6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #121

Doa di Tengah Kehancuran

Fadil menangis dalam munajat.

°˖✧✿✧˖°

Lembah Koperasi Herbal Kerakyatan diselimuti oleh malam yang sangat kelam tanpa bintang. Angin dingin merayap menyusuri sela-sela dinding kayu gedung pengolahan yang retak dan berdebu. Di dalam ruang tengah yang remang-remang oleh pendar lilin kecil, Fadil berlutut di atas sajadah kain kusam yang mulai aus di bagian ujungnya.

"Fadil, kita sudah tidak punya waktu lagi untuk menunda," pangkas Faris seraya meletakkan berkas audit yang tercoreng jelaga di samping lilin. "Laporan dari lapangan mengonfirmasi bahwa seluruh jaringan distribusi kita di tiga provinsi telah dilumpuhkan oleh tekanan kelompok pemodal asing."

Fadil menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemari tangan kanannya perlahan memutar butir-butir tasbih kayu jati. "Berapa banyak kerugian yang harus ditanggung oleh para petani anggota Koperasi kita, Faris?"

"Semua tabungan mereka yang terkumpul selama dua tahun habis tak bersisa," sahut Fauzan dengan suara parau dari balik pintu kayu. "Malam ini, puluhan kepala keluarga di desa sebelah tidak bisa membeli beras karena seluruh hasil panen jahe merah mereka ditolak secara sepihak oleh pabrik perantara."

"Apakah ada serangan fisik baru di area perkebunan hulu?" tanya Fadil dengan vokal yang sangat pelan namun sarat akan kepedihan jiwa.

Faris mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di bawah pendar cahaya lilin. "Mereka meracuni tanah perkebunan kita dengan zat kimia beracun semalam! Ratusan hektar tanaman herbal murni mati mengering dalam hitungan jam!"

"Astagfirullahal'adzim..." bisik Fadil amat liris. "Sungguh, kezaliman manusia telah melampaui batas-batas kemanusiaan itu sendiri."

"Kita runtuh total, Fadil!" seru Faris seraya menahan tangis yang membakar dadanya. "Tidak ada lagi modal, tidak ada lagi tanaman yang tersisa, dan seluruh sertifikat tanah Koperasi kita terancam disita oleh juru sita pengadilan besok pagi!"

Fauzan melangkah masuk seraya menyapu air matanya. "Apa yang harus kita katakan kepada para warga desa besok, Fadil? Mereka menggantungkan seluruh hidup dan harapan mereka pada Koperasi ini!"

Fadil berdiri perlahan dari sajadahnya, menatap dua sahabat setianya dengan pandangan teduh yang memancarkan kedalaman iman. "Kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Malam ini, letakkan seluruh beban duniawi kita, dan serahkan segalanya kepada Sang Pemilik Kehidupan."

°˖✧✿✧˖°

Pintu mushola kecil di samping gedung Koperasi tiba-tiba berderit kencang terdorong angin malam yang menderu keras. Ghalib berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan pakaian yang dipenuhi lumpur hitam.

"Fadil! Faris! Musibah baru menghantam kita dari bukit!" teriak Ghalib terengah-engah seraya memegangi lututnya yang bergetar.

Faris seketika meloncat berdiri dari lantai. "Ada apa lagi, Ghalib?! Jangan katakan kalau gudang darurat kita juga terbakar!"

"Bukan terbakar, Faris!" jerit Ghalib dengan suara hancur. "Tanggul penampungan air buatan musuh di tebing atas jebol! Banjir lumpur pekat menerjang masuk dan menimbun mushola tua serta seluruh sisa persediaan bibit murni milik warga desa!"

Fauzan membelalakkan mata dengan napas yang tertahan di tenggorokan. "Bibit murni generasi terakhir itu?! Bibit yang kita simpan selama bertahun-tahun untuk masa depan Koperasi?!"

"Semua terkubur di bawah lumpur pekat setinggi dada manusia!" pangkas Ghalib seraya menangis histeris di ambang pintu. "Tidak ada satu pun wadah penyimpan yang selamat! Semuanya hancur dan rata dengan tanah!"

Fadil melangkah cepat keluar mushola menembus kegelapan malam yang dingin. Di balik rerimbunan pohon bambu, suara deru air bercampur tanah terdengar meluap menghancurkan tiang-tiang kayu bangunan darurat warga.

"Ya Allah..." keluh Faris seraya tersungkur di atas tanah basah di belakang Fadil. "Ini adalah kehancuran yang sempurna! Musuh tidak hanya merampas harta kita, tetapi juga menghancurkan tempat kita beribadah dan harapan terakhir warga desa!"

"Mengapa Allah membiarkan semua ini terjadi kepada kita, Fadil?!" jerit Fauzan penuh keputusasaan yang meluap-luap. "Kita sudah bertahan dalam kejujuran, kita menolak riba, kita membela rakyat kecil! Tapi mengapa kehancuran demi kehancuran ini yang kita dapatkan?!"

Fadil berbalik perlahan, menatap Fauzan dan Faris yang menangis sesenggukan di dalam kegelapan malam.

"Fauzan, jangan pernah meragukan keadilan Allah," pangkas Fadil dengan intonasi yang amat jernih namun penuh getaran emosi. "Ujian yang teramat berat ini hadir bukan karena Allah benci kepada kita, melainkan karena Allah ingin membersihkan seluruh kebergantungan hati kita dari sebab-sebab duniawi."

"Tapi kita tidak punya apa-apa lagi, Fadil!" tangis Faris pecah di dalam guyuran gerimis yang mulai turun. "Gedung hancur, bibit musnah, tanah beracun, dan warga desa menderita! Apa yang tersisa dari perjuangan Koperasi kita?!"

"Yang tersisa adalah iman dan doa kita di hadapan Allah," jawab Fadil tenang seraya memegang erat jemari kedua sahabatnya. "Selama kita masih memiliki Allah, kita tidak pernah benar-benar kehilangan apa pun di muka bumi ini."

°˖✧✿✧˖°

Guncangan dari musibah banjir lumpur pada Peristiwa Pemicu langsung membawa dampak yang teramat memilukan di seluruh pelosok desa pada Titik Plot Pertama. Pagi harinya, tatkala fajar merah menyiang di ufuk timur, puluhan warga desa berkumpul di pelataran Koperasi yang telah berubah menjadi lautan lumpur hitam.

Ibu-ibu menimang anak mereka yang menangis karena kelaparan, sementara para lelaki tua duduk bersandar pada tiang-tiang bangunan yang roboh dengan pandangan mata yang kosong.

"Mas Fadil..." ucap seorang ibu tua, Mak Sumi, seraya berjalan terseok-seok mendekati Fadil yang sedang menyingkirkan puing kayu. "Cucu saya demam tinggi sejak semalam. Apakah masih ada sisa ramuan temulawak di dalam gudang?"

Fadil menundukkan badannya, menatap wajah pucat anak kecil di pelukan Mak Sumi dengan keharuan yang meremukkan dada.

"Mak Sumi," pangkas Fadil dengan suara bergetar lembut. "Gudang penyimpanan kita telah tertimbun lumpur sepenuhnya. Namun, izinkan saya mencari sisa-sisa akar yang mungkin masih bisa kita bersihkan di tepi sungai."

"Tidak perlu pura-pura lagi, Fadil!" teriak seorang warga, Pak Karto, dari tengah kerumunan dengan amarah yang tercampur keputusasaan. "Koperasi ini sudah mati! Kita semua ditipu oleh janji-janji kemandirian yang tidak pernah ada wujudnya!"

Faris melangkah maju membela Fadil. "Pak Karto! Jangan bicara sembarangan! Fadil sudah mengorbankan seluruh harta pribadinya demi membela tanah kalian dari pemodal asing!"

"Tapi kenyataannya anak-anak kami tidak bisa makan hari ini, Faris!" balas Pak Karto seraya menunjuk rumah-rumah warga yang rusak. "Pemodal asing itu menawarkan uang ganti rugi jika kita menjual tanah ini kepada mereka! Mungkin lebih baik kita serahkan saja tanah ini daripada mati kelaparan di sini!"

"Apakah kalian akan menjual tanah warisan leluhur ini kepada orang-orang yang telah meracuni perkebunan kita?!" bentak Fauzan dengan mata memerah menahan tangis.

"Lalu kita harus makan apa, Fauzan?!" jerit beberapa warga desa secara bersamaan. "Doa tidak bisa mengisi perut anak-anak kami yang sedang kelaparan!"

Kata-kata kasar dan tajam dari warga desa menghujam tepat ke dalam ulu hati Fadil. Rasa sakit karena dikhianati oleh situasi dan diragukan oleh orang-orang yang dibelanya membuat pertahanan batin Fadil berguncang hebat pada Titik Plot Pertama ini.

Fadil berdiri membisu di tengah kepungan keputusasaan warga desa. Ia memandang langit pagi yang tertutup awan mendung pekat, meresapi betapa dalamnya jurang Kehancuran yang sedang melingkupi seluruh kehidupannya.

"Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian," pangkas Fadil seraya menangkupkan kedua tangannya di dada. "Jika kalian merasa bahwa perjuangan Koperasi ini membawakan kesengsaraan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya tidak akan menahan kalian jika ingin mengambil bantuan dari pihak mana pun..."

"Fadil! Jangan pangkas harapan mereka seperti itu!" bisik Faris panik.

"...tetapi," sambung Fadil dengan nada yang amat dalam, "izinkan saya mengetuk pintu langit sekali lagi malam ini. Jika sampai besok pagi tidak ada jalan keluar yang dibukakan oleh Allah, saya sendiri yang akan berjalan menyerahkan seluruh hak tanah ini demi mengenyangkan perut kalian semua."

°˖✧✿✧˖°

Ancaman perpecahan warga dan janji serah terima tanah pada Titik Plot Pertama menjadi beban batu raksasa yang menindih pundak Fadil pada Titik Tekan 1. Musuh yang melihat kerapuhan warga desa segera melancarkan serangan psikologis yang jauh lebih mencekik.

Siang harinya di bawah hujan gerimis yang tak kunjung reda, sebuah helikopter mewah berlogo konsorsium pemodal mendarat tegap di pinggir lapangan desa. Mr. Vance turun bersama tim pengacara berjas tegap, membawa ratusan koper berisi uang tunai pecahan seratus ribu rupiah.

"Lihat ini, wahai warga desa!" teriak Mr. Vance melalui megrafon seraya membuka koper-koper uang tersebut di hadapan kerumunan warga yang kelaparan! "Ini adalah uang tunai sebesar sepuluh miliar rupiah! Tanda tangani pelepasan hak tanah kalian sekarang, dan uang ini langsung menjadi milik kalian detik ini juga!"

Lihat selengkapnya