliskan: Air Tebing Batu disita oleh Konsorsium demi Kepentingan Manusia Dunia."

Fadil bersama lima sahabatnya segera bergegas berlari menuju kaki bukit tebing batu. Di sana, belasan teknisi asing sibuk mengoperasikan mesin bor raksasa yang bising, mengikis batuan alami tempat mata air jernih biasa mengalir gemericik.

Faris langsung melangkah menghadang mandor proyek teknis tersebut. "Hentikan pengeboran ini sekarang juga! Kalian merusak ekosistem bukit dan mematikan mata air kehidupan warga desa!"

Lihat selengkapnya