Usaha Kembali Jatuh
Musibah membuat usahanya hampir bangkrut.
°˖✧✿✧˖°
Kabut tebal membungkus pelataran Koperasi Herbal Kerakyatan pada suatu pagi yang dingin. Di dalam kantor utama, Faris duduk bersandar pada kursi kayunya dengan jemari menopang dahi, menatap tumpukan berkas tagihan yang kian menggunung. Bau kertas basah dan tinta membikin ruang rapat kecil itu terasa kian sempit.
"Kondisi keuangan kita benar-benar di ambang batas, Fadil," ucap Faris seraya mengusap wajahnya yang kelelahan. "Laporan dari bagian akuntansi menunjukkan bahwa seluruh dana cadangan Koperasi telah terpaksa kita gunakan untuk menutup kerugian pasca-sabotase bulan lalu."
Fadil yang duduk berseberangan dengan Faris tetap tenang, jemari tangan kanannya perlahan menggeser butir-butir tasbih kayu jati. "Berapa lama lagi kita bisa bertahan untuk operasional harian para pekerja desa?"
"Paling lama dua minggu, Fadil," sahut Fauzan yang baru masuk seraya membawa map tebal bersampul merah. "Tagihan bahan baku dari para petani jahe dan temulawak belum terbayar penuh. Jika kita tidak menyetor dana minggu ini, pasokan dari tiga desa tetangga akan dihentikan total."
"Kita tidak boleh membiarkan para petani terlantar," kata Fadil tegas namun lembut. "Selesaikan pembayaran untuk mereka terlebih dahulu, apa pun risikonya."
"Tapi bagaimana dengan biaya operasional pabrik pengolahan?" potong Faris dengan vokal naik satu oktaf. "Mesin penyulingan kita butuh perawatan rutin! Jika kita mengutamakan tagihan petani tanpa ada pemasukan baru, Koperasi ini akan bangkrut total sebelum akhir bulan!"
"Allah adalah sebaik-baik Penjamin rezeki," pangkas Fadil menatap jendela. "Kita terus melangkah dengan kejujuran."
°˖✧✿✧˖°
Pintu ruangan tiba-tiba terdorong keras dari luar. Ghalib masuk dengan napas terengah-engah, bajunya basah kuyup oleh keringat meski udara pagi terasa membeku.
"Fadil! Faris! Ada musibah besar di gudang penyimpanan utama!" teriak Ghalib dengan nada panik yang tak lagi bisa disembunyikan.
Faris langsung bangkit berdirinya hingga kursi kayunya terdorong ke belakang. "Ada apa, Ghalib?! Jangan memotong pembicaraan dengan berita buruk!"
"Atap sistem pendingin di gudang bahan baku cair jebol!" jerit Ghalib seraya menunjuk ke arah belakang pabrik. "Pipa pendingin utama pecah semalam dan membasahi sepuluh ton ekstrak herbal murni yang siap dikirim!"
Fauzan membelalakkan mata, map di tangannya terlepas dan jatuh berantakan di lantai. "Sepuluh ton?! Itu seluruh stok hasil produksi kita selama dua bulan terakhir!"
Fadil segera berdiri dari tempat duduknya, melangkah cepat menyusuri koridor kayu menuju gedung penyimpanan belakang. Faris, Fauzan, dan Ghalib menyusul dari belakang dengan langkah tergesa-gesa.
Sesampainya di dalam gudang, bau asam sengit dari bahan kimia pendingin yang bercampur dengan aroma herbal menyengat hidung. Cairan freon berwarna kehijauan tampak merembes masuk ke dalam ratusan drum kayu yang berisi ekstrak herbal murni.
"Jangan sentuh drum-drum itu!" pangkas Fadil melarang beberapa pekerja yang hendak memindahkan wadah kayu. "Cairan pendingin ini mengandung zat kimia berbahaya. Racikan herbal di dalam drum ini sudah terkontaminasi total."
"Ya Allah..." keluh Faris seraya memegangi kepalanya yang mendadak pening. "Stok senilai miliaran rupiah ini runtuh dalam semalam!"
"Ini bukan sekadar kerugian material," tambah Rayyan yang mengamati dengan kaca pembesar dari tepi ruangan. "Kontrak pengiriman untuk lima ratus rumah sakit daerah jatuh tempo lusa. Jika kita gagal mengirimkan pesanan ini, Koperasi akan dikenakan denda penalti sebesar tiga ratus persen dari nilai kontrak!"
Fauzan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Apakah ini sabotase lagi?! Siapa yang merusak pipa pendingin ini?!"
"Pipa ini sudah tua dan berkarat karena kelembapan tinggi," pangkas Fadil seraya memeriksa bekas patahan besi. "Ini murni takdir dan kelalaian kita dalam pemeliharaan. Jangan menuduh siapa pun tanpa bukti."
"Tapi denda tiga ratus persen itu akan menghancurkan kita!" teriak Faris histeris. "Koperasi ini hampir bangkrut, Fadil! Kita tidak punya uang lagi untuk mengganti produk yang rusak ini dalam waktu dua hari!"
Fadil menatap seluruh pekerjanya yang berdiri tertunduk lesu di dalam gudang yang lembap. "Kumpulkan seluruh pengurus di ruang tengah sekarang juga. Kita cari jalan keluar yang diridhai Allah."
°˖✧✿✧˖°
Rapat darurat digelar di tengah suasana duka yang mendalam. Para pekerja dan pengurus Koperasi duduk melingkar di atas karpet tipis ruang tengah gedung utama. Bayang-bayang kebangkrutan membayang tebal di setiap wajah yang hadir.
"Kita tidak punya pilihan lain selain mengajukan pinjaman darurat ke bank," pangkas Faris seraya membuka lembar simulasi kredit di atas meja. "Saya sudah menghubungi perwakilan bank swasta nasional. Mereka bersedia mengucurkan dana pinjaman sebesar lima miliar rupiah sore ini."
Fauzan menatap lembaran kertas itu dengan kening berkerut. "Berapa bunga yang mereka patok untuk pinjaman darurat ini, Faris?"
"Tiga belas persen per tahun dengan jaminan seluruh sertifikat tanah Koperasi dan hak paten produk kita," jawab Faris pelan, tak berani menatap mata Fadil.
Fadil menggelengkan kepala secara perlahan namun amat mantap. "Kita tidak akan pernah menyentuh transaksi riba, Faris. Mengambil pinjaman berbunga untuk menyelamatkan Koperasi sama saja dengan mengundang murka Allah ke dalam usaha ini."
"Fadil! Buka matamu!" pangkas Faris meluapkan emosi yang ditahannya sejak pagi. "Ini situasi darurat! Jika kita tidak membayar denda penalti lusa, otoritas hukum akan menyita seluruh aset Koperasi ini dan menutupnya secara paksa! Pilihannya hanya dua: mengambil pinjaman ini atau melihat Koperasi ini hancur dan mati!"
"Lebih baik Koperasi ini tutup dalam keadaan bersih dari riba," sahut Fadil jernih tanpa keraguan sedikit pun, "daripada kita bertahan hidup tetapi membawa harta haram ke dalam rumah tangga kita dan para pekerja."
"Tapi bagaimana dengan piring nasi seratus lima puluh pekerja desa?!" teriak Faris seraya menunjuk ke arah deretan buruh tani yang duduk di pojok ruangan. "Apakah kamu tega melihat anak-anak mereka kelaparan karena idealisme muliamu ini?!"
Seorang perwakilan pekerja tua, Pak Karto, berdiri perlahan dari duduknya seraya mengangkat tangan. "Mas Faris, Mas Fadil... Mohon jangan bertengkar karena kami."
"Pak Karto," pangkas Faris menahan napasnya.
"Kami para pekerja sudah berembuk di luar tadi," sambung Pak Karto dengan suara bergetar namun jujur. "Selama lima tahun Koperasi ini berdiri, Pak Fadil tidak pernah mengambil keuntungan berlebih dan selalu menolong kami saat susah. Kami rela tidak digaji selama dua bulan ke depan demi membantu Koperasi melewati musibah ini."
Suasana ruangan seketika hening. Beberapa pekerja wanita tampak mengusap air mata mereka dengan ujung jilbab.
"Saya tidak akan pernah memotong atau menunda hak gaji kalian," pangkas Fadil menatap Pak Karto dengan penuh rasa haru. "Gaji pekerja adalah kewajiban utama yang harus dibayarkan sebelum keringat kalian kering. Itu janji saya."
"Lalu dari mana kita dapat dana lima miliar dalam waktu empat puluh delapan jam, Fadil?!" tanya Faris pasrah seraya menyandarkan punggungnya ke dinding. "Tanpa pinjaman bank, kita tidak punya keajaiban lagi."
"Keajaiban adalah milik Allah," jawab Fadil tenang. "Kirimkan surat permohonan penundaan pengiriman secara jujur kepada seluruh pihak rumah sakit. Katakan apa adanya bahwa produk kita mengalami musibah kontaminasi dan kita menolak mengirimkan barang yang tidak sempurna."
°˖✧✿✧˖°
Langkah kejujuran yang diambil Fadil pada Titik Plot Pertama justru memicu gelombang serangan balasan yang sangat menyudutkan pada Titik Tekan 1. Surat pemberitahuan jujur yang dikirimkan Koperasi tidak disambut baik oleh seluruh pihak pembeli.
Sore harinya, seorang pengacara kawakan berjas hitam yang mewakili konsorsium rumah sakit swasta, Mr. Richard, datang ke Koperasi bersama dua orang juru sita pengadilan daerah.
"Kami telah menerima surat pengakuan kegagalan produksi dari Koperasi Anda, Mr. Fadil," pangkas Mr. Richard seraya membetulkan kacamata emasnya dengan angkuh. "Klien kami menolak memberikan perpanjangan waktu satu hari pun."
Faris mencoba bernegosiasi di depan pintu depan Koperasi. "Pak Pengacara, kami mengalami musibah kebocoran pipa pendingin! Kami minta tenggang waktu dua minggu untuk memproduksi ulang barang pesanan Anda!"
"Musibah internal Koperasi Anda bukanlah urusan bisnis klien kami," jawab Mr. Richard dingin. "Sesuai dengan Klausul Pasal 12 Surat Kontrak Kerja Sama, kegagalan pengiriman pada tanggal yang ditentukan mengizinkan pihak kami untuk mencabut lisensi edar Koperasi secara sepihak."