6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #122

Kabar dari Kiai

Kabar dari Kiai

Kiai Zulfakar memberikan nasihat dari jauh.

°˖✧✿✧˖°

Langit malam di atas bukit desa merayap pelan membawa kabut dingin yang menusuk tulang. Di tengah puing-puing bangunan Koperasi Herbal Kerakyatan yang masih menyisakan hawa dingin sisa air pembasah kebakaran, keheningan terasa begitu berat. Fadil duduk di sudut teras surau kecil desa. Jemari tangan kanannya tak berhenti mengusap butir-butir tasbih kayu jati. Di sekelilingnya, Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq duduk melingkar dengan wajah muram.

Beban utang yang menumpuk pasca-pemblokiran rekening, kehancuran mesin penyulingan utama, serta embargo pasokan bahan baku dari jaringan internasional telah menempatkan usaha mereka di jurang kebangkrutan yang paling mematikan.

"Fadil," pangkas Faris seraya membuka lembaran kertas neraca keuangan yang kusam. "Tagihan pembelian bahan baku temulawak dan jahe merah dari kelompok tani desa sebelah sudah jatuh tempo besok pagi. Jika kita tidak membayar senilai lima puluh juta rupiah, mereka mengancam akan menarik seluruh kerjasama pasokan secara permanen."

Fadil menghentikan putaran tasbihnya sejenak, memandang Faris dengan pandangan mata yang sangat teduh.

"Faris, sahabatku," pangkas Fadil lembut. "Setiap janji adalah utang yang wajib ditunaikan. Apakah tidak ada sisa dana di peti simpanan darurat Koperasi?"

"Peti simpanan darurat sudah kosong sama sekali, Fadil!" potong Fauzan seraya memukul lantai kayu dengan gemas. "Uang terakhir kita sudah habis untuk membayar upah harian para pekerja minggu lalu! Rekening bank kita masih dibekukan oleh penetapan pengadilan atas tuntutan konsorsium asing itu!"

"Kita tidak bisa membiarkan para petani lokal merugi," timpal Ghalib dengan nada vokal yang amat tegang. "Mereka telah bergantung pada Koperasi ini selama bertahun-tahun. Jika kepercayaan mereka runtuh, Koperasi benar-benar mati."

"Tapi dari mana kita mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu belasan jam?!" pangkas Yafiq ragu. "Toko-toko distributor di kota sudah menolak menerima barang kita sebelum surat izin edar internasional diterbitkan."

"Rayyan," pangkas Fadil mengalihkan pandangannya pada sahabatnya yang sejak tadi diam membisu. "Bagaimana dengan sisa stok hasil sulingan kering di gudang bawah tanah surau ini?"

Rayyan menghela napas panjang, meremas jemarinya yang kasar. "Hanya tersisa sepuluh kardus, Fadil. Nilainya tidak akan cukup untuk menutup sepuluh persen dari total tagihan besok."

Keheningan kembali merayap tebal di antara mereka. Ketegangan finansial dan kepungan konspirasi global seolah telah mengunci rapat setiap celah ikhtiar manusiawi yang bisa mereka tempuh.

Di tengah kesunyian yang mencekat itu, langkah kaki bergesekan dengan kerikil basah terdengar dari arah jalan setapak menuju surau. Seorang santri muda berpeci putih dengan pakaian sederhana berlari kecil menghampiri teras, membawakan selembar amplop cokelat tebal yang tersegel lilin merah bertanda kaligrafi arab yang sangat khas.

"Assalamu’alaikum, Kang Fadil!" pangkas santri muda itu dengan napas terengah-engah.

"Wa’alaikumsalam warahmatullah," balas Fadil seraya berdiri menyambut santri tersebut. "Ada kabar apa, Kang Santri?"

"Saya diutus langsung oleh Pengurus Pesantren Agung di lereng gunung," pangkas santri itu seraya menyerahkan amplop cokelat tersebut dengan kedua tangannya. "Sore tadi, Kiai Zulfakar memanggil saya dari bilik iktikaf beliau. Beliau menitipkan surat ini khusus untuk Kang Fadil dan meminta saya menyampaikannya malam ini juga, tanpa tertunda satu jam pun."

Fadil menerima amplop tersebut dengan kedua telapak tangannya, menempelkannya sejenak di dada dengan rasa takzim yang amat mendalam. Kiai Zulfakar adalah guru spiritual utama Fadil, seorang ulama kharismatik yang kini sedang menjalani masa uzlah dan iktikaf panjang di lereng gunung yang jauh.

"Terima kasih banyak, Kang Santri," pangkas Fadil. "Mari singgah sebentar untuk meminum teh hangat."

"Minta maaf, Kang Fadil," pangkas santri itu santun. "Saya harus segera kembali ke pondok sebelum subuh. Kiai Zulfakar berpesan agar surat itu dibaca bersama seluruh sahabat Koperasi malam ini."

°˖✧✿✧˖°

Kehadiran surat rahasia dari Kiai Zulfakar di tengah kegelapan malam menjadi Peristiwa Pemicu yang seketika mengubah arah dinamika batiniah dan langkah strategis perjuangan Fadil bersama sahabat-sahabatnya.

Fadil duduk kembali di tengah lingkaran sahabat-sahabatnya. Ditemani cahaya remang dari lampu tempel minyak tanah, Fadil perlahan merobek segel lilin merah pada amplop cokelat tersebut. Dari dalam amplop, terkuak selembar kertas merang kuno bertuliskan guratan tinta hitam kaligrafi tangan yang amat anggun dan berwibawa.

Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq mendekatkan posisi duduk mereka, menatap lembaran kertas itu dengan dada berdebar keras.

"Fadil," pangkas Faris berbisik. "Apa isi tulisan dari Kiai?"

Fadil merapikan posisi duduknya, lalu membacakan larik-larik kalimat tulisan tangan Kiai Zulfakar dengan suara yang sangat jernih, tenang, dan merasuk hingga ke relung jiwa yang paling dalam.

"Bismillahirrohmanirrohim," pangkas Fadil membuka bacaan surat tersebut. "Untuk muridku Fadil beserta seluruh benteng perjuangan Koperasi Herbal Kerakyatan. Semoga rahmat dan keteguhan iman senantiasa menaungi dadamu di tengah badai ujian yang sedang melanda."

Fauzan menundukkan kepalanya, menahan rasa haru yang tiba-tiba menyergap dadanya.

"Ketahuilah, Wahai Anakku," pangkas Fadil melanjutkan guratan pesan sang guru. "Berita tentang himpitan ujian, fitnah keji, pembakaran rumah pengolahan, hingga tawaran kompromi haram yang mendatangi kalian telah sampai ke bilik iktikafku. Dari jauh, aku senantiasa memandang pergerakan kalian dalam doa-doa di sepertiga malam terakhir."

Fadil menghentikan bacaannya sejenak, menghembuskan napas panjang yang sarat akan keikhlasan.

"Kiai tahu persis situasi kita," pangkas Ghalib seraya menatap sahabat-sahabatnya. "Meskipun beliau berada jauh di lereng gunung tanpa alat komunikasi modern, mata hati beliau senantiasa membimbing kita."

Fadil melanjutkan bacaan surat tersebut dengan intonasi vokal yang makin mantap dan penuh wibawa.

"Ingatlah pesan gurumu ini, Fadil," pangkas Fadil membaca larik utama surat. "Pohon yang berakar kuat di dalam tanah tidak akan pernah roboh hanya karena diterjang angin kencang di pucuk daunnya. Musibah dan kesempitan yang menghimpit usaha kalian hari ini bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kalian. Justru sebaliknya, Allah sedang membersihkan Koperasi kalian dari noda-noda ketidakikhlasan dan kebergantungan pada makhluk!"

"Allahu Akbar..." bisik Rayyan pelan seraya menangkupkan kedua tangannya.

"Jika pintu modal dari manusia telah dikunci oleh musuh-musuhmu," pangkas Fadil membaca lanjutan nasihat Kiai Zulfakar, "maka jangan pernah sekali-kali ketuk pintu rumah mereka untuk mengemis pertolongan! Buka lebar-lebar pintu langit dengan kejujuran, ketakwaan, dan kesabaran yang tanpa batas. Jangan takut pada kebangkrutan lahiriah, karena kebangkrutan yang sebenarnya adalah tatkala kalian mengorbankan integritas demi sesuap keuntungan semu!"

Namun, Peristiwa Pemicu ini tidak berhenti pada nasihat spiritual belaka. Di bagian akhir surat tersebut, Kiai Zulfakar menyisipkan sebuah petunjuk konkret dan perintah tegas yang sangat mengejutkan seluruh pengurus Koperasi.

"Sebagai ikhtiar lahiriah yang diridhai Allah," pangkas Fadil membacakan bagian penutup surat dengan rasa terkejut yang tertahan. "Buka peti kayu tua bertali ijuk yang terpendam di bawah mihrab surau tempat kalian berteduh malam ini. Di dalam peti itu, terdapat amanah rahasia berupa catatan racikan herbal kuno warisan para ulama terdahulu dan selembar surat kuasa kepemilikan tanah wakaf seluas lima hektar di kaki bukit barat. Pergunakan tanah itu untuk membangun pusat budidaya herbal mandiri berbasis pesantren!"

°˖✧✿✧˖°

Amanah dan petunjuk berharga dari Kiai Zulfakar pada Peristiwa Pemicu langsung menggerakkan alur cerita menuju Titik Plot Pertama, di mana Fadil dan para sahabatnya segera melakukan pembuktian atas amanah rahasia tersebut di tengah malam yang kian pekat.

Tanpa menunda waktu pada Titik Plot Pertama ini, Fauzan dan Ghalib segera mengambil cangkul serta lampu sentir dari sudut surau. Mereka melangkah mendekati mihrab surau kayu tua yang beralaskan papan tebal berselimut karpet kusam.

"Fadil," pangkas Faris seraya mengangkat papan lantai kayu di bawah mihrab. "Apakah Kiai Zulfakar benar-benar telah menyiapkan tanah wakaf dan racikan kuno ini sejak bertahun-tahun lalu?"

"Kiai Zulfakar adalah seorang pandangan jauh ke depan, Faris," pangkas Fadil dengan ketenangan yang mantap. "Beliau selalu mengajarkan kita untuk menanam benih sebelum musim kemarau panjang tiba."

Fauzan membenamkan mata cangkulnya ke dalam tanah berdebu di bawah papan mihrab. Brak! Suara benturan logam cangkul dengan benda padat bergema pelan di dalam keheningan surau.

"Ada kotak di dalam sini!" seru Fauzan dengan intonasi vokal yang dipenuhi rasa gugup sekaligus bersemangat!

Ghalib membantu mengangkat sebuah peti kayu jati tua yang dililit tali ijuk hitam berpelitur tebal. Peti tersebut dibawa naik ke atas teras surau dan diletakkan tepat di hadapan Fadil.

Dengan mengucap basmalah, Fadil membuka kait gembok kuningan pada peti tua tersebut.

Di dalam peti pada Titik Plot Pertama ini, terbaring selembar naskah daun lontar kuno yang memuat formula racikan minyak herbal bernama Minyak Husada Barokah, lengkap dengan sertifikat ikrar wakaf tanah lima hektar yang ditandatangani oleh para sesepuh desa tiga puluh tahun silam!

"Subhanallah!" pangkas Yafiq seraya membelalakkan matanya. "Formula minyak ini menggunakan sepuluh jenis tanaman obat liar yang tumbuh melimpah di bukit barat tanpa perlu dibeli dari pengepul besar!"

"Ini jawaban dari krisis bahan baku kita!" tegas Rayyan dengan raut wajah berbinar. "Kita tidak perlu lagi bergantung pada pasokan temulawak atau jahe dari distributor yang diintimidasi oleh konsorsium asing itu!"

Namun, kegembiraan di Titik Plot Pertama ini mendadak terganggu oleh kedatangan rombongan mobil patroli aparat desa bersama dua orang perwakilan kelompok tani yang datang dengan raut wajah sangat tegang!

Pak RT Desa bersama Kepala Kelompok Tani bernama Pak Karto melangkah terburu-buru menaiki tangga teras surau!

"Mas Fadil!" pangkas Pak Karto dengan suara keras dan nada panik. "Kami minta maaf datang malam-malam begini! Tapi kami mendengar desas-desus bahwa rekening Koperasi Mas Fadil telah disita negara dan Koperasi kalian terancam ditutup permanen besok pagi!"

Faris berdiri menyambut Pak Karto seraya mencoba menenangkan keadaan. "Pak Karto, harap tenang dulu. Pembekuan rekening itu hanya sementara akibat fitnah hukum, dan kami sedang mengurus pemulihannya!"

"Kami tidak bisa tenang, Mas Faris!" bentak Pak Karto gusar. "Hasil panen jahe warga desa menumpuk lima ton di gudang kami! Jika besok pagi Koperasi tidak membeli panen kami secara tunai sebesar lima puluh juta rupiah, kami akan menjual seluruh lahan budidaya kami kepada perwakilan konsorsium asing yang baru saja menawarkan harga tinggi malam ini!"

Fauzan mengepalkan tangannya di balik kemeja. "Pak Karto! Jangan mau diadu domba oleh orang-orang asing itu! Mereka sengaja ingin menghancurkan Koperasi kita!"

Lihat selengkapnya