Fadil belajar tentang hakikat doa.
°˖✧✿✧˖°
Awan hitam bergulung rendah di atas langit kaki bukit barat, memayungi bangunan surau kay
u dan kompleks Koperasi Herbal Kerakyatan yang baru saja mulai berbenah. Angin sore berhembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan desir daun-daun jahe serta temulawak yang membentang di perbukitan. Di teras surau, Fadil duduk bersila di atas tikar pandan yang agak kusam. Jemari tangan kanannya tak henti menggeser butir-butir tasbih kayu jati, sementara tatapannya tertuju pada lembaran surat bertinta emas dari Lady Catherine yang tergeletak di hadapannya.
Di sekelilingnya, suasana terasa sangat tegang. Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq duduk melingkar dengan wajah gusar. Ancaman pemblokiran rute distribusi ekspor armada laut dan udara internasional oleh konsorsium global Lady Catherine benar-benar membentangkan tembok raksasa yang seolah mustahil ditembus oleh ikhtiar manusiawi.
"Fadil," buka Faris dengan vokal yang agak gemetar seraya mengetuk jemarinya di atas paha. "Surat ini bukan gertakan kosong. Tadi siang, tiga agen logistik pelabuhan mengonfirmasi bahwa seluruh pengiriman lima ribu botol Minyak Husada Barokah tujuan Timur Tengah dan Eropa telah ditolak di dermaga. Kontainer kita ditahan tanpa alasan jelas."
Fadil menghentikan putaran tasbihnya sejenak, memandang Faris dengan tenang. "Apakah ada penjelasan tertulis dari pihak otoritas pelabuhan, Faris?"
"Tidak ada," potong Fauzan dengan napas memburu dan nada vokal sengit. "Mereka hanya bilang ada instruksi langsung dari konsorsium keselamatan kesehatan internasional! Mereka mengunci semua akses pelayaran kita! Kalau begini terus, dalam waktu dua minggu Koperasi kita bakal gulung tikar karena barang menumpuk dan modal kita tertahan!"
"Bukan cuma masalah pengiriman luar negeri," timpal Ghalib seraya menunjukkan gawai lipatnya. "Beberapa toko distributor lokal di ibu kota juga mendadak membatalkan pesanan. Mereka mengaku diintimidasi. Jika tetap menjual produk Koperasi, izin usaha farmasi mereka akan dicabut."
Yafiq mengusap wajahnya yang pucat. "Kita sudah berdoa siang dan malam tanpa henti sejak krisis pertama. Kita sudah salat malam sampai lutut kita gemetar. Tapi kenapa tekanannya justru makin gila-gilaan seperti ini?"
"Iya, Fadil," tambah Rayyan dengan suara lirih dan mata sayu. "Aku sampai ragu... apakah doa-doa kita selama ini benar-benar didengar? Kenapa pertolongan Allah terasa begitu lambat, sementara kehancuran kita bergerak begitu cepat?"
Fadil menghela napas panjang. Ia menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya yang diliputi kecemasan dan keputusasaan.
"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil dengan suara yang sangat lembut dan menyejukkan. "Jangan pernah biarkan pikiran buruk menyusup ke dalam hatimu terhadap janji Allah. Pertolongan Allah tidak pernah terlambat, dan tidak pula terlalu cepat. Ia selalu datang tepat pada saat yang paling sempurna."
"Tapi kenyataannya kita terdesak, Fadil!" bentak Fauzan pelan, mencoba menahan amarah dan kekecewaannya. "Kita butuh jawaban sekarang! Kita butuh solusi konkret hari ini juga!"
"Jawaban Allah tidak selalu berupa pintu yang langsung terbuka lebar," balas Fadil seraya tersenyum tipis. "Kadang, Jawaban-Nya adalah penguatan hati agar kita tidak hancur saat menabrak dinding ujian tersebut."
Di tengah perdebatan batin yang begitu memuncak, suara langkah kaki yang mantap dan teratur bergetar di atas tangga kayu surau. Seorang pria tua berambut putih bersih dengan jubah putih bersahaja melangkah masuk. Kehadiran sosok itu seketika membuat seluruh ruangan hening dan terperanjat.
Beliau adalah Kiai Zulfakar.
°˖✧✿✧˖°
Kehadiran Kiai Zulfakar secara tiba-tiba di teras surau setelah masa uzlah dan iktikaf panjangnya menjadi Peristiwa Pemicu yang seketika mengubah arah perbincangan batiniah para pengurus Koperasi.
Fadil segera berdiri dan mendekati sang guru, merengkuh tangan Kiai Zulfakar lalu menciumnya dengan rasa takzim yang amat dalam. Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq berdiri menyambut dengan rasa haru yang tak tergerus.
"Assalamu’alaikum wa rahmatullah, Anak-anakku," sapa Kiai Zulfakar dengan suara yang begitu dalam, bening, dan berwibawa.
"Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh, Kiai," balas mereka seraya menundukkan kepala.
"Duduklah," pangkas Kiai Zulfakar seraya mengibaskan jubahnya dan duduk bersila di tengah lingkaran mereka.
Kiai Zulfakar menatap lembaran surat bertinta emas milik Lady Catherine yang tergeletak di atas tikar, lalu beralih menatap wajah-wajah muram para muridnya.
"Kiai," buka Fauzan dengan jujur dan tanpa ragu. "Kami sedang berada di titik paling gelap. Rekening kami memang sempat pulih, tapi sekarang seluruh akses pasar internasional dan lokal dikunci total oleh musuh. Kami sudah berdoa tanpa henti, tapi kenapa pertolongan itu seolah makin jauh?"
Kiai Zulfakar mengulas senyum tipis yang sarat akan kedalaman ilmu batiniah. Beliau memandang Fauzan, lalu menatap Fadil yang duduk tenang di sampingnya.
"Fauzan, dan kalian semua," pangkas Kiai Zulfakar pelan namun tegas. "Kalian sedang terjebak dalam kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh para hamba dalam beribadah."
Rayyan menengadah dengan raut bingung. "Kesalahan apa, Kiai? Apakah ada yang salah dengan doa-doa kami?"
"Kalian sedang mengukur keagungan dan kasih sayang Allah dari cepat atau lambatnya jawaban yang kalian inginkan," pangkas Kiai Zulfakar.
Kata-kata sang Kiai seketika menghantam dada mereka bagai petir di siang bolong.
"Ketahuilah," lanjut Kiai Zulfakar seraya memegang janggut putihnya. "Allah bukanlah pelayan dari keinginan-keinginan kalian. Allah adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui kapan suatu nikmat pantas diberikan dan kapan suatu ujian harus diperpanjang untuk mematangkan imanmu!"
Fadil menunduk khusyuk, meresapi setiap patah kata sang guru ke dalam relung jiwanya.
"Jika kalian berdoa hanya agar keinginan kalian cepat dikabulkan," pangkas Kiai Zulfakar lagi, "maka kalian sedang menyembah keinginan kalian sendiri, bukan menyembah Allah! Doa adalah wujud pengabdian dan ketundukan hamba, bukan nota tagihan yang harus segera dilunasi oleh Sang Pencipta!"
Faris menarik napas dalam-dalam. "Lalu bagaimana kami harus bersikap di tengah kepungan embargo internasional ini, Kiai?"
"Pelajarilah hakikat doa yang sejati," jawab Kiai Zulfakar seraya menunjuk ke arah bukit. "Malam ini, tinggalkan sejenak urusan kalkulasi bisnis dan ketakutanmu akan kebangkrutan. Ikutlah bersamaku menuju puncak bukit barat untuk menunaikan iktikaf dan menimba pemahaman tentang rahasia ketetapan-Nya."
°˖✧✿✧˖°
Panggilan iktikaf dari Kiai Zulfakar meluncurkan alur cerita ke Titik Plot Pertama. Di atas puncak bukit barat, di bawah naungan angin malam yang dingin menusuk tulang dan langit malam berhias bintang, Fadil beserta kelima sahabatnya diajak menyelami hakikat doa yang sesungguhnya.
Di atas puncak bukit, Kiai Zulfakar duduk bersila di atas batu hitam besar di depan api unggun kecil. Fadil dan para sahabat melingkar di sekelilingnya dengan selimut kain sarung.
"Fadil," pangkas Kiai Zulfakar membuka pelajaran di Titik Plot Pertama ini. "Menurutmu, apa yang paling berharga dari sebuah doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba dalam kesempitan?"
Fadil berpikir sejenak, lalu menjawab dengan santun. "Apakah wujud dari terkabulnya hajat tersebut, Kiai?"
"Bukan, Fadil," pangkas Kiai Zulfakar seraya menggelengkan kepala pelan. "Yang paling berharga dari doa bukanlah wujud terkabulnya hajat secara fisik, melainkan kesempatan untuk bersimpuh dan berbisik langsung kepada Allah tanpa perantara!"
Fauzan menatap sang Kiai dengan kening berkerut. "Tapi Kiai, kalau doa kita tidak diijabah dalam bentuk solusi nyata, bagaimana bisnis dan Koperasi kita bisa selamat?"
"Fauzan," pangkas Kiai Zulfakar seraya menatap tajam mata Fauzan. "Siapa yang memberimu rezeki sebelum Koperasi ini berdiri?"
"Allah, Kiai," jawab Fauzan lirih.
"Dan siapa yang menanggung rezekimu jika Koperasi ini benar-benar hancur besok pagi?" tanya Kiai Zulfakar lagi.
"Allah..." jawab Fauzan makin pelan.
"Lantas kenapa hatimu begitu guncang dan takut kehilangan Koperasi ini, seolah-olah Koperasi itulah yang memberi makan hidupmu?!" tegur Kiai Zulfakar dengan intonasi vokal yang menggelegar di tengah keheningan malam!
Fauzan bungkam seketika. Air matanya mulai menetes di pipinya. Ia menyadari betapa selama ini hatinya telah terikat secara berlebihan pada wujud fisik perjuangan, bukan pada Sang Pemilik Perjuangan.
"Ingatlah pelajaran ini baik-baik," pangkas Kiai Zulfakar melanjutkan nasihatnya pada Titik Plot Pertama ini. "Kadang kala, Allah menunda jawaban atas doamu karena Allah merindukan rintihan dan tangisan tulusmu di sepertiga malam! Jika doamu langsung dikabulkan dalam sekedip mata, engkau akan kembali sibuk dengan duniamu dan lupa bersujud kepada-Nya!"
Ghalib menundukkan kepala seraya meremas jemarinya. "Jadi, penundaan ini adalah bentuk kasih sayang Allah?"
"Tentu saja!" pangkas Kiai Zulfakar tegas. "Allah sedang membersihkan racun-racun kebanggaan diri dari dalam dadamu. Allah ingin Koperasi ini berdiri bukan karena kehebatan strategi bisnismu, melainkan semata-mata karena pertolongan mutlak dari-Nya!"
Namun, saat suasana batiniah para pengurus Koperasi mulai dicerahkan oleh nasihat spiritual tersebut, sebuah kabar mengejutkan datang menembus kegelapan malam puncak bukit!
Seorang penjaga gudang Koperasi berlari terengah-engah menaiki jalan setapak bukit, membawa obor dengan wajah dipenuhi ketakutan luar biasa!
"Kang Fadil! Kiai!" pangkas penjaga gudang itu dengan suara parau dan napas memburu. "Gudang penyimpanan utama di bawah bukit baru saja diserbu oleh ratusan massa tidak dikenal! Mereka membawa truk dan memaksa menyita seluruh stok Minyak Husada Barokah atas perintah surat eksekusi buatan otoritas internasional!"